
Adrian sudah bertekad untuk menemui Ades hari ini. Dia akan membungkam mulut Ades agar tidak menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan Kanaya, serta saat anak buahnya menculiknya. Dia tidak ingin keluarganya tahu kalau dia seperti pria brengsek yang kasar pada wanita. Sebenarnya Adrian tidak pernah kasar juga kepada wanita. Hanya wanita-wanita yang brengsek yang pernah dikasarinya. Hanya sikapnya yang terlihat dingin dari luar membuat beberapa orang segan dan takut, apalagi saat sorot matanya menatap tajam. Seakan ingin membunuhmu secara perlahan, hal itulah yang selalu dirasakan oleh Ades ketika bertemu Adrian.
"Sayang jam berapa acara syukuran Ades? " tanya Adrian kepada Kanaya yang tengah sibuk di dapur membantu asisten rumah tangga.
Meskipun sudah dilarang oleh Niki, tapi karena Kanaya pagi ini lagi ingin makan kari ayam jadi dia akan memasaknya sendiri. Meskipun Niki menyuruh asisten rumah tangga untuk memasaknya, tapi Kanaya menolak dengan alasan ingin sesuai seleranya. Mau tidak mau, Niki harus menuruti keinginan sang menantu yang tengah hamil muda. Permintaan Kanaya juga bukan hal yang aneh, masih bisa dibilang biasa.
"Katanya jam satu siang acara pengajian syukurannya dimulai" jawab Kanaya sambil mengaduk kari ayamnya.
"Memangnya kamu mau ikut Adrian?" tanya Niki kepada anaknya yang sedang duduk di ruang makan.
"Tentu saja dong ma, aku kan suami Kanaya. Wajib dong menemani istrinya kemanapun dia pergi" kata Adrian penuh percaya diri.
"Aku adalah suami yang siaga, setia dan menjaga istrinya. Hehehe" ucap Adrian mendapatkan jitakan dikepalanya.
"Siaga palamu, yang ada bubar acara orang kalau kamu datang nanti. Terlihat jelas kemaren itu si... siapa tu namanya. Susah amat sih nyebutnya" gerutu mamanya Adrian yang sedikit curiga dengan Adrian. Sebenarnya mama Adrian yang berencana akan ikut pergi dengan Kanaya dan ingin bertanya kepada Ades kenapa dia begitu takut melihat Adrian. Apakah Adrian pernah berbuat kasar kepadanya?
"Ades ma" kata Adrian kemudian menyeruput cangkir kopi didepannya setelah disuguhi oleh asisten rumah tangganya.
"Ya, Ades. Huh, lupa sama namanya" ujar mama Adrian.
"Aku bisa pergi sendiri kok, kamu nggak usah khawatir" kata Kanaya.
"Nggak boleh" jawab Adrian serentak dengan mamanya. Kanaya terkejut dan bingung dengan ibu dan anak yang sehati ini. Kadang akur, kadang bertengkar. Sekarang sepertinya lagi akur.
"Kanaya pergi sama mama, nanti biar mama antar. Sekalian nanti mama mau ngobrol sana mamanya Ades, kalau kamu juga lagi hamil" kata Adrian bernada ingin pamer tidak kalah menantunya dengan Ades.
__ADS_1
"Kenapa juga harus mama yang anterin? Aku juga bisa nganterin ma" kata Adrian sedikit protes ke mamanya.
"Memangnya Ades belum tau ya kamu sedang hamil juga? " tanya Adrian ke Kanaya.
"Kanaya memang nggak mau ngasih tau, katanya biarkan Ades menikmati kebahagiaan dia saat tau dia lagi hamil. Kan beda perasaan orang yang baru pertama kali hamil sama yang sudah sering hamil" kata mama Adrian asal. Tampak raut wajah Kanaya sedikit berubah. Mama Adrian yang sadar telah salah bicara langsung merasa tidak enak hati.
"Kamu jangan tersinggung ya sayang, maksud mama kan ini kehamilan kamu yang ke empata kan. Pasti rasa bahagianya beda saat baru pertama kali hamil. Kayak mama dulu pas hamil Adrian kaya heboh kegirangan, tapi pas hamilnya Andre kaya yang biasa. Kan sudah punya pengalaman" kata mama Adrian menjelaskan maksud dari perkataannya tadi.
"Iya ma, nggak apa-apa kok. Kanaya ngerti maksud mama" jawab Kanaya sopan.
Bagi yang melihat Kanaya yang seperti gadis polos akan merasa kasian telah menjadi bagian keluarganya Adrian, karena keluarga Adrian terkenal dengan sikap dingin mereka terhadap orang luar. Terkadang mama Adrian pun beranggapan Kanaya seperti kapas yang lembut dan mudah rapuh. Meski feelingnya kuat mengatakan kalau Kanaya seperti wonder woman. Tetap saja jika melihat wajahnya yang teduh, terasa tak bisa ingin melukai hatinya.
"Biar nanti Adrian yang nemani Kanaya ma, sekalian Adrian ingin bicara sama suaminya Ades. Suami Ades kan kerja dibagian keuangan di perusahaannya. Jadi Adrian bermaksud mengajaknya kerja di perusahaan Adrian, biar Mely nggak terlalu stress ma" kata Adrian mencari-cari alasan agar dia yang bisa mengajak Kanaya pergi.
"Kalau pergi semuanya aja kan bisa. Ngapain juga kamu ngotot terus dari tadi" jawab mamanya sekenanya. Namun langsung menembak ke jantung Adrian dengan tepat. Seperti tau maksud dari niatannya ikut ke acara syukuran Ades.
"Ternyata benar kata bang Tora, kalau Adrian memang takut sama mamanya" ucapa Kanaya dalam hati.
