Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
part 10


__ADS_3

Sore itu, Kak Tomy mengajakku untuk keliling kota Purworejo. Menikmati semilir angin dan keramaian alun-alun kota. Pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan ibukota. Jika di ibukota jam segini dipadati kemacetan karena kebanyakan jam pulang kerja, mereka ingin segera sampai ke rumah. Berbeda dengan kota Purworejo, suasana jalanan terlihat sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang.


Jalanan lancar tidak ada kemacetan. Bahkan mereka sangat patuh pada rambu-rambu lalulintas. Tidak ada yang menerobos meski jalanan tidak terlalu ramai.


Kak Tomy menarik tanganku agar memeluk pinggangnya. Perjalanan pertama memakai motor. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata.


“Pegangan nanti kamu jatuh,” ucapnya dengan suara sedikit keras.


Aku menurut saja, meski awalnya sempat ragu. Rasa ini kembali muncul. Debaran di dada semakin sesak ditambah desiran halus yang mengalir.


“Nah, gitu dong. Kalau jatuh nanti aku di omelin Papa kamu!”


Aku tersenyum. Lalu perasaan itu berganti rasa bingung. Bingung harus berkata apa. Mendadak bibir terasa kelu karena debaran ini semakin terasa.


“Kak?” Pada akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut.


“Ya?”


“Apa masih jauh?”


“Bentar lagi sampai. Tuh tugu wayangnya udah keliatan.”


Di depan sana, sudah terlihat tugu wayang yang menjadi keindahan kota Purworejo. Aku mengedarkan pandangan, terlihat alun-alun yang dihiasi dengan berbagai patung dan lampion yang menggantung di setiap sisi pohon dan di sisi jalan paving alun-alun.


Suasana Sabtu sore itu terasa indah. Lampu-lampu taman dan lampion telah menyala. Kak Tomy memarkirkan motor di dekat masjid agung. Lalu kami menyebrang menyusuri jalanan alun-alun.


“Kak, foto-foto, yuk.”


“Sebelah sana aja yang bagus.”


Aku mengangguk. Suasana di alun-alun sangat ramai. Banyak orangtua yang membawa anak-anaknya bermain di Playground, naik delman atau goes.


“Sini Kakak fotoin. Kamu berdiri di sana.” Kak Tomy menunjuk pada patung berbentuk clorot. Makanan khas Purworejo. Di sampingnya ada patung durian.


Ah, indah sekali. Tempatnya bersih dan sangat terawat. Rerumputan hijau yang bergoyang menambah kesyahduan sore ini.


Berbagai pose aku lakukan. Lalu pose yang ... Sungguh mengundang rasa sesak itu kembali.


“Foto barengan ya, buat kenang-kenangan.”


Kak Tomy mengajak foto bareng layaknya sepasang kekasih yang sedang dipadu asmara.


“Kak, kita goes yuk,” ajakku saat selesai berfoto.


Kak Tomy sedikit terkejut dengan ajakanku. Mengingat kami hanya berdua mana mungkin kuat menggoes sepeda berbagai bentuk dan besar itu.


Kebanyakan mereka yang menyewa sepeda berbentuk mobil, hewan atau yang lainnya terdiri dari empat atau lima orang. Ada juga yang enam orang.


“Kamu yakin? Berat lho itu.”


“Nggak yakin juga sih, tapi kita coba aja dah.”


Aku menarik tangan Kak Tomy tanpa sengaja. Sesaat pandangan kami bertemu. Lalu aku melepas tangan itu agar tidak terjadi kesalahpahaman.


“Kenapa di lepas?”


Tanpa menunggu jawaban, dia menggenggam tanganku. Lalu berjalan ke arah sepeda goes yang terparkir.


“Tomy?” panggil seorang wanita yang secara tidak sengaja bertemu saat akan menyebrang.


Kak Tomy menoleh, wajahnya terlihat seperti sedang bingung.


“Siapa ya?” tanya Kak Tomy.


“Ya ampun, masa lupa sama aku sih. Nia temen sekelas waktu SMA dulu.”


“Nia Prameswari?”


“Iya, kamu apa kabar? Beda banget sekarang.”


“Aku baik, kamu sendiri bagaiman?”


“Aku juga baik.” Wanita itu melirik ke arahku. Mungkin bertanya siapa aku.


“Eh, kenalin ini Mey. Pacar aku.”


“Hay, Mey. Aku Nia temen sekelas Tomy.” Wanita itu mengulurkan tangannya.


