Transmigrasi Sang Pemimpin

Transmigrasi Sang Pemimpin
Bab78#


__ADS_3

"Ah maafkan aku nona aku lupa menunjukan mu ruangan khusus obat langka pada mu" Ucap yu mi tersenyum sumringah, hehe setidaknya senyum aneh ini dapat menutupi ketakutan atas murkanya sang nona, ia pun tak menyangka jika ia melupakan hal sepenting ini, para tumbuhan berusia ribuan tahun memiliki tempatnya sendiri, sangat tidak di perbolehkan di campur dengan obat lokal lainya, jika memaksa maka tumbuhan itu akan menjadi tumbuhan tak berguna,


"Kau tak mengatakannya, aku sudah seharian berkeliling di sini, apa kau tau?, ini sangatlah melelahkan" Ucap min menghela nafas kesal, ia sudah mencari sangat lama namun mawar hitam ini?, dan kini Yu Mi datang dengan menunjukan senyuman yang sangat menyebalkan.


"Maaf kan aku nona, sekarang mari ku tunjukan, kau tak bisa mengalahkan ku, karena nona sendiri tak bertanya" Ucap Yu Mi pelan menunjukan sebuah ruangan yang berisi begitu banyak tumbuhan langka dan sangat kuno itu, min terdiam sejenak, ada begitu banyak tanaman obat maupun racun yang sangat hebat, hal itu di tunjukan dengan tidak adanya bau dari tumbuhan itu, memang tanaman yang kuat adalah taman yang dapat menyamarkan aromanya.


Min berjalan pelan dan mulan melangkah masuk dan tentu saja ia segera mencari di mana teratai hitam itu berada, tak membutuhkan waktu yang lama ia sudah berhasil menemukan tanaman yang sangat beracun itu


"Ini dia" Ucap Min yang ingin langsung memegang tanaman itu, ia sangat senang, ia sudah mencari dan akhirnya pencarian itu berujung dengan temussssss


"Nona" Yu Mi menghentikan aksi sang nona untuk menyentuh tanaman itu, nonanya benar benar konyol, bagai mana bisa ia lupa jika tanaman ini adalah tumbuhan yang sangat berbahaya ini adalah tanaman beracun yang akan menyebar hanya dengan sentuhan saja, karena terlalu senang sang nona malah hampir mencelakai diri sendiri


"Racun salju putih di bawah awan hitam bukanlah tanaman yang bisa anda pegang begitu saja nona, tumbuhan ini sangatlah berbahaya, akan lebih baik mengunakan belati ini untuk memisahkan bunga itu dari batangnya, jika tidak maka nona hanya akan mendapatkan sebuah penyakit yang sangat sulit untuk di obati


"Ah baik lah, kau tak perlu mengomeli ku Yu Mi, aku hanya lupa" Ucap Min kesal, ia sudah sangat khawatir hingga melupakan kenyataan ini, ia segera meraih belati itu dan memotong tumbuhan itu, dan tentu saja ia bergerak cepat untuk memisahkan bunga dengan batangnya, setelah selesai tentu saja ia harus segera kembali ke chap militer, nyawa suaminya sedang di pertaruhkan, dari itu ia harus bergerak cepat

__ADS_1


"Tuan mu" Ucap Min dengan riang, pencarian sudah berujung temu, dan tentu saja aku harus segera membawanya ke tabib mu, agar segera di olah menjadi obat yang dapat membantu suaminya mempertahankan nyawa,


"Yang mulia" Ucap Mu Chun berdiri dari duduknya, bahkan gadis ini tak pernah berubah sejak terakhir kali mereka bertemu, masuk ke ruangan seorang Mu Chun tampa permisi dan bahkan berbuat sesuka hatinya, sungguh gadis yang langka, dan sedikit menyebalkan, namun entah mengapa hati seorang Mu Chun merasa bahagia saat di perlakuan dengan tak hormat seperti ini, wanita di hadapannya ini adalah gadis pertama yang berani membuatnya mereka bahagia saat di maki, benar benar aneh bukan?


