
Tony, Tora, Iwan dan Mely datang bersama-sama, Adrian pun menceritakan semuanya kepada mereka. Mely sudah tidak sabar untuk bermain-main dengan pak Rahman. Tony menyelidiki tentang kehidupan pak Rahman serta mencari tahu siapa saja yang kini sedang bermasalah dengannya. Mereka sangat handal dalam membuat skenario yang mampu menjebak siapa saja. Targetnya kali ini adalah seorang polisi yang bernama Danang. Dia bagaikan musuh yang siap kapan saja untuk menyerang pak Rahman.
Danang adalah polisi korup yang tidak dapat ditangkap oleh siapapun. Selain itu juga, dia merupakan big bos dalam peredaran narkoba disini,selain membagi barang haram tersebut. Dia juga melindungi para bandar besar. Jika mereka mulai membantah maka akan dieksekusi olehnya. Banyak bandar narkoba yang tertangkap dan minta diringankan hukumannya, maka barang buktinya akan dia kurangi. Dari situlah barang yang dia dapat untuk dibagikan kepada bandar yang dipercayanya untuk menjual barang haram tersebut.
Sebuah tangkapan besar tentunya, meski akan mencoreng nama kepolisian. Tapi sebenarnya oknumnya lah yang telah menyalah gunakan wewenangnya sebagai pelindung masyarakat. Adrian tersenyum bahagia ketika akan mendapatkan pancingan besar.
"Kamu aturlah semuanya dengan baik seperti biasanya" kata Adrian kepada Tony.
"Mely, silahkan kamu bermain-main dengannya. Setelah selesai dengan dia, kamu harus membereskan keuangan di perusahaan Kanaya" kata-kata terakhir Adrian membuat Mely memoncongkan mulutnya. Seakan tidak senang jika dia akan berurusan dengan angka-angka lagi.
"Tenang saja, kali ini bonusnya liburan ke phuket".
"Bukankah kamu ingin sekali kesana? ".
"Akan aku tambah lagi, tiket menonton konser EXO nanti" tawaran terakhir ini membuat Mely menjadi semangat.
"Beneran lo bang, ntar kaya kemaren nggak jadi nonton konsernya".
"Awas lo jangan PHP in aku lagi, nanti aku aduin sama kak Kanaya" ancam Mely yang tidak mau lagi diberikan janji palsu untuk menonton konser EXO berikutnya.
"Tenang saja, aku sudah dapat jalur yang benar sekarang. Dijamin bukan makelar tiket konser lagi" kata Adrian. Untuk pertama kalinya dia ditipu oleh seseorang yang mengaku menjual tiket konser EXO. Hal yang memalukan memang. Tapi masalah ini hanya Tony dan Mely yang mengetahuinya. Ditipu karena selembar tiket konser memang merupakan sebuah aib yang memalukan.
"Bagus lah kalau begitu bang".
"Apa bisa sekarang aku bermain-main dengan teman baruku? " tanya Mely yang sudah tidak sabar.
"Silahkan dimulai nona Mely".
"Terimakasih untuk semuanya Mr. Adrian" Mely tertawa dan melangkah masuk ke dalam ruangan khusus eksekusi pak Rahman.
Ruangan itu dibuat oleh preman-preman yang menyerang Kanaya. Diintruksikan sendiri oleh Adrian, ibu Ahmad yang kaget ketika Adrian membeli gudang bekas pabrik tahu dan tempe milik almarhum suaminya itu penasaran digunakan untuk apa gudang tersebut. Adrian mengatakan kalau dia berniat untuk membuat gudang penyimpanan ikan hasil para nelayan nanti yang akan di olah menjadi berbagai olahan frozen food.
"Halo, teman baruku" sapa Mely kepada pa Rahman. Dia menjinjing sebuah tas kulit berwarna hitam, kemudian mengeluarkan isi dari dalam tas tersebut. Berbagai macam alat mengerikan yang akan dia gunakan untuk menyiksa pa Rahman. Sebenarnya hanya alat-alat kecil saja yang akan dua gunakan, yang lainnya hanya sekedar untuk menakuti saja.
"Kalian boleh keluar" perintahnya kepada dua preman yang menjaga.
__ADS_1
"Kalau kalian ingin menyaksikan boleh saja" ucapnya menyeringai dengan sinis. Wajah cantiknya menampakkan aura kejam dan sadis.
"Kita mulai dari potong rambut dulu ya beb" Mely dengan lihai memotongi rambut pak Rahman dengan bentuk yang tak karuan. Dengan sengaja dia sedikit menggores kan gunting di kulit kepalan pak Rahman sehingga mengeluarkan sedikit darah.
Kemudian Mely mengambil gunting kuku dan memotongi kuku kaki pak Rahman sampai terlihat kulitnya. Pak Rahman tak berhenti berteriak kesakitan karena Mely juga memotongi kulit kukunya. Namun tidak ada suara yang keluar karena mulut pak Rahman sudah diikat. Darah keluar dari sepuluh jari kakinya dan jari jemari itu pun sudah tidak memiliki kuku lagi. Sakit, perih, pedih semua rasa yang tidak bisa dibayangkan ketika kuku yang masih menempel dikulit dicabut paksa. Seperti itulah penyiksaan yang Mely berikan.
"Permainan kita belum selesai, aku akan membiarkan dirimu untuk beristirahat lebih dahulu".
"Makanya jangan, suka cari masalah sama abangku itu".
"Salah anda sendiri sih berani-beraninya menculik kak Kanaya".
"Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Kenalin "Black Rose" " kata Mely sambil tersenyum. Pak Rahman yang mendengar nama itu langsung terkejut, karena nama itu sudah tidak asing di dunia para mafia. Tapi dia tidak menyangka jika penyandang nama tersebut adalah anak buah Adrian. Jika dia tahu akan berurusan dengan mereka yang dari dunia hitam, dia pasti akan menghindarinya.
Mely mendekati pak Rahman dan membisikkan sesuatu ditelinganya yang membuat mata pak Rahman terbelalak karena sangat terkejut. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, dia tau sekarang kalau dia pasti akan mati. Sudah tidak ada yang bisa menolong dirinya lagi. Mely pergi meninggalkan ruangan tersebut bermaksud mencari udara segar.
"Gimana,sudah puas bermain-main? " tanya Tony yang melihat Mely sedang mengambil sebatang rokok dari tas kecilnya yang dia tinggalkan di luar tadi.
"Belum, masih pemanasan. Tapi bakalan di sudahi secepat mungkin. Kasian sudah tua, lagian dia juga dipermainkan oleh orang lain" kata Mely yang merasa tidak terlalu senang untuk permainan kali ini.
"Of course. Lagian kan emang harus dibereskan secepat mungkin kan" ucap Mely mendapat anggukan dari Tony.
"Dari info yang aku dapat, Ronald menghilang bak ditelan bumi sekitar tiga tahun lalu".
"Namun anehnya, ada seseorang wanita yang seumuran dengan Ronald datang dan mengaku kalau dia adalah saudara dari Ronald" Tony menceritakan hasil penyelidikan dia tentang Ronald.
"Siapa nama wanita tersebut?" tanya Mely yang penasaran. Ada skenario apa dibalik semua masalah yang ada sekarang ini.
"Tidak ada yang tahu lebih pastinya, cuma dia lebih suka di panggil black rose" kata Tony yang membuat Mely memandanginya. Mereka saling menatap dan berpikir dalam pikiran masing-masing.
"Kemungkinan besar, dia mengetahui tentang identitas kita" ucap Tony kali ini membuat Mely sedikit menegang.
"Apa dia mengetahui tentang kehidupan pribadiku?" tanya Mely sedikit gusar.
"Bisa jadi" kata Tony yang meyakini firasatnya.
__ADS_1
"Aku harus menghubungi suamiku. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa" Mely mulai cemas dengan keselamatan suaminya. Kali ini orang yang mereka hadapi sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang dan mendetail.
"Gimana dengan Amanda?".
"Sudah selesai proses perceraiannya?" tanya Mely yang ikut prihatin tentang Amanda. Suaminya yang begitu kejam dengan tega menjadikan Amanda sapi perah untuk menghidupi dirinya dan juga keluarga suaminya.
"Sudah selesai. Sekarang dia lagi menyembuhkan dirinya dari rasa trauma kekerasan yang dia dapatkan dari pria brengsek itu".
"Darimana kamu tau tentang Amanda?" tanya Tony yang bingung, karena permasalahan Amanda hanya dia dan Adrian yang tahu.
"Ya kali aku nggak tau, bro" meski mereka jarang bertemu dan mengobrol tapi bisa mengetahui kehidupan mereka satu sama lain. Seperti halnya Tony yang hanya ingin melindungi Amanda dari pria brengsek tersebut, tapi malah digosipkan menjalin hubungan dengannya. Bukan namanya Tony yang akan marah hanya dengan gosip receh seperti itu, dia malah akan membuatnya lebih heboh lagi. Apalagi secara terang-terangan dia meminta suami Amanda untuk menceraikan Amanda. Mereka yang tidak tahu tentang Tony akan berpikir kalau dia yang merusak rumah tangga Amanda. Dan Amanda adalah wanita yang tega meninggalkan suaminya demi pria yang lebih mapan darinya. Wanita matre lah yang tercap untuk dirinya.
"Aku mau menghubungi suamiku dulu agar dia hati-hati kalau ada orang asing yang akan menyakitinya" kata Mely.
"Nggak salah, yang ada malah dia curiga".
"Minta saja dia cuti kerja dan menyusul kamu kesini" Tony memberikan ide yang jauh lebih masuk akal.
"Apa bang Adrian nggak masalah?" Mely sedikit khawatir.
"Selesaikan tugasmu lebih dahulu, baru hubungi dia untuk menyusul kamu ke sini".
"Aku akan menjelaskan semua penyelidikan ku kepada Adrian setelah semuanya selesai" kata Tony pergi meninggalkan Mely.
Mely kembali masuk ke dalam ruangan penyekapan pak Rahman, dia sedikit merasa tidak tega untuk melakukan penyiksaan lebih lama. Dia harus menyudahi semuanya dengan segera.
"Aku akan menyudahi semua penderitaan yang anda rasakan saat ini".
"Maafin saya,untuk hal ini. Seandainya anda tidak berbuat jahat, pasti anda akan tetap hidup untuk waktu yang lama" kata Mely sambil mempersiapkan suntikan yang sudah diisi dengan racun untuk disuntikkan ke tubuh pak Rahman.
"Anda bisa minta pengampunan kepada Radit terlebih dahulu, karena anda tidak sempat meminta maaf kepadanya" bisik Mely sambil menyuntikkan racun tersebut di leher pak Rahman.
"Good bye" kata Mely. Sedangkan pak Rahman mulai kejang-kejang, karena dosis racun yang diberikan oleh Mely memang sangat tinggi. Membunuh kurang dari lima menit. Mely pun pergi meninggalkan ruangan setelah memastikan kalau pak Rahman sudah meninggal.
"Done" pesan yang Mely kirimkan kepada Adrian.
__ADS_1
"Hubungi suamimu untuk menyusul kesini" Mely tersenyum bahagia, Tony memang selalu bisa diandalkan.