
"Bagaimana keadaan pasien, Dokter?" tanya Yudistira.
Saat ini mereka semua berada di rumah sakit tempat gadis bernama Vira dirawat, kecuali Candrama karena dia harus menghadiri meeting penting. Jasmine dan Evan ingin memastikan keadaan gadis itu. Meskipun Jasmine masih diam dan bersikap dingin pada Evan. Evan memahami perubahan sikap Jasmine dan berusaha untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
"Secara fisik pasien mengalami luka di area sensitifnya dan sempat mengalami pendarahan. Terlihat sekali jika hubungan badan yang terjadi karena paksaan. Dan secara emosional, pasien mengalami depresi akibat trauma dari kejadian yang dialaminya. Saat sadar tadi, dia terus berteriak ketakutan dan dengan terpaksa saya harus memberikan obat penenang padanya," jawab dokter Nabila, dokter cantik berhijab yang memeriksa Vira.
"Sudah puas kau baj*ngan? Akan kubalas semua perbuatan terkutukmu pada adikku!" teriak Pram sambil berusaha menggapai tubuh Evan dan melepaskan pukulannya lagi.
Sandy langsung menghadangnya dan mendorong tubuh Pram menjauh dari Evan.
"Tolong kendalikan emosimu, Pramudya. Ini rumah sakit," ucap dokter Nabila.
"Bagaimana aku bisa tenang Nabila? Kau lihat sendiri bagaimana keadaan adikku, Vira. Ini semua karena ulah baj*ngan ini," protes Pram tak terima.
"Aku tahu. Tapi kau lihat sendiri kan pria ini datang kemari dan tidak pergi begitu saja untuk melarikan diri. Setidaknya hargai itikad baiknya. Kita harus harus mencari kebenarannya, bagaimana mereka bisa berada di kamar itu bersama-sama," sahut Nabila berusaha menenangkan Pram.
"Kalian berdua saling mengenal?"
Kalimat pertama yang terucap dari bibir Jasmine setelah sekian lama diam.
"Benar. Saya dan Pramudya sudah bersahabat lama. Kami kuliah di universitas yang sama, namun dengan jurusan yang berbeda," jawab dokter Nabila.
Jasmine hanya mengangguk dan kembali terdiam.
"Aku tidak menodai gadis itu. Kesalahanku adalah aku masuk ke kamar yang salah karena penglihatanku saat itu kurang jelas. Aku dalam kondisi kepala pusing. Dan pada saat aku membuka knop pintu, pintu itu tidak terkunci. Aku tahu kalian tidak akan percaya semudah itu, tapi akan aku buktikan jika aku bukanlah pelaku tindak pelecehan ini," ucap Evan.
"Terutama padamu. Akan kubuktikan jika aku tidak pernah mengkhianatimu. Demi Tuhan, tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk memikirkan wanita lain apalagi menyentuhnya," tambahnya sambil menatap Jasmine dengan wajah memohon.
Jasmine hanya menatapnya sekilas dengan tatapan dinginnya, membuat hati Evan semakin sakit.
"Tapi aku tetap akan menanggung biaya pengobatan adikmu, meskipun bukan aku yang menodainya," ujar Evan kepada Pramudya.
Pramudya mengeraskan rahangnya dan deru napasnya semakin kasar karena emosi yang meluap.
"Kalau bukan dirimu, lalu siapa? Jangan coba-coba mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi kebusukanmu! Kami memang dari keluarga miskin, tapi aku tidak akan pernah takut dengan orang kaya seperti kalian."
"Dan jika sampai terbukti kau yang telah menodai adikku, Vira, aku pastikan kau akan membusuk di penjara. Jika kau berhasil lolos karena uang yang kau miliki, maka aku akan menghabisi nyawamu dengan tanganku sendiri," ucap Pramudya sambil mengepalkan tangannya kuat di hadapan Evan.
Evan menganggukkan kepalanya. "Beri aku waktu untuk membuktikannya."
"Apa saat itu Anda sedang pengaruh alkohol, Tuan" tanya dokter Nabila menelisik.
"Tidak. Aku tidak pernah menyentuh minuman berakohol seumur hidupku. Tapi aku merasakan kepalaku tiba-tiba pusing dan badanku terasa terbakar, sehingga aku memutuskan untuk segera kembali ke hotel. Aku hanya ingat masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa," jawab Evan.
Dokter Nabila mengangguk, lalu mendekati Pramudya.
"Saat ini Vira masih dalam pengaruh obat. Dan saat dia sadar nanti bicaralah dengan perlahan, usahakan jangan sampai dia terus teringat kejadian buruk itu. Sebisa mungkin alihkan pikirannya dengan hal-hal baik yang dia sukai. Dan kau harus bisa mengendalikan emosimu saat berada di dekat Vira. Kau harus bisa menjadi penyemangat hidupnya," terang dokter Nabila.
Pramudya mengangguk pelan dan perlahan luapan emosinya menurun.
"Pram!" panggil seorang wanita sambil berlari mendekat.
"Mitha!" seru Pramudya saat melihat ke arah wanit itu.
Wanita bernama Mitha itu langsung memeluk Pramudya. Dokter Nabila langsung berpindah dan memberikan ruang untuk keduanya.
"Terima kasih, Mitha kau sudah datang kemari. Aku sangat membutuhkan kehadiranmu di dekatku. Hatiku hancur melihat apa yang terjadi pada Vira," ujar Pramudya sambil menangis dan memeluk erat kekasihnya.
Pelukan keduanya pun terurai. "Tenanglah, aku ada di sini untukmu. Apa yang terjadi pada adikmu?"
Pramudya menghapus air matanya.
"A-adikku Vira mengalami pelecehan dan dia telah dinodai," jawab Pramudya sambil terisak.
Mitha menutup mulutnya tak percaya.
"Maksudmu, Vira menjadi korban pemerk0saan?"
__ADS_1
Pramudya mengangguk.
"Ya Tuhan, bagaimana mungkin ini bisa terjadi, Pram?" tanya Mitha.
"Aku tidak tahu. Saat aku dan Dinda tiba di hotel, kami menemukan Vira sudah dinodai," jawab Pramudya pelan.
"Mengapa semua ini harus terjadi di saat kedua orang tuaku sudah memberikan restu kepada kita? Jika mereka tahu, mereka pasti akan membatalkan rencana pernikahan kita," marah Mitha.
Pramudya langsung terduduk dengan kedua tangan menyangga kepalanya.
"Cukup Mitha. Bisa-bisanya kau bicara seperti itu di saat Pram sedang dalam kondisi terpuruk seperti ini?" bentak Nabila.
"Kau tidak perlu ikut campur, Nabila. Kau itu hanya teman Pram. Sedangkan aku adalah kekasihnya dan kami akan segera menikah. Aku sudah berjuang keras agar orang tuaku merestui hubungan kami," jawab Mitha penuh emosi.
Nabila membuang mukanya sambil menahan marah. Mitha membuang napasnya kasar, lalu menatap ke arah Jasmine, Evan, Yudistira dan Sandy.
"Siapa mereka?" tanya Mitha dengan wajah angkuhnya.
"Dia adalah pria yang bersama adikku di kamar hotel. Dia menyangkal bahwa dia yang telah menodai Vira. Dan dia berjanji akan membuktikannya," ucap Pramudya sambil menunjuk ke arah Evan.
"Dan yang lain adalah teman-temannya."
Mitha menyerngitkan dahinya, lalu menatap Evan lekat. Mitha menilik Evan dari atas sampai bawah.
"Jadi pria tampan ini yang telah meniduri Vira. Dilihat dari tampangnya sepertinya dia berasal dari keluarga kaya. Beruntung sekali Vira, meskipun dia diunboxing lebih dulu tapi oleh pria sesempurna ini," batin Mitha.
"Mengapa kau menatap bosku seperti itu?" tanya Sandy tak terima.
"Tidak apa-apa, hanya melihat saja," ketus Mitha.
"Ayo sayang, kita masuk saja dan menemani adikmu. Biarkan pria ini mencari buktinya. Dan jika dia tidak bisa membuktikannya, kita laporkan dia ke pihak yang berwajib dan aku akan meminta bantuan pengacara keluargaku untuk membantumu," ucap Mitha sambil menarik Pramudya masuk ke dalam ruangan Vira.
"Kalau begitu kami pergi dulu, dokter. Tolong kabari aku setiap perkembangan dari gadis itu," ucap Jasmine sambil memberikan kartu namanya.
"Baiklah, Nona...," dokter Nabila membaca nama yang ada di kartu nama itu.
"Jasmine," seru Jasmine.
"Tolong kabari saya juga, dokter." Evan juga menyerahkan kartu namanya.
Mereka berempat segera meninggalkan rumah sakit. Evan menghentikan Jasmine saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Tunggu, Jasmine."
Jasmine segera menarik tangannya dan sedikit menjauh dari Evan.
"Beri aku sedikit waktumu. Jangan terus mengabaikanku. Aku mohon percayalah padaku," mohon Evan.
Jasmine membuang napasnya kasar.
