Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 69. Istriku, Segala-galanya Untukku


__ADS_3

Axel, William dan Irene sudah tiba di hotel MZ. Mereka segera menuju tempat diadakannya pertemuan.


"Selamat datang Tuan Alvaro. Perkenalkan nama Sharon, asisten dari Nona Heidi Calland. Nona Heidi sudah menunggu Anda di dalam," ucap Sharon, asisten Heidi.


Axel hanya mengangguk dengan wajah datarnya dan melangkah masuk ke dalam ruang VVIP diikuti oleh William dan Irene yang berjalan di belakangnya.


Heidi segera berdiri dari duduknya saat melihat Axel dan para asistennya masuk ke dalam ruangan. Heidi terus mengembangkan senyumannya.


"Kau?" pekik Axel saat melihat Heidi.


Axel mengenali Heidi yang tak lain adalah wanita yang pernah mendekatinya saat di bandara, meskipun gaya pakaiannya sangat berbeda. Dan saat ini Heidi terkesan sangat anggun dan terlihat seperti pebisnis yang profesional.


"Kita berjumpa kembali Tuan Axello Zyan Alvaro. Perkenalkan saya Heidi Calland, perwakilan dari XD Electronic," ucap Heidi sambil mengulurkan tangannya.


Axel hanya diam dan mengabaikan uluran tangan Heidi. Irene segera menyambut tangan Heidi menggantikan Axel. Heidi langsung tersentak dan terlihat raut wajah tidak sukanya.


"Senang bertemu dengan Anda, Nona Heidi. Mohon maaf CEO kami tidak bisa bersentuhan dengan wanita lain selain istrinya," ucap Irene sambil tersenyum.


Heidi berusaha menampilkan senyum manisnya saat mendengar ucapan Irene.


"Saya minta maaf Tuan. Kalau begitu silakan duduk dan kita segera mulai meeting kita hari ini," ucap Heidi sambil menunjuk tempat duduk untuk Axel.


Sekali lagi Axel mengabaikannya. Axel memilih tempat duduk yang terjauh dari Heidi, membuat hati Heidi kecewa.


"Sebaiknya meeting segera dimulai," seru Axel.


Heidi pun segera kembali duduk di tempatnya. William dan Irene juga segera duduk di samping Axel, begitu pula dengan Sharon yang duduk di samping Heidi.


Mereka pun segera membicarakan tentang rencana kerja sama kedua perusahaan mereka. Heidi semakin dibuat terkesan saat Axel menjelaskan program yang diajukan oleh Alvaro Group dengan kepiawaiannya.


"Benar-benar sosok pemimpin yang hebat," puji Heidi dalam hatinya.


Heidi juga menjelaskan program yang perusahaannya ajukan dengan sangat baik. Apa yang dikatakan oleh Tuan Vero benar adanya jika seorang Heidi Calland memanglah pebisnis yang handal.


Sedangkan di mansion Hermawan, Helena masih larut dengan perasaannya. Bukannya dia tidak percaya kepada Axel, tapi Helena tetap harus waspada dengan wanita seperti Heidi.


"Ada apa Kak? Mengapa wajahnya gusar seperti itu?" tanya Jasmine.


"Tidak apa-apa Jasmine. Kakak baik-baik saja," jawab Helena sambil tersenyum untuk menutupi apa yang sebenarnya dia rasakan.


"Ayolah Kak. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau bohongi. Kakak pasti sedang memikirkan Kak Axel. Aku tahu Kakak pasti sedang khawatir jika Kak Axel tertarik dengan anak pemilik perusahaan elektronik itu," ucap Jasmine.


Helena pun mengangguk.


"Kakak tenang saja, stok pasokan muntahan Kak Axel masih penuh dalam perutnya. Kalau wanita itu berani mendekat, paling-paling juga akan mendapat hujan muntahan dari mulut kak Axel yang sudah seperti air mancur. Wuuuzzzz," ujar Jasmine sambil tertawa.


Helena pun ikut tertawa mendengar ucapan adik iparnya itu.


"Aku punya ide. Bagaimana jika Kakak membuat Kak Axel segera menyelesaikan pertemuannya dengan wanita itu," ucap Jasmine.


"Caranya?" tanya Helena.


Jasmine membisikkan sesuatu di telinga Helena. Seketika wajah Helena langsung merona mendengar ide yang dicetuskan oleh Jasmine.


"Aku yakin, Kak Axel pasti akan segera pulang," ucap Jasmine sambil terkekeh saat melihat wajah Helena saat ini.


Setelah hampir dua jam berlalu, akhirnya pihak Axel dan Heidi mendapatkan kesepakatan bersama dan menyetujui rencana kerja sama kedua perusahaan mereka. Baik Axel maupun Heidi segera menandatangi surat perjanjian kerja sama mereka.


