Transmigrasi Sang Pemimpin

Transmigrasi Sang Pemimpin
Bab146#


__ADS_3

“Nona, bantu aku, lepas kan aku dari segala siksaan ini” rengek Fei Yang, bagai mana tidak setelah dekrit pernikahan di berikan beberapa minggu yang lalu, tubuhnya selalu di paksa untuk menggunakan lulur kuning ini, ini sangat membosankan, setiap hari harus belajar tata krama seorang bangsawan, makan, tidur perawatan dan belajar lagi, fei yang merasa begitu bosan


“Calon permaisuri pangeran, tenangkan diri mu” Ucap seorang pelayan yang memang sudah terbiasa mendengarkan rengekan Nona Nya sejak tadi


“Ji Li, aku bosan, bisakah aku bekerja seperti biasa?, merawat halaman, merawat permaisuri dan berkeliaran dengan bebas?” Ucap Fei Yang pada Ji Li yang merupakan pelayan memberikan Min untuk melayani kebutuhan fei yang


“Calon”


“Aku tidak suka panggilan itu, panggil aku Fei Yang atau Fei jie jie seperti masa lalu” Ucap Fei yang ia tak suka di perlakukan seperti ini, siapapun tolonglah fei yang ia hanya gadis pelayan, mana bisa mendapatkan panggilan kehormatan itu ia juga tak terbiasa, ia hanya mahluk rendahan


“Hamba rela di hukum calon permaisuri pangeran, tapi hamba mohon biarkan hamba mengabaikan diri hamba pada anda” Ucap Ji Li bersujud di lantai, fei yang sangat ingin berteriak dan membentak gadis bodoh ini, tapi ia tak tega, Ji Li bahkan sudah menagis tersendiri sendu, ternyata menghadapi pelayan memang cukup merepotkan


“Uh baik lah baik lah, kau tak perlu bersujud dan menghantuk hantukan kepalamu seperti itu, aku tak suka di sebut calon permaisuri pangeran atau apalah itu, kau bisa memanggil ku nona, tidak ada bantahan, aku tak bisa menerima kehormatan itu mengertilah” rengek Fei Yang memelas, sejak kecil ia bisa menjadi pelayan, bagai mana bisa ia menjadi objek yang di layani saat ini?, ia ingin sekali mengais saat nonanya melepaskan dirinya, dan membuatnya menjadi tahanan para pelayan lain,


“Dewa mengapa karma ini terlalu cepat ku terima” Batin Fei Yang menjerit tak senang


“Hamba mematuhi nona” Ucap Ji Li menepis air matanya, dan dalam sekejap munculah senyuman yang sangat menyenangkan itu


“Baiklah, bantu aku berpakaian, aku akan mengunjungi kediaman ibu Selir” ucap ucap Fei Yang pelan, Ji Li mengguk dan segera menyiapkan nonanya


“Huh tak menyangka, aku akan melepaskan baju kebanggan ku” Ucap Fei Yang menghela nafas pelan,


Sejak kecil ia terbiasa menggunakan pakaian pelayan dengan kualitas menengah, tapi?, hari ini ia menggunakan gaun sutra cantik dan mahal, meskipun tak ada yang bisa menolak kemewahan, tapi?, ini terlalu tiba tiba menurut fei yang, dan ia takut hal ini hanyalah ilusi semata


“Anda sangat cantik nona” ucap ji li pelan, fei yang hanya mengguk dengan malas, setelah siap ia segera meninggalkan valium langit menuju paviliun anggrek untuk menemui Selir kelima

__ADS_1


“Memberi hormat pada yang mulia pangeran” Ucap Fei Yang embut, tampa sengaja ia bertemu dengan pangeran Lan dan mau tak mau ia harus menyapa


“Ah fei sedang berjalan jalan?”


