
Setelah puas berkeliling pasar beberapa saat, Min perlahan menepi untuk sekedar menikmati keindahan hutan pinggiran kota, yah ia sudah bermain seharian dan sekarang sudah waktunya kembali ke istana, jika tidak entah apa yang mereka lakukan pada Fei yang, Ia berjalan ringan menyusuri pinggir hutan, menang cukup sepi namun jujur saja ini adalah hal yang cukup menyenangkan dan mampu menghiburnya, ia bisa berteriak dan mengatakan apapun yang ingin ia katakan, hutan yang sangat sepi,
"Huh" Min menghela nafas pelan, saat ini ia berdiri di pinggir sungai, perjalanan yang di tempuhnya cukup jauh, ia merasa sedikit haus, ia perlahan mendekat membasuh muka serta memuaskan dahaga, ia berniat untuk menikmati keindahan mata hari terbenam di pinggir sungai, pasti sangat menyenangkan, huh hari masih belum terlalu larut, tak masalah jika berhenti sejenak, menikmati hari yang ada, selagi masih hidup maka harus menikmati kehidupan ini dengan baik dan menyenangkan
"Benar benar zaman yang merepotkan, jika di masa moderen tentu saja ia dapat membeli berbagai minuman enak dan segar, tapi masa ini?, sudah lah tak usah di pikirkan," Batin nya pelan dan terus menuangkan air untuk di minum, meskipun hanyalah air putih namun tetaplah terasa nikmat jika sedang dama keadaan kehausan seperti ini
Min menjergit pelan saat tampa sengaja pandangannya terjatuh pada sebuah benda terapung tak jauh darinya, entah mengapa hati nurani min tergerak untuk menggapai sosok itu, benar benar sialan sejak awal ia tak berniat untuk membasahi pakainya, namun tubuh yang di tempati nya bergerak sendiri mendekati mahluk yang terapung itu, Min menghela nafas sudah lah, telanjur basah yasudah mandi sekali, setelah berada cukup dekat min membalikan tubuh itu ah ternyata seorang pria, cukup tampan ia segera membantu si pria, wajah tampan tak akan berguna jika sudah tak memiliki nyawa dan berarti ia harus menyelamatkan nyawa pria ini, dengan sedikit kesulitan min menarik si pria ke tepi sungai, ia harus bekerja keras untuk tubuh ini, huh
__ADS_1
"Sialan kau berat sekali" Rutuknya, namun tetap menyertakan tubuh besar si pria ke daratan, tubuh Min yang kecil mana mungkin dapat di bandingkan dengan tubuh si pria, salahkan tubuh Mian Li yang lemah ini, sudah tau lemah masih saja keras kepala ingin membantu, semua hanya akan membuat Min kerepotan, dan begitulah saat ini, Mian Li yang berbuat dan Min harus bertanggung jawab, benar benar tidak adil
"Apakah dia sudah mati?" Ucap Min mencoba meraih pergelangan tangan si pria, ia berniat memeriksa denyut nadi, apakah nyawa si pria masih berada di sana atau sudah pergi menuju nirwana, yah semoga saja usaha kerasnya tak berujung sia sia
"Masih hidup namun sangat lemah" Batinnya menghela nafas lega, pria ini masih hidup, namun lemah, dan yah ia adalah korban tenggelam, hal yang harus ia lakukan adalah mengeluarkan air yang tertera oleh si pria sebelum kesadarannya menghilang, huh baiklah min akan melakukan pertolongan pertama, apa lagi jika buka menekan nekan bagian dada si pria agar air yang ia telan keluar, namun setelah beberapa saat tak kunjung napak perubahan, benar benar di luar dugaan, Min menghela nafas frustasi, si pria tak kunjung menunjukan tanda tanda akan terjaga, padahal kan ia sudah menekan dada itu berkali kali, namun yah hasilnya zonk, ia menghela nafas lagi dan lagi, ia mendekatkan wajahnya ke si pria, jika pertolongan pertama tak membuahkan hasil maka mari buat percobaan kedua, yaitu?, yah memberi nafas buatan, kalian tentu tak asing kan dengan hal inu?, setelah meniup cukup lama akhirnya si pria memuntahkan air yang sedari tadi ingin di keluarkan,
"Apakah di cium dulu baru kau mau membuka matamu, dasar pria suka sekali mencari kesempatan pada gadis lemah" Ucapnya menjauhi si pria, kembali menutupi wajahnya dengan kain hitam, membiarkan menghirup nafas dengan rakus, memang, air yang ia keluarkan tak terlalu banyak, tapi jika tak di keluarkan maka akan berujung dengan kematian,
__ADS_1
"Apa yang kau lihat?," Ucapnya dengan nada pelan, ia berjalan menjauh untuk segera menghidupkan perapian untuk menghangatkan tubuh yang hampir beku itu, musim salju baru saja berlalu dan bahkan aliran sungai masih terasa begitu dingin, sang pria terlihat begitu kerepotan untuk membenahi tempat duduknya yang mungkin kurang nyaman
"Dasar lemah" Ucap Min melangkah pelan mendekati si pria, membantu sang pria menyandarkan tubuh si pria ke pohon, sudah tau tubuh lemah dan hampir mati masih saja keras kepala,
"Apa yang kau lihat?, kau fikir luka mu itu kecil?, bukankah sudah ku katakan kau tak boleh banyak bergerak" Ucap Min segera mencari tempat untuk duduk di depan perapian untuk menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup, Min tak ingin masuk angin, dan sakit, bagai manapun kesehatan itu yang paling utama
"Kau?? Melak... Lupakan" Ucap si pria, yang baru terjadi sungguh sangat memalukan, ia tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi, ia bahkan tak pernah menduga jika ciuman pertamanya di renggut Seorang gadis tak di kenal, sedangkan Min?, ia sama sekali tak perduli, toh ini bukan yang pertama kali baginya, ia hanya berniat menolong saja
__ADS_1
"Begini cara mu mengucapkan terimakasih pada penolong mu?" Ucapnya menaikan alis, si pria tak banyak bicara, namun selalu saja menatap min dengan tatapan tajam, yah ia merasa sedikit tidak nyaman karena itu
"Ah lupakan, aku tak butuh terimakasih itu, sekarang segeralah kembali ke kediaman mu, hutan cukup berbahaya, banyak bandit gunung dan hewan buas di sekitar sini, ku harap kau bisa menjaga dirimu sendiri" Ucap Min menghela nafas pelan, malam sudah larut dan yah ia harus segera kembali ke istana, tubuhnya sudah lengket dan sangat lelah karena telah berkeliling seharian, ia butuh tidur, pijatan yang nyaman dan pelayanan lainya, kasur yang nyaman a akan segera kembali, ia berjalan meninggalkan si pria dalam keterdiamanya, kembali ke istana lebih menarik dari pada harus berada di hutang dengan pria yang hampir sekarat, yah ia tentu saja harus kembali menyusuri hutan