Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 46 (Evan Cemburu)


__ADS_3

Evan menikmati sarapan paginya dengan wajah yang sumringah. Tiada henti dia mengumbar senyumannya ke arah Jasmine.


"Nasi goreng buatanmu memang tiada duanya, sayang," puji Evan sambil menyendok nasi goreng seafood buatan Jasmine.


"Kalau begitu makanlah yang banyak untuk mengganti energimu yang terkuras semalam," ucap Jasmine sambil menambahkan nasi ke piring Evan.


"Terima kasih, istriku tercinta. Jadi tambah semangat ingin membakar kalori lagi, sayang." Ucap Evan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jasmine.


"Selamat pagi, Kak," sapa Yudistira dengan wajah yang tak kalah cerahnya.


"Selamat pagi, Yudi."


"Mana Vira? Biasanya dia sudah bangun pagi-pagi sekali," tanya Jasmine.


"Hmm... Vira sedang kurang enak badan, Kak," jawab Yudistira sambil tersenyum kikuk.


"Vira sakit apa? Apa kita perlu memanggil dokter?" tanya Evan.


"Tidak perlu, Kak. Vira hanya butuh sedikit istirahat saja," jawab Yudistira.


Jasmine mengulum senyumnya. Jasmine bisa menebak apa yang terjadi pada Vira saat ini.


"Wah, Kak Jasmine buat nasi goreng seafood ya. Pasti lezat sekali seperti masakan Mama Aline."


"Kau terlalu memuji, Yud. Tidak ada yang bisa mengalahkan kelezatan nasi goreng buatan Mamaku," ucap Jasmine.


Yudistira mengambil dua piring dan mengisinya dengan nasi goreng. Kemudian dia letakkan di atas nampan bersama dua gelas berisi air putih.


"Istrimu sedang sakit, tapi mengapa kau malah tersenyum terus mulai tadi? Sepertinya kau terlihat bahagia sekali pagi ini," tanya Evan.


"Kak Evan juga, mengapa mengumbar senyum terus mulai tadi?" Yudistira balik bertanya.


"Ya tentu saja karena aku sudah bekerja keras untuk mendapatkan banyak pahala semalam," jawab Evan dengan sombongnya.


"Nah! Itu jawaban yang sama untuk pertanyaan yang kakak ajukan tadi," sahut Yudistira.


Evan membulatkan matanya.


"Selamat ya Yud, akhirnya bisa merasakan surga juga sekarang," ucap Evan sambil terkekeh.


"Terima kasih kembali Kak. Semua juga berkat bantuan Kak Jasmine," balas Yudistira dengan senyum yang semakin mengembang.


"Oh ya, Kak Evan. Untuk acara rapat pagi ini...."


"Tunda saja. Kita bisa melakukannya besok. Dan hari ini kau dan Vira tidak usah masuk kerja. Aku memberi kalian cuti selama satu minggu. Mungkin kalian ingin pergi berbulan madu," sahut Evan.


"C-cuti Kak? Tapi masih banyak pekerjaan di kantor, Kak. Bagaimana mungkin kami bisa mengambil cuti? Siapa yang akan membantu kalian nantinya?"


"Kau tidak perlu khawatir, Yud. Hari ini Mark Herrmann, adiknya William akan datang dari Jerman. Dan dia akan tinggal bersama kita di mansion ini. Uncle Joe mengirimnya ke sini sesuai permintaan Opa Alex," ucap Jasmine.


"Mark yang nantinya akan menghandle semua pekerjaanmu selama kau cuti. Sebaiknya kau dan Vira pergi berbulan madu," tambah Evan.


Yudistira terdiam. "Aku bicarakan dengan Vira dulu. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak, Kak."


"Sama-sama. Tak perlu sungkan, kita kan keluarga," jawab Evan sambil tersenyum.


"Baiklah, aku kembali ke kamar dulu. Vira pasti sudah sangat kelaparan," ujar Yudistira sambil membawa nampan di atas kedua tangannya.


"Ingat Yud, pelan-pelan saja," goda Jasmine yang membuat Yudistira tersenyum malu.


Yudistira meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas.


"Sayang, ayo makan dulu," seru Yudistira.


"Ya, Mas."


Vira segera bangun dan duduk di tepi ranjang.


"Mas, apa tidak apa-apa kita makan di kamar. Aku jadi tak enak sama Kak Evan dan Kak Jasmine," ucap Vira.


"Tidak apa-apa sayang. Bahkan, mereka melarang kita untuk masuk kerja hari ini," jawab Yudistira.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan di kantor Mas?"


