
Sam yang mendapatkan omelan dari Raniya tentu saja merasa sangat begitu malu. Bagaimana tidak? Kini banyak mata yang melihat ke arah Sam setelah ocehan Raniya hal ini membuatnya kesal. Tidak masalah kalau dibilang malu sama otot, tapi kan banyak juga yang memang takut melihat hal gaib begituan. Lagian itu hal yang wajar dan lumrah. Tapi ini dikatain malam pertama lebih menakutkan dari kuburan, serasa dia baru atau akan mengalaminya saja. Boro-boro mau malam pertama, punya gebetan saja tidak. Begitulah nasib jomblo ngenes.
"Tidak usah diambil hati, namanya juga anak kecil. Asal ngomong" Davina berbicara kepada Sam karena melihat raut wajah Sam yang berubah sedikit dingin. Mungkin merasa tersinggung. Bukannya tersinggung, hanya kesal karena dia tidak punya kekasih. Sam menatap dingin kepada Davina yang duduk di sampingnya. Seolah ingin memaki Davina. Namun justru hal yang lain dirasakan oleh Davina. Dia merasakan getaran tersetrum dalam hatinya. Seakan kupu-kupu tengah terbang mengelilingi hatinya sekarang ini.
Sam hanya menoleh kemudian kembali lagi fokus untuk menonton film horor yang tengah tampik di layar bioskop. Davina, dia sama sekali tidak bisa fokus dengan film yang tengah ditampilkan. Sebab, film itu tidak menarik baginya. Wajah Sam jauh lebih menarik untuk dia pandangi. Melihat rahangnya yang tegas dan terlihat kokoh. Kulit wajah yang putih mulus, serta mata yang tajam dan bening. Hidung yang mancung, perfect. Sungguh menawan dan rupawan. Baru kali ini Vina merasa tergila-gila kepada pria. Biasanya para lelaki yang mengejar dirinya dan menggilainya. Namun justru sekarang terbalik dirinya lah yang merasakan tergila-gila.
Saat Sam akan mulai menjerit lagi, sontak Davina langsung mendaratkan sebuah ciuman di pipi Sam. Sontak saja si pemilik pipi terkejut dan tidak jadi menjerit karena takut. Dia langsung melihat ke samping, menatap aneh kepada Davina. Sedangkan Vina, merasa malu. Kejadian yang baru saja itu murni diluar kesadarannya. Sebab, pikirannya traveling menjurus ke hal yang mesum. Mengingat perkataan Raniya tentang malam pertama, Vina jadi membayangkan hal itu bersama Sam. Merah merona, tentu saja. Tapi dia tidak dapat memungkiri kalau dia memang tertarik dengan Sam.
"Ah, kebablasan. Pesonamu begitu menawan Sam" jerit Davina dalam hati. Persis seperti anak ABG yang labil.
Sam langsung memalingkan wajahnya karena malu. Wajahnya pun kini bersemu merah atas tindakan agresif Vina tadi. Namun, sebuah senyuman melengkung di bibirnya. Membuat Vina ingin benar-benar ******* nya. Senyuman Sam terlihat begitu manis dan menawan bagi Vina.
Tiba-tiba saja tangan Sam memegang tangan Vina yang berada di samping tangan Sam. Melonjak bukan main hatinya. Seperti dentuman drumband yang riuh menggema dalam hatinya.
"Oh Sam, aku padamu" Vina secara perlahan meletakkan kepalanya dibahu kokoh milik Sam. Hatinya seakan meloncat-loncat karena kegirangan.
"Ah serunya film tadi" ucap Raniya setelah keluar dari bioskop.
"Aku juga merasakan keseruan yang luar biasa" jawab Vina dalam hati.
__ADS_1
"Non Raniya sekarang mau langsung pulang atau mau mampir dulu?" tanya Sam kepada Raniya yang menggandeng Vina dari tadi. Raniya merasa sangat begitu dekat dengan Davina. Seperti sudah mengenal sejak lama.
"Pulang saja deh om. Pengen istirahat, soalnya capek banget nih" Raniya kemudian menguap.
"Baiklah non" jawab Sam kemudian tersenyum saat matanya bertemu pandang dengan Vina.
Sam hanya mengantarkan hingga depan rumah, karena dia harus memarkirkan mobil dulu di parkiran belakang. Raniya mengandeng tangan Vina hingga masuk ke dalam rumah. Terlihat sosok oma Rachel tengah duduk sambil memeriksa beberapa dokumen.
"Oma..." teriak Raniya menghampiri oma Rachel.
