
Pagi ini Evan memulai harinya dengan mendatangi rumah sakit. Kebiasaan yang sudah dia jalani selama beberapa hari ini. Bersama Sandy, Evan datang berkunjung untuk mengetahui perkembangan Vira. Terlepas dari benar bersalah atau tidak, Evan tetap merasa bersalah karena dia adalah pria terakhir yang bersama Vira di dalam kamar itu. Namun, Evan hanya bisa melihat Vira dari luar pintu, karena kondisi psikologi Vira yang belum stabil. Vira masih merasa ketakutan saat melihat orang yang tak dikenalnya, terutama bertemu dengan pria selain kakaknya.
"Evan!"
Evan langsung menoleh ke belakang.
"Kak Axel, Kak Helena," sapa Evan.
Mereka bertiga duduk bersebelahan di sebuah kursi panjang. Sedangkan Sandy pergi menjauh karena harus mengangkat telpon.
"Bagaimana kabarmu, Evan?" tanya Axel.
"Yah, seperti yang Kakak lihat," jawab Evan sambil memaksakan senyumnya.
Penampilan Evan saat ini terlihat sedikit berantakan dan kurang terawat. Evan membiarkan jambangnya tumbuh tanpa mencukurnya. Selain itu kantung mata yang menggelap menghiasi kedua matanya.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Helena.
Evan menggeleng.
"Aku tadi masih kenyang, Kak," jawab Evan.
"Sebesar dan seberat apapun masalah yang sedang kau hadapi, kau harus tetap memperhatikan kesehatan tubuhmu, Evan. Jasmine pasti sedih jika dia melihatmu seperti ini," ucap Helena.
Evan hanya tersenyum tipis.
"Bagaimana hubungan kalian berdua?"
"Jasmine masih tidak mau berbicara denganku, Kak. Bahkan saat dia akan pergi ke Inggris, dia tidak memberitahuku sama sekali," ucap Evan dengan wajah kecewa.
"Apa kau marah?" tanya Axel.
Evan menggeleng. "Tidak Kak. Bagaimana mungkin aku bisa marah kepada wanita yang kucintai di saat aku tengah menyakiti hatinya."
"Kami selalu berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk hubungan kalian berdua. Dan kami juga berharap semoga hasil tes DNA-nya tidak cocok. Kami ingin melihat kalian bisa hidup bahagia bersama," ucap Helena.
"Aamiin. Terima kasih Kak."
"Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus berpisah dengan Jasmine. Haruskah penantian dan perjuanganku selama ini akan sia-sia. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Setelah semua perjuangan dan kesabaran kami untuk mendapatkan restu dari Tuan Zayn dan Grandpa Kareem, haruskah berakhir karena kejadian satu malam yang sama sekali tidak bisa kuingat," ujar Evan sedih.
"Serahkan semuanya kepada Tuhan. Jangan pernah putus doamu. Aku yakin Tuhan akan menunjukkan jalan yang baik dan benar," tutur Axel.
Evan mengangguk.
"Dan aku yakin Tuhan sudah memberikan petunjuknya saat ini," tambah Axel.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Helena tak mengerti.
Axel tersenyum. "Aku tahu jika keberangkatan Opa Alex ke Inggris bukan hanya untuk menghadiri pernikahan Azzura dan Pangeran Aaron, karena beberapa hari sebelumnya Opa dan Oma singgah dahulu ke Jerman untuk menemui Uncle Joe. Pasti ada hal yang sangat penting sampai Opa harus turun tangan sendiri."
"Apa maksud Kakak? Aku tidak mengerti," tanya Evan.
"Kita tunggu saja. Aku yakin mereka akan kembali ke tanah air tidak dengan tangan kosong," jawab Axel sambil menyinggungkan bibirnya.
Pramudya dan dokter Nabila berdiri tak jauh dari sana dan mendengar semua perbincangan mereka. Namun keduanya segera pergi ke kantin yang ada rumah sakit untuk sarapan karena Vira masih tertidur dan ada seorang perawat khusus yang ditugaskan untuk merawat dan menjaganya.
