
"Hah, tante keren pengawal pribadi aku" ucap Raniya tidak percaya dengan perkataan Vina.
"Yupz. Kenapa? Kamu tidak suka?" Vina menyelidiki raut wajah Raniya yang seolah tidak percaya.
"Bukan begitu tante, hanya tidak percaya kalau pengawal pribadi aku itu tante cantik" ucap sambil tersenyum senang khas polos anak-anak.
"Tapi kamu juga keren tadi pas berantem sama mereka. Kamu sudah sering latihan ya?" tanya Vina untuk mengetahui lebih lanjut kepribadian Raniya. Dia hanya mendapatkan profil Raniya, tidak lengkap bagaimana sifatnya. Apa kesukaannya? Apa hobinya? Apa makanan favoritnya? Apa warna kesukaannya? Maka sekarang dia sendiri yang akan mencari tahu tentang itu semua.
"Iya, sering latihan sama bang Randy dan juga Revan. Kadang-kadang juga latihan sama kakek" jawab Raniya begitu lancar. Sedangkan Sam mengamati wanita cantik yang ada di hadapannya sekarang ini. Menyelidiki, benar atau tidak kalau dia pengawal yang memang diutus oleh oma Rachel. Jikapun iya, dia bingung kenapa oma Rachel mempercayakan dia untuk mengawal Raniya secara pribadi? Apa karena kesamaan gender mereka?
"Katanya tadi mau nonton film. Sepertinya sudah mau mulai tuh" Vina mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dan perhatian Sam. Dia tahu kalau dirinya kini sedang diperhatikan oleh Sam sejak tadi.
"Oh iya ya. Kalau begitu kita masuk nonton. Eh, tapi tante tidak punya tiketnya" kata Raniya dengan nada sedih mengingat mereka tadi hanya membeli dua tiket.
Vina pun memperlihatkan selembat tiket yang dia simpan dalam kantonh jaket kulitnya. Ya, dia sudah membeli tiket menonton miliknya. Sebenarnya Vina sudah mengikuti mereka sejak masuk ke dalam mall. Dia juga mengantri tiket di belakang Sam. Otomatis tempat duduknya pun berdampingan dengan mereka.
"Hebat, tante gercep banget" puji Raniya merasa girang. Kepolosan anak itu membuat Raniya mengingatkan akan dirinya waktu kecil dulu. Senyum dan tawa bahagia yang dia hadirkan ketika bersama sang ibu dulu.
"Kayaknya harus ada yang beli minum sama popcorn deh. Soalnya kan kurang seru kalau nonton di bioskop tanpa makan popcorn" Vina melirik ke arah Sam. Seolah mengode.
__ADS_1
"Betul tante. Kalau begitu biar om Sam yang belikan. Ya kan om" Raniya mengedipkan matanya seolah merayu dan memohon kepada Sam untuk membelikan popcorn dan minuman yang dikatakan oleh Vina tadi.
"Baik non".
"Kamu jaga nona kecil, jangan sampai lengah" tegas Sam kepada Vina dengan nada dingin. Tatapan matanya seakan memberikan ultimatum perang. Namun Vina tak menggubris tatapan mata tersebut, entah kenapa dia merasa sangat menyukai tatapan sinis Sam itu. Seperti sebuah tantangan kepada dirinya. Tentu saja, sebuah tantangan adalah hal yang paling disuka oleh Vina yang suka hal yang menegangkan.
Davina memang datang bukan tanpa tujuan apapun. Dia datang dalam keluarga Aston karena adanya sebuah misi yang penting dari seseorang yang paling dihormatinya. Orang yang telah menyelamatkan hidupnya selama ini. Misi yang harus dia selesaikan dan tuntaskan sendiri. Selain itu juga untuk mencari beberapa informasi tentang keluarga Aston.
Davina masuk kedalam ruangan bioskop bersama Raniya dan mencari tempat duduknya. Mereka berdua mengobrol dengan serunya hingga tertawa bersama. Begitu cepat keakraban terjalin antara mereka berdua. Seolah ada ikatan diantara keduanya. Sambil menunggu film diputar dan juga menunggu kedatangan Sam. Vina sempat menanyakan tentang kehidupan Raniya selama tinggal dengan keluarga Aston. Tentunya Davina juga mengetahui kalau Hendry merupakan orang kepercayaan dikeluarga tersebut terlebih dahulu. Anak angkat Rachel dan Adam. Pastinya dia memiliki pengaruh yang kuat dalam keluarga Aston.
