
"Siapa yang nelpon? " tanya Kartika penasaran.
"Tau, aneh aja. Dia minta aku menemui dia di pelabuhan x" jawab Kanaya.
"Aku pergi dulu ya" pamitnya ke Kartika.
"Ntar dulu, aku ikut nemani kamu. Takutnya orang jahat, biar nanti kita gebukin tuh orang jahat. Kaya dulu kita bikin preman pasar masuk rumah sakit sampai sebulan" kata Kartika sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak usah, dia mintanya aku datang sendirian. Nanti aku hubungi kamu kalau aku perli sesuatu" ucapnya kemudian pergi meninggalkan ruko temannya itu.
Kanaya pergi ke sekolahan anaknya terlebih dahulu untuk mencek keadaan anaknya dalam kondisi baik-baik saja. Pikirnya mungkin itu hanya sedikit gertakan untuknya, tapi dilain sisi juga dia penasaran dengan sosok si penelpon tadi.
"Tik, ntar kalau kamu jemput Raisya tolong bawa anakku juga ya. Jangan lupa ya".
"Sekalian antarkan ke rumah, kalau mereka nanya bilang aja lagi ada urusan. Jangan bilang tentang telpon aneh yang aku terima tadi ya" ujar Kanaya.
"Ada apa Nay? Kok sepertinya gawat sih. Aku samperin kamu ya" kata Kartika bernada khawatir.
"Nggak apa-apa kok. Aku baik-baik aja. Ini masih di sekolahan, baru nanti ke pelabuhan. Hatiku menyuruh untuk kesana, seperti ada yang tidak beres ini" kanaya mencoba untu menduga-duga tentang feelingnya.
"Kalau begitu jangan kesana lah, sudah tau ada yang tidak beres" Kartika juga merasa sedikit kesal, sudah tahu ada yang aneh masih mau didatangi. Ibarat kata, sudah tau ada lubang masa masih mau dilewati.
"Tenang saja, kalau ada apa-apa pasti aku akan menghubungimu terlebih dahulu".
"See ya... " Kanaya mematikan telponya, kemudian mengendarai mobilnya menuju pelabuhan x.
Suasana dipelabuhan sangat ramai dan dia pun bingung harus berjalan ke arah mana. Disaat dia berjalan menusuri pelabuhan sebuah panggilan masuk, sepertinya dari nomer tadi.
"Kamu berjalan lurus setelah itu belok ke kanan disebelah tong plastik berwarna biru ada sebuah gang. Kemudian kamu belok ke kanan jika menemukan sebuah persimpangan. Nanti seseorang akan menjemputmu untuk menemuiku" panggilan pun diputus setelah dia berbicara, belum sempat Kanaya menjawab. Mungkin dia mau membalas setelah sebelumnya tadi Kanaya yang mematikan panggilannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Kanaya pun mengikuti intruksi sang penelpon tadi, dia menunggu sekitar sepuluh menit di tempat yang dikatakan orang asing yang menelponnya. Setelah itu datang seorang anak kecil laki-laki berumur sepuluh tahunan mungkin menghampiri dirinya.
"Pian disuruh meumpati ulun" kata si anak berbahasa banjar.
("Anda disuruh mengikuti saya")
"Oh iya" kanaya mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Dia mengajak Kanaya berjalan memutari gang yang membuat Kanaya sedikit bingung untuk menghapal jalannya. Hingga mereka tiba disebuah bangunan yang nampak seperti gudang.
"Lajui pian masuk, pian sudah dihadangi" kata si anak kecil itu menyuruh kanaya masuk ke dalam. Ada sedikit keraguan dalam hatinya untuk melangkah, tapi dengan bismillah dia memantapkan dan menguatkan dirinya untuk masuk ke dalam gudang tersebut karena dia penasaran siapa sebenarnya yang mencoba mempermainkan dirinya.
("Cepat anda masuk, anda sudah ditunggu")
Kanaya masuk ke dalam gudang tersebut tidak terlihat ad siapapun. Berkali-kali dia mencoba memanggik namun tidak ada yang menyahut. Tiba-tiba pintu tertutup dan terkunci, sepertinya dikunci dari luar. Berulang kali Kanaya menggedor dan memanggil anak kecil tadi. Dia langsung menghubungi Kartika disaat sedang panik seperti ini.
"Tik, kayaknya aku dijebak " kata Kanaya langsung to the point.
"Tolong jaga dan pastikan anak-anak ku selamat sampai dirumah".