Yudistira duduk di samping Vira. "Kak Evan memberi kita cuti kerja selama satu minggu, untuk kita berbulan madu. Mas mau tanya, apa sayang mau pergi berbulan madu?"


"Aku terserah Mas saja. Tapi bukankah Mas Yudi masih ada jadwal kuliah?" jawab Vira.


"Iya sih, Mas ada jam kuliah hari ini dan besok. Atau begini saja, kita pergi bulan madunya lusa. Untuk hari ini dan besok, sayang istirahat saja untuk persiapan bulan madu kita," usul Yudistira sambil tersenyum nakal.


"Ish, mas Yudi mulai genit sekarang ya?"

__ADS_1


"Ya tidak apa-apa, kan genitnya sama istri sendiri bukan sama perempuan lain," sahut Yudistira sambil mencubit pipi Vira.


"Awas saja kalau sampai Mas Yudi genit sama perempuan lain!" gertak Vira.


"Tidak mungkin sayang. Satu istri saja tidak habis-habis, kok mau cari lagi. Sayang harus yakin dan percaya jika kau sudah menguasai seluruh ruang di hatiku. Tidak akan ada lagi untuk wanita lain."


"Kan kamu adalah pemilik sarangnya si Raja Phyton," bisik Yudistira membuat wajah Vira memerah dan tersenyum malu.


Evan dan Jasmine masuk ke kantor JA juga sebentar, karena mereka ada jam kuliah hari itu. Sepulang dari kampus, mereka segera menjemput Mark di bandara dan membawanya pulang ke mansion.


"Ini kamarmu, Mark. Semoga kau merasa nyaman dan betah tinggal di sini," ucap Jasmine sambil menunjukkan kamar Mark.


"Tentu saja saya akan betah tinggal di sini. Kamarnya luas sekali dan terlihat sangat nyaman, Nona," ucap Mark.


"Syukurlah. Kalau begitu kau istirahatlah dulu. Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang tadi. Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa mengatakannya pada kami atau penjaga mansion ini, ada Tuan Enrique dan istrinya, Nyonya Matilda," ujar Jasmine.


"Baik Nona. Sekali lagi terima kasih," ucap Mark.


"Terima kasih kembali."


Mark segera membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum mengistirahatkan tubuhnya. Mark keluar dari kamarnya saat jam makan malam. Evan, Jasmine, Yudistira dan Vira sudah menunggunya di ruang makan.


"Kau sudah datang. Duduklah di samping Yudistira, Mark," seru Evan.


Mark segera duduk di samping kanan Yudistira.


"Maaf Tuan dan Nona, ada tamu yang ingin bertemu dengan kalian," lapor Nyonya Matilda.


"Siapa?" tanya Evan.


"Assalamualaikum dan selamat malam semuanya," sapa seorang pria tampan yang tiba-tiba masuk ke ruang makan.


"Waalaikumsalam."


"Hans!" seru Evan dan Jasmine.


"Yes, si tampan Hans datang untuk berkunjung. Apa aku boleh ikut bergabung untuk menikmati hidangan makan malam yang sangat menggiurkan ini?" tanya Hans.


"Kemarilah dan duduk di sampingku," seru Jasmine.


"Bagaimana kabarmu? Sejak kapan kau kembali ke Amerika?" tanya Evan.


"Aku sudah berada di Amerika sejak satu bulan yang lalu," jawab Hans.


"Jahat sekali kau. Sudah satu bulan berada di Amerika tapi kau tidak mengabariku sama sekali. Dan baru sekarang kau datang mengunjungi kami," ucap Jasmine dengan wajah marahnya.


"Aku minta maaf princess. Bukannya aku tidak ingin memberitahumu, tapi aku sibuk dengan program terbaruku dan mengurusi rencana kerjasama dengan beberapa perusahaan. Ini saja, aku baru saja pulang dari pertemuan penting dengan salah satu klien HH Corps. dan segera meluncur ke sini karena aku merindukan kalian," terang Hans dengan wajah memelas.


Jasmine tetap cemberut.


"Sudahlah sayang. Jangan marah terus. Apa kau tidak kasihan melihat wajah lelah Hans?" rayu Evan.


Jasmine membuang napasnya kasar. "Baiklah aku memaafkanmu kali ini. Kau harus makan yang banyak supaya tubuhmu terlihat lebih segar lagi dan tidak pucat seperti zombie."


"Siap, princess. Karena aku memang sudah sangat lapar. Maukah kau mengambilkannya untukku?" sahut Hans penuh semangat.


Jasmine mengangguk dan mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai makanan lalu meletakkannya di atas meja Hans. Evan merasa diabaikan.


"Sayang. Kau tidak melupakan suamimu ini, kan?" seru Evan dengan wajah cemburunya.


