
Aduh, Mey ... Kenapa kamu nggak bisa lupain dia sih. Seharusnya aku sadar jika dia tidak akan kembali. Mana mungkin lelaki yang saat ini bersamaku adalah dia. Jangan terlalu berharap deh, yang ada malah tambah sakit.
Seharusnya aku bisa move on dari masa lalu. Kok malah seperti Bucin gini ya. Apalagi itu cinta anak kecil yang masih bau kencur. Belum bisa bedain mana cinta mana kagum. Harusnya sih aku sadar kalau dulu masih kecil hanya perasaan takut aja bukan cinta.
Ah, sungguh bodoh!
Kalau seperti ini bakal jadi gadis jomblo seumur hidup. Mana ada lelaki yang mau mendekat jika terus di tolak dengan alasan yang lucu.
Ya, memang lucu! Dion saja yang selalu godain aku dan terus di tolak mentah-mentah menertawai alasan yang telah aku jelaskan.
“Nungguin pacar gue yang ketinggalan di masa lalu!”
Dion tertawa terbahak-bahak sampai ngompol di celana. Mungkin.
“Masa lalu di tunggu! Masa depan tuh di samperin. Orang jalan ke depan lu malah noleh ke belakang. Ya nabrak dan sakit.”
Hal yang membuat dada sesak itu saat semua orang menertawai harapan yang selama ini terpendam. Mungkin aku orang terbodoh di dunia ini yang masih saja percaya jika jodoh pasti bertemu kembali. Meski jarak yang begitu jauh.
Lalu menunggu tanpa kepastian entah sampai kapan. Hingga hati ini lelah dan tidak tahu lagi kepada siapa aku mengadu. Marah kepada dia yang memberikan janji palsu.
Aku kembali melirik lelaki itu lagi, setelah berkutat dengan semua pemikiran kacau itu. Dia tetap saja fokus menyetir. Ada ya orang yang seperti ini, diam tanpa kata seolah dia sedang bersama patung.
“Kak, boleh nanya nggak?” Akhirnya aku kembali bertanya. Daripada seperti orang gila yang sedari tadi komat-kamit sendiri.
Tanpe menoleh dia menjawab, “Apa?”
Rasanya pengen ngunyah sendal jepit sekarang.
“Namanya siapa?”
“Penting soal nama?”
“Penting lah. Kakak kan tahu siapa nama aku, masa aku nggak boleh tahu siapa nama kakak?”
“Oh, gitu!”
“Ya.”
Hening.
Menunggu seperti orang bego yang terus menatapnya hingga dia kembali berkata. Sayangnya itu lelaki diam saja tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
Di cuekin itu rasanya ... Sakit!
Aku mengelus dada. Menambah stok kesabaran. Mungkin jika ada isi ulang, bakal banyak aku isi stok sabar untuk menghadapi lelaki ini.
Kalau di suruh jadi pacarnya aku sih ogah banget. Meskipun dia tampan tetap saja embung. Orang nya cuek begini, mana ada romantis-romantisnya.
“Berasa di supirin patung!” sindirku.
Lelaki itu tidak perduli. Senyum pun tidak. Elah, cuek amat sih. Gimana sama pacar kalau begitu. Aku yakin nggak ada wanita yang betah menjalin hubungan dengan dia.
Capek juga rasanya diem tanpa ada obrolan apapun. Aku terbilang cerewet, apalagi jika ngegosip. Duh, lupa waktu. Gosip soal barang diskonan ya, bukan ngomongin orang. Dosa.
“Kakak kerja di kantor Papa?” Aku kembali bertanya, meski tidak yakin bakal di jawab.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Hingga aku berhenti menghitung sampai angka lima puluh. Nggak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
“Kayaknya lagi puasa ngomong ya, apa mahal itu kata-katanya?”
Lagi-lagi nggak ada jawaban. Ah, aku ingat sekarang. Mungkin lelaki ini sedang ngprank. Kayak yang di video-video itu. Sekarang kan jamannya begitu.
Biasanya kamera tersembunyi. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar mobil, seperti orang yang sedang nyari harta karun. Mungkin dia bakal berpikir kalau aku gadis yang aneh. Ah, bodo amat kan ya, lagian dia lebih aneh.
“Kamu nyari apa sih?”
Aku nggak salah denger kan? Dia nanya! Sumpah hati aku ada bahagia-bahaginya. Ngarep banget ya di tanya.
“Emm ... Nggak ada,” jawabku sambil menunjukkan senyum semanis mungkin.
Elah, ngapa jadi lebay gini sih. Memalukan.
Lelaki itu menggeleng. Lalu menyodorkan cokelat yang sangat menjadi favoritku.
Cokelat yang mengingatkan aku pada dia yang pergi, yang membuat air mata ini terus menetes saat ingat kepergiannya. Kenapa sekarang ada lelaki yang juga memberikan cokelat yang sama.
