
Pagi-pagi Kartika pergi untuk mengambil pesanannya untuk persiapan pernikahan Kanaya. Tidak lupa juga dia mengambil baju pesanannya yang sengaja dia pesan khusus di salah satu butik ternama yang terkenal di daerah tersebut. Namun tidak disangka, dia malah bertemu dengan istri baru mantan suaminya atau si pelakor rumah tangganya.
"Duh, yang masih menjanda repot amat pagi-pagi begini" sindirnya. Namun Kartika tidak menggubris hanya fokus dengan keperluannya di butik itu.
"Eh itu bajunya mau saya beli" katanya saat salah satu pegawai membawa baju pesanan Kartika. Dia berniat ingin merebut baju yang akan dibeli oleh Kartika tersebut.
"Maaf bu, baju ini sudah dipesan oleh bu Kartika lebih dahulu" jawabnya sopan dan lembut.
"Saya tidak mau tau, pokoknya baju itu saya yang beli. Saya akan bayar dua kali lipat harganya" katanya dengan sombong. Dia tidak mau kalah dengan Kartika, selama ini dia selalu mencoba untuk menghancurkan hidup Kartika. Namun payahnya, hidup Kartika malah lebih makmur dan berjaya.
"Maaf bu, tetap tidak bisa" kata si pegawai itu ramah.
"Berikan baju itu padaku".
"Cepat" teriaknya.
Kartika langsung menghampiri si pegawai butik dan langsung memegang bajunya. Dia pun menatap ke arah Maya yang sedang terlihat marah.
"Apa kamu memang suka merebut sesuatu yang bukan hakmu? ".
"Apa memang sudah tabiat kamu untuk merampas barang milik orang? "
"Sepertinya dirimu sama saja seperti begal atau perampok yang suka merampas milik orang lain" kata Kartika dengan nada sinis namun penuh dengan sindiran.
"Lancang sekali mulut kotormu itu menyamakan diriku dengan penjahat".
"Asal kamu tau, aku ini wanita terhormat. Jauh lebih terhormat daripada kamu, karena kamu itu hanya golongan wanita rendahan" balasnya tidak terima dengan perkataan Kartika. Maya terlihat begitu sangat emosi dengan perkataan Kartika yang menghina dirinya.
Kini mereka berdua menjadi tontonan para pembeli yang ada di butik tersebut. Kartikan hanya menghela nafas dan berusaha untuk tidak membalas perkataan Maya tadi. Kartika langsung menuju kasir membayar baju pesanannya dan beberapa barang yang sudah dipilihnya tadi.
"Apa kamu takut bersaing denganku wanita murahan?" Maya mulai memancing emosi Kartika lagi.
"Segitu takutnya kah dirimu jadi menghindariku? ".
__ADS_1
"Coba lihat saja dirimu masih melajanh sampai sekarang, tidak laku ya? ".
"Mana ada laki-laki lain yang mau menikahi kamu, selain suamiku. Dia dulu terlalu bodoh dan buta hingga menikahi wanita hina seperti dirimu" kata Maya begitu kasar. Kartika pun langsung membalik badannya, tatapan matanya sungguh tajam. Penuh amarah dan emosi yang begitu memuncak.
"Maaf, jangan samakan diriku yang murahan ini dengan dirimu yang berkelas".
"Bukannya aku tidak laku, tapi aku tidak pernah mau mengobral tubuhku untuk disentuh setiap laki-laki. Harga diriku terlalu tinggi. Bukan berada dibawah ************" kata Kartika yang langsung membuat semua yang mendengar begitu terpana dengan balasan epik dari Kartika. Dia masih mampu berbicara dengan tenang meski terlihat begitu emosi.
"Oh iya, aku lupa. Mungkin karena laku, aku jadi tidak berniat untuk merebut milik orang lain. Laki-laki kan memang menyukai barang gratisan" ucap Kartika kemudian membalik badannya membelakangi Maya.
Maya yang tidak terima berusaha untuk menarik rambut Kartika karena berniat untuk menjambaknya. Tetapi tangannya dihentikan oleh sebuah tangan yang kekar dan mencengkram tangan Maya begitu kuat. Semua orang terkejut dengan pria yang melindungi Kartika.
