Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Mulai Penyerangan


__ADS_3

Setelah proses ijab kabul kedua pasangan selesai, kini tinggal proses resepsi pernikahan keduanya. Banyak ucapan selamat dari para kenakan Andre, Kanaya dan juga rekan bisnis Hendry. Acara yang diadakan disini khusus untuk semua kolega Hendry, karena nanti akan diadakan kembali resepsi yang kedua untuk kolega Adrian dan Angga. Semuanya tampak begitu bahagia dan anak-anak Kanaya juga terlihat begitu antusias ikut meramaikan kemeriahan acara resepsi pernikahan mamanya. Acara pernikahan berlangsung dengan lancar dan aman hingga selesai acara.


Mely tampak gusar sepanjang acara tersebut sebenarnya, tapi dia tidak ingin merusak momen membahagiakan di hari bersejarahnya ini. Tony yang sekilas melihat Mely yang berulang kali mengetukkan heelnya ke lantai menaruh curiga kalau ada yang tidak beres dengan Mely. Ingin dia menghampiri, tapi dia tidak ingin Mely dengan suaminya akan bertengkar karenanya. Tony tidak terlalu akrab dengan suami Mely karena mereka memang jarang bertemu. Meski bertemu hanya berpapasan, itupun tidak pernah jarak dekat.


Selesai acara Tony mengajak Mely untuk membicarakan tentang kegelisahan yang dirasakan oleh Mely. Awalnya Mely menolak untuk menceritakan kepada Tony terlebih dahulu, karena dia ingin membicarakan ini dengan Adrian dahulu.


"Ada pembunuhan yang dilakukan tadi malam di Jakarta mengatas namakan "Black Rose". Orang ini benar-benar ingin mencelakai diriku" kata Mely sedikit khawatir. Dia bukan khawatir kalau dia dikejar-kejar oleh musuh, tapi yang dia pedulikan adalah suaminya. Pria baik hati ini yang selalu membuat hidupnya kembali normal.


"Ini sudah tidak bisa diremehkan, musuh sudah mulai bergerak dan memanfaatkan kesempatan ini untuk bertindak".


"Sebaiknya kamu tinggal disini dulu, bereskan semua urusan perusahaan baru kamu kembali ke Jakarta jika keadaan sudah kondusif" kata Tony.


"Aku akan memberitahukan hal ini ke Adrian, sebaiknya kamu fokus saja pada pekerjaanmu disini. Aku akan kembali lebih dulu dengan Tigor".


"Jangan khawatir" Tony menenangkan Mely.


Dua hari setelah resepsi Tony baru memberitahukan masalah yang ada di Jakarta. Sebelumnya dia pamit pulang lebih dulu kepada Adrian karena ada urusan dengan Amanda. Tony sudah mencari jejak si pelaku, tapi hasilnya tidak ada petunjuk apapun. Seakan mereka sedang dipermainkan oleh seseorang yang memang sudah mengincar mereka. Mereka tidak bisa menebak siapa dibalik semua ini, sehingga mereka harus lebih waspada.


Ternyata Niki mengetahui perihal kejadian ini, dia pun juga menggerakkan anak buahnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Adrian. Dia harus mengantisipasi dan mengetahui siapa musuh yang Adrian hadapi sekarang. Dia harus melindungi anaknya dan keluarganya dari orang-orang yang ingin menyakiti keluarganya.


Mely yang harus lembur menyelesaikan tugas terakhirnya tampak begitu semangat. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, dia sudah memberitahu suaminya agar tak khawatir karena dia akan lembur. Suasana kantor begitu sepi dan mencekam tapi tak membuat Mely takut sedikitpun, meski ada beberapa gangguan dari mereka yang berada didunia yang berbeda.

__ADS_1


"Huh, akhirnya selesai" ucap Mely sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Tiba-tiba saja ada semilir angin dingin yang menerpanya secara tiba-tiba. Hatinya langsung berubah tidak tenang dan sedikit gelisah. Kenapa jadi tiba-tiba begini?


Mely melangkahkan kakinya keluar dari kantor dan menuju ke parkiran mobil. Di dalam pos penjagaan tampak televisi dinyalakan dengan suara yang nyaring. Biasanya tidak pernah mereka melakukan hal itu, dan tidak seperti biasanya juga satpam tersebut tidak duduk didepan. Setidaknya salah satu diantara mereka akan duduk didepan sambil ngopi atau mereka duduk barengan berdua. Mely sudah merasakan firasat yang aneh semenjak dari dalam. Dia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, dia tetap berjalan dengan santai hingga menuju ke mobilnya. Namun tiba-tiba saja seseorang menyerangnya dengan menusukkan pisau ke perutnya saat dia memalingkan badan. Untung saja, terhalang oleh tas jinjing yang dia bawa sehingga tidak melukai perutnya. Perkelahian diantara keduanya pun tak bisa dihindari.


Orang yang menyerang Mely rupanya orang yang terlatih dan juga profesional. Dia begitu hebat dan mampu menahan serta membalas setiap serangan dari Mely. Mely melepaskan cardigan dan merobek rok yang dia pakai. Dia juga melepas kan heel yang dia pakai dan mematahkan heelnya.


"Let's do it again boy" tantang Mely yang merasa senang memiliki saingan yang seimbang. Mely mendapat beberapa goresan pisau di bagian lengannya. Namun hal itu tidak menjadi masalah baginya. Sebenarnya dia masih ingin bermain-main dengan orang yang menyerangnya, namun dia harus segera mengakhiri pertarungannya. Dalam tiga kaki serangan yang dilancarkan oleh Mely, musuhnya pun langsung tumbang. Mely segera mengambil pisau yang dipegang oleh pria tersebut dan menghujamkannya tepat dijantungnya.


"Lumayan sebagai penghilang stress" ucapnya kemudian tiba-tiba kepalanya dihantam seseorang dari belakang. Mely pun merasakan sedikit pusing dikepalanya, dan dia memegangi kepalanya. Berdarah, dia terjatuh.


Terdengar suara seseorang yang tertawa kecil dan memanggilnya kelinci kecil, dia menarik kaki Mely dan membalikkan tubuh Mely.


"Sepertinya iya" jawabnya.


"Ternyata, black rose tak setangguh rumor yang dikatakan".


"Tapi dia benar-benar cantik, seksi dan menggoda. Bagaimana kalau kita menikmati tubuhnya terlebih dahulu sebelum mengeksekusinya" tanyanya kepada rekannya yang ada dibelakangnya.


"Terserah kamu saja, aku tidak ada urusan untuk hal itu" jawab si pria dibelakang sambil menghisap rokoknya.


Si pria yang memukul Mely tadi membuka kancing baju Mely secara perlahan dan meremas kedua bukit milik Mely dengan penuh nafsu. Dia meraba perut Mely dan membuka kaki Mely. Saat dia mencoba menciumnya. Tiba-tiba saja dia bersuara seperti tercekik dan berusaha memegangi lehernya yang kini telah berdarah karena dilukai oleh Mely. Sebenarnya Mely hanya pura-pura pingsan dan ingin mengetahui siapa gerangan yang menyerang dirinya. Namun karena si pemukulnya terlalu lancang akhirnya dia harus menyudahi hasrat si pria tadi untuk menyentuhnya. Pria yang sedang santai merokok tadi terkejut Mely sudah sadar dan bersiap untuk menembak mely. Namun pisau yang di pegang oleh Mely sudah mendarat tepat di bagian tengah dahinya. Untungnya pisau si pembunuh tadi berada dekat dengan tangan Mely.

__ADS_1


Mely berdiri dan mengambil pistol yang dipegang oleh si pria tadi dan menembakkan ke kepalanya hingga tubuhnya terjatuh ke tanah. Tiba-tiba ada suara langkah kaki berlari ke arahnya dan Mely mengarahkan pistol ke arah suara itu akan tiba. Saat dia bersiap untuk menembak, dia terkejut ternyata yang muncul adalah suaminya. Mely begitu terkejut melihat suaminya datang dan melihat keadaan dia seperti ini. Ini bukanlah yang Mely inginkan, tampil mengerikan dengan tubuh penuh darah. Suaminya berlari dan meluk Mely yang terdiam berdiri mematung.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


"Aku sangat mengkhawatirkan kamu" ucapnya sambil menyapu percikan darah yang ada di wajah Mely.


"Apa yang kamu lakukan disini?" hanya itu yang ada dalam pikiran Mely untuk ditanyakan kepada suaminya.


"Aku khawatir dengan dirimu yang belum pulang".


"Aku langsung berlari kesini karena mendengar bunyi tembakan, saat berada di pos penjagaan".


"Dua penjaga disana telah dibunuh, dan aku takut terjadi apa-apa dengan dirimu setelah mendengar suara tembakan tadi".


"Kamu tidak usah takut, aku ada disini untuk kamu. Kamu tidak membunuh mereka, ini hanya bentuk perlawanan diri saja, ok. Kamu jangan takut" kata suami Mely sambil memeluk Mely begitu hangat.


Mely menangis kencang karena dia tidak menyangka jika selama ini dia yang sangat mengkhawatirkan suaminya, tapi sebaliknya suaminya juga mengkhawatirkan dirinya. Dia selalu takut jika suaminya akan melihat dirinya bersimbah darah dan akan langsung pergi meninggalkan dirinya karena takut. Tapi nyatanya, suaminya kini memberikan kehangatan yang lembut dihatinya. Malam ini adalah malam yang melelahkan dan mencekam buat Mely.


Dia segera melapor ke Adrian tentang peristiwa yang baru saja dia alami. Adrian merasa geram dan langsung akan pergi ke kantor Kanaya. Kanaya yang tertidur begitu nyenyak tak mengetahui kalau Adrian akan bersiap pergi. Namun, Hendry yang masih belum tidur mendatangi Adrian dan menanyakan dia mau pergi kemana. Adrian pun tak ingin menyembunyikan masalah penyerangan terhadap Mely dan juga berita yang ada di Jakarta. Hendry pun ikut dengan Adrian untuk melihat pelaku penyerangan yang berjumlah tiga orang. Dilain sisi Hendry merasa kagum dengan Mely yang mampu mengalahkan tiga orang pria. Mungkin orang yang menyuruh mereka bertiga tahu kalau Mely tidak mudah untuk dikalahkan, sehingga mengirim tiga orang sekaligus untuk menghabisinya.


Hendry sangat terkejut melihat kekacauan yang ada di parkiran, dengan darah yang menggenang di lahan parkiran kantornya. Tidak lama setelah Adrian dan Hendry datang, orang-orang Adrian yang baru saja dia rekrut datang untuk membersihkan kekacauan yang ada. Adrian meminta suami Mely untuk membawa Mely masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, dan meminta mereka berdua untuk tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.

__ADS_1


__ADS_2