
Setelah makan mereka berbincang bincang, ringan dan sesekali tertawa, ah pangeran lan bahkan selir ke lima sudah sangat lama tak tertawa lepas seperti ini, semenjak fitnah itu tawa seketika hilang dan kehidupan mereka seketika hancur di tambah lagi peraturan istana yang sangat ketat, pangeran ke 6 dan ke 2 di asingkan dengan begitu kejam, di kirim ke perbatasan untuk menjadi makanan empuk untuk para pemberontak istana, gelar Pangeran mereka di cabut tampa hormat dan yah mereka di buang begitu saja dari istana, masa lalu yang benar benar sakit jika kembali di ceritakan
"Ah adik ke 2 bagai mana ke adaan di perbatasan barat, apakah menyenangkan?, aku selalu penasaran dengan orang orang perbatasan, apakah mereka secantik dan se anggun orang orang di sini?, atau bahkan sosok yang sangat periang dan menyatu dengan alam" Ucap min menyantap kudapanya dengan nikmat, saat ini meteka sedang berada di gazebo memperhatikan para pelayan dan pengawal yang sedang membuat kolam dan taman, itu semua atas usul sang permaisuri dan tak ada yang bisa Menolaknya, ia akan membuat kolam ikan yang besar di sini,
"Hm perbatasan saat ini sedang kacau, para pemberontak selalu mencari celah dan kelemahan, dan bahkan saat ini perbatasan terseang wabah" Ucap pangeran lan menghela nafas pelan, pada dasarnya hidup di perbatasan bukan lah hal yang mudah, begitu banyak pemberontak dan masalah yang mendatangi mereka, mereka harus siap siaga jika tak ingin berakhir tampa nyawa
"Bagai mana bisa?, bukankah selama ini semua baik baik saja?" Ucap min pelan, ia tak pernah mendengar rumor atau apapun yang terjadi di kota perbatasan, lalu mengapa ini sangat mendadak?
"Entah lah, banyak warga perbatasan yang terdampak wabah, gejala awal hanya merasakan sesak nafas, batuk batuk, dan setelah beberapa hari muncul bintik merah hingga berakhir dengan kematian, para tabib sudah hampir kewalahan menghadapinya" Ucap pangeran lan, pada dasarnya masalah wabah ini adalah masalah yang sulit, tak ada yang mengetahui jenis penyakit apa, dan sampai saat ini pun tak ada yang mampu menemukan obat untuk sekedar mengurangi rasa sakit yang teramat akibat terdampak wabah itu
__ADS_1
"Sungguh mengerikan, hm baik lah adik, aku sudah mengambil keputusan aku akan pergi bersama mu ke perbatasan" Ucap min dengan penuh tekat, lagi pula ia adalah ahli medis, ia akan menebus segala kesalahan yang di perbuat di masa lalu, di masanya min adalah sosok begis yang tampa ampun, namun apa salahnya jika ia ingin memperbaiki diri di masa ini?, lagi pula hal yang paling ia butuhkan sudah ia dapatkan di sini, yah apa lagi jika bukan sebuah kasih sayang dari seorang yang di sebut ibu itu, dan yah ia memiliki alasan untuk meninggalkan istana
"Tidak kakak, di sana sangat berbahaya, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu, wabah itu sangat mudah menyebar" Ucap pangeran lan cepat, oh tidak ia baru saja merasakan lembutnya kasih sayang dari seorang kakak perempuan, ia tak ingin hal yang buruk terjadi pada orang yang entah sejak kapan ia sayangi ini, pangeran lan tak ingin semua kehangatan itu menghilang, tidak, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia tak bisa menghentikan niat kakak iparnya ini
"Ah benar yang di katakan A lan, di sana sangat berbahaya, perbatasan barat adalah wilayah yang sangat jauh dan mengerikan, ibu harap kau mengurung niat mu" Ucap selir ke lima, ia tentu khwatir, kehidupan perbatasan sangat berbeda dari kota ketajaan, ia tak ingin sang permaisuri mendapat masalah hanya karena hal ini
"Berkah dari langit dan bumi, Dekrit dari yang mulia kaisar, Selir kelima di minta untuk kembali ke valium dahilia di karenakan berakhirnya masa pengasingan, pangeran kedua di minta untuk segera kembali ke perbatasan dan kembali bertugas" Teriakan sang kasim menggema di seluruh penjuru valium, hey bahkan min baru saja merenovasi valium ini bagain mana bisa kaisar dengan begitu tak sopan memindahkan selir ke lima begitu saja, sungguh tak bisa di biarkan
"Keputusan di tangan mu, jika kau ingin di sini maka dewa pun tak bisa mengusir mu, ibu" Ucap min menatap lekat selir ke lima, ia tak akan memaksa selir untuk tetap tinggal di valium ini, selir ke lima mengguk pelan, ia sudah merasa nyaman dengn kediaman ini dan yah ia tak akan kembali ke valium dahlia, karena di sana mengingatkanya dengan segala kenangan pahit dan manis kehidupanya di masala lalu
__ADS_1
"Permaisuri di beri hukuman tak boleh meninggalkan valium bulan selama 2 minggu, dan permaisuri harus belajar mengenai etika kekaisaran dan menyalin 50 lembar kitab suci, sekian dekrit dari kaisar" Ucap kasim itu sambil kembali mengulung kertas dekrit, ia melangkah maju dan menyerahkan kertas dekrit itu pada selir ke lima, selir kelima menyambutnya dan bersujut sembari berkata
"Terimakasih atas berkah yang mulia" Ucapnya, namun acara itu seketika berhenti saat kalimat protes keluar dari mulut indah sang permaisuri
"Hey tak bisa begitu, aku bukan tahanan rumah yang bisa kau kunci di kediaman"
" Maaf permaisuri, hamba hanya menjalankan perintah"ucap sang kasim pelan, ssetelahnya ia segera membungkuk hormat, bagai manapun wanita di hadapnya adalah seorang permaisuri, dan ia tentu tak bisa berbuat lancang, mereka masih sangat menyayangi nyawa mereka, dan memilih untuk tak membuat masalah pada permaisuri
Pangeran kedua dan selir ke lima saling menatap dalam diam, bahkan suami istri ini tak pernah akur, dan saling menunjukan betapa berkuasanya dia, saling menunjukan ke agungan antara satu dan lainnya, benar benar rumah tangga yang aneh
__ADS_1