Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 42 (Berangkat Ke Amerika)


__ADS_3

Vira merasakan kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rasa hangat, nyaman, damai dan aroma yang menenangkan sehingga membuatnya enggan untuk membuka mata. Vira menggeliatkan badannya.


"Jangan banyak bergerak, sayang," terdengar suara berat seorang pria yang baru bangun tidur.


Seketika Vira membuka matanya dan melihat dada bidang yang dibalut kaos berwarna putih. Napas Vira serasa tercekat. Vira menyadari jika dirinya berada di dalam pelukan Yudistira saat ini. Dengan perlahan dia mengangkat wajahnya dan melihat wajah Yudistira yang masih memejamkan mata. Cukup lama Vira memandangi wajah tampan suaminya itu karena terpesona.


"Jangan terlalu lama menatapku seperti itu, nanti kau bisa cinta mati padaku," ucap Yudistira yang sudah membuka matanya.


Vira terkejut dan menjadi salah tingkah.


"Ke-kenapa kita bisa sedekat ini, Mas? Bukankah semalam ada guling diantara kita?" tanya Vira dengan polosnya.


Yudistira terkekeh. "Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Yang aku ingat semalam kau menendang gulingnya sampai jatuh ke lantai, lalu perlahan kau menggeser tubuhmu mendekat padaku. Sepertinya kau kedinginan dan membutuhkan kehangatan."


"Be-benarkah seperti itu?" tanya Vira dengan wajah shocknya.


Yudistira mengedipkan mata kanannya. Dengan cepat Vira membenamkan wajahnya di dada Yudistira karena malu.


Yudistira tersenyum melihat tingkah lucu istri kecilnya. "Ini masih terlalu pagi. Tidurlah kembali."


Vira tak menjawab. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Beberapa kali Vira menggerak-gerakkan tubuhnya, membuat Yudistira merasa terancam.


"Berhentilah bergerak, sayang. Kau bisa membangkitkan Raja Phyton yang sedang tidur," ucap Yudistira sambil menahan gejolak dari dalam dirinya.


Vira langsung terdiam.


"R-raja Phyton? Di mana Mas? Memangnya di hotel semewah ini ada ularnya? Vira takut sekali dengan ular, Mas," tanya Vira dengan wajah ketakutan.


Vira mengira ada ular sungguhan di kamar mereka. Yudistira tertawa pelan.


"Ada sayang. Dia tidak akan bangun jika kau diam dan tidak banyak bergerak," jawab Yudistira.


Vira mengangguk. Tangannya mencengkeram baju Yudistira dengan kuat. Vira merasa sesak. Perutnya seperti tertekan sesuatu yang semakin lama semakin mengeras. Vira menurunkan tangannya.


"Mas, bisa tolong longgarkan sedikit pelukannya. Tulang Mas ini agak keras dan menekan perutku," pinta Vira sambil menyentuh benda keramat itu.


Glek... (Yudistira membelalakkan matanya dan menelan salivanya kasar)


Gesekan tangan Vira membuat sesuatu itu semakin mengeras. Yudistira langsung menarik tangan Vira agar menjauh darinya.


"Mas kan sudah bilang, jangan banyak bergerak sayang. Raja Phytonnya kan jadi bangun dan dia ingin mengamuk sekarang," ucap Yudistira yang mulai frustasi.


Vira menyerngitkan dahinya. "M-mas punya Raja Phyton?"


Yudistira mengangguk. "Tentu saja sayang. Jika tidak, aku tidak akan bisa membuat adonan anak denganmu suatu saat nanti."


Vira berpikir keras, sampai dia menyadari semua ucapan Yudistira. Wajah Vira seketika memerah karena takut bercampur malu.


"Vira minta maaf, Mas. Kalau begitu Vira berbalik saja," ucap Vira sambil membalikkan badannya dan menutup wajahnya dengan selimut.


Perubahan posisi Vira malah membuat si Raja Phyton berhadapan tepat dengan pan tatnya. Yudistira menepuk dahinya. Dengan cepat dia bangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Vira semakin membenamkan tubuhnya di dalam selimut. Dia takut berhadapan dengan Yudistira.


Setelah sarapan, kedua pasang pengantin baru itu meninggalkan hotel dan kembali ke rumah kontrakan untuk membereskan barang-barang mereka. Pramudya dan Nabila akan menempati rumah dinas dari Alvaro Group, sedangkan Yudistira dan Vira pulang ke rumah Tuan Rino untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Amerika bersama Evan dan Jasmine.

__ADS_1


"Apa kau lelah, sayang? Sejak tadi kau kelihatan lemas?" tanya Pramudya kepada istrinya yang duduk di atas sofa.


"Tentu saja aku lelah. Semalam kau mengajakku begadang, lalu tadi pagi kau melakukan serangan fajar. Tulang-tulangku terasa remuk semua, belum lagi milikku yang terasa perih jika banyak bergerak," jawab Nabila kesal.


"Aku minta maaf ya sayang. Mau bagaimana lagi, kau terlalu nikmat dan membuatku kecanduan," bisik Pramudya.


Nabila semakin kesal dan langsung mencubit perut suaminya.


Pramudya terkekeh. "Baiklah, istriku sayang. Sebaiknya kau sekarang masuk kamar dan istirahat. Biar aku dan Fandi yang merapikan barang-barang ini."


"Baiklah. Aku istirahat dulu ya. Kalau kalian lelah jangan dipaksakan. Kita bisa merapikannya besok," ucap Nabila.


Pramudya mengangguk. Nabila segera beranjak dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Evan's Penthouse


Evan terbangun dan tidak mendapati Jasmine di sampingnya. Samar-samar dia mendengar suara tangis dari dalam kamar mandi. Evan langsung turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi karena khawatir.


Saat Evan masuk ke dalam kamar mandi, dia terkejut melihat Jasmine yang duduk di atas closet sambil menangis. Evan segera mendekatinya.


"Hei, sayang. Ada apa? Mengapa kau menangis? Apa aku telah berbuat salah dan menyakiti hatimu?" tanya Evan dengan lembut.


Jasmine menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Apa yang membuatmu menangis? Katakan padaku, sayang."


Jasmine menarik napas panjang.


Evan langsung memeluk istri tercintanya itu sambil tersenyum.


"Apakah perutmu terasa sakit sekali?"


"Sedikit sakit," jawab Jasmine.


Evan mengurai pelukan mereka dan menghapus air mata Jasmine. Dengan perlahan Evan mengangkat tubuh Jasmine dan membawanya kembali ke atas ranjang.


"Aku minta maaf," lirih Jasmine dengan tatapan bersalah.


"Mengapa harus meminta maaf, sayang? Itukan hal yang wajar bagi seorang wanita," sahut Evan.


"Aku minta maaf karena aku belum bisa menghadirkan calon bayi kita," ucap Jasmine.


Evan menghela napas panjang. Dengan lembut dia merapikan anak rambut yang menutupi wajah Jasmine.


"Sayang, anak itu kan rejeki dari Tuhan. Bukan kesalahanmu jika kita belum diberikan anak. Tapi memang Tuhan belum berkehendak. Janganlah menyalahkan dirimu seperti ini. Itu membuat hatiku sakit."


"Aku tahu. Tapi aku hanya sedikit kecewa saja," ucap Jasmine.


"Apa kau tahu? Daddy dan Mommyku mendapatkan Kak Cemal diusia pernikahan mereka yang ke tiga. Itu artinya mereka harus menunggu lebih dari dua tahun untuk mendapatkan anak pertama mereka."


"Lagi pula, kita kan baru satu bulan menikah. Dan selama satu bulan ini kita disibukkan dengan persiapan kuliah dan membangun usaha di Amerika. Mungkin kita memang masih harus fokus dulu dengan semua itu. Aku yakin, jika sudah saatnya kita pasti akan mendapatkan rejeki anak," ujar Evan.


Jasmine mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Yang penting kita jangan pernah bosan dan putus berdoa, lebih keras lagi dalam berusaha dan menyerahkan hasil keputusannya kepada Tuhan. Dan apapun yang Tuhan putuskan nantinya, aku berjanji akan selalu mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan terus bersama dan saling menguatkan," tambah Evan.


Jasmine tersenyum dan mencium tangan suaminya. "Terima kasih, sayang. Aku sangat bersyukur Tuhan telah mengirimkanmu untukku."


Tiga hari kemudian, mereka berangkat ke Amerika menggunakan private jet milik keluarga Alvaro. Saat tiba di bandara, anak buah Tuan Alex yang berada di Amerika sudah menunggu kedatangan mereka. Mereka langsung diantarkan ke mansion Tuan Alex.


Ketika tiba di mansion, ada sepasang suami istri paruh baya yang menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Tuan Evan, Nona Jasmine, Tuan Yudi dan Nona Vira. Perkenalkan saya, Enrique, dan ini istri saya Matilda. Kami adalah orang yang ditugaskan oleh Tuan Alex untuk menjaga mansion ini," ucap Tuan Enrique.


"Terima kasih Tuan Enrique dan Nyonya Matilda. Opa dan Omaku sudah menceritakan semua tentang kalian, dan mereka juga mengirimkan salam untuk kalian," ujar Jasmine sambil menjabat tangan Tuan Enrique, lalu memeluk Nyonya Matilda.


"Silakan masuk Tuan dan Nona, para maid yang akan membawa barang-barang ke kamar kalian," ucap Nyonya Matilda.


Evan, Jasmine, Yudi dan Vira segera masuk ke dalam mansion. Sejak tiba di Amerika, Vira tiada henti dibuat terpana dengan tempat yang sangat asing baginya namun juga membuatnya sangat bersemangat.


Kamar Evan dan Jasmine berada di kamar utama yang ada di lantai atas, sedangkan kamar Yudistira dan Vira berada di lantai bawah. Jasmine suka sekali dengan kamar baru mereka. Dia langsung berlari menuju balkon dan menatap keindahan taman bunga yang ada di belakang mansion.


"Apa kau suka, sayang?" tanya Evan sambil memeluknya dari belakang.


"Tentu saja. Rasanya seperti berada di mansion Alvaro yang ada di Indonesia," jawab Jasmine sambil tersenyum bahagia.


"Kau benar sayang. Opa Alex dan Oma Savira sepertinya memang sengaja mendesain mansion ini agar tak jauh beda dengan mansion yang ada di sana," sahut Evan.


Jasmine membalikkan badannya dan menghadap suaminya.


"Mulai saat ini, kita akan memulai perjuangan kita sayang," ucap Jasmine.


"Tentu saja. Kita akan memulai semuanya bersama-sama dari awal, my sunshine," jawab Evan, lalu menci um bibir Jasmine dengan lembut.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2