"Tuan Mu ku serahkan pada mu, kau harus penyelamatan kaisar, aku sangat tak menyukai sebuah kegagalan"


"Terimakasih atas percayaan yang mulia" Ucap pelan, mengambil bunga teratai itu dan mulai meracik, min masih diam di tempat memperhatikan Mu Chun yang sedang meracik itu, Mu Chun masih terlihat tenang namun nyatanya ia masih merasa sedikit terganggu dengan gadis yang duduk di hadapannya ini, sepertinya sang gadis tak memiliki niatan untuk meninggalkannya, bahkan ia lebih memilih untuk menunggu dengan menujukan wajah kebosanan.


Setelah beberapa jam akhirnya Mu Chun menyelesaikan pembuatan pil nya, saat obat selesai min pun sudah kembali ke kediaman untuk membersihkan diri, tubuhnya terasa lengket karena sudah bermain keringat seharian ini, ia tentu saja harus ke melihat keadaan sang kaisar setelah ini


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Mu Chun segera ke ruangan sang kaisar untuk menyerahkan pil ini, di sana min sudah duduk manis dengan baju kebesarannya, tidak ada lagi jubah hitam khas penyusup kini jubah hitam itu berubah menjadi jubah merah ah berukiran naga kembar dan jepit rambut Phoenix yang menghiasi rambut indahnya


"Kaisar akan terjaga beberapa jam kemudian, berharap yang mulia permaisuri menjaganya, karena obat ini cukup berefek" Ucap Mu Chun setelah memasukkan pil ke dalam mulut sang kaisar,


"Saya permisi" Ucap Mu Chun setelah menyelesaikan tugasnya, Mu Chun segera berlalu meninggalkan kediaman kaisar,

__ADS_1


"Tuan Mu" Ucap pangeran lan saat bertemu dengan Mu Chun di perjalanan,


"Pangeran" Ucap Mu Chun menyatukan kedua tangannya sembari menunduk pelan memberi gestur hormat


"Bagai mana keadaan yang mulia kaisar?, dan apakah kakak ipar sudah kembali?" Ucap pangeran Lan pelan, mereka berhutang Budi dengan tabib muda ini, jika tabib ini tak ada maka mereka akan benar benar akan kehilangan saudara pertamanya


"Yang mulia dalam keadaan baik, beruntung permaisuri datang tepat waktu" Ucap Mu Chun dengan nada pelan


"Ah baik lah terimakasih ku ucapkan padamu, karena telah banyak membantu" Ucap pangeran Lan dengan sopan


"Suatu kehormatan dapat membantu" Ucap Mu Chun dengan penuh hormat, setelah beberapa saat bertukar beberapa patah kata keduanya memilih jalan masing masing


sedangkan Pangeran Lan akan ke ruang pengobatan untuk melihat keadaan para prajurit yang terluka karena peperangan seminggu yang lalu, sedangkan Mu Chun keluar chap untuk segera meninggalkan Chap militer ini, tugasnya sudah selesai ia harus kembali ke tempat asalnya, lagi pula ia bukan berasal dari perbatasan barat ini, ia tak bisa tinggal lebih lama di tempat ini, karena, tentu saja ia tak bisa menerima sebuah kenyataan bahwa seorang yang selalu mengisi hatinya, ia tak bisa menerima gadis itu telah menjadi milik orang, dari itulah ia memilih untuk pergi agar tak menimbulkan masalah lain nantinya


"Pangeran" Ucap tabib menyambut kedatangan sang pangeran, membungkuk pelan memberi gestur hormat

__ADS_1


"Bagai mana?" Ucap Pangeran Lan sopan


"Beberapa sudah membaik dan beberapa cacat dan meninggal dunia" Ucap sang tabib, pangeran lan menghela nafas pelan, memang peperangan selalu saja merusak dan sangat merugikan, Jika bisa ingin mendengarkan saran saya maka akan lebih baik jika tak melakukan sebuah peperangan,


__ADS_2