"Lihatlah Jasmine, wajah cemburu suamimu itu?" bisik Hans.


Jasmine langsung menoleh ke arah Evan sambil memutar bola matanya.


"Maaf ya Evan, kedudukanmu harus turun dan berada di bawahku malam ini. Karena sepertinya istrimu lebih menyayangiku daripada dirimu," ejek Hans.


"Dasar tamu tidak tahu diri," ucap Evan kesal.


Jasmine segera mengisi piring Evan dengan makanan, sama seperti milik Hans.


"Sudah jangan marah-marah lagi Evan dan segera habiskan makananmu. Kalian berdua seperti anak kecil saja."


"Dan kau Hans, cepatlah cari pendamping supaya ada yang bisa menemani dan melayanimu," cerocos Jasmine.


"Ya, ya, ya. Kalau sudah ada yang cocok," jawab Hans.


Yudistira dan Vira saling berpandangan, lalu mengangguk bersama.


"Hmm... Kak. Ada yang ingin kami sampaikan," ucap Yudistira.


"Ya, Yud. Ada apa?" tanya Jasmine.

__ADS_1


"Aku dan Vira sudah memikirkan perkataan kalian tadi pagi. Dan kami setuju mengambil cuti kerja yang telah kalian berikan," jawab Yudistira.


"OK. Jadi, kalian ingin berbulan madu ke mana?" tanya Evan.


"Kami berencana mau pergi ke Islamorada, Florida, Kak," jawab Yudistira.


"Tempat yang bagus. Kapan kalian mau berangkat ke sana?"


"Kami akan berangkat lusa Karena aku masih ada jadwal kuliah besok siang."


"Baiklah. Paket bulan madu kalian akan segera siap. Dan kalian tidak boleh menolak, karena ini hadiah dari Opa Alex. Jika kau ingin menolaknya, silakan kau bilang sendiri sama Opa," ucap Jasmine.


Yudistira dan Vira tidak bisa lagi menolak. Mana berani mereka membantah Tuan Besar Alexander Alvaro.


"Dan kau, Mark. Mulai besok kau akan menggantikan posisi Yudistira selama dia menikmati masa cutinya."


"Baik, Tuan," jawab Mark.


Akhirnya Hans menginap di mansion sesuai permintaan Jasmine. Hans pun tak bisa menolak karena dia juga sudah sangat lelah untuk kembali ke apartemennya.


...***...


Evan dan Jasmine keluar dari kelas, sesaat setelah jam kuliah mereka selesai.


"Sebaiknya kita segera ke kantin sayang, karena Michelle sudah menunggu kita di sana dan supaya pekerjaan kita bisa cepat selesai. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Sudah lama kita tidak kencan berdua," ucap Evan.


"Baiklah. Memangnya kau ingin mengajakku ke mana?" tanya Jasmine penasaran.


"Rahasia. Nanti kau juga akan tahu," jawab Evan sambil tersenyum.


"Jasmine," panggil salah satu mahasiswa, teman kuliah keduanya.


"Ya, Sam," sahut Jasmine.


"Tuan Frans ingin bertemu denganmu. Dia menunggumu di ruangannya. Katanya beliau tertarik dengan makalah yang kau buat," jawab Sam.


"Baiklah. Terima kasih, Sam," ucap Jasmine.


"Ayo kita ke ruangan Tuan Frans. Aku akan mengantarkanmu dan menunggumu di luar," seru Evan.


Tiba-tiba ponsel Evan berbunyi.


"Halo. Ya, Michelle. Kami sudah selesai. Tapi kami masih harus menemui dosen sebentar," ujar Evan.


"Maaf Evan, waktuku tidak banyak. Karena aku akan bertemu dengan klien dari perusahaan yang lain setelah ini. Bisakah salah satu dari kalian menemuiku sekarang?" jawab Michelle.


Evan sengaja mengeraskan volume suara ponselnya agar Jasmine juga bisa mendengarnya.


"Bagimana sayang?" tanya Evan.


"Sebaiknya kau temui Michelle dulu, setelah urusanku dengan Tuan Frans selesai aku akan segera menyusulmu," ujar Jasmine.


"Tapi sayang?" protes Evan.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku percaya padamu. Lebih cepat pekerjaan kita selesai, maka kita bisa segera menghabiskan waktu bersama," ucap Jasmine.


Evan menghela napas panjang.


"Baiklah. Aku akan ke sana," ucap Evan kepada Michelle, lalu Evan memutuskan sambungan telpon mereka.


Jasmine segera menemui dosennya, dan Evan pergi ke kantin untuk menemui Michelle dan menyelesaikan kontrak kerjasama mereka.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2