Transmigrasi Sang Pemimpin

Transmigrasi Sang Pemimpin
Bab23#


__ADS_3

Di valium naga kaisar nampak masih sibuk dengan segala dokumennya, perubahan sang permaisuri entah mengapa membuatnya sedikit terganggu, bagai mana lancangnya permaisuri di perjamuan dan bagai mana cara permaisuri menikmati kemurkaan dari selir ke empat, kaisar sungguh tak habis fikir, bahkan belum cukup sampai di sana, hal yang terjadi di valium teratai dan angrek?, bahkan valium air pun tak lepas dari genggamannya, sudah cukup banyak pelayan bahkan putri dan pangeran yang mendapatkan hukuman, bukankah itu tak sesuai dengan reputasinya selama ini?,


"Hormat hamba kaisar, semoga kaisar di berikan kesehatan dan umur yang panjang" Ucap seorang pria yang menjabat sebagai badan pengawas militer Kekaisaran Xianyang bagian barat ini


"Berdiri lah" Ucap kaisar datar, pengawas militer ini adalah salah satu dari adiknya yang tak lain adalah pangeran ke kedua , anak dari selir kelima,


"Perbatasan barat sedang terjangkit wabah mematikan, para prajurit banyak tumbang karenanya" Ucap pangeran kedua pelan


"Aku akan mengirim tabib istana ke perbatasan, kau bisa meninggalkan tempat ini" Ucap kaisar zhou dengan wajah datarnya, dan masih menyibukan diri dengan segala aktivitasnya


"Maaf atas kelancangan hamba, apakah hamba di perkenankan untuk menemui ibunda terlebih dahulu?, mohon jawaban dari yang mulia" Ucap pangeran kedua, ia sudah sangat merindukan ibunya, mereka sudah lama tak bertemu, di perbatasan barat hanya ada dirinya dan sang adik pangeran keenam sedangkan ibunya?, tentu saja masih berada di istana besar ini, namun sangat di sayangkan, selir kelima di kucilkan di tempat semegah ini, benar benar nasib yang malang


"Kau bisa pergi" Ucap kaisar datar,


"Terimakasih atas kemurahan hatimu yang mulia" Ucap pangeran kedua tersenyum lembut, sejak kecil mereka selalu bersama, walaupun kaisar zhou terkenal dingin namun kaisar zhou sangat menyayangi adik keduanya ini, mereka tumbuh bersama dan bahkan mereka selalu berlatih bersama, bermain pedang, memanah dan belajar segala hal tentang kerajaan, namun semenjak fitnah yang di berikan pada keluarga yu, kaisar zhou berubah menjadi sangat dingin dan menjauh bahkan sang kaisar mengasingkanya ke perbatasan barat.

__ADS_1


Dengan tersenyum simpul pangeran kedua berjalan anggun menuju kediaman angrek, ia sudah tak sabar untuk menemui ibundanya wanita yang paling ia rindukan,


Pangeran mengerutkqn keningnya ia sedikit terkejut melihat keramaian dan bertapa sibuknya para pelayan, mereka terlihat sedang merapikan dan memperindah kediaman angrek yang di kenal sebagai kediaman neraka dunia dan kediaman yang paling di hindari oleh keluarga istana, bahkan kini kediaman angrek nampak cukup layak untuk di huni, tidak seperti beberapa tahun lalu saat terakhir kali ia mengunjungi sang ibu


"Ibu" Ucap pangeran kedua pelan, selir ke lima menatapnya lekat dan menarik tubuh sang pangeran ke dalam dekapannya, rindu yang dulu terbendung kini meledak sudah, saat ini ia hanya ingin waktu berhenti agar bisa lebih lama memeluk tubuh putranya ini, selir kelima bahkan tak menyangka jika dewa begitu baik padanya, memberikan berkah yang sangat menggembirakan ini


"Putra ku, apakah ini benar benar kau?" Ucap selir keliam terisak pelan ia sangat merindukan sang putra yang sudah di asing kan semenjak lima tahun yang lalu,


"Bagai mana kabar mu ibu selir?, hey adik kekesembilan" Ucap pangeran kedua sambil menggendong adiknya


"Kakak ke 2," Ucap pangeran ke 9 tersenyum lebar, ia masih dapat mengenal wajah saudara keduanya, meskipun waktu memisahkan mereka namun hal itu tentu saja tak membuat pangeran ke sembilan melupakan saudaranya dengan begitu mudah