"Oma keren. Pengawal buat aku tante cantik, yang super keren" Raniya bercerita kegirangan karena diberikan pengawal pribadi yang sangat dia inginkan. Seorang wanita superior seperti wonder woman. Maklum, Raniya pecinta serial super hero. Khususnya Marvel, tokoh yang paling dia idolakan adalah tokoh Thor.
"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Oma ingin bicara dengan Davina dulu ya" Raniya pun mengangguk. Dia pun menuruti ucapan oma Rachel dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kabar miss Rachel?" tanya Vina yang langsung duduk di depan oma Rachel.
"Baik, jangan terlalu formal begitu. Panggil saja oma Rachel seperti yang lainnya" oma Rachel merasa terlalu berlebihan jikalau dia dipanggil seperti itu.
"Hahaha, lucu. Bukankah panggilan oma juga berlaku buatku? Secara anak-anak Radit adalah cucuku" ucap Vina, oma Rachel pun menggeleng kan kepalanya. Sikap Vina mengingat akan dirinya waktu muda dulu.
__ADS_1
"Iya aku lupa, kamu mau mereka memanggilmu apa?" tanya oma Rachel ramah. Padahal mereka baru pertama kali bertemu, seakan sudah mengenal lama.
"Menurutmu kalau aku dipanggil gemma bagus tidak. Ya, panggilan singkat dari grandma" kekeh Vina yang memang supel dengan orang baru. Begitu juga oma Rachel yang memang terkenal welcome terhadap siapapun.
"Cocok saja kalau kamu ingin dipanggil seperti itu. Lebih keren" oma Rachel ikut menimpali.
Meski mereka memiliki usia yang terpaut jauh berbeda. Tapi mereka bisa mengobrol dengan santai dan lancar. Niki yang baru saja pulang dari tempat penyerangan tadi sedikit terkejut melihat wajah baru yang kini ada dirumah.
"Hei Niki, baru pulang" oma Rachel menyapa anaknya yang terlihat tidak terlalu baik sekarang.
"Kenalin Davina. Pengawal Raniya dan juga..." Davina memberikan kode kepada Rachel untuk tidak memberitahukan tentang identitas dirinya. Dia tidak ingin banyak orang yang tahu tentang siapa dirinya? Sebab nyawa dirinya pun sama terancam seperti nyawa Kanaya dan juga anak-anaknya. Davina memilih bersekutu, sebab mereka memiliki musuh yang sama. Devin lah yang mereka hadapi. Bukannya Vina takut, hanya saja dia harus menepati janjinya kepada sang ayah agar selalu melindungi kakaknya Darren.
Davina adalah anak ayah Darren dari istri keduanya. Sebenarnya hal itu ingin dikatakan sang ayah saat tahu istrinya Darren hamil. Namun hal itu diurungkan saat tahu jika Devin merencanakan niatan busuk ingin menghabisi Darren. Itulah sebabnya kenapa istri Darren selalu mengalami keguguran. Jadi kehadiran Davina sengaja disembunyikan. Darren mengetahui tentang Davina setelah ibunya Davina meninggal karena kangker. Darren menyambut Davina dengan sangat baik bahkan merasa beruntung jika dia masih memiliki seorang adik, meski umur mereka terpaut sangat jauh. Umur Davina hanya selisih lima tahun dari Radit. Tentu saja dia masih sangat muda. Masih berumur kepala tiga.
Tentang Davina, dia dapatkan dari Robert. Sebab, sang putri tunggal adalah kartu AS milik Darren untuk melemahkan kekuasan Devin yang bukan ahli waris yang sah. Sengaja dia dikirim ke keluarga Aston untuk melindungi cucunya Darren. Keturunan pewaris sah dari Marven. Kondisi Darren lemah, bergantung pada fasilitas rumah sakit dan juga obat dari dokter. Darren dinyatakan koma melalui surat medis. Namun nyatanya dia masih bisa mengurus berbagai hal, yang menyangkut bisnisnya. Hanya orang-orang kepercayaan dan setia kepadanya yang tahu hal ini. Termasuk Davina yang dengan senang hati ikut dalam permainan yang ingin dilakukan oleh Darren.
"Oma, ada yang ingin Kanaya bicarakan sebentar" Kanaya menghampiri oma Rachel yang masih berbincang dengan Davina. Kanaya menyapa Davina ramah dan juga lembut.
"Wanita ini rupanya yang bernama Kanaya. Pantes saja, Radit selalu memuji dirimu" pernyataan yang dikeluarkan dari mulut Davina tentu saja menjadi sebuah tanda tanya baginya. Bagaimana dia bisa mengenal Radit suaminya?
__ADS_1