Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Penyelamatan Tertunda


__ADS_3

"Sialan, brengsek memang" gerutu Niki setelah berhasil mengalahkan semua musuh yang menyerang langsung ke kediaman Aston.


Beruntungnya Niki tidak jadi pergi keluar tadi Jika tidak, maka orang-orang yang ada di dalam rumah sudah bisa dipastikan tidak akan selamat. Sedangkan Hendry pergi bersama Andre ketika mendapat kabar kalau kawasan bagian barat diserang. Tanpa mereka ketahui semua, padahal disaat yang bersamaan mereka diserang. Untungnya bodyguard yang ada di Mansion Aston adalah bodyguard handal semua. Sehingga Niki tidak terlalu kewalahan. Tapi yang pastinya tidak pernah diketahui oleh musuh. Kolaborasi antara Niki dan mamanya oma Rachel tidak bisa dianggap remeh. Mereka tidak mudah untuk dikalahkan jika bersama. Serangan cepat oleh Niki dipadukan dengan serangan tanpa pernah meleset dari oma Rachel. Mampu menggentarkan musuh. Jika mengandalkan para bodyguard, jaminan selamat mustahil untuk dikatakan. Untung saja Giselle serta orang-orang didalam rumah sempat disembunyikan dalam ruangan tersembunyi dibalik ruang rapat biasanya oleh Niki. Sehingga dia dengan mudah untuk beraksi. Suami tercintanya juga masih asyik tidur. Angga seperti orang mati kalau sudah tidur. Jadi dia tidak tahu kalau istrinya diluar tengah asyik bermain tembak-tembakan dan main tinju.


"Ternyata mama masih ok juga" puji Niki yang telah basah karena keringat dan juga percikan darah di wajahnya dan juga bajunya.


"Kamu juga jauh lebih terkontrol dari sebelumnya" puji balik oma Rachel mengedipkan sebelah mata.


"Untung saja Niki tidak jadi pergi dan mama tidak jadi pergi. Jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi" Niki mengambil sebatang rokok yang hendak diisap oleh salah satu anak buah Aston yang ingin melepas lelah karena bertarung. Dia menyalakan rokok yang akan diisapnya.


"Mama sebenarnya juga berfirasat akan terjadi sesuatu disini. Itulah sebabnya mama membatalkan semua rapat hari ini" jelas oma Rachel kepada Niki perihal dia batal keluar.


"Siapa sebenarnya dalang dibalik penyerangan hari ini? Niki rasa, yang terjadi disini dan juga penyerangan di markas barat hanya sebagai pengecoh" ucap Niki asal. Selalu seperti itu. Tapi selalu saja benar. Namun kemudian pikirannya tertuju.


"Kanaya" teriak Niki.


"Kok perasaan Niki tidak enak ya" terang Niki. Dia merasa sedikit kegalauan, mengingat semua yang terjadi serta rentetan cerita hidup Kanaya yang ternyata tidak lepas dari dunia hitam. Entah dari almarhum suaminya ataupun dengan Adrian. Dialah kunci utama dari dua keluarga. Keluarga Marven dan Aston.


"Niki coba hubungi Adrian dulu ma" Niki melakukan beberapa panggilan. Namun nihil, tak ada satu panggilan pun diangkat oleh Adrian.


"Tidak diangkat ma. Apa jangan-jangan mereka juga di serang" Niki mulai panik.


"Niki akan menyusul mereka" ucapnya setelah membuang putung rokok. Terlihat oma Rachel sedang berpikir.


"Kamu tidak perlu khawatir, Adrian aman. Dia tidak apa-apa. Mama sudah menyuruh orang untuk menjemput mereka. Untuk sementara waktu, kita tidak boleh berpisah. Akan sangat mudah bagi musuh mengalahkan kita" oma Rachel berpendapat. Kemudian handphone miliknya berbunyi.


"Halo".


"Apa?" teriak oma Rachel dengan raut wajah yang serius.


