Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Ikhlas


__ADS_3

Ades menunggu di bangku ruang tunggu untuk memeriksakan kandungannya. Dia terlihat begitu bahagia saat melihat para ibu-ibu yang menggendong bayinya. Dia membayangkan dirinya akan melakukan hal yang sama. Sungguh sebuah pemandangan yang begitu indah.


"Permisi, apa saya boleh duduk disini?" tanya seorang wanita yang terlihat lebih muda dari Ades. Dia menggandeng seorang anak kecil perempuan, kemungkinan berusia tiga tahun. Dia begitu cantik dan juga lucu dengan rambut yang dikuncir menjadi dua.


"Silahkan mba" jawab Ades dengan lembut dan tersenyum ramah.


"Mama, nanti habis periksa dede bayi. Kita beli es krim ya" celoteh anak perempuan tersebut dengan lancar. Dia sungguh menggemaskan dan begitu sangat pintar. Ades mendengarkan percakapan mereka berdua merasa iri dan ingin sekali melakukan obrolan ringan seperti itu kepada anaknya nanti.


"Anaknya lucu ya mbak. Umurnya berapa tahun mba?" tanya Ades yang begitu penasaran dengan mereka berdua.


"Umurnya tiga tahun delapan bulan mba" jawab wanita yang duduk disamping Ades.


"Owh, jadi selisihnya nggak terlalu dekat juga ya mba sama adeknya".


"Sudah berapa bulan mba?" Ades menanyakan perihal kehamilannya. Terlihat perutnya begitu sangat besar mungkin sudah memasuki usia enam bulan lebih.


"Sudah delapan bulan mba. Sudah mau memasuki bulan lahirnya. Hari ini sengaja mau cek apa bisa lahiran normal".


"Soalnya bulan kemaren dokter menyarankan untuk melakukan operasi cesar untuk kelahiran anak pertama saya ini" wanita itu kemudian tersenyum. Ades bingung dengan perkataan wanita muda ini. Bagaimana mungkin dia mengatakan ini adalah kelahiran anak pertamanya? Apa anak kecil ini anak tirinya?


"Maaf mba, maksudnya apa ya? Terus dia... " Ades kali ini benar-benar kepo dengan kehidupan wanita yang ada disebelahnya. Jiwa julidnya yang sudah tenggelam seakan meronta untuk dibangkitkan kembali.


"Owh, dia anak suami saya dengan mantannya dulu" jawabnya santai sambil mengelus kepala anak perempuan yang berada disampingnya. Ades yang mendengar pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar terkejut.


"Saya memutuskan untuk merawatnya, agar suami saya tau. Kalau saya menerima dirinya yang sekarang dan juga masa lalunya".


"Saya tidak peduli dia itu seperti apa dulunya. Asalkan bersama saya, dia selalu bersikap baik dan mencintai saya dengan tulus itu sudah cukup" jawabannya sungguh memperlihatkan betapa dewasanya dia. Kali ini Ades belajar hal yang penting dari dirinya. Dia bisa begitu sangat akrab dan menyayangi anak yang bukan lahir dari rahimnya. Hal ini memperlihatkan bahwa kasih sayang itu tidak harus dari hubungan darah.


Dia juga tersadar, selama dia mengenal Kanaya. Kedua orang tuanya begitu perhatian dan sayang dengannya. Bahkan dengan sengaja mengangkatnya menjadi anak mereka. Ades sekarang sudah memutuskan dan memantapkan hatinya. Keputusan dia bulat, semoga ini adalah jalan yang terbaik bagi dirinya dan juga keluarga kecilnya.

__ADS_1


***


"Mas kita mampir ke rumah Kak Kanaya langsung ya. Tadi aku sudah memberitahu kak Kanaya kalau kita mau kesana" kata Ades yang tengah memasang safety beltnya.


"Baiklah my queen" ujar Dio yang tampak begitu bahagia. Ades pun tertawa melihat tingkah suaminya seperti itu. Seperti anak kecil.


Sesampainya disana kedatangan mereka sudah disambut oleh Kanaya dan juga Ryan yang duduk santai di teras.


"Papa" teriak Ryan yang langsung berlari dan menghambur ke arah Dio. Kanaya yang menyaksikan hal ini nampak tercengang. Ryan tidak pernah bertingkah seperti itu kepada Adrian selama dia tinggal di rumah ini.


Semenjak kematian Ivanka Adrian dan Kanaya memutuskan untuk pindah dan tinggal di rumah Adrian. Mereka memutuskan hal tersebut demi kenyamanan Ryan tinggal bersama mereka. Penjagaan di rumah pun diperketat. Jumlah CCTV pun diperbanyak dan dipasang hampir semua sudut. Semua itu langsung terkoneksi pada laptop dan handphone Adrian. Agar dia mudah untuk mengawasi Kanaya dan juga Ryan.


"Kak Kanaya apa kabar?" tanya Ades dan memeluk Kanaya.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?" balas Kanaya menanyakan keadaan Ades.