"Yes, bisa dimanfaatin ini nih" katanya lagi seakan mendapatkan kesempatan buat ngerjain Adrian.
***
Siangnya sesuai kesepakatan mereka bertiga akan pergi ke acara syukuran Ades. Namun Adrian kalah langkah lagi, ternyata oma Rachel juga pengen ikutan. Tidak ingin berdebat dengan omanya Adrian dengan terpaksa menyetujui omanya untuk ikut. Sepanjang perjalanan Adrian memutar isi dalam kepalanya, bagaimana cara dia untuk membungkam Ades dan Dio agar masalah waktu di hotel dulu tidak diketahui oleh keluarganya. Sekarang Adrian benar-benar merasa frustasi dan berharap keberuntungan berpihak untuk dirinya kali ini.
Kedatangan Kanaya disambut hangat oleh mamanya Dio yang memang mengenal Kanaya. Dia memang tau kalau Kanaya sudah menikah pas membantu Ades pindah dari kosannya. Si ibu kos Ades yang super heboh itu bercerita perihal ketampanan suami Kanaya dan mencoba menyuruh anaknya untuk jadi pelakor dalam pernikahan Kanaya. Mamanya Dio hanya geleng-geleng kepala mendengar semua celotehan mantan ibu kos Ades.
__ADS_1
Dio bersalaman dengan Adrian, wajahnya tampak pucat. Tangannya dingin dan sedikit bergetar. Dia benar-benar sama seperti Ades yang begitu trauma dengan Adrian. Melihat hal ini Adrian tidak ingin membuat mama dan omanya curiga.
"Hei bro, gimana kabarnya? Lama nggak ketemu ya" kata Adrian sok akrab. Dio yang mendapatkan tanggapan seperti ini jadi bingung. Terlihat dia tampak canggung dan sedikit kaku.
"Hei, mana Ades. Ada yang mau aku omongin sama kalian berdua. Awas jangan macam-macam, bertingkah lah dengan wajar. Cepet kita harus bicara bertiga" bisik Adrian saat merangkul Dio. Nggak ingin membuang kesempatan emas ini dia langsung to the point sama keinginannya.
Dio pun langsung membawa masuk Adrian, sedangkan Kanaya bercengkerama dengan mamanya Dio serta para tetangga yang datang untuk acara syukuran. Ades masih ada di dalam kamar lagi bersiap-siap. Dia terkejut saat suaminya masuk terburu-buru ke kamar dan diikuti Adrian dibelakangnya. Pikiran tentang threesome kembali berputar dalam kepalanya. Apakah suaminya benar-benar akan menyerahkan dirinya? Ades diselimuti kegalauan yang luar biasa.
"Sekarang kalian berdua duduk" perintah Adrian kemudian menutup pintu dengan rapat. Sedangkan kedua orang yang ada di dalam merasa sedanh terancam.
"Ok. Dengerin perkataan aku baik-baik ya" kata Adrian mendapati anggukan dari keduanya yang saling menggenggam tangan satu sama lain.
"Aku ingin kalian tidak akan pernah membicarakan perihal tentang apa yang terjadi di dalam kamar hotel waktu itu. Tentang penculikan Ades ataupun perdebatan aku dengan Kanaya dulu. Aku ingin kalian tidak akan pernah menceritakan perihal kejadian tersebut kepada keluargaku. Ok! " kata Adrian ingin memastikan kalau mereka mengerti dengan maksud Adrian. Mereka berdua hanya bisa mengangguk sebagai tanda mengiyakan.
"Baguslah kalau kalian mengerti, sebagai gantinya kalian akan aku berikan tiket liburan ke Bali selama seminggu. Semua fasilitas yang kalian butuhkan akan dijamin. Selain itu juga, Dio akan bekerja diperusahaanku sebagai pengawas keuangan membantu Mely".
"Apa kalian setuju? Tenang saja gaji Dio jauh lebih besar dari perusahaannya yang sekarang ini" kata Adrian memberikan penawaran semenarik mungkin agar mereka berdua benar-benar bungkam perihal penculikan Ades serta pernikahan yang tidak sengaja antara dirinya dengan Kanaya yang berbuah cinta.
"Iya" kata Ades yang merasa bahagia dengan penawaran Adrian, seperti mendapat berkat dan mungkin ini yang dinamakan dengan rejeki anak.
"Baiklah kalau begitu kalian sudah setuju, kau Dio sebaiknya cepat urus surat resign mu. Selesai liburan dari Bali nanti kamu langsung masuk kerja diperusahaanku. Anggap saja hadiah untuk pernikahan kalian berdua" kata Adrian yang akan membuka pintu kamar.
"Terimakasih banyak pak Adrian. Saya janji akan bekerja dengan giat dan berusaha keras dalam memajukan perusahaan bapa. Saya tidak akan membiarkan ada kesalahan ataupun kecurangan dalam keuangan perusahaan bapak nanti" kata Dio dengan penuh semangat.
"Bagus, saya akan nantikan kerja kerasmu. Oh ya Ades, lain kali kalau liat saya kamu jangan lari atau takut. Memangnya kamu pikir saya hantu. Hadeh" kata Adrian kemudian pergi meninggalkan mereka berdua di kamar.
__ADS_1
Sedangkan Ades dan Dio saling berpelukan karena merasa senang dengan penawaran yang diberikan oleh Adrian. Mereka pun akhirnya berpikir kalau Adrian sebenarnya tak sejahat yang mereka pikirkan selama ini. Ternyata memang anak itu membawa rejeki, kehamilan pertamanya begitu sangat berarti dan penuh berkah bagi mereka berdua.