"Markas utara sudah dikuasai musuh. Siapa yang berani mengambil daerahku?" ucapnya dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Cepat kalian ke markas barat, bawa yang terluka kesana juga. Disana sudah ada Hendry dan juga Andre. kalian akan aman disana" oma Rachel kemudian mematikan handphonenya setelah mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya. Dia menarik nafas berat. Niki yang melihat itu semua merasa sedikit kasian kepada oma Rachel. Dimasa tuanya seperti ini mamanya, bukannya menikmati masa tuanya bermain dengan cicitnya. Melainkan masih bermain dengan senjata-senjata. Miris memang kehidupan keluarga mafia.


"Ma.... " Niki meraih pundak mamanya.


"Markas utara sudah dikuasai musuh. Kamu tau siapa yang melakukannya?" Niki menggelengkan kepalanya. Sebab dia benar-benar tidak tahu dan tidak bisa menduga-duga. Karens saingan bisnis keluarga mereka banyak. Jadi, dia tidak ingin asal menduga. Hingga nanti salah sasaran.


"Devin. Dia benar-benar sudah gila. Dia sudah mengibarkan bendera perang terhadap keluarga kita secara terang-terangan. Maka akan ku sambut hangat semuanya" dengan penuh amarah oma Rachel berucap. Dia mengepalkan kedua tangannya. Tidak menyangka, jika Devin benar-benar ingin merebut daerah kekuasaannya. Devin yang tamak serta haus kekuasaan tidak akan merasa puas dengan yang dimilikinya sekarang.


****


Adrian datang ke markas selatan, setelah pertempuran sengit tadi berakhir. Dia terkejut melihat markas dalam keadaan kacau. Saat dia memasuki ke dalam hunian markas. Dia melihat Sam tengah membalut luka pada lengan kiri Davina. Serta yang lainnya sedang mengobati luka mereka satu sama lain.


"Apa yang terjadi?" tanyanya Adrian khawatir.


"Mereka diserang oleh anak buah Devin" jawab Robert setelah selesai berbicara berdua dengan Randy.


"Apa? Sialan!" umpat Adrian kesal.


"Aaarrrggg, brengsek" Adrian kemudian menendang kursi di depannya sebagai pelampiasan amarahnya.


Semua yang melihat semua itu hanya tercengang. Tentu saja mereka mengerti, sebab mereka semua juga tengah mencemaskan Kanaya. Sebab dalam pikiran mereka, Kanaya akan diinterogasi, atau mungkin akan disiksa mereka dengan kejam. Hal yang paling ditakutkan adalah, mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungan Kanaya secara paksa. Tanpa mereka ketahui, sebenarnya keadaan Kanaya seperti tengah berlibur. Diculik rasa liburan kelas VIP. Sungguh perbedaan yang sangat kontras.


"Tenang, pa. Kita pasti bisa menemukan mama" Randy datang menghampiri Adrian yang kini sudah dalam emosi. Tidak ada yang berani mendekati Adrian ketika dia marah seperti sekarang. Tony pun juga, sebab dia tidak ingin terulang kembali menginap di hotel serba putih itu lagi. Hanya mencoba untuk menenangkan Adrian. Sebab, Tony paling takut dengan yang namanya jarum suntik.


"Papa khawatir sayang" ucap Adrian lemah kemudian memeluk Randy. Dia tersadar, seharusnya dia lebih bisa menahan serta mengontrol emosinya yang selalu meledak. Sebab, ketiga anak sambungnya ada di depannya. Dia tidak ingin membuat mereka takut kepada dirinya.


"Randy, melacak keberadaan mama. Dari ponsel mama, terlihat kalau tempat mama sekarang tidak terlalu jauh dari sini" ucap Randy sambil menunjukkan handphone miliknya yang menunjukkan keberadaan Kanaya. Adrian pun meraih handphone milik Randy.


"Sebenarnya Randy, memasang aplikasi tracking pada handphone mama. Sebab, Randy khawatir dengan keselamatan mama. Jadi hanya untuk jaga-jaga saja" Randy menjelaskan semuanya dengan tenang. Sikap Randy sekarang persis dengan Radit, selalu tenang jika menghadapi masalah.