"Manurutku mereka adalah orang-orang yang baik, Pram. Tuan Evan setiap hari datang ke sini untuk menjenguk dan mengetahui perkembangan Vira. Sedangan Tuan dan Nyonya Muda Alvaro telah memberikan perawatan serta menyiapkan dokter dan psikiater terbaik untuk membantu kesembuhan Vira," ucap Nabila.
__ADS_1
Pramudya menghela napas panjang dengan pandangannya menatap lurus ke taman yang ada di dekat kantin.
"Kau benar Nabila. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan adikku Vira. Aku akan terus mencari keadilan untuknya," ucap Pramudya.
Keduanya pun terdiam dan segera menghabiskan makanan yang telah mereka pesan.
...***...
"Katakan Hans. Apa maksudmu membawaku pergi ke tempat ini?" tanya Jasmine.
Saat ini Jasmine dan Hans sedang berada di markas mafia Black Shadow.
"Tunggu dan bersabarlah. Nah, itu dia orangnya datang," ucap Hans.
Masuklah seorang pria muda yang Jasmine kenali berada di salah satu ruang VVIP club malam bersama pria yang bernama Vicky.
"Dia? Sedang apa dia di sini?" tanya Jasmine dingin.
"Perkenalkan namaku, Ryan," sapa Ryan, teman Vicky.
"Aku tahu. Kau adalah sahabat dari pria br****k yang bernama Vicky itu," ucap Jasmine.
"Lebih tepatnya mantan sahabat," sahut Ryan.
"Lalu, apa hubungan kalian berdua? Jelaskan Hans!" tuntut Jasmine.
"Ryanlah yang telah membantu kita untuk menjebak Vicky tadi malam, sehingga dia bisa mengakui semua perbuatan jahatnya itu. Karena Ryan juga menyimpan dendam kepada Vicky," terang Hans.
"Dendam?" Jasmine menyerngitkan dahinya.
"Vicky telah merebut Ziya, gadis yang telah aku pacari selama dua tahun," ucap Ryan.
Ryan terkekeh. "Aku dulu memang sempat marah dan sakit hati, namun akhirnya aku sadar jika gadis yang aku pacari selama ini ternyata tak lebih dari sampah. Dengan mudahnya dia menyerahkan mahkotanya yang selama ini selalu aku jaga, kepada Vicky karena tergiur uang dan tas mahal."
"Lalu?" tanya Jasmine yang mulai tertarik.
Ryan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video kepada Jasmine. Dari video itu terlihat ada seorang gadis duduk di atas kursi roda dengan wajah pucat dan tatapan matanya kosong.
"Dia adalah Niken, adik sepupuku. Saat ini dia mengalami kelumpuhan dan gangguan mental. Tatapannya kosong dan dia hanya diam tanpa mau berbicara. Semua itu karena ulah baj***n itu," ucap Ryan dengan wajah menahan amarah.
"Niken mengalami diculik saat pulang dari sekolah. Dia mengalami kekerasan sek**l. Dia diperkosa dan digilir oleh beberapa pria, yaitu Vicky dan teman-teman ganknya. Mereka meminum alkohol dan melampiaskan nap** bejat mereka kepada Niken."
Ryan menghapus bulir air matanya yang mulai menetes.
"Tubuh Niken ditemukan oleh warga di suatu tempat pembuangan sampah yang letaknya cukup jauh dari lingkungan sekolah dengan kondisi berlumuran darah di bagian tubuh bawahnya dan hanya dibungkus kain selimut. Niken mengalami pendarahan hebat dan dia hampir kehilangan nyawanya," ucap Ryan sambil terisak.
"Dan kalian tidak mempunyai bukti yang kuat untuk menjebloskan para ba*****n itu ke penjara?" tanya Jasmine.