“Aku Mey,” ucapku seraya membalas uluran tangannya.


“Jadi ini wanita yang bikin kamu__”


“Ah, kamu sama siapa ke sini?” tanya Kak Tomy memotong ucapan Nia.


Sepertinya Nia tahu lebih banyak tentangku. Jadi penasaran sebenarnya apa yang ingin Nia katakan. Mengapa Kamu Tomy mengalihkan pembicaraan seolah tidak ingin aku mengetahuinya.


“Sama temen-temen. Ayo kesana, mereka pasti kaget liat kamu,” ajak Nia.


Kak Tomy menatapku, seoalh bertanya boleh nggak atau mau nggak kita kesana?


Namun, sebelum pertanyaan itu muncul dari bibirnya, aku terlebih dahulu menyuruhnya untuk mengikuti Nia.


“Ke sana aja, siapa tahu mereka kangen sama Kakak.”


Kak Tomy tersenyum lalu menggenggam tanganku dan melangkah mengikuti Nia.


Langka kami mulai melamban saat berbelok ke arah gazebo. Di sana ada beberapa orang yang sedang duduk sambil bercengkrama. Sesekali tertawa dan menikmati camilan kacang beserta minuman kaleng.


Sepertinya mereka berpasangan, karena terdiri dari tiga lelaki dan dua perempuan. Ditambah Nia jadi ada tiga perempuan.


Tawa mereka terhenti saat menyadari kedatangan kami.


“Asyik bener sih, kalian masih ingat nggak siapa yang sama aku ini?”


“Tomy!” pekik seorang lelaki yang memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah.

__ADS_1


Para lelaki pun mendekati Kak Tomy dan berpelukan ala lelaki. Sedangkan aku bersalaman dengan dua wanita yang tidak aku kenal.


Sari dan Fani.


“Wah, makin ganteng aja lu.”


“Pantes seger, udah punya cewek sekarang.”


“Bukan dewa jomblo lagi nih jadinya.”


Ledekan ketiga teman Kak Tomy terus terlontar. Mereka pun tertawa lepas. Aku hanya tersenyum karena tidak mengenal mereka dan tidak tahu apa yang harus di bicarakan.


“Jadi, Mey ini pacar kamu, Tom?” tanya Fani.


“Bukan, tapi calon istri. Sebentar lagi kita tunangan.” Kak Tomy merangkul pundakku.


Apa? Calon istri? Keterlaluan sekali Kak Tomy sandiwaranya! Aku ingin meluruskan tapi sepertinya Kak Tomy memberi isyarat agar mengiyakan semua ucapannya. Malu mungkin jika masih saja jomblo.


“Ternyata yang namanya Mey cantik juga. Kalau nanti Tomy bikin kamu patah hati, aku siap kok gantiin dia,” celetuk lelaki bernama Rendra itu.


“Paan sih lu, Ndra! Emang tiga cewek belum puas?” sahut Kak Tomy di barengi gelak tawa dari mereka.


Tawa mereka terhenti saat seseorang datang.


“Tomy?” Seorang wanita dengan gaya ala Korea dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajahnya nampak terkejut saat melihat Tomy ikut dalam gerombolan ini.


Mungkin dia baru saja membeli sesuatu. Tatapan itu bisa aku lihat ada hal yang berbeda. Bukan tatapan seperti seorang teman biasa.


“Lilis?”


Begitu juga Kak Tomy, wajahnya terlihat berbeda. Sedikit canggung saat dia bersalaman dengan wanita bernama Lilis. Sesaat mereka saling memandang.


Hawa panas merasuki tubuh ini. Entah mengapa rasanya begitu gerah, padahal angin di alun-alun sepoi-sepoi.


“Eh, udah pandang-pandangannya. Nanti Mey cemburu lho,” kata Nia sambil melepas genggaman tangan mereka.


Lilis menatapku, lalu mengulurkan tangan. Pandangan itu sepertinya sedikit tidak suka. Apalagi saat Nia bilang ....


“Lis, dia ini Mey. Calon istri Tomy yang pernah diceritain dulu.”


“Cerita? Kalian ini suka sekali sih bergosip!” celetuk Kak Tomy.


Nia hanya tertawa. Sedangkan Lilis menatapku tidak suka. Terlihat saat dia menjabat tanganku dan menyebutkan nama. Jutek sekali.