"Kak, sebenarnya aku ada perlu sama kakak".


"Aku ingin mengambil Ryan untuk tinggal bersama kami. Bagaimana pun Dio adalah ayah kandung Ryan. Sudah sepantasnya dia yang merawat dan bertanggung jawab atas kebutuhan Ryan. Bukan tanggung jawab kak Kanaya ataupun Adrian" perkataan yang keluar dari mulut Ades membuat Kanaya terkejut. Dia tidak menyangka jika Ades bisa berpikir begitu sangat dewasa seperti ini. Bukannya dia menganggap Ades tidak dewasa, hanya saja terlihat dia begitu lebih kuat dari Ades yang dia kenal dahulu.


"Apakah kamu serius?" Kanaya merasa Ades hanya bercanda. Namun Ades mengangguk tegas menandakan iya.


"Apa kamu yakin?" Kanaya bertanya lagi untuk meyakinkan.


"Iya kak. Insyaallah aku yakin kak. Aku akan menganggap dia seperti anakku juga. Apalagi Ryan akan segera memiliki adik" Ades mengelus perutnya yang lebih besar dari Kanaya.


"Liat kak, dia gerak. Pasti dia juga senang akan tinggal bersama kakaknya" celoteh Ades tertawa riang merasakan tubuh mungil di dalam perutnya mulai bergerak aktif. Meski gerakan kecilnya belum nampak terlihat jelas, namun bisa merasakan gerakannya Ades sudah sangat begitu senang sekali.


"Seperti ini ya kak rasanya kalau lagi hamil. Perasaan bahagia ketika kita tahu ada satu nyawa yang bergantung hidup pada kita" Ades menatap dalam ke arah Kanaya kemudian berpaling kepada Ryan yang masih asyik bermain dengan Dio.

__ADS_1


"Aku rasa Ryan juga membutuhkan perlindungan dan kehangatan dari seorang ibu. Meski hanya seorang wanita pengganti untuk menjadi ibunya" Ades tersenyum merekah. Dia merasa semua beban dan kegelisahan yang selama ini mendera hatinya telah menguap hilang begitu saja. Ketika kita ikhlas maka disitu terdapat ketenangan hakiki yang kita butuhkan.


"Jika kamu memang merasa tidak keberatan untuk mengurus Ryan, aku akan menyerahkannya kepada kalian. Tapi jangan pernah menolak bantuan kami untuk kebutuhan Ryan nantinya".


"Kita rawat dia bersama-sama. Kamu memang wanita hebat Des. Aku bangga sama kamu" ucap Kanaya memegangi tangan Ades. Dio menghampiri Ades dan Kanaya sambil menggendong Ryan.


"Sayang, kita harus segera pulang. Ibu barusan nelpon. Katanya ibu baru saja jatuh dari kamar mandi" ucap Dio dengan wajah panik. Ades dan Kanaya yang mendengarnya pun juga ikut merasa panik.


"Ayo kita pulang sekarang mas. Kak, kalau begitu aku pamit dulu ya" Ades mencium tangan Kanaya untuk pamit segera pergi. Sedangkan Dio hendak menurunkan Ryan yang kini tengah digendong olehnya.


"Papa pulang dulu ya, nanti kita main lagi. Nenek katanya tadi jatuh" raut wajah Ryan langsung berubah murung ketika Dio mengatakannya. Tak ada respon atau jawaban yang dilontarkan oleh Ryan.


"Mas ayo buruan, katanya kita harus cepat pulang".


"Loh, Ryan kok ditinggal".


"Ryan sini sayang, ikut sama mama. Kita liat keadaan nenek dirumah" lambaian Ades kepada Ryan membuat dirinya langsung tersenyum dan berlari ke arah Ades. Setelahnya Ryan menatap ke arah Kanaya.


"Ryan yang pintar disana ya. Jagain mama Ades sama adek bayinya" kata Kanaya sambil menyapu air mata yang menetes di pipinya. Sedangkan Dio hanya bingung tak mengerti dengan semua yang baru saja terjadi.


"Iya mama Naya" Ryan melambai ke arah Kanaya.


"Ayo masuk sayang. Ryan mau kan manggil mama Ades mama" Ryan pun mengangguk dan memeluk Ades dari samping.


"Terimakasih mama Ades sudah mau menyayangi Ryan".


"Mama Ivanka pernah bilang, kalau Ryan harus menyayangi dan melindungi mama Ades dan juga adik kalau Ryan sudah besar nanti" Ades tak kuasa menahan air matanya. Dia memeluk erat Ryan, dia telah salah paham dengan kehadiran Ryan dalam hidupnya. Dia tidak pernah menyangka jika Ivanka begitu baik dan mengajarkan hal yang baik kepada anaknya.


"Aku berjanji padamu Ivanka, aku akan merawat serta mendidik Ryan dengan penuh kasih sayang dan juga cinta" ucapnya dalam hati penuh dengan rasa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2