"Aku coba cari cara sendiri keluar dari gudang ini" ujar Kanaya.
"Gudang? Gudang apa Nay? " tanyanya Kartika lagi.
"Entahlah" ujarnya. Tiba-tiba sebuah pukulan mengenai kepala Kanaya sehingga membuatnya terjatuh dan pingsan. Kartika berulang kali memanggil nama Kanaya setelah mendengar sesuatu yang terjatuh. Dia terdengar sangat panik.
"Jika ingin dia selamat, siapkan uang satu milyar untuk menebusnya" kata orang asing yang mengambil handphonenya Kanaya. Panggilan pun terputus dan handphone pun langsung dimatikan. Kanaya langsung diikat pada sebuah kursi yang sudah tersedia.
Disaat dia sadar dan membuka matanya dia terkejut dengan sosok yang dia kenal sedang duduk dihadapannya. Dia nampak tersenyum dan mengedipkan matanya.
"Halo kak Kanaya. Apa kabar?" kata si orang asing tadi.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? " ucap Kanaya sedikit bingung.
"Pian kenapa jadi bedusta kak lawan buahan kami? Ujarnya harga tanah kami ditukari harga sejuta tapi kenapa jadi tiga ratus ribu aja. Rugi kami ka'ae".
("Kenapa kak Kanaya jadi berbohong sama kami? Katanya harga tanah kami akan dibeli dengan harga satu juta tapi kenapa cuma tiga ratus ribu. Kami merasa dirugikan kak").
"Hah, tiga ratus ribu. Memang di surat pembeliannya tertulis kalau kami membeli harga sejuta. Ikam jangan bedusta, aku laporkan ke polisi kena ikam Mat'ae" kata Kanaya kepada pria yang bernama Ahmad yang merupakan sebagai perwakilan penjualan tanah warga yang dibeli oleh perusahaan Kanaya untuk membangun pabrik barunya.
("Hah, tiga ratus ribu. Didalam surat perjanjian beli kami membeli dengan harga satu juta. Kamu jangan berbohong, bisa aku laporkan ke polisi kamu mat").
"Beapa ulun bedusta, dasar bujuran yo. Paksa'aa ulun menculik pian minta tabusan semilyar hagan ganti rugi" kata Ahmad.
("Buat apa saya berdusta, memang benar kok. Terpaksa saya menculik kaka untuk meminta tebusan satu milyar sebagai ganti rugi").
"Sedikitnya pank seitu, jahka banyaki. Mun seitu aja ikam minta aku gin kawa menjulungi ikam" ujar Kanaya kemudian merasa sedikit sakit dibagian kepalanya. Tiba-tiba muncul siluet beberapa kejadian dalam kepalanya. Sosok dirinya yang masih kecil sepertinya diculik oleh seseorang,dia dilecehkan.
("Cuma segitu, sedikit sekali. Kalau cuma minta tebusan sebanyak itu aku akan memberikannya")
"Aduh, sakit" teriak Kanaya mencoba melepaskan ikatan tali ditangannya. Ahmad terlihat panik melihat Kanaya yang berteriak kesakitan. Ingin dia melepaskan ikatan Kanaya takut dia cuma pura-pura. Kalau dia benar kesakitan bagaimana dengan rencananya untuk mendapatkan uangnya.
"Pian janjilah menjulungi duitnya, aja ulun buka akan talinya? " tanya Ahmad memastikan dan diangguki oleh Kanaya.
("Anda harus berjanji terlebih dahulu kalau nanti akan memberikan uangnya baru saya akan melepaskan ikatan talinya? ")
Ikatan tali Kanaya langsung dilepas dan dia pun langsung memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit. Kanaya tidak mampu menahan sakit yang meradang dikepalanya hinggan membuat dirinya pingsan. Hal ini sontak membuat Ahmad menjadi panik, dia takut kalau dia akan membunuh Kanaya. Bukannya dia akan mendapatkan uang yang ada dia akan dijebloskan ke dalam penjara. Kanaya langsung dibawa ke rumahnya yang dekat dari gudang itu dan langsung memanggil seorang mantri yang biasa mengobati para penduduk sekitar untuk memeriksa kondisi Kanaya. Si mantri tersebut tidak bisa mendiagnosa apapun, dia hanya bisa menganjurkan agar Kanaya dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut lagi.
Note:
Untuk beberapa bab ke depan akan diselingi dengan bahasa daerah di Kalimantan yakni bahasa banjar.
__ADS_1