Sebenarnya cokelat itu Favorit Kak Tomy, teman masa kecil. Ketika rindu aku selalu membeli cokelat kesukaannya, berharap mengurangi sedikit rasa rindu.
Namun, sekarang ... Aku jadi semakin sedih dan menyalahkan diri sendiri karena terlalu larut memikirkannya.
“Kakak kok tahu ini cokelat kesukaanku?” tanyaku heran. Merasa bahwa dia adalah Kak Tomy.
Ah, mungkin hanya kebetulan saja!
“Mana aku tahu, sengaja beli tadi di supermarket.”
Aku mengangguk, mengiyakan ucapannya. Mungkin memang kebetulan saja. Mana mungkin Kak Tomy akan kembali, dia pasti sudah lupa dan mungkin sudah menikah.
“Kok nggak dimakan?”
Aku mengerjapkan mata, nggak nyangka dia bertanya lagi. Setelah tadi dibuat kesal ada seneng juga di kasih cokelat. Sayangnya bukan ini yang aku pengen.
“Lho, kok nangis? Kamu kenapa?”
Aku menggelengkan kepala dan terus menangis sambil ngunyah cokelat. Selalu yang itu aku lakukan ketika mengingat Kak Tomy.
“Aku sedih, cokelat ini mengingatkan aku pada seseorang.”
Dia menghentikan mobilnya di sisi jalanan yang sepi.
“Terus?”
“Dia pergi tanpa kabar! Hiks ... Hiks ... Hiks ...”
“Mantan pacar?”
“Bukan! Hwaaaaa ... Pacaran aja nggak pernah mana punya mantan!”
Lelaki itu menatapku tidak percaya. Mungkin heran karena segede gini belum pernah pacaran.
Ada senyum mengembang di wajahnya. Meskipun itu sedikit. Mungkin pengen tertawa tapi di tahan.
“Sudah jangan nangis. Nanti Pak Ardi ngira aku apa-apain kamu.”
“Bodo amat. Hwaaaaaa .....”
Dia menggaruk kepalanya, mungkin bingung karena aku semakin kencang menangis.
“Ya sudah, nangis aja sampai capek.”
Lelaki yang entah siapa namanya melajukan mobilnya. Masa bodoh denganku yang masih menangis sambil ngunyah cokelat.
__ADS_1
***
Hampir satu jam aku menangis, lelah juga rupanya. Dia terus memutar-mutar jalanan agar tidak cepat sampai ke rumah. Takut katanya kalau aku pulang dalam kondisi menangis.
“Udah?”
“Apanya?”
“Nangisnya.”
“Udah!” jawabku ketus.
Dia menghentikan mobilnya kembali di sebuah taman. Kali ini membuat dadaku sesak. Taman yang selalu aku kunjungi dengan Kak Tomy. Banyak tersimpan kenangan di sana.
Aku menatap dari kaca mobil, banyak yang berubah di sana. Enggan pula untuk turun karena aku sudah membulatkan tekad untuk melupakannya.
Semakin memaksa untuk berharap, semakin sakit hati ini terus menunggu. Tanpa kepastian.
“Nggak mau turun?”
“Menyakitkan.”
Lelaki itu mengerutkan dahi, mungkin bertanya 'apanya yang menyakitkan?'
“Maafin aku ya, udah buat Mey sedih.”
Lho kok dia minta maaf?
“Aku nggak bekerja di kantor Pak Ardi.”
Aku mendengarkannya dengan seksama. Wajahnya terlihat serius, dari sinar matahari yang mulai berganti senja, wajahnya terlihat sangat tampan.
Bikin meleleh ini hati, tapi mengingat sikapnya tadi buat aku jadi kesel.
“Pak Ardi juga nggak nyuruh aku buat jemput kamu.”
“Hah? Serius? Terus kakak ini siapa?”
Berdebar jantungku. Rupanya dia bukan suruhan Papa. Aku jadi cemas.
Dia tersenyum, manis sekali. Lalu mengusap puncak kepala dan menghapus jejak air mata yang masih tersisa. Oh, so sweet.
“Kamu lapar nggak?”
Eh, malah nanya lapar apa enggak. Dia nggak tahu apa ya kalau aku ini ketakutan.
Takut kau di culik.
“Kamu siapa? Antar aku pulang.”
“Aku nggak tahu alamat kamu, makanya dari tadi nggak sampai-sampai.”
Astaga! Ya ampun! Rupanya dia nggak tahu alamat aku, tapi bisa jemput aku. Apa dia salah orang? Atau ...
Ah, rupanya bukan karena ingin menenangkan aku pas nangis tadi! Sudah besar ini kepala.
“Terus kamu ini di suruh siapa jemput?”
Dia menarik tanganku dan meletakkan di dadanya.
“Hati aku yang menyuruh.”
To be continue ..
__ADS_1