Transmigrasi Sang Pemimpin

Transmigrasi Sang Pemimpin
Bab132#


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, tampa terasa Beberapa bulan telah terlewati namun semua bahkan menjadi semakin kacau, keadaan kaisar semakin memburuk, pemberontak sudah menunjukan diri secara terang terangan, dan dengan begitu berani memerangi kota Kekaisaran,


saat ini para prajurit istana sudah berbaris rapi di halaman istana utama, pemberontak sudah merasakan rakyat, begitu banyak korban yang berjatuhan setiap harinya, tiga dewa perang pun sudah duduk dengan gagah di kudanya, lengkap dengan baju besi beserta pedangnya, namun sayang wajah ketiga dewa perang itu nampak sedikit pucat, ketiganya mengalami masalah yang sama, di tinggalkan oleh sang cinta memang sangat menyakitkan, lebih baik menghadapi ribuan musuh di peperangan dari pada mengahadapi kenyataan bahwa kau sudah tak di inginkan, benar benar ironis


"Ibu, kami meminta restu mu" Ucap pangeran Lan dan Yu Fang membungkuk


"Doa ibu selalu bersama kalian, semoga Kekaisaran kita akan kembali jaya seperti sedia kala," Ucap selir ke lima pelan, kedua pangeran itu menghela nafas pelan dan rombongan pun bergerak menuju kota,


"Jika aku mati di sini, aku telah memberikan wasiat agar kau mengambil alih Kekaisaran" Ucap kaisar zhou pelan, namun masih bisa di dengar oleh pangeran lan


"Semua akan baik baik saja, yang mulia kita akan memperjuangkan tanah kelahiran kita, dan membuat ayah kaisar bangga" Ucap pangeran lan pelan, ia berusaha untuk membangkitkan semangat kakak tertuanya,


Mereka telah sampai, di depan sana sudah ribuan orang yang kehilangan nyawa, kaisar zhou mengerahkan pasukan untuk menghadapi musuh, pasukan pemberontak tak tanggung, bahkan lebih banyak dari peperangan di perbatasan barat,


perang terus berlangsung hingga hari beranjak malam, dan kemenangan jatuh pada pihak istana, para prajurit membangun tenda di hutan pinggiran kota, mereka tak bisa meninggalkan kota begitu saja, para pemberontak bisa datang kapan pun, mereka mundur untuk membuat pasukan yang lebih besar lagi, mereka hanya bisa waspada pada sekitar,


"Yang mulia, keadaan kota aman, bukankah lebih baik jika yang mulia kembali ke istana" Suara itu berasal dari pangeran Lan


"Aku akan di sini, memperjuangkan tanah kelahiran ku" Ucap kaisar menatap kosong ke langit malam, pangeran Lan hanya bisa menghela nafas pelan, cinta memang membunuh mu


"Baiklah yang mulia, semoga keberkahan selalu bersama anda, saya undur diri" Ucap pangeran lan pelan, ia tak bisa melakukan apapun, saat ini ia hanya berharap semoga duka ini segera berlalu.


Di sisi lain min sedang duduk di depan jendela, menatap kosong ke langit yang gelap, sesekali ia mengelus perutnya yang mulai membesar, usia kandungan ya baru saja memasuki usia empat bulan,

__ADS_1


"Bersabarlah nak, semoga badai ini segera berlalu" Ucap min lirih


"Menghadap nona" Sosok hitam itu kini telah membungkuk di hadapan min


"Katakan" Ucap min


"Istana sedang dalam keadaan kacau, pangeran dan yang mulia kaisar ke tengah kota untuk menghadapi pemberontak, tapi para pemberontak itu cukup cerdas dan mengirim sebagai mereka untuk menghancurkan istana"