"Hey kau masih mengenali ku rupanya, ah ibu siapa dia" Ucap pangeran kedua tersenyum sambil menciumi pipi adik bungsunya ini, ia sama sekali tak pernah melihat gadis ini di istana, sang pangeran kembali ke istana hanya saat memberi laporan pada sang kaisar, hal itu pun hanya satu tahun sekali


"Ah putra ku, dia adalah permaisuri li" Ucap selir ke lima pelan,

__ADS_1


"Ah maaf kan ketidak tahuan hamba yang mulia" Ucap pangeran kedua membungkuk beberapa derajat memberi penghormatan pada wanita yang bergelar ibu negri ini, ia benar-benar tidak tau akan hal ini, ia hanya pernah mendengar jika kaisar telah menikah namun ia tak pernah bertemu langsung dengan sang permaisuri,


"Berdirilah, perlu sungkan, duduk lah" Ucap min tersenyum dan mereka kembali duduk, min tersenyum lembut saat melihat tatapan kerinduan pangeran kedua yah, hal yang wajar mereka hanya bertemu sesekali dan tentu saja tak akan dapat mengobati rindunya, tak lupa kasih sayang dari selir kelima, ah mereka adalah keluarga yang sangat harmonis, andai saja ia dapat merasakan kehangatan itu, namun yah itu hanya angan angan belaka, takdir telah menuntunya ke jalan kesensaraan selamanya, nasib buruk selalu mengejarnya meski saat ini ia sudah berpindah alam


"A li, ini adalah putra ke dua ibu, pangeran lan" Ucap selir ke lima tersenyum lembut memperkenalkan putranya pada sang permaisuri


"Ah aku pernah mendengar nama mu pangeran, para bangsawan selalu memuji mu, dan bahkan para rakyat sangat menghormati mu, dan para putri selalu memuja mu" Ucap min, ia berkata yang sebenarnya, setelah beberapa kali menyelinap istana tak jarang ia mendengarkan rumor tentang pangeran lan ini, yah meskipun ia juga pernah mendengar rumor miring mengenai pangeran kedua, yang di cabut gelar pangeran dan di asingkan ke perbatasan, namun, ia masih tetap terkenal dan di kagumi seluruh negri ia bisa menjadi terhormat tapa gelar itu


"A li, seingat ibu kau tak suka dunia luar" Ucap selir ke lima pelan, selir kelima pun mendengar jika permaisuri li adalah orang yang suka mengurung diri di kediamannya, bahkan saat pertama kali bertemu selir kelima tak percaya jika gadis cantik dan ceria di hadapannya adalah permaisuri yang di kenal sebagai sampah itu


"Seseorang bisa saja kan mngubah dirinya, lagi pula dunia luar sangat menyenangkan" Ucap min antusias menceritakan pengalamnya, min sudah menjalin hubungan baik dengan selir ke lima beberapa minggu ini dan min mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu kasih sayang dari seorang yang di namakan ibu,


Kediaman angrek pun masih sibuk di renofasi dan di perindah, ia ingin ibunya nyaman berada di kediaman yang paling di hindari ini, demi kenyamanan sang ibu ia akan mengubah neraka dunia ini menjadi syurga yang sangat di rindukan,


"A li, kau tak boleh menyelinap, di luar sangat bahaya untuk keluarga istana" Ucap selir ke 5 dengan nada khwatir, dan sesekali mengelus surai panjang milik wanita yang sudah di anggap anaknya ini, selir kelima sangat menyayangi min dan min pun sangat maja pada selir ini, mereka menjalin hubungan dengan sangat baik, min hanya menjawab dengan anggukan pelan, bagai mana mungkin ia tak menyelinap, dunia luar bahkan jauh lebih menyenangkan dari dalam istana megah namun mematikan ini

__ADS_1


"Ah yang mulia, maaf atas kelancangan hamba, apakah ini tidak melanggar aturan?, apakah kaisar tidak marah dengan kedekatan ibu dan permaisuri?, harap anda menjaga batasan anda" Ucap pangeran lan pelan, jujur saja ia merasa tak nyaman dengan interaksi kedua wanita yang berbeda status ini, bukankah ini melanggar aturan?, seorang permaisuri tak boleh memihak secara terang terangan, apalagi sang permaisuri terlihat begitu manja pada sang ibu, ia tak ingin hal ini berdanpak pada sang kaisar dan berakhir dengan memberatkan hukuman pada sang ibu, tidak demi apapun pangeran lan akan lebih memilih menghindar dari pada terjerat masalah itu


__ADS_2