"Kamu memang anak papa yang hebat. Anak papa yang cerdas. Kalian memang anak-anak kebanggaan papa" Adrian melebarkan tangannya. Ketiga anak sambungnya menghampiri dan memeluk Adrian dengan hangat.

__ADS_1


"Kami sayang papa" ujar Randy.


"Iya, Revan sayang papa".


"Raniya sayang papa".


"Kita akan menemukan mama dan juga adik kalian" ujar Adrian.


Kemudian Adrian teringat dengan cincin pernikahan yang dia berikan kepada Kanaya dulu, ketika dia menikahi Kanaya. Cincin yang dia persiapkan untuk cinta pertamanya yang ternyata adalah Kanaya. Dia meminta kepada pembuat cincin tersebut untuk meletakkan alat pelacak terkecil dibalik berlian pada cincin tersebut. Agar tidak kehilangan jejak cinta pertamanya itu lagi. Jika mereka terpisah kembali. Sungguh sangat sesuai ekspektasi.


"Tunggu sebentar" Adrian mencek handphonenya. Terlihat banyak panggilan dari Rendy, mamanya dan juga Andre. Dia tidak memperdulikan itu semua. Dia membuka aplikasi yang menghubungkan pelacak dalam cincin Kanaya dengan handphonenya.


"Randy mana handphonemu tadi" Adrian meminta handphone milik Randy. Kemudian dia membandingkan posisi Kanaya yang ternyata berbeda.


"Kanaya berada disini. Kemungkinan handphone miliknya dibuang disini untuk mengecoh kita. Jika kita akan menyelamatkan Kanaya" Adrian menjelaskan hal itu kepada Randy dan juga Robert.


"Sebaiknya nanti malam kita menyelamatkan Kanaya. Lebih cepat lebih baik" ujar Adrian.


****


"Aku rasa kita harus secepat mungkin meluncur ke sana" ujar Adrian berbincang dengan Tony. Sebenarnya Adrian ingin sekali melampiaskan amarah kepada Rendy yang tidak becus menjaga Kanaya. Namun sepertinya itu keterlaluan. Sebab, dia seorang diri mengawal Kanaya. Dia juga dalam keadaan tidak baik sekarang. Hantaman keras pada kepalanya juga belum diperiksa. Masih untung Rendy selamat, jika bukan karena kekonyolan pacarnya minta dibelikan pembalut, mungkin Rendy akan tinggal nama sekarang.


"Sebaiknya, kita tunda kepergian kita malam ini untuk menyelamatkan Kanaya" ucap Robert yang kemudian datang menghampiri Adrian.


"Kenapa? Kamu tidak tahu betapa cemasnya aku terhadap anak dan istriku" Adrian kembali mulai emosi.


"Ini perintah Queen. Sebab, nona Kanaya sudah menghubungi beliau. Katanya nona Kanaya baik-baik saja. Selain itu juga nona berpesan kepada anda agar tidak terlalu khawatir. Menurut Queen esok lebih baik untuk melaksanakan rencana penyelamatan nona Kanaya".


"Queen juga berpesan agar kalian semua kembali ke mansion utama. Kalian disuruh untuk bersiap untuk pergi ke markas utara yang sudah dikuasai musuh" Adrian terkejut dengan berita yang dibawa oleh Robert. Dia baru tau kalau markas utara telah dilumpuhkan. Dia benar-benar tidak bisa menerima kekalahan ini.


"Untuk urusan nona Kanaya, Queen yang akan turun tangan langsung untuk menyelamatkan" Robert menjelaskan secara singkat perintah dari oma Rachel. Kalau sudah seperti ini Adrian tidak bisa menolak perintah omanya lagi. Dia percayakan keselamatan anak dan istrinya kepada omanya.

__ADS_1


"Saya dan Sam yang akan menemani Queen. Saya pastikan dengan nyawa saya sendiri. Saya akan membawa istri dan bayi dalam kandungan istri tuan Adrian dengan selamat" janji Robert kepada Adrian.


__ADS_2