"Ibu selir?, baik lah kau bisa pergi, jaga kaisar jangan biarkan dia terluka" Ucap min pelan, bagai manapun ia sudah terlanjur mencintai kaisar zhou, ia memang kecewa namun tak menaruh dendam, ia tak akan membiarkan kaisar jatuh, Kekaisaran ini membutuhkan pemimpin dan ia tak bisa membohongi diri, ia selalu cemas dan selalu memikirkan ke adaan kaisar di tengah keramaian rubah istana, dan bagai mana bisa ia melupakan ibu selirnya? , jika pemberontak berniat menyerang istana maka keluarganya dalam bahaya, ia tak bisa diam, min segera mengganti pakaiannya


"Nona, udara sangat dingin anda akan kemana" Ucap yu mi dan fei yang yang datang dengan beberapa sup herbal


"Aku akan ke istana, istana sedang dalam keadaan bahaya,"


"Tapi nona, anda dalam keadaan hamil, dan sangat tak baik jika mendekati racun" Ucap yu mi pelan, ia tentu tau apa yang di lakukan min, ia tak mungkin membiarkan min membahayakan dirinya


"Xiou li,"


"Menghadap nona"


"Bawa aku ke istana, ke valium bulan" Ucap min pelan, mereka menghilang dalam sekejap, dan saat ini min sudah berada di dalam valiumnya, ia harus bergerak cepat, para pemberontak itu sudah hampir sampai,


"Permaisuri?, anda kemabli, oh dewa terimakasih karena telah mengembalikan permaisuri pada kami" Ucap seorang gadis terisak saat melihat min berdiri di hadapannya, awalnya ia ingin membersihkan kamar sang junjungan namun siapa yang menyangka jika junjungan yang telah menghilang kembali, ia sangat senang

__ADS_1


"Xixi" Ucap min pelan "kumpulkan seluruh pengawal valium,"


"Mematuhi yang mulia" Ucap gadis bernama xixi itu, dalam sekejap seratus pemuda sudah berdiri di hadapannya, ah ternyata pasukan mereka sangat sedikit namun jangan pernah meremehkan kemampuan Min,


Bahkan seratus pengawal valium bulan tak sebanding dengan seribu ribu pasukan musuh, mereka memang sedikit namun kulvikasinya sudah hampir mencapai tingkat jendral, prajurit biasa bisa akan di musnahkan dengan mudah oleh mereka


"Xiou li, arahkan pasukan musuh, ke hutan di samping istana,"


"Mematuhi nona"


"Jangan sampai membuat keributan, aku akan menemui ibu selir, selamat bekerja, aku akan menyusul setelah melepas rindu" Ucap min dan dengan cepat menuju valium anggrek, dan para pengawal pun sudah di arahkan ke hutan untuk menyambut kedatangan musuh.


"Ibu" Teriak min dan langsung menghambur di pelukan ibu selirnya,


Ia sungguh sangat merindu, meski di mansion jendral Gu xin adalah ibu yang baik, namun min tetap mencintai ibu selirnya, ibu yang pertama kali memberikan kehangatan kasih sayang,


"Li er?, kau kembali? " Suara itu di sertai dengan isakan kecil dan nada khawatir


"Aku sangat merindukan ibu, apakah para pelayan merawat ibu dengan baik? " Ucap min melepaskan pelukanya dan menatap tubuh selir ke lima dari atas hingga bawah, ia menghela nafas uh untung saja tak kekurangan sedikitpun, sama persis saat hari terakhir mereka bertemu


"Ia, ibu Baik, bagai mana dengan li er?, apakah di luar istana sangat menyenangkan sehingga li er memilih untuk tak kembali" Ucap selir ke lima pelan, min hanya terseyum sembari menepis air mata itu, ia merasa sesak jika melihat kesedihan di mata indah ibu selirnya


"Ibu, belum saatnya untuk kembali, ah baik lah, aku hanya ingin melihat ke adaan ibu, dan memastikan jika istana merawat ibu dengan baik, aku harus kembali,"

__ADS_1


"Li er akan kemana, istana ini adalah tempat li er kembali"


"Tempat ku bukan di sini ibu, aku pergi" Ucap min dan segera menghilang, ia akan ke hutan dan menyelesaikan lima ribu pasukan musuh itu, selir ke lima masih berdiri dengan diam, mengapa kehidupan istana selalu tragis seperti ini?.


__ADS_2