Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Prolog


__ADS_3

Ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Lima tahun menimba ilmu di negeri orang, membuatku rindu dengan tanah air tercinta, Indonesia. Aku tak sabar menantikan jam terbang kembali ke Indonesia tiba. Tiga jam lagi keberangkatanku, tapi sejak dua jam yang lalu aku sudah mengemasi semua pakaian dan barang-barang milikku.


Hati terasa berdebar ketika melihat detik demi detik berganti. Rasa rindu yang teramat dalam kepada kota kelahiran. Tak sabar ingin melepas rindu kepada mereka yang kusayang. Papa, kakak sepupu, keponakan, kerabat lainnya dan para sahabat juga teman dekat.


Pacar? Aku tidak memiliki hubungan spesial dengan seorang lelaki. Jomblo ngenes, julukan untukku. Ada alasan mengapa aku tidak mau menjalin hubungan dengan lelaki saat ini. Aku masih menunggu seseorang yang telah melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingkingku. Lalu mengucap janji saat itu.


“Aku akan menunggumu dewasa, lalu menikahimu nanti. Aku janji.” Begitu, katanya.


Dia adalah teman kecilku. Usianya tiga tahun lebih tua dariku. Awalnya aku selalu menganggap dia seperti kakak sendiri, lambat laun aku merasakan hal yang berbeda.


Orang bilang itu adalah cinta monyet. Lucu, jika mengingat hal itu.


Kami selalu bersama. Berangkat sekolah, pulang sekolah, bermain bersama. Menghabiskan waktu.


Papa dan kedua orangtuanya pun bersahabat sejak kecil. Persahabatan yang indah.

__ADS_1


Namun, sayangnya semua telah berakhir. Di usianya yang menginjak sepuluh tahun, dia pindah keluar kota. Mengikuti kedua orangtuanya yang mendapatkan tugas di luar kota. Sedih rasanya. Masih teringat jelas ketika perpisahan itu tiba.


Dia memberikan kenangan untukku agar selalu mengingatnya. Juga janji manis untuk terakhir kalinya.


“Jangan menangis, Kakak pasti datang kembali. Peluklah boneka itu jika kamu rindu.”


Dia menghapus jejak air mata di wajah, lalu mengacak puncak kepala dan mencubit pipiku. Hal yang selalu membuatku sebal. Saat itu aku masih berusia tujuh tahun. Masih imut-imutnya.


“Kakak janji akan menikahimu setelah kita sama-sama menyelesaikan kuliah.”


Janji yang aku ingat hingga sekarang. Mungkin dia telah melupakannya. Meski waktu itu kami masih kecil, aku menganggap itu adalah wujud keseriusannya. Dia adalah lelaki kedua setelah Papa yang mengisi hatiku. Pelindung ketika aku di ganggu oleh geng anak nakal.


Menitipkan salam pada hujan juga angin. Itu yang dia ajarkan padaku.


“Jika kau rindu, kau bisa titipkan salam untukku kepada hujan dan angin.”

__ADS_1


“Apa mereka bisa berbisik tentang apa yang aku katakan, Kak?”


“Tentu saja bisa. Cobalah, nanti aku akan titipkan salamku untukmu melalui hujan dan angin.”


Semua itu bohong. Hujan dan angin tidak tahu menahu dimana keberadaannya. Lalu aku mencoba menuliskan pesan dan mengikatnya di balon. Membiarkan balon itu terbang untuk menyampaikan pesanku. Nyatanya, tidak ada satupun balasan dari pesan itu. Hingga dua puluh balon telah aku habiskan. Satu balon sehari, itu berarti aku telah menunggunya dua puluh hari.


Hingga aku lelah dan menyerah. Menjalani hari dengan penuh kekecewaan. Dia tidak ada kabar sampai saat ini. Aku bertanya pada Papa pun tidak tahu dimana keberadaan keluarganya.


Saat ini aku telah berusia dua puluh satu tahun, mungkin sekarang dia telah berusia dua puluh empat tahun. Bisa jadi dia telah menikah. Melupakan janji yang dia buat.


Harusnya aku tidak percaya janji itu, tapi entah mengapa hati ini sangat yakin bahwa janji itu akan terwujud. Namun, tetap saja aku berpikir dia telah memiliki seorang kekasih atau istri. Mana mungkin tidak ada wanita yang mau dekat dengannya. Selain tampan dia juga memiliki IQ yang tinggi, oleh sebab itu dia selalu menjadi peringkat pertama di sekolahnya.


Itulah sebab mengapa aku selalu menolak lelaki yang datang mendekat. Aku tidak mau menjalin hubungan dengan lelaki manapun sebelum bertemu dengannya.


Entah bagaimana wajahnya sekarang, hanya foto masa kecil yang selalu aku simpan.

__ADS_1


Aku masih menunggunya dengan rasa yang sama dan hati yang sama.


Next ...


__ADS_2