Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Cemas


__ADS_3

Adrian dan Fery saling mengangguk satu sama lain. Seolah mempunyai pemikiran yang sama. Memang keduanya sama-sama memiliki passion yang sama dalam berbisnis. Sama-sama gila kerja dan selalu suka melakukan inovatif. Selama Fery yang memegang salah satu perusahaan cabang milik Adrian. Pertumbuhan keuangan diperusahaan tersebut mengalami kemajuan yang pesat. Selain mencetak laba yang lumayan banyak, pembukuan perusahaan pun jauh lebih baik. Itulah hasil dari kolaborasi terbaik antara Mely dan juga Fery sebagai pasangan suami istri. Kini mereka berdua juga tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Tentu saja akan menambah kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.


"Bagaimana kalau urusan bisnis hiburan street fighter nanti kamu sama Tony saja yang menghandle? Kamu tau sendiri kan, kalau Tony bisa diandalkan untuk urusan menyeleksi para petarung. Selain itu dia juga bisa mementori mereka. Bagaimana menurut kamu?" tanya Adrian kepada Fery. Dijawab oleh Fery dengan dua acungan jempol yang berdiri tegak. Kanaya melihat pembicaraan mereka berdua sepertinya telah salah memberikan ide konyol tadi.


"Kalian serius beneran mau membuat acara pertarungan begitu" Kanaya menatap keduanya dengan serius.


"Ya jadilah, itu adalah bisnis yang cukup menjanjikan".


"Apalagi zaman sekarang, kaum milenial itu sepertinya sangat menyukai hal yang berbau tentang street fighter begitu".


"Kita buat perkelahian gaya bebas saja. Jadi siapapun yang memiliki keahlian bela diri bisa ikutan. Kaya film-film pertarungan china itu" ujar Adrian.


"Ada film china yang bagus dan seru banget, yang salah satu pemainnya itu aktor dari the matrix. Keren banget filmnya yang menceritakan tentang pertarungan begitu" Fery menambahkan. Kanaya hanya mengelengkan kepalanya. Tapi, dia tersenyum senang. Apa ya yang dipikirkan oleh Kanaya?


Tora masih asyik bertarung dengan si kepala plontos. Keduanya tidak ada yang mau mengalah ataupun menyerah. Meski nafas keduanya sudah terlihat lelah. Mereka berdua sudah nampak ngos ngosan. Tapi masih tetap berusaha untuk mengalahkan satu sama lain. Keseruan begitu sangat terlihat menonton pertarungan mereka. Namun, tiba-tiba terdengar sebuah nada dering handphone.


"Eh, tunggu dulu. Kita break dulu sebentar. Aku mau cek siapa yang nelpon dulu. Kalau ibu negara yang menelpon tidak langsung diangkat. Bisa-bisa disuruh tidur di teras nanti" kata Tora sambil memberikan isyarat lewat tangannya untuk stop dulu.


"Hah, takut sama istri rupanya" ejek si pria kepala plontos kepada Tora.


"Sama" ucapnya kemudian membuat tawa Adrian lepas tak terkontrol.


"Kalian berdua, badan saja yang gede. Tapi takut sama istri. Hahahahahaha" tawa Adrian dengan suara yang keras.


Fery ingin ikut tertawa juga, tapi melihat sorot mata Kanaya. Nafsu ingin tertawa hilang menguar di udara karena hawa dingin dari seorang Kanaya. Kanaya langsung memegang tangan Adrian kemudian menatap mata Adrian. Sontak tawa Adrian pun langsung lenyap seketika. Raut wajahnya berubah menjadi pucat melihat tatapan mata serius dari istrinya.


"Nggak takut sama istri ya. Mai tidur di teras kaya Tora" Adrian pun spontan langsung menggelengkan kepalanya.


"Nggak, bukan begitu" elak Adrian.


"Eh, Tora siapa yang nelpon? Istrimu ya?" Adrian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Dia sengaja mengajak Tora untuk mengobrol dengannya. Tora yang paham langsung merespon.

__ADS_1


"Oma bos".


"Oma Rachel yang menelpon" jawab Tora sambil memperlihatkan layar kaca handphone miliknya.


"Cepat angkat Tor, siapa tau penting" ujar Adrian dengan penuh semangat. Dia sebenarnya hanya mencoba untuk menghindari protes Kanaya tentang masalah takut istri tadi.


"Iya bos" jawab Tora langsung mengangkat telpon dari oma.


"Halo oma".


"*Kamu dimana Tora?".


"Apa kamu sudah menemukan keberadaan Kanaya*?" tanya oma langsung perihal Kanaya. Beliau sangat mengkhawatirkan keadaan Kanaya saat ini.


"Sudah oma. Ini juga ada bos Adrian ada disini oma" jawab Tora.


