Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Diselamatkan


__ADS_3

"Tumben mas Dio sudah datang jam segini, kan belum waktunya makan siang" Ades sedikit terkejut ketika mendengar suara mesin mobil Dio yang sangat dihapal oleh Ades.


Ades keluar dan melihat kedatangan suami tercintanya. Dengan senyum bahagia Ades menyambut Dio, namun tiba-tiba senyumnya memudar ketika Dio membukakan pintu mobilnya dan seorang anak kecil keluar dari mobil Dio. Ryan anak Ivanka yang wajahnya begitu mirip dengan Dio. Dio mengulurkan tangannya dan meminta Ades menyambutnya seperti yang biasa Ades lakukan ketika Dio pulang kerja. Ades menyambutnya dengan hati yang tidak karuan. Entah apa maksud Dio membawa pulang Ryan? Untuk merawatnya? Beribu tanya menyelimuti kepala Ades. Ada rasa nyeri yang bergetar pada hatinya ketika menatap wajah polos anak kecil yang ada di hadapannya.


"Adrian memintaku untuk membawanya pulang, katanya dia dalam bahaya" Dio menjelaskan segala tanya yang tercurah pada tatapan Ades. Kini dia bertanya-tanya kenapa Adrian melakukan hal ini kepadanya? Apa dia ingin balas dendam? Apa Adrian ingin merusak rumah tangganya? Apakah kak Kanaya juga tahu tentang ini?


"Bawa dia masuk dulu, aku siapkan buat makan siang dulu" Ades berusaha untuk tegar, namun matanya berkaca-kaca. Dio pun sadar kalau hati Ades sekarang ini terluka. Meskipun dia bisa menerima masa lalu Dio, tapi belum tentu bisa menerima kehadiran anak ini jika tinggal bersama mereka. Meskipun Dio menginginkan, tidak mungkin dia memutuskan hal ini sendiri. Harus seizin Ades dan juga Ivanka sebagai ibu kandungnya.


"Anak siapa yang kamu bawa Dio?" tanya ibunya Dio ketika melihat Dio menggandeng Ryan. Dio pun terdiam ketika sang ibu menanyakan perihal Ryan.


"Anaknya te.... " belum selesai Dio berbicara. Ades sudah menyelanya.


"Anak mas Dio dengan Ivanka ma" ucap Ades sambil tersenyum, namun tanpa dia ingin dan sadar air bening mengalir begitu saja dari matanya. Ibunya Dio hanya terdiam karena terkejut dengan penuturan menantu kesayangannya. Dia menatap sinis kepada Dio meminta penjelasan. Namun Dio tak mampu berkata apapun. Ades langsung masuk ke dalam kamar untuk menumpahkan kesedihannya. Sakit, benar-benar sakit. Dia kira dia akan tegar dan mampu bertahan dengan kenyataan ini. Nyatanya dia begitu rapuh. Ades mencoba menghubungi Kanaya berkali-kali namun tidak diangkat oleh Kanaya.


"Kamu itu bagaimana? Tega kamu nyakiti hati Ades seperti ini. Apa kamu tidak lihat? Dia lagi hamil, kondisi seperti dia sangat rentan Dio. Kamu sadar tidak dengan perbuatanmu sekarang" terdengar jelas ibu Dio sedang memarahi anaknya saat Ades keluar dari kamar dan mendengarkan perbincangan mereka di ruang tengah.


"Dia pasti syok dengan cara kamu membawa anak kamu dari wanita lain. Kenapa kamu bisa menjadi sebajingan ini? Ibu kecewa sama kamu Dio" ucap sang ibu kemudian pergi meninggalkan Dio. Terlihat Dio begitu frustasi dengan perkataan ibunya, setidaknya kata-kata mertuanya mewakili isi dalam hatinya. Namun hal ini juga tidak adil untuk Dio, dia memang salah. Bukankah lebih salah jika melarang dia bertemu dan akrab dengan anaknya.

__ADS_1


"Ya Allah, aku mohon berikan petunjuk untuk keluarga kecilku dan hidupku" Ades berdo'a dalam hati untuk ketenangan hatinya yang kini tengah bimbang.


***


"Bang, bukannya itu mobil Ivanka. Ayo cepat bang kita bantuin dia. Lihat dua pria itu gedor-gedor kaca mobilnya" Kanaya terdengar panik dan segera keluar dari mobil ketika mobil berhenti. Disusul oleh Tora yang langsung berlari ke arah mobil Ivanka dan menghajar kedua pria tadi. Tak disangka mereka tidak hanya dua orang melainkan berenam. Sisanya keluar dari mobil ketika Tora menghajar dua pria tadi. Ivanka membuka pintu mobil dan langsung berlari menghambur ke arah Kanaya.