Lalu kami duduk kembali berbincang-bincang. Meski terasa sedikit canggung. Entah apa yang sebenarnya terjadi antara Lilis dan Kak Tomy.


***


“Goes, Kuy!” celetuk Rendra.


“Ayok!” Heru ikut menyahut.


Mereka pun membereskan bungkus makanan, lalu bangkit dan melangkah ke tong sampah.


Setelah itu berjalan bersamaan ke arah goes. Memilih bentuk sesuai selera masing-masing.


Malam ini sangat ramai. Banyak yang menyewa sepeda besar ini dan yang tersisa hanya terdiri dari empat orang saja. Sedangkan kami ada sembilan orang.


“Nah setuju, gue sama Mey, ya,”ucap Rendra yang dibalas tatapan tajam Kak Tomy.


Aku tersenyum melihat wajah yang mungkin cemburu.


“Hahaha, santai aja, bro. Canda gue.”


“Halah, paling modus!” sahut Heru.


“Udah, malah berisik!” Sari ikut menyahut.


“Ya udah aku sama Rendra ikut Tomy sama Mey. Sisanya kalian pakai yang itu aja. Bisa itu buat lima orang,” ucap Nia.


Mereka pun setuju. Kecuali Lilis. Nampak kecewa karena tidak satu goes dengan Kak Tomy.


“Kak, aku sama Fani aja ya. Biar Lilis sama kamu,” bisikku sebelum duduk di kursi goes.


Kak Tomy menghela napas, lalu melihat ke arah Lilis. Sesaat pandangan mereka saling bertemu.


Ada rasa panas di dalam sini.


“Nggak, kamu nggak boleh jauh-jauh dari Kakak!”


***


Satu putaran tidak cukup buat kami. Apalagi semangat Nia dan Rendra yang terus menggoes, membuat kami menambah satu putaran.


Sesekali berhenti untuk berfoto bersama. Rendra mengambil kesempatan untuk berfoto bersamaku. Selama perjalanan lelaki itu terus ngegombal.


Sepertinya dia tidak perduli tentang status yang Kak Tomy katakan.


“Eh, Rendra! Lu kesempatan mulu, ye!” sungut Nia. Meski mereka bukan sepasang kekasih tapi sikap mereka ini terkesan lucu. Malah cocok kalau jadi pasangan suami istri.


“Paan sih! Kan sebelum janur kuning melengkung itu kita masih ada kesempatan. Iya nggak, Mey?”


“Gue nggak bakal ngundang lu ke pernikahan gue ntar!” sambung Kak Tomy.


Kembali kami tertawa. Sepertinya memang sudah biasa mereka bertiga ini berantem. Mungkin saat sekolah mereka ini adalah satu geng kali ya.


“Udahan yuk. Laper nih!” Nia mulai mengeluh.


“Lu mah nggak dimana-mana bawaannya laper Mulu!”


“Iyalah gue punya perut kali!”


Kak Tomy hanya menggeleng. Melihat mereka yang terus berantem membuat aku ingat pada Dion. Apa kabarnya lelaki itu.


***

__ADS_1


Selesai menikmati goes yang lumayan melelahkan, kami pergi ke romansa kuliner. Masih berada di sekitar alun-alun. Di sana terdapat beberapa kedai makanan yang menyajikan menu khas Purworejo dan menu lainnya.


Kami memilih menyantap sate ayam yang katanya terkenal paling enak. Juga salah satu langganan mereka rupanya.


“Eh, inget dulu waktu Lilis__” Sari menutup mulutnya saat Nia menyenggol lengannya. Hampir saja dia keceplosan mungkin.


Kok aku jadi nggak napsu makan ya. Apalagi posisi duduk Lilis berhadapan dengan Kak Tomy.


Sesekali Lilis terlihat mencuri pandang ke arah Kak Tomy. Namun, lelaki itu tidak memperdulikannya. Dia malah memperlihatkan keromantisannya di depan Lilis. Kalau perlakuan Kak Tomy gini, aku takut jadi jatuh cinta beneran. Apalagi rasa debaran itu semakin kuat.


“Ehmm, kalau orang pacaran dunia berasa milik berdua ya,” celetuk Nia. Wanita itu terlihat paling cerewet di sini.


“Kamu pengen romantis kek mereka? Sini aku cium,” ucap Rendra.


Nia memperlihatkan ekspresi ilfil. Sepertinya kami ini pengunjung paling rame di sini. Pelanggan yang lain selalu melihat ke arah kami dan ikut tertawa saat Nia dan Rendra kembali adu mulut.


