
Ketika Adrian keluar dari ruangan rapat, dia menemui ibu mertuanya yang terlihat pucat dengan tangan memegang sebuah handphone.
"Adrian. Kanaya.... " tunjuknya menyerahkan handphone yang dia pegang. Adrian terkejut membaca pesan yang dikirimkan oleh Revan. Terlihat Hendry dan yang lainnya ikut keluar menghampiri Adrian.
"Ada apa Adrian?" tanya Hendry.
"Anak-anak dalam bahaya" jawab Adrian.
"Kanaya mana ma?" tanya Adrian setelah ingat jikalau mama mertuanya tadi menyebutkan Kanaya.
"Dia langsung pergi ke kamar setelah membaca pesan ini. Kemudian dia pergi" jawab sang mertua dengan nada bergetar.
"Aku akan menyusul mereka" ucap Adrian setelah mendengar sang mertua berbicara.
"Kanaya membawa pistol miliknya" kini mereka semua tegang setelah mendengarkan hal ini. Ini artinya Kanaya berperang dalam kondisinya yang sedang hamil. Ini tidak bisa dibiarkan.
"Jimmy, siapkan semua anak buah sekarang" teriak oma Rachel yang ketika tiba didepan semuanya.
"Ayo cepat, kita harus selamatkan semuanya" ajak oma Rachel, kemudian dia melangkahkan kakinya keluar rumah untuk menyusul menantunya beserta cucunya dan juga cicitnya. Oma Rachel tidak akan memberikan ampun kepada mereka jika membuat celaka mereka semua.
****
Randy terjatuh setelah mendapatkan pukulan dikepalanya. Terasa nyeri, tentu saja pastinya.
"Bagaimana bocah? Jadi tidak usah banyak tingkah. Kamu hanya perlu mengikuti apa yang kami perintahkan maka adikmu akan dilepaskan" ujar pria yang berambut gondrong yang memegang sebuah kayu yang dia gunakan untuk memukul Randy tadi pas dia lengah.
__ADS_1
"Tidak akan pernah" teriak Randy sambil melempar pisau kecil tadi ke arah pria tersebut. Tepat kena pipinya dan langsung mengeluarkan darah.
"Aaaaakh....... " jeritnya setelah pisau itu tertancap.
"Serang dia" perintahnya kepada teman-temannya untuk menghajar Randy. Randy hanya menyeringai, malah dia merasa senang karena tertantang untuk menguji kemampuan yang dia latih selama ini.
"Bugh" sebuah tendangan muncul dari samping Randy, tepat mengenai pria yang ingin memukul Randy dari samping kanan.
"Sepertinya kamu baik-baik saja" sapa Fery yang baru saja datang untuk menolong Randy. Kemudian Mely datang dan berdiri di samping kiri Randy.
"Halo boy. Ternyata kamu memang setangguh mamamu ya".
"Kami hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja. Tentunya ini adalah pertempuranmu. Tapi kami juga ingin sedikit olahraga, karena sudah lama sekali tidak meregangkan otot-otot" Mely melakukan stretching pada tangan dan juga kepalanya.
"Kalau kalian berani maju, maka kalahkan kami semua" ucap Fery melemparkan jaketnya ke tanah.
Tanpa aba-aba musuh menyerang mereka terlebih dahulu. Pukulan setiap pukulan dilayangkan oleha Randy. Namun ternyata tanpa diduga oleh Fery dan Mely, Randy begitu ahli dalam ilmu bela diri. Dia memang bukan bocah biasa. Dia begitu cekat dan tangkas dalam menghindari serangan musuh serta menyerang mereka. Dalam sekejap Randy bisa mengalahkan tiga orang sekaligus. Fery memberikan tepuk tangan setelah dia memukul salah satu dari mereka sampai pingsan. Kemudian memberikan dua jempolnya untuk mengapresiasi Randy.
Kurang dari sepuluh menit, semuanya kini tergeletak tak berdaya di tanah. Menakjubkan, tentu saja. Para ksatria Adrian ini sudah tidak mungkin lagi diragukan kemampuannya. Fery pun tak berhenti memuji sang istri, dia begitu bangga mempunyai istri seperti Mely. Dia begitu sangat cantik sekali ketika sedang berkelahi. Setiap gerakan yang di lakukan oleh Mely, terlihat begitu sangat erotis dan menggairahkan dirinya.