Ting... (Ada pesan masuk ke dalam ponsel Axel)


Axel segera membukanya. Senyuman tipis pun terbit di bibir Axel saat mendapatkan pesan dari Helena.


"Dia tersenyum. Pasti mendapatkan pesan dari istrinya. Padahal sejak dia tiba tidak ada sedikitpun senyuman di bibirnya," batin Heidi kesal.


"Suamiku," (Helena)


"Ya, istriku," (Axel)


"Jangan makan terlalu banyak ya. Aku sudah menyiapkan hidangan penutup spesial untukmu," (Helena)


"Istriku buat masakan apalagi hari ini? Hidangan penutupnya apa?" (Axel)

__ADS_1


"Aku," (Helena)


Helena mengirimkan foto dirinya menggunakan salah satu lingerie warna hitam dengan model terbaru yang kemarin dia beli saat mereka berada di mall. Helena juga menampilkan pose yang sangat menggoda Axel lahir dan batin.


Axel membelalakkan matanya dan menelan salivanya kasar. Seketika X-Lo bangkit dari tidurnya dan meronta-ronta.


"Baiklah mari kita makan siang bersama Tuan Axel. Sharon katakan pada pelayan restoran untuk mengantarkan hidangan makan siang kita," ucap Heidi.


"Maaf Nona. Saya tidak bisa makan siang bersama dengan Anda, karena saya harus segera pulang," ucap Axel sambil berdiri.


"Apa karena Anda telah mendapatkan pesan dari istri Anda dan meminta Anda untuk segera pulang?" tanya Heidi.


"Seharusnya istri Anda itu harus mengetahui tata krama dalam dunia bisnis Tuan. Sebagai seorang istri dari CEO Perusahaan sebesar Alvaro Group, seharusnya istri Anda memahami jika saat ini Anda sedang melakukan pertemuan penting dengan klien Alvaro Group dan tidak seenaknya menyuruh Anda pulang," ucap Heidi dengan nada sinis.


"Kau pikir siapa dirimu? Beraninya kau mengkritik dan memberikan penilaian buruk kepada istriku!" bentak Axel dengan menghilangkan sikap formalnya.


Heidi dan Sharon pun tersentak. Sedangkan William dan Irene hanya berdiri dalam diam.


"Urusan bisnis kita sudah selesai. Kesepakatan pun telah dicapai dan surat kerja sama juga sudah ditanda tangani. Dan makan siang bersama tidak masuk ke dalam agenda saya," ucap Axel.


"Apa sepenting itukah dirinya? Saat dia membutuhkanmu kau akan segera pergi menemuinya," tanya Heidi.


Wajah Axel semakin dingin.


"Sebagai suami istri tentu saja kami saling membutuhkan. Dan saat ini, detik ini, bukan dia yang membutuhkanku. Tapi aku yang sangat membutuhkan dirinya," jawab Axel.


"Apa aku tidak cukup cantik dan menarik di matamu?" tanya Heidi.


"Hanya ada satu wanita tercantik di dunia ini, yaitu istriku, Helena. Satu-satunya wanita yang aku cintai dan aku inginkan. Satu-satunya wanita yang bisa membuatku bertekuk lutut di hadapannya. Dan pandangan mataku hanya akan jatuh di hadapannya. Tanpanya, belum tentu aku bisa menjadi pria hebat seperti sekarang."


"Kami para pria Alvaro hanya memiliki satu wanita dalam hidup kami, dan kami akan selalu setia pada pasangan kami. Buang jauh-jauh apa yang ada di hati dan pikiranmu itu. Sebelum sesuatu itu membuatmu sakit nantinya. Istriku adalah segala-galanya untukku," tegas Axel.


Axel segera keluar meninggalkan ruangan itu dan diikuti oleh William dan Irena. Heidi pun terdiam setelah mendengar semua perkataan Axel.


"Nona. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Sharon khawatir.


Heidi masih terdiam.


Sharon menghela napas panjang.


"Anda wanita yang sangat cantik dan luar biasa, Nona. Siapapun pria yang menjadi pendamping Anda nantinya, pastilah pria yang sangat beruntung. Tapi Tuan Axello sudah beristri Nona. Dan terlihat sekali jika Tuan Axello sangat mencintai istrinya. Saran saya, sebaiknya Anda mencari pria lain yang masih lajang dan redam perasaan Anda untuk Tuan Axello. Masih banyak pria hebat di luar sana selain Tuan Axello," ucap Sharon dengan hati-hati.


Heidi segera berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.