“Kalian itu cocok. Ngapa nggak jadian aja sih?” sindir Fani kepada Nia.


“Gue pacaran sama Rendra? Ogah banget!”


Kami tertawa serentak.


Menikmati makan malam bersama seperti ini terasa lebih nikmat. Meski aku harus menahan hawa panas yang menjalar di sekitar hati dan tengkuk.


Tanpa terasa hidangan di meja telah habis. Kami bergegas pergi karena semua yang membayar adalah Rendra. Dia ternyata baik juga, karena sejak tadi semua yang bayar dia.


“Gue sama Fani balik dulu ya,” pamit Heru saat keluar dari kedai sate ayam.


“Gue juga mau pamit. Takut kena omel emaknya Sari ntar.” Lelaki berkemeja kotak-kotak itu rupanya kekasih Sari.


Ternyata yang jomblo ada empat orang. Nia, Rendra, Lilis, dan Kak Tomy. Eh, aku juga termasuk jomblo. Hanya saja malam ini berasa memiliki pacar meski hanya sandiwara.


“Lah, gue balik Ama siapa dong?”


“Lu nggak bawa motor, Ni?”


“Kaga lah, tadi gue boncengan sama Sari.”


“ Dah, balik aja sama gue.”


Rendra dan Nia kembali adu mulut. Saling tawar menawar, tolak menolak dan saling tuduh.


“Eh, udah apa berantemnya. Nia balik aja sama Rendra. Gue naik motor soalnya jadi nggak bisa nganter. Apalagi ini udah malem lho.”


“Nah tuh bener kata Tomy.”


Pada akhirnya Nia pun menurut. Pulang bareng Rendra.


Lilis hanya diam, mungkin dia berharap kalau pulang bareng Kak Tomy. Ah, mungkin hanya perasaan saja.


“Ya udah gue balik dulu. Thanks ya, Ndra. Traktirannya,” ucap Kak Tomy sambil bersalaman ala lelaki.


Aku berpamitan pada Nia dan Lilis.


Lilis masih saja memasang wajah jutek padaku. Entah apa yang salah denganku sepertinya dia tidak menyukaiku.


***


Rupanya itu hanya alasan. Kak Tomy tidak pulang, dia mengajakku duduk di bangku alun-alun. Sepi dan hanya ada pencahayaan dari lampu alun-alun.


“Kak, ayo pulang.”


“Duduk dulu lah, nikmatin malam yang panjang ini.”


Aku pun duduk di sampingnya. Lalu sejenak kami terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa, karena pikiran menuju bayang wajah Lilis yang terus menatap Kak Tomy.


Bertanya soal hubungan tadi, mungkin itu lebih bagus. Atau tentang hubungannya dengan Lilis. Ah, nanti di sangkanya aku kepo.


“Kak, kenapa tadi bilang gitu sama temen-temen kamu?”


“Bilang apa?”


“Kalau aku ini__”


“Calon istri Kakak?” Dia memotong ucapanku. Lalu menatapku lekat.


Aku mengangguk. Lalu mengalihkan pandangan karena tidak sanggup terus menatap mata itu.


“Sandiwaranya keterlaluan, gimana kalau ada hati yang tersakiti?”


Meski nyatanya yang tersakiti itu bukan Lilis. Ah, kenapa pula aku tersakiti?


“Bukan sandiwara, tapi itu kenyataan, Mey.”


Kak Tomy menggenggam tanganku dan menciumnya.


“Karena kamu adalah calon istri Kakak. Sejak janji itu dan sejak ciuman itu.”


Bibir ini terasa kelu, tidak bisa berkata apapun apalagi mendeskripsikan perasaan yang bercampur aduk dalam gumpalan darah bernama hati.


“Kakak akan melamarmu dan menikahimu.”


Kak Tomy mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kalung berliontin hati.


“Ini tanda kalau kita udah jadian.” Kak Tomy memasangkannya di leherku. Lalu menarik dagu dan kembali mengecup bibir ini.


Aku mendorong dada itu. “Kak, ini tempat umum!”


“Jadi kalau bukan tempat umum mau?”


“Nggak mau!”


Kak Tomy tersenyum. Beruntung lampu taman sedikit redup. Jadi dia tidak bisa melihat rona merah di pipi.


“Kamu mau kan jadi istri Kakak?”

__ADS_1


Next ....


__ADS_2