
Selir kelima dan pangeran ke dua masih diam dan saling tatap, mereka tak berani menyela perdebatan dua orang besar ini, namun hal ini sangat tidak pantas, berdebat secara terang terangan di tempat umum melanggar aturan istana, ini akan membuat rumor buruk dan akan sangat merugikan bagi sang permaisuri, pangeran lan melihat jika ibunya sangat menyayangi sang permaisuri, dan pangeran lan akan berusaha untuk menjaga sosok yang di sayang ibunya, yah hanya itu yang bisa ia lakukan, jika tak di hentikan maka ini tak akan pernah berhenti, yah semoga saja pangeran lan mengambil keputusan yang tepat
"Yang mulia, hamba akan segera kembali ke perbatasan" Ucap pangeran lan pelan, ia tentu saja tak ingin membuat keributan ini semakin membesar, kaisar dan permaisuri sama sama mahluk yang sangat keras kepala, memiliki pemikiran yang sama sama aneh, keduanya bisa meluap luap kapan saja, benar benar defenisi jodoh adalah cerminan diri😁
"Tabib dan para jendral pasti mampu mengatasi mengenai hal itu, ibu lebih membutuhkan mu, di sana ada banyak orang yang bisa membantu, sedangkan ibu?" Ucapnya dingin, bahkan lebih dingin dari kaisar zhou, namun, siapa yang menyangka jika kaisar zhou melakukan hal di luar dugaan, tubuh min tiba tiba kaku, sial ternyata kaisar bodoh ini telah menotoknya, sial,
ini cerita Mandarin atau Nusantara sih?, entah lah harap di maklumi yah🤗
"Bawa permaisuri ke valium" Ucap kaisar datar, ia tak tak ingin mempermalukan diri lebih jauh lagi, akan lebih baik jika membawa sang permaisuri menjauh dari kediaman ini, ia tak akan melepaskan permaisuri nakal ini dengan mudah
"Hey lepaskan aku, hey, kaisar sialan, apakah seperti ini seorang pemimpin bersikap?, hey apakah kau bisa mendengar, lepaskan aku" Ucap Min saat beberapa orang masukannya ke tandu, hey kaisar hanya membuat tubuhnya kaku dan belum membuat mulut sang permaisuri berhenti ini sungguh licik, melumpuhkan lawan dengan cara yang tak pantas, jika seperti ini apa yang bisa min lakukan selain berteriak mengupat dan mengatakan apapun yang ingin ia katan
__ADS_1
"Pangeran, aku akan menghukum mu jika kau meninggalkan kediaman dan membuat ibu bersedih, kau dengar aku pangeran?" Teriak Min dari dalam tandu, kaisar mengibas lengannya kesal, permaisuri ini sungguh keras kepala dan apa itu?, Kaisar sangat tidak suka dengan interaksi kedua mahluk dewasa itu, walaupun pangeran lan adiknya namun ia tetap tidak suka, entah apa sebabnya saat ini Kaisar hanya mengikuti kata hatinya,
"Ibu?" Ucap pangeran kedua beralih menatap ibunya, ia merasa sedikit bimbang, kaisar mengusirnya sedangkan hatinya memintanya untuk tetap tinggal,
"Dengarkan yang dia katakan, dia adalah wanita yang baik dan pastinya akan menjadi ibu negri yang baik pula" Ucap selir ke lima tersenyum menatap putranya, ia tau kaisar tak benar benar membencinya, tanggung jawablah yang membuat nya menetapkan hukuman ini, selir kelima tentu saja memahami watak anak yang di asuhnya sejak kecil,
pangeran lan hanya mengguk pelan, setelah sepasang suami istri itu tak terlihat lagi keduanya kembali duduk dan kembali berbincang, untuk sekedar melepas rindu.
Di dalam tandu masih terdengar begitu heboh dengan segala makian dari sang permaisuri, mulut sang permaisuri memang sangat lancar jika berurusan dengan acara upat mengupat, hal itu membuat para prajurit tak berani bersuara dan terus membawa permaisuri mereka ke valium bulan, mereka benar benar di uji dalam situasi ini, makian cetar dari sang permaisuri benar benar mememkakan telinga
Min menghela nafas kesal, pada kenyataan ia saat ini ia sedang sangat tak berdaya, terbating lemah di ranjang, bahkan tak bisa melakukan apapun saat iini
__ADS_1
sedang kan para prajurit?, tentu saja bersemangat pergi menjauh, jujur saja, mereka merasa terkejut atas perbuatan tak terduga dari sang kaisar, jangan lewatkan kata kata mutiara yang keluar indah dari mulut sang permaisuri, ah mereka sungguh pasangan yang aneh, suami yang dingin dan istri menyebalkan, cerewet dan terkadang mengerikan, bahkan permaisuri kini sudah berani melakukan hal sesuka hati, siapa yang berani menolak maka akan kehilangan nyawa, permaisuri yang terkenal lemah ini, selalu memandang remeh pada para selir pangeran dan putri isntana, benar benar kenyataan dunia yang mencengangkan,
"Sekarang bisakah anda melepaskan totokan anda yang mulia?," Ucapnya putus asa, ia tak suka seperti ini, namun ia sudah tak kuat lagi untuk berteriak, jarak valium angrek dan bulan cukup jauh, tenaganya sudah ia habiskan berteriak sepanjang perjalan hingga kini hanya tertinggal rasa lelahnya saja, dan yah ia butuh istirahat
"Kenapa?, sudah lelah berteriak?" Ucap kaisar zhou menduduk kan diri di samping sang permaisuri, ia menatap sang permaisuri tampa mengatakan sepatah kata, wajahnya masih terlihat seperti biasa, datar dan dingin, namun anehnya Min dapat melihat tatapan lain di balik bola mata itu, tatapan yang Min sendiri tak bisa mengartikanya, min hanya bisa berharap semoga tatapan ini tak ada hubungan denganya dan tak akan merugikanya, kaisar bisa melakukan apapun sesuka hatinya, namun
min tak akan mentoleransi siapapun yang membuatnya rugi
"Anda tentu dapat melihatnya, permaisuri ini berfikir jika yang mulia memiliki penglihatan yang cukup baik" Ucap Min pelan, ia sudah sangat lemah dan sudah sangat tak sanggup untuk melawan, kaisar sialan ini benar benar keterlaluan, menotok jalan darah hanya untuk mencegahnya bersama selir ke lima,
Kaisar zhou melepaskan totokanya dalam diam dengan wajah dingin masih diam tampa kata dengan wajah kesal Min beranjak duduk,
__ADS_1
"Anda terlihat sibuk, anda bisa kembali ke kediaman dan melanjutkan pekerjaan anda yang mulia, fei yang akan mengantarkan anda, semoga hari anda menyenagkan" Ucap dengan nada sinis, ia membenci situasi ini tapi tentu saja ia tak bisa melewati bahasanya sebagai permaisuri, ada tanggung jawab yang harus ia selesaikan, ia tak bisa meninggalkan istana begitu saja, semua memerlukan kejelasan, mendiang nyonya jendral membutuhkan keadilan, permaisuri chen mian li pun membutuhkan kejelasan penyebab kematian ibunya
kaisar zhou menghela nafas pelan, tampa mengatakan sepatah kata ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang,