Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Saling Mengode


__ADS_3

"Ikam besiap lah, hadangi apa ujar aku".


"(Kamu bersiaplah, tunggu aba-abaku)".


"Inggih".


"(Iya)".


"Yuk anak-anak, kita siap-siap untuk pulang. Harinya sudah mulai siang, perut opa juga sudah lapar" ucap Angga dengan suara yang nyaring ketika beberapa orang datang menghampiri mereka.


"Revan ada bawa makanan opa. Nih ada cemilan dalam tas Revan yang Revan bawa. Ini camilan punya abang Randy, ini cemilan punya Revan. Nah ini punya opa, opa yang roti ini saja ya. Kan opa bilang tadi sangat lapar, jadi makan yang berat ini saja. Kalau Revan mau makanan yang ringan saja, kalau makan roti nanti susah larinya" celoteh Revan lancar. Memang Revan adalah anak Kanaya yang paling suka banyak bicara. Paling jahil, suka bercanda. Mungkin dia yang bakalan menggantikan opa Adam dengan kekonyolannya.


"Lari, lari kemana?" kini Angga tambah gugup dan bingung dengan ucapan Revan. Sungguh dia tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini. Bagaimana bisa istrinya bisa dengan tenangnya jika dalam situasi tegang seperti ini?.


"Oh, sayang. Seandainya aku mengikuti apa yang kamu ucapkan tadi. Aku tidak akan menghadapi ketakutan seperti ini. Aku belum siap mati seperti papa sayang, bohong jika selama ini aku berkata bijak kepadamu. Itu hanya menutupi bahwa penakutnya aku dan juga betapa pengecutnya diriku ini. Untuk menjaga diriku saja aku tidak mampu. Bagaimana aku bisa melindungimu sayang" Angga berucap dalam hatinya, dipikirannya kini hanya tentang Niki belahan jiwanya. Betapa konyol sekali dirinya, yang begitu sangat bucin kepada istrinya yang selama ini


dirinya. Dia kalah mandiri dengan istrinya, sosok kuat itulah yang menjadikan Angga begitu mengagumi sosok Niki.


"Ya lari di lapangan inilah opa. Masa iya lari dari pengejaran. Kan lucu opa, siapa juga yang mau mengejar atau menangkap Revan yang masih kecil begini?" ucap Revan begitu polos ketika ada dua pria yang melewati dirinya yang kini tengah berdiri sambil memainkan bola dikakinya. Sedangkan sekarang ada seseorang pria yang duduk disamping Randy yang kini tengah asyik duduk. Dia melihat Randy yang begitu asyik menonton acara gulat yang begitu fenomenal di luar sana. WWA, acara kesukaannya.


"Suka gulat dek?" tanya pria itu ramah kepada Randy. Tangannya menunjuk ke arah handphone yang dipegang oleh Randy.


"Iya om" jawabnya ramah. Tidak seperti biasanya. Randy tidak pernah tersenyum jika ditanya orang baru, paling hanya akan menjawab sekedarnya saja.


Tiba-tiba saja sesuatu yang tajam tengah ditekan ke pinggang Randy. Diapun terkejut lalu melihat kesamping. Pria itu pun tersenyum jahat kepada Randy. Dilihatnya benda yang mencoba menusuk pinggangnya itu. Randy sudah menebak jika itu pisau, namun hanya memastikannya saja. Sebuah pisau kecil yang digunakan hanya untuk menakuti saja. Bukan untuk membunuh.

__ADS_1


"Jangan berteriak atau bertingkah yang aneh, atau pisau ini akan menembus perutmu dan mengeluarkan isinya. Jadi turuti semua perkataanku" Randy pun mengangguk.


"Suruh adikmu kesini" pintanya. Pria itu pun seperti saling kode dengan temannya yang berada di belakang Revan. Randy mengangguk setelah mendengar permintaan pria itu.


"Dek kemari" panggil Randy, namun matanya berkedip dengan sorot matanya ke arah kiri.


"Ada lading disebelah kiriku, barang yang warna hijau malam tadi dimana ikam meandak?".


"(Ada pisau disebelah kiriku, barang yang berwarna hijau tadi malam kamu letakkan dimana?)".


"Oh, itukah. Ada di dalam bungkusan plastik cikian lays yang ulun julung tadi pank. Amun yang hagan dadakan tu ada di dalam tas bagian belakang ulun andak. Ditangan ulun ni adanya nang hgn dijari tu nah. Utas-utasan nang malam tadi ulun tampai akan".


"(Oh, yang itu. Ada di dalam bungkus snack lays yang tadi saya kasih. Kalau buat hal yang genting ada didalam tas bagian belakang. Ditangan saya ini adanya buat dipakai yang dijari. Ring yang tadi malam saya perlihatkan)".


"Bicara apa kalian berdua?" bisik si pria yang ada disamping Randy. Sepertinya dia tengah siaga, mungkin curiga juga dengan Randy yang berbicara bahasa banjar kepada Revan. Dia pun menekan sedikit dalam pisau yang masih berada disamping pinggang Randy.


"Opa, sini duduk dulu. Memangnya opa tidak lelah dari tadi duduk terus. Mana keringat opa banyak banget, nih lap keringat didahi opa" Randy bersikap dengan tenang. Dia masih berpikir cara terbaik untuk bisa melepaskan diri dari semua ini. Handphone Revan berbunyi, terlihat Kanaya yang tengah memanggilnya.


"Halo mama" jawab Revan santai, karena memang dia yang free tidak mendapat ancaman dari pria asing yang mengelilingi mereka bertiga.


"Bagaimana keadaan kalian? Mama akan segera kesana menyusul kalian. Kalian tidak dilukaikan. Opa mana, mama mau bicara".


"Oh itu, tidak bisa kayaknya ma. Ada tembakan dibelakang sidin" jawab Revan yang begitu santai, masih tetap mengemut lolipop yang ada dimulutnya.


"(Oh itu, tidak bisa kayaknya ma. Ada pistol dibelakangnya)".

__ADS_1


"Abang Randy dimana?".


"Ada tuh duduk dibangku, tapi lading dihiga awaknya. Kaya apa buahan kami nih?"


"(Ada tuh duduk dibangku, tapi pisau disamping badannya. Bagaimana kami sekarang ini?)".


"Jahka kadada tembakan di belakang kai, sudah ulun hantami buahannya nih. Tapi awaknya ganal-ganal ma'ae" Revan menceritakan rencananya dengan sedikit ketawa khas anak kecil.


"(Coba saja tidak ada pistol dibelakang opa, sudah saya hajar mereka semuanya. Tapi badan mereka besar-besar ma)".


Jangan heran kenapa dia masih kecil tapi sudah berpikir dewasa, karena didikan Hendry yang meminta mereka untuk menjadi pribadi yang mandiri. Serta Randy yang selalu mempush saudaranya untuk lebih melatih ilmu bela diri mereka. Kadang tanpa pengetahuan Hendry mereka latihan untuk melatih kelincahan gerakan berkelahi mereka. Sebenarnya tanpa sepengetahuan Hendry, Randy membeli sebuah pistol untuk dirinya. Dia menggunakan identitas Hendry untuk pembelian tersebut. Setahun yang lalu transaksi itu terjadi. Selain itu juga, Revan dan Raniya juga mengetahui dunia yang digeluti oleh Hendry selama ini. Itulah sebabnya mereka harus bisa menjaga diri mereka seperti mamanya, agar mereka tidak menjadi kelemahan untuk musuh kakek atau mamanya.


"Kalian tunggu saja disana, tunggu mama sebentar lagi sampai. Nanti juga ada tante Mely sama om Fery yang bantuin" ucap Kanaya. Sebelun dia pergi tadi, dia terlebih dahulu menghubungi Mely untuk meminta bantuannya. Sebab dia tidak ingin mengganggu rapat yang sedang diadakan oleh oma Rachel. Kenapa Kanaya meminta bantuan Mely? Sebab dia tidak ingin kehilangan siapapun hari ini. Kondisi perutnya yang sudah lumayan besar, tidak terlalu memungkinkan baginya untuk melawan mereka berkelahi. Dia menyiapkan pistol kesayangannya. Itulah sebabnya dia harus mengetahui terlebih dahulu berapa banyak yang harus dibereskan.


"Kaya apa jer sidin?" tanya Randy ke Revan.


"(Bagaimana kata mama?)".


Revan hanya mengangkat bahunya, kemudian dia mendekati Angga. Pria yang dibelakang Angga terlihat sedikit mundur dan mencoba mengalihkan pistolnya agar tidak terlihat oleh Revan. Dia semakin mendekati Angga lebih tepatnya kini berdiri didekat Angga, otomatis pria tadi menyimpan kembali pistol yang dia gunakan untuk mengancam Angga.


"Sudah".


"Wahinian" teriak Revan kepada Randy. Kemudian sebuah teriakan dari bangku tempat Randy duduk terdengar.


"(Sekarang)".

__ADS_1


"Aaaaaaaaarrrrgghhhhhhh".


__ADS_2