"Jangan mengumbar omongan dan janji, lebih baik kau segera mencari buktinya," ucap Jasmine dingin.
Jasmine segera masuk ke dalam mobil dan Yudistira melajukan mobil meninggalkan kawasan rumah sakit. Evan hanya bisa menatap nanar kepergian Jasmine. Sandy menyentuh bahunya.
"Apa yang dikatakan Nona Jasmine benar, Tuan. Sebaiknya kita segera mencari bukti agar kesalahpahaman ini segera berakhir," ucap Sandy.
Evan menunduk. "Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana? Kepalaku serasa mau pecah."
"Kita periksa lagi rekaman CCTV. Bukan hanya di lantai kamar 126 tetapi juga rekaman CCTV yang lain, bila perlu semua CCTV yang ada di hotel itu. Dan semoga kita mendapatkan petunjuk. Anda jangan menyerah dan harus semangat. Saya yakin jika Anda berhasil membuktikannya, sikap Nona Jasmine pasti akan kembali seperti dulu. Kalian berdua saling mencintai bukan dalam waktu yang singkat. Aku yakin Nona Jasmine masih mencintai Anda, hanya saja dia kecewa dengan kejadian buruk ini," ucap Sandy.
Evan mengangguk, lalu keduanya segera pergi menuju hotel untuk memeriksa kembali rekaman CCTV.
"Kakak. Bima tadi menghubungiku dan memberitahu bahwa hasil tes DNA baru akan keluar dua sampai empat minggu lagi," lapor Yudistira.
Jasmine menghela napas panjang. "Apa tidak bisa lebih cepat lagi?"
"Tidak bisa. Paling cepat dua minggu. Dan semoga dalam waktu dua minggu hasilnya sudah keluar," jawab Yudistira.
__ADS_1
Jasmine mengangguk pasrah.
"Mengapa kakak bersikap dingin kepada Kak Evan?" tanya Yudistira dengan hati-hati.
"Aku marah padanya karena dia bodoh dan tidak hati-hati. Seandainya dia menggunakan kecerdasan otaknya, dia tidak mungkin masuk ke dalam jebakan," jawab Jasmine kesal.
"Semua sudah terjadi, dan sudah menjadi rencana Tuhan. Lalu, bagaimana jika hasil tesnya sudah keluar dan ternyata ada kecocokan?" cerca Yudistira.
"Siapa yang berbuat dia yang harus bertanggung jawab," tegas Jasmine.
Yudistira menatap Jasmine tak percaya.
"Aku tidak mungkin bersikap egois dengan mempertahankan Evan di sisiku, dan melukai gadis lain lahir dan batinnya," terang Jasmine.
Yudistira langsung terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Ponsel Jasmine berdering.
"Halo, Hans," sapa Jasmine.
"Aku menemukan sesuatu yang menarik. Kau harus melihatnya," ucap Hans.
Hans mengirimkan sebuah video yang langsung dibuka oleh Jasmine. Jasmine menyunggingkan bibirnya.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Hans.
"Tentu saja. Sepertinya dia masih menyimpan dendam," jawab Jasmine. "Apa kau sudah tahu di mana dia tinggal sekarang?"
"Tentu saja, princess. Aku tidak pernah bekerja setengah-setengah. Akan ku kirimkan alamat tempat dia tinggal saat ini. Dan aku membutuhkan sedikit waktu untuk mengungkap semuanya. Aku merasa ada kejanggalan," ucap Hans.
"Kau benar, kejadian ini sangat mengganjal. Lakukan yang terbaik, Hans. Dan aku akan membereskan hama ini satu persatu," sahut Jasmine.
Panggilan telpon mereka pun terputus.
"Yudi, kita pergi ke alamat ini," seru Jasmine sambil menunjukkan lokasi suatu tempat dari GPS ponselnya.
"Siap, bos!" jawab Yudistira.
Di sebuah apartemen, seorang wanita masuk ke dalam salah satu unitnya. Saat dia menyalakan lampu, dia dibuat terkejut setengah mati melihat ada orang yang duduk di sofa ruang tamunya.
"Kau!" teriak wanita itu.
"Ya, ini aku Zalina Jasmine Alvaro. Syukurlah kau masih mengingatku, idiot," jawab Jasmine sambil tersenyum mengejek.
"A-apa yang kau lakukan di sini?" tanya wanita itu gugup.
Jasmine berdiri dan berjalan mendekat, membuat wanita itu semakin gugup dan takut.
"Menyelesaikan sisa masalah dari masa lalu, Gina Putri Raharja," ucap Jasmine sambil menyeringai.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