"Benar. Ayah Vicky, Tuan Prawira adalah salah satu pejabat yang kaya raya dan sangat berpengaruh di kota kami. Demi menjaga putra dan nama baik keluarganya, Tuan Prawira tega memfitnah pamanku melakukan penyelewengan dana dari para investornya, sehingga perusahaan paman mengalami kebangkrutan dan paman harus mendekam di penjara," jawab Ryan.
"Memangnya sehebat apa keluarga Pramira itu?" celetuk Jasmine.
"Sehebat apapun keluarga mereka, tetap tak akan bisa menandingi Keluarga Alvaro," terdengar suara dari arah pintu.
"Opa?" Jasmine sangat terkejut.
"Ya cucu kesayanganku. Ini aku, Opa kesayanganmu," jawab Tuan Alex sambil berjalan menghampiri Jasmine.
__ADS_1
"Jadi Opa sudah mengetahui semuanya dan semua ini adalah rencana Opa?" tanya Jasmine.
"Bukan hanya Opa, tapi juga Hans. Opa tahu kau sangat bersedih saat ini, sehingga kau tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan sebagai seorang kakek yang sangat menyayangimu, Opa harus turun tangan langsung untuk membantu cucuku menyelesaikan masalahnya," jawab Tuan Alex.
Jasmine langsung memeluk Tuan Alex. "Terima kasih, Opa."
"Sama-sama, sayang," balas Tuan Alex.
"Dan, apa rencana kita selanjutnya? Apa kita seret pria itu dan membawanya pulang ke Indonesia? Karena aku sudah tidak sabar ingin memberikan bogemanku ke wajahnya," tanya Jasmine.
Tuan Alex dan Hans tertawa.
"Simpan saja tenagamu, princess. Ayah kebanggaan pria itu sendiri, Tuan Prawira yang akan menyeret anaknya pulang ke Indonesia," ucap Hans.
"Dan Papa tercintamu sudah menyiapkan beberapa hantaman yang bisa membuat mereka terkena serangan jantung juga menjatuhkan mental mereka karena hukuman dan rasa malu yang akan mereka tanggung," ucap Tuan Alex.
Jasmine langsung menyeringai. Hari itu juga Keluarga Alvaro, Hans serta Ryan terbang meninggalkan Inggris dan kembali ke Indonesia. Mereka langsung menuju Jakarta, karena Jasmine telah mendapatkan informasi dari pihak laboratorium jika hasil tes DNA Evan telah keluar.
"Apa kau tegang?" tanya Hans yang duduk bersebelahan dengan Jasmine.
Jasmine tersenyum kaku.
"Tenanglah. Apapun yang akan terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu," ucap Hans.
"Aku hanya takut jika hasil tes DNA-nya cocok. Vicky memang pria yang menodai Vira pertama kali, tapi kita juga tidak tahu apakah malam itu Evan juga menyentuh gadis itu karena pengaruh obat yang diminumnya. Aku takut jika aku tidak sanggup menerima kenyataan itu. Kau tahu kan jika pria seperti Evan itu sangat langka di dunia ini," ungkap Jasmine.
Hans tersenyum. "Jika hal buruk itu terjadi. Aku yang akan menghiburmu. Kalau perlu aku yang akan menggantikan posisi Evan. Aku kan juga pria langka."
Jasmine bergidik ngeri. "Kita bukan Kak Axel dan Kak Helena. Dan hubungan kita tidak seperti hubungan mereka."
Hans terkekeh. "Tentu saja kita bukan mereka. Tapi aku tidak ingin melihatmu sedih."
"Apa kau yakin bisa menikah denganku?" tanya Jasmine penasaran.
"Nope. Jujur saja, agak geli ya membayangkan jika aku harus menikahi wanita yang sudah seperti saudara kembarku. Rasanya seperti aku akan menikahi diriku sendiri. Meskipun kita berbeda struktur DNA, namun karakter, kecerdasan dan selera kita hampir sama," jawab Hans yang membuat Jasmine tidak bisa menahan tawanya.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