"Kasihan sekali Nona Heidi. Dia ditinggalkan oleh tunangannya di hari pernikahannya dan pergi bersama wanita selingkuhannya. Sejak saat itu Nona Heidi tidak pernah tertarik pada pria manapun, meskipun banyak pria yang mengejar cintanya. Dan di saat rasa cinta itu datang kembali, Nona memilih pria yang sudah beristri. Dan itu tidaklah benar. Semoga Nona Heidi bisa membuang perasaannya kepada Tuan Axello," gumam Sharon sesaat setelah Heidi masuk ke dalam kamarnya.


Axel sudah tiba di mansion. Dia segera mencari istrinya.


"Jasmine. Di mana Helena?" tanya Axel saat melihat Jasmine yang berada di ruang keluarga.


"Mungkin tidur di kamarnya. Kak Helena tadi terlihat lelah," jawab Jasmine sambil menahan tawanya.


Axel segera berlari menuju kamarnya.


"Pasti Kak Helena mengikuti saranku tadi," gumam Jasmine.


"Sayang," panggil Axel, namun tidak ada sahutan dari Helena.


Axel mencari Helena ke seluruh ruangan namun tetap tak menemukannya. Axel melihat baju haram yang dipakai oleh Helena tadi tergeletak di atas ranjang. Akhirnya Axel membuka pintu kamar mandi dan melihat Helena yang tertidur di dalam bath tub. Axel berjalan menghampirinya.


"Bisa-bisanya kau tidur sambil berendam setelah membuat X-Lo bangkit dan ingin mengamuk, El," gumam Axel sambil tersenyum.


Axel segera melucuti bajunya dan masuk secara perlahan ke dalam bath tub.


"Aku tidak akan mengampunimu, El," lirih Axel.


Axel mulai menciumi wajah Helena dengan kedua tangannya sudah menjelajahi setiap jengkal tubuh Helena.


"Mmmhhh...," lenguh Helena.


Helena merasakan ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya dan bagian sensitifnya. Helena membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya dia saat melihat Axel dengan tubuh polosnya ikut berendam di dalam bath tub bersamanya.

__ADS_1


"Kapan kau pulang, Xel?" tanya Helena.


Axel menyeringai. Jari tangannya yang sudah terbenam di bawah, kembali bergerak dan mengobrak-abrik L-Na.


"Aaahhh....Axel," desah Helena sambil menggeliatkan tubuhnya.


"Aku menginginkan hidangan penutupku sayang, sekarang juga," bisik Axel.


Axel segera me****t bibir Helena yang merekah dengan jari tangannya yang masih terus bergerak di bawah sana.


Suara d****n Helena mengalun indah di telinga Axel. Axel menarik jarinya dan memposisikan tubuh Helena di atas tubuhnya. Helena yang hasratnya sudah bergejolak tidak bisa menolak keinginan Axel yang ingin bercinta di dalam bath tub. Keduanya pun bercinta dengan panasnya di dalam air dan memenuhi kamar mandi dengan suara e****s dari bibir keduanya hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan.


"Benar-benar dessert yang sangat nikmat sayang," ucap Axel di sela-sela napasnya yang masih terengah.


Helena sudah menyandarkan tubuhnya di bath tub. Axel pun mendekatinya lagi.


"Apa kau kesakitan sayang?" tanya Axel.


Helena menggeleng.


"Aku baik-baik saja," jawab Helena.


Axel tersenyum.


"Kalau begitu aku mau nambah sayang, karena aku belum kenyang," ucap Axel sambil menyeringai.


Helena membulatkan matanya.


"Aku sudah membangunkan singa yang tidur," batin Helena.


Axel membalikkan tubuh Helena dan dengan perlahan mempertemukan X-Lo dengan L-Na.


"Sssttt....Ahhhh...," lenguh Helena.


"Aku akan bermain dengan pelan sayang," bisik Axel.


Axel menciumi leher dan bahu Helena, kemudian bergerak dengan perlahan. Ruang kamar mandi itupun dipenuhi kembali dengan lenguhan-lenguhan penuh kenikmatan dari bibir Axel dan Helena yang saling bersahutan.


Setelah ronde kedua selesai, Axel dan Helena segera membersihkan tubuh mereka, lalu keduanya segera memakai baju. Axel meminta maid untuk membawakan hidangan makan siang mereka ke dalam kamar. Selesai makan, keduanya pun mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah setelah olah raga panas yang mereka lakukan di dalam air.


Bersambung...


...🌹🌹🌹...


Axello Zyan Alvaro



...❤...


Helena Margaretha Hermawan (Nyonya Axello Alvaro)



(Ini visual dari yang ada dipikiran author, semoga kalian suka. Jika dirasa kurang sesuai dengan keinginan readers, kalian bisa membayangkan visual yang sesuai dengan keinginan kalian. 🙏🥰)


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2