"Filmnya segera mulai, kenapa om Sam belum juga datang ya tan" Raniya sedikit cemas karena Sam belum menampakkan batang hidungnya yang mancung itu.
"Sini aku bantu bawakan" pinta Vina yang langsung mengambil pocorn yang berada ditangan kirinya. Sedangkan Sam kini hanya membawa tiga minuman di tangannya.
Dari tadi Vina bersikap ramah dan tersenyum manis pada Sam. Namun Sam sama sekali tidak membalasnya dengan ramah atau memberikan senyum kepadanya. Seolah-olah senyum Sam itu sangat begitu mahal. Dalam hati Vina merutuk sikap dingin Sam yang terlewat abnormal. Timbul bergelayut pikiran buruk tentang Sam dipikiran Vina.
"Jangan-jangan ni cowok belok kali ya. Secara yang belok kini cowo-cowo keren dan macho level up" gumam Vina dalam hati. Dia kembali teringat akan kisah cintanya yang kandas karena memergoli kekasihnya sedang memadu kasih di apartemennya. Mungkin kalau dengan perempuan mungkin Vina bisa memaklumi karena dia tidak pernah mau melayani hasrat sanh kekasih hatinya. Namun dia tidak menyangka, jika saingan percintaannya adalah seorang laki-laki yang jauh dari kata ganteng. Alasan kekasihnya itu mencintainya, karena dia bersikap seperti layaknya seorang wanita. Lembut, perhatian dan yang pastinya bisa memuaskan hasrat lelakinya.
"Aaaahhhh" jerit Sam ketika suara menegangkan dari film horor itu berdentum nyaring. Ditambah adegan yang mencekam dari film yang terpampang pada layar lebar itu. Jeritan Sam tadi membuyarkan lamunan Vina yang memang sedari tadi tidak fokus menonton film horor yang ingin di tonton oleh Raniya itu. Si gadis manis itu menonton dengan santai dan sedetik pun matanya seolah tidak teralihkan pada adegan-adegan yang ditampilkan pada layar.
__ADS_1
"Aaaarrrrgggh..... " jerit Sam lebih nyaring dari sebelumnya.
"Kenapa jadi teriak begitu sih" gerutu Vina yang mulai sedikit terganggu dengan teriakan Sam seperti sedang terjepit di pintu.
"Filmnya serem" bisik Sam ditelinga Davina. Entah kenapa ada desiran yang menggelitik tubuh Davina ketika hembusan nafas Sam menyentuh kulit wajahnya. Nada bicaranya pun juga terdengar begitu lembut di telinga Davina.
"Aaaaarrrrrghhhhh" jerit Sam untuk kesekian kalinya. Vina pun menatap ke arah Sam. Sedari hanya dia saja yang menjerit seperti itu diantara mereka bertiga.
"Om bisa diam nggak sih, berisik om. Aku jadinya terganggu nontonnya om kaya anak perempuan keinjak kakinya" gerutu Raniya kesal, tapi matanya tak berpaling dari layar yang masih menampilkan adegan menegangkan dan mencekam dari film tersebut.
"Aaaaarrrrggghhhhh" teriak Sam nyaring, saat adegan yang jauh lebih menegangkan ditampilkan.
"Om berisik banget sih. Malu tuh sama otot, percuma otot gede sama badan besar. Tapi nyali kecil buat nonton film hantu".
"Film segitu saja, om Sam takut. Gimana nanti malam pertama om nanti sama istri om" celotehan Raniya tadi menjadi bahan tertawaan beberapa penonton di bioskop. Sedangkan Sam tentu saja malu lah. Si Raniya yang berucap seperti itu seolah merasa tidak bersalah sedikitpun kepada Sam.
"Kata orang sih ni ya om, yang sudah pernah punya pengalaman. Katanya malam itu pertama itu lebih menakutkan daripada malam jum'at dikuburan" ucapnya asal lagi.
Davina hanya bisa menepokkan jidatnya. Ternyata mulut Raniya memang berbisa persis seperti kakeknya dan juga almarhum papanya. Ternyata buah tak jatuh jauh dari pohonnya memang.
__ADS_1