Melihat Tora yang sedikit kewalahan melawan ke enam pria yang lumayan jago berkelahi membuat Kanaya langsung membantu Tora. Pistol yang dia bawa dia simpan di dalam tas yang tertinggal di mobil. Tora tetap menjaga dan mencoba melindungi Kanaya ketika berkelahi. Menghindarkan Kanaya agar tidak mendapatkan pukulan atau tendangan maka tubuhnya dia jadikan tameng untuk melindungi. Meski pun begitu musuh terlihat kelelahan dan dapat dikalahkan dengan cepat. Namun ketika salah satu dari mereka mencoba menyerang menggunakan sebuah pisau. Ivanka melihat hal tersebut dan segera berlari ke arah Kanaya, karena pria itu berniat untuk menyerang Kanaya. Pisau itu langsung menusuk tubuh Ivanka tepat pada perut sebelah kirinya. Kanaya yang terkejut langsung menahan tubuh Ivanka yang akan terjatuh. Tora yang melihat pun langsung memberikan tinju kepada pria yang mencoba menyerang Kanaya.


"Ivanka, sadar. Kamu akan baik-baik saja" ucap Kanaya sambil menekan luka akibat tusukan tadi. Luka terlihat begitu dalam dan banyak darah yang keluar. Wajah Ivanka mulai memucat. Dia melihat mobil Adrian datang dan merasa sedikit lega.


Adrian terkejut melihat kekacauan yang baru saja terjadi, apalagi melihat Ivanka yang tergeletak pada pangkuan Kanaya.


"Tora, cepat kamu angkat Ivanka ke dalam mobil. Kita cari rumah sakit terdekat" perintah Adrian yang juga khawatir melihat wajah Ivanka yang sudah pucat.


Baju Kanaya sekarang dipenuhi darah milik Ivanka. Namun Adrian tetap salut, wanitanya begitu tegar dan kuat menghadapi ini semua. Tora mengangkat tubuh Ivanka ke dalam mobil kemudian disusul oleh Kanaya. Kanaya menemani Ivanka dan terus mengajaknya bicara agar Ivanka tetap dalam keadaan terjaga. Dia takut jika Ivanka tidak sadarkan diri, apalagi dia sudah kehilangan begitu banyak darah.


"Kanaya, terimakasih sudah datang buat menolong aku" ucap Ivanka terbata-bata. Kanaya hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku juga terimakasih kamu sudah menyelamatkan aku" Kanaya kini merasa sedih dan entah kenapa air mata mengalir tanpa permisi untuk membasahi pipinya. Ivanka hanya tersenyum, wajahnya tampak begitu teduh dan cantik.


"Aku boleh minta sesuatu".


"Tolong jaga anakku Ryan, sayangi dia. Anggap dia seperti anakmu sendiri Kanaya" Ivanka berbicara begitu sulit kepada Kanaya untuk memintanya menjaga Ryan.


"Kamu jangan berpikir yang macam-macam, sebentar lagi kita sampai rumah sakit. Bang Tora sudah ngebut banget nih. Kamu harus kuat untuk bertahan, aku yakin kamu bisa dan mampu Ivanka" hanya sebuah senyuman yang diberikan oleh Ivanka sekarang.


"Aku ngantuk Kanaya, aku ingin tidur" ucapnya lirih.


"Jangan tidur dulu, kita ketemu dokter dulu. Kamu harus tetap bangun" pinta Kanaya.


"Kamu bangunkan saja aku kalau sudah sampai ya. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Tolong bilang ke Ryan kalau aku sayang sama dia" ucap Ivanka kemudian menutup matanya.


"Ivanka, bangun Ivanka" jerit Kanaya didalam mobil membuat Tora yang sedang menyetir kini tengah panik. Dia ingin segera sampai ke rumah sakit agar bisa menolong Ivanka secepatnya.


Kanaya tengah sibuk memeriksa tubuh Ivanka, mencek denyut nadinya. Namun tidak ada tanda-tanda detak jantung Ivanka berdetak. Kanaya benar-benar frustasi, kini dia menangis histeris dan memeluk tubuh Ivanka yang sudah tak bernyawa lagi. Tora yang melihat pun langsung memarkirkan mobil ke pinggir jalan. Adrian yang mengikuti dari belakang pun terkejut dan menghampiri ke mobil yang ditumpangi untuk mencari tahu kenapa. Adrian terkejut saat mendengar dan melihat Kanaya menangis memeluk Ivanka. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi kepada Ivanka.

__ADS_1


"Kita langsung bawa dia ke rumah dan kita adakan pemakamannya" ucap Adrian yang dapat mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Kanaya? Dengan melihat matanya yang sedih, Adrian merasa bersalah. Semua ini mungkin tidak akan terjadi jika dia tidak meminta Kanaya untuk menemui Ivanka.


__ADS_2