"Maaf mba, sebaiknya tangan selembut ini jangan anda pakai untuk memukul seseorang" katanya lembut sambil tersenyum. Maya yang memang mudah tergoda dengan pria yang tampan, gagah, maskulin seperti pria dihadapannya ini langsung memerah wajahnya. Di melepaskan tangannya yang di genggan oleh pria tadi dan mencoba untuk menarik perhatiannya.
"Oh maaf saya tidak bermaksud seperti itu. Saya tidak suka dengan wanita yang mengganggu suami saja mas" ucap Maya sambil mengesampingkan rambutnya ke belakang telinga. Kartika pun berbalik dan terkejut karena di belakangnya sudah ada pak guru atau wali kelas Revan. Dia sedikit heran kenapa dia ada disini.
"Mas, kenalin Maya" Maya mulai agresif untuk mencari kesempatan berkenalan dengan pria yang jauh lebih keren dari suaminya sekarang.
"Maaf bukan muhrim" katanya sekali lagi langsung membuat Maya malu. Berbagai cibiran dilontarkan oleh beberapa ibu-ibu yang tengah berbelanja di butik.
"Sayang, kamu sudah selesai belanjanya?" tanyanya kepada Kartika yang kini bingung di ucapkan oleh si pak guru yang ada di hadapannya sekarang ini. Maya yang terkejut laki-laki itu memanggil Kartika dengan sebutan sayang jadi kepo untuk mengetahuinya.
"Siapa wanita ini?" tanya Maya tidak tahu malu, memang sudah putus urat malunya mungkin.
"Dia calon istri saya" katanya membuat Maya sangat terkejut. Apalagi dengan Kartika yang diam membisu tidak bisa berkata apapun.
Maya sangat murka dan merasa dipermalukan oleh Kartika. Selain itu juga dia merasa kesal karena pria itu mengacuhkan dirinya. Tidak menatapnya, tidak tertarik begitu mudah seperti pria lainnya. Dia pun langsung pergi keluar dari butik tersebut tanpa membeli satu barang apapun yang ada disana. Kartika terdiam seolah sedang dihipnotis oleh pak guru tadi. Apa jangan-jangan sebenarnya dia seorang guru penyihir yang telah menyihir Kartika.
"Permisi kenapa anda terdiam? " katanya menepuk bahu Kartika untuk menyadarkannya.
"Eh, apa? ".
"Maaf" ucapya gugup.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja kan? Kamu tidak kenapa-kenapa kan? " tanyanya bernada khawatir
"Uhm... Itu, aku baik-baik saja".
"Terimakasih" kata Kartika.
"Buat apa?" tanyanya yang malah membuat bingung Kartika.
"Sudah membantuku" jawabnya gugup. Terlihat sekali Kartika begitu gugup dengan soroy matanya yang tidak mampu untuk menatap mata si pak guru.
"Saya tidak membantu apapun tadi" katanya malah membuat Kartika jadi tambah bingung.
"Saat kamu bilang calon istrimu, Maya terlihat kesal sekali tadi" ujar Kartika asal.
"Kalau kamu mau jadi calon istriku dengan senang hati" ucapannya membuat hati Kartika berbunga-bunga.
"Jangan bercanda" kata Kartika sedikit tertawa.
"Saya serius" ucapnya dengan tegas.
"Kalau serius, bicara sama ayahku secara langsung" tantang Kartika untuk menguji keseriusan ucapannya.
"Baiklah, aku akan melamar kamu" katanya membuat seisi butik bersorak. Kartika benar-benar merasa malu namun merasa bahagia dalam waktu bersamaan.
"Kitakan belum saling kenal" ujar Kartika.
"Saling mengenal setelah menikah saja" ucapannya terlalu manis didengar oleh Kartika.
"Menikah itu bukan permainan lo" Kartika mencoba untuk menjelaskan agar tidak menganggap enteng tentang menikah.
"InsyaAllah sudah mantap setelah shalat istikharah" kata-katanya telah membuat keyakinan dihati Kartika.
Apakah dia menjadikan diriku sebagai doanya? kata Kartika dalam hati karena merasa begitu sangat bahagia.
__ADS_1