"Hebat, aku tidak menyangka dia sehebat ini. Kali ini aku salah dalam memperkirakan hal ini. Aku pikir akan sangat mudah untuk melumpuhkanmu anak kecil. Ternyata kamu cabe rawit juga ya. Adrian pasti sangat bangga memiliki putra sambung sepertimu" ucap seseorang yang berjalan ke arah mereka.
"Dia" ucap Randy menggantungkan perkataannya. Fery dan Melu seketika langsung menoleh ke arah Randy yang seperti mengenal Fredy.
"Apa maumu?" tanya Randy dengan tatapan mata yang menantang.
__ADS_1
"Mauku, kamu tanya mauku. Baiklah, yang aku mau mamamu dan juga papa sambungmu. Tapi sayang, mereka menginginkan kamu dan juga adik-adikmu. Menurut mereka kalau kalian itu adalah ancaman mereka" jawab Fredy.
"Brengsek kamu Fredy. Apa kamu yang membunuh opa Adam?" tanya Mely dengan penuh emosi. Sejak dari kejadian Tony yang diserang kembali namun untungnya suaminya datang menolongnya untuk yang kedua kalinya.
"Kalau aku yang membunuhnya kenapa? Apakah kamu ingin membalas kan dendamnya? Belum saatnya Blackrose. Tunggu saja tanggal mainnya".
"Ternyata kamu cukup tangguh juga untuk ditaklukkan sebagai seorang wanita. Benar-benar algojo Adrian kamu itu. Aku mengapresiasi kemampuanmu yang memang sudah tidak diragukan lagi. Untukmu" tunjuknya kepada Fery.
"Kenapa kamu selalu datang disaat yang penting? Kenapa kamu selalu suka ikut campur urusan orang lain? Apakah pukulan di pelabuhan itu masih kurang untuk memberikanmu pelajaran? Bagaimana rasanya, melihat temanmu mati depan matamu?" Fery seperti manusia berwujud iblis. Tatapan kejam dan mengintimidasi serta tawa yang mengerikan itu akan membuat orang biasa pasti langsung ketakutan. Namun hal berbeda dengan mereka bertiga. Tapi, tawa Fery yang mengerikan itu mampu membuat bulu kuduk mereka merinding.
"Alex".
"Sialan, rupanya memang kamu orangnya" Fery ingin menyerangnya.
"Dooor" satu tembakan dilepaskan olehnya, tembakan itu mengenai bahunya. Seandainya Fery tidak secara refleks menghindar, mungkin kepalanya yang kena. Mungkin kepala Fery lah yang diincar olehnya.
"Sampaikan salamku kepada Adrian. Aku akan datang menemuinya segera. Serta katakan pada Tony, maaf sudah mengecewakan dirinya yang masih bisa selamat dua kali dari kematiannya. Mungkin dia memiliki tujuh nyawa".
"Akan kau pastikan untuk pertemuan kita berikutnya akan jauh lebih baik lagi, aku harap aku tidak mengecewakan kalian. Jadi aku juga meminta agar kalian tidak mengecewakan aku. See you" Fredy pun berlari dan menghilangkan di balik bangku.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Mely khawatir.
"Aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir hanya satu tembakan kecil ini" jawab Fery.
"Ayo sebaiknya kita keluar, karena mamamu sudah menunggumu disana" ujar Mely sambil merangkul Fery padahal dia sudah mengatakan kalau dia baik-baik saja.
__ADS_1
"Kami bangga padamu boy, kamu memang memiliki sifat dan jiwa pemimpin seperti Adrian" kata Fery menyanjung Randy.
"Terimakasih untuk bantuan kalian tadi, saya rasa tadi tidak yakin hisa mengalahkan mereka jika sendirian. Menurut saya mereka tadi lumayan kuat" kata Randy yang Mely dan Fery tahu kalau dia saat ini sedang merendah atas kehebatannya.