"Mana Adriannya, saya mau ngomong sama dia" balas oma kemudian.


"Oma mau bicara sama bos" kata Tora dengan mulut yang berkomat kamit tanpa suara. Adrian pun langsung membelalakkan matanya setelah mengerti perkataan Tora tadi. Dia sudah berpikiran akan diomeli oleh omanya kali ini.


"Halo oma" sapa Adrian lebih dulu.


"Mana Kanaya? Dia baik-baik saja kan?" tanya oma kepada Adrian.


"Lho oma ini gimana sih. Katanya mau bicara sama aku tapi malah menanyakan Kanaya sih" Adrian bertingkah seperti sedang merajuk. Padahal cuma alasan saja biar nggak dapat omelan dari omanya.


"Memangnya salah ya kalau oma nanyain Kanaya. Yang diculik kan si Kanaya bukan kamu Adrian. Ya wajarlah oma nanyain keadaan dia bukan keadaan kamu. Masa begitu saja kamu nggak paham sih" akhirnya Adrian tetap mendapatkan omelan dari oma Rachel. Salah sendiri bertingkah hendak merajuk. Kan kena batunya.


Adrian menjauhkan handphone Tora dari telinganya. Dia tidak ingin mendengarkan omelan lainnya lagi dari oma Rachel. Dia pun langsung memberikan handphone tersebut kepada Kanaya. Sebab, cuma Kanaya yang bisa meredakan segala omelan oma kepada Adrian saat ini. Kadang Adrian juga heran, sebenarnya yang menjadi cucu oma Rachel dia apa Kanaya. Dia merasa kalau Kanaya yang selalu lebih diperhatikan oleh oma daripada dirinya. Seperti ditirikan sama oma Rachel.


"Oma".

__ADS_1


"Ini Kanaya oma. Oma nggak usah khawatir ya. Kanaya baik-baik saja kok oma" setelah mendengar suara Kanaya yang saat ini sedang berbicara. Oma Rachel langsung berhenti mengeluarkan jurus rel kereta apinya.


"Kamu baik-baik saja kan Kanaya. Oma sangat khawatir sama kamu" suara oma terdengar begitu sangat cemas tentang keadaan Kanaya.


"Kanaya baik-baik saja kok oma. Oma tenang saja ya".


"Oma akan segera menyusul kamu ke sana. Kamu share ya lokasi keberadaan kamu sekarang. Oma nggak tenang kalau belum melihat keadaan kamu" kata oma.


"Iya oma" kemudian panggilan singkat itu pun langsung berakhir dan Kanaya langsung menshare lokasi keberadaannya sekarang ini.


"Oma bicara apa tadi sayang?" tanya Adrian dengan nada khawatir.


"Cuma minta share lokasi aja kok" jawab Kanaya santai.


"Apa?" teriak Adrian kaget.


"Kamu sudah share lokasi disini?" tanyanya lagi dengan mimik wajah yang tegang. Kanaya menganggukkan kepalanya menandakan iya. Tanpa berdosa dia malah tersenyum bahagia melihat kepanikan di wajah suaminya. Adrian menjadi gelisah karena memikirkan hal yang aneh-aneh jika omanya datang kesini nanti. Pikirannya menjadi kalut sekarang ini.


"Kalian kalau mau melanjutkan pertarungan tadi silahkan saja. Saya akan menonton keseruan pertarungan kalian tadi" kata Kanaya disela kepanikan Adrian.


"Kamu jangan gelisah begitu dong sayang. Tenang saja, kamu cuma harus persiapkan telinganmu dan kuatkan jantungmu jika bertemu dengan oma ya" Kanaya menepuk bahu Adrian sambil tersenyum dan mengangguk dengan mimik wajah yang sengaja dibuat imut. Kanaya benar-benar merasa bahagia bisa membuat Adrian ketakutan seperti ini.


"Ternyata, sehebat apapun laki-laki tetap takut ya sama perempuan. Apalagi sama istri. Iya kan" ujar si kepala plontos berbicara kepada Tora.


"Betul banget, itu semua karena wanita selalu benar" balas Tora hingga akhirnya mereka berdua tertawa akrab setelah perkelahian dalan pertarungan sengit tadi.


"Kalian bicara apa?" tanya Adrian dengan wajah yang sangat begitu serius. Dia menatap tajam Tora dan juga si kepala plontos sinis. Adrian melemaskan otot tangan dan jari-jari tangannya.


"Kalian ini perlu dikasih pelajaran sepertinya, biar lebih sopan lagi nanti sama atasan" ujar Adrian berjalan menghampiri Tora dan si kepala plontos.


"Apakah kamu mau adu skill berkelahi dengan saya? " tanya Adrian kepada Tora dan si kepala plontos.

__ADS_1


__ADS_2