“Menjawab yang mulia, saya akan ke vapiliun ibu selir untuk menyapa ibu selir” Ucap Fei Yang dengan lembut,


“Mari pergi bersama” ucap pangeran lan pelan, setelahnya keduanya bejalan beriringan menuju valium anggrek untuk menyapa ibu selir


“Pangeran ini menyapa ibu selir” ucap pangeran lan sopan, dan di ikuti oleh fei yang


“Fei Yang menyapa ibu selir dan pangeran kecil” Ucap Fei Yang menekuk lututnya dan tersenyum lembut


“bangkitlah Ah fei, mari duduk” Ucap Selir kelima pelan, ia bahagia, bahkan sangat bahagia, semua putranya telah mendapatkan kebahagiaan mereka, sebagai ibu tentu saja ia merasa puas, kaisar akan memiliki penerus, pangeran Lan mendapat gadis yang ia cintai, dan Yu Fang pun akan segera menikah


“Kakak ipar, kau terlihat sangat cantik” Ucap Pangeran ke Sembilan tersenyum lebar, pangeran ke Sembilan sudah di ajarkan memanggil Fei Yang dengan panggilan kakak ipar begitu juga dengan Ling Shi kelak


“Adik ke Sembilan, bagai mana pelajaran mu?”


“Beberapa hal mengenai politik”


“Sudah sejauh itu?”


“Yah guru Jin berkata jika aku anak pintar dari itu sudah belajar cukup jauh, kakak ipar Ling juga sudah mengajariku mengenai militer, hanya saja dia mengatakan jika belum melatih ku dalam beberapa waktu ini” Ucap pangeran ke Sembilan pelan


“Militer?, pelatihan?” Pangeran Lan tak percaya ini, jendral wanita dari keluarga Ling itu sudah memberikan pelajaran yang seharunya di miliki bocah yang sudah menginjak usia remaja, tapi?

__ADS_1


“A Lan, redakan amarah mu, A Ling telah meminta persetujuan ibu, dan lagi Feng Er menyukai hal hal mengenai militer”


“Tapi ibu selir, adik ke Sembilan masih terlalu muda untuk itu”


“A Lan, Feng Er pasti bisa, kamu percaya kan?” Ucap Selir kelima meyakinkan putranya, yan ia tau pendidikan tentang militer adalah hal yang tabu di bicarakan pada bocah kecil ini,


“Semoga saja takada hal buruk yang terjadi, aku hanya merasa sedikit cemas,”


“Kakak ke dua, Feng Er berjanji akan belajar dengan tekun dan menjadi jendral besar seperti kakak kedua dan ke enam” ucap pangeran ke Sembilan penuh keyakinan, lagi lagi pangeran Lan hanya mengguk sebagai jawaban, ia berharap semua akan baik baik saja, yah, semoga saja


“Feng Er bukankah sudah waktunya belajar?,” Ucap Selir kelima pelan


“Kakak ipar kedua, apakah kakak ipar mau menemani Feng Er belajar?”


“Ah tentu saja pangeran” Ucap Fei Yang pelan, pangeran lan beralih menatap fei yang dengan lekat, bisakah dia tetap tinggal?, mereka sudah lama tak bertemu dan saat bertemu pun lagi lagi di kacau kan oleh adik ke sembilan nya ini


“Ah ibu selir, yang mulia, saya mohon diri” Ucap Fei Yang pelan, yang di balas dengan anggukan lembut oleh selir ke lima, dengan girang pangeran ke Sembilan menarik tangan fei yang menuju ruang belajarnya


“Huh” Ucap Pangeran Lan menghela nafas pelan, harapannya bersama lebih lama punah sudah, baik lah ia tak bisa marah dan mengeluh, tak lama lagi, dua minggu lagi Fei Yang akan menjadi miliknya, dan Fei Yang akan selalu menemani hari harinya, sebentar lagi bersabar lah sebentar lagi pangeran


“A Lan ada apa?” Ucap selir kelima pelan, apa yang terjadi, wajah ceria itu seketika berubah masam, apakah ada yang salah?


“Tidak ada apa apa ibu selir, ah baik lah masih ada beberapa hal yang harus di kerjakan,” Ucap pangeran Lan pelan


“Baik lah A Lan, jangan terlalu lelah, hari pernikahan semakin dekat, ibu tak ingin kau jatuh sakit” Ucap Selir kelima pelan

__ADS_1


“Baik ibu, segeralah kembali, udara dingin tak terlalu baik untuk kesehatan, pangeran ini mohon diri” ucap pangeran lan membungkuk dan segera meninggalkan paviliun anggrek


__ADS_2