
Terkadang kenyamanan bukan atas dasar rasa cinta. Nyaman itu sendiri tercipta karena kita pernah bersama. Melewati masa kecil yang indah, meski pada akhirnya berakhir begitu saja.
Aku yang menunggu. Melewati detik demi detik, menit berganti, hari ke hari. Hingga pada masa ini kembali bertemu dengan cerita yang berbeda.
Bukan soal cinta yang saat ini ingin aku ceritakan. Melainkan soal kenyamanan dan juga ketakutan. Takut jika dia pergi dan menjalani kehidupan dengan wanita lain.
Bukan karena aku tidak rela. Aku senang bahkan sangat bahagia jika melihatnya bersama wanita lain yang mampu membahagiakan dia dan keluarganya. Namun, terlupakan oleh sahabat itu ... Rasanya menyiksa.
Yah, meski memang pada akhirnya akan seperti itu.
“Janji sama Kakak.” Kak Tomy mengangkat jari kelingkingnya.
“Untuk apa?”
“Untuk tidak saling melupakan jika kita sudah memiliki kehidupan masing-masing.”
Aku tersenyum. Entah mengapa, merasa jika Kak Tomy seperti bisa membaca pikiran. Mungkin hanya kebetulan saja.
Aku melingkarkan jari kelingking. Pertanda sebuah janji yang kita ucapkan kembali. Meski ingatan berputar pada saat itu.
Dimana kejadian yang sama, Kak Tomy mengucap janji lalu pergi tanpa kabar. Membiarkan aku sendiri menunggu.
“Apa setelah ini ... Kak Tomy akan pergi?”
Dia tersenyum, lalu menatap lurus ke depan. Menikmati pemandangan bunga bermekaran.
“Jika Kakak menghilang, kamu bisa mencarinya. Untuk apa Kakak pergi?”
“Ya, siapa tahu Kakak akan pergi seperti dulu. Aku ... Paling tidak suka orang mengucap janji.”
Kak Tomy menghela napas. Wajahnya terlihat sedikit berbeda. Ada penyesalan yang terlihat jelas dari mata itu.
“Maaf ....”
Bukan kata maaf yang aku inginkan. Melainkan .... Ah, sudahlah. Memang sulit untuk mengungkapkannya. Berbagai pertanyaan dan juga pernyataan di hati ingin aku keluarkan. Namun, kubiarkan semua itu melayang di udara.
“Hahaha, nggak apa-apa. Sekarang bukankah kita bertemu kembali?”
Kak Tomy ikut tersenyum. Wajah merasa bersalah itu telah menghilangkan. Berganti rasa lega yang terukir jelas dalam senyum menawan.
***
Kadang aku berpikir jika rasa nyaman itu akan berganti cinta. Namun, tidak ada salah satu yang mau mengaku. Hanya hati yang berbicara, meski nyatanya selalu bersama. Terlihat seperti sepasang kekasih dimabuk asmara.
Bukankah ini hal yang lucu? Kembali bertemu saja rasanya sudah bahagia. Mengapa aku harus meminta hatinya juga?
Aku sendiri tidak paham apa itu cinta. Debaran yang selalu datang, ketika tawa tersembul dan sentuhan demi sentuhan yang dia lakukan. Memberikan arti tersendiri.
__ADS_1
Mungkin ini hanya rasa rindu. Rindu terhadap seorang adik kepada Kakaknya yang telah lama tidak bertemu.
Ya, untuk saat ini aku lebih memilih rasa nyaman. Daripada harus merasakan cinta yang akan berujung menyakitkan.
“Kalau kamu memiliki pacar, katakan pada Kakak. Lalu kenalkan dia.”
“Begitu juga sebaliknya. Jika Kakak punya pacar, kenalkan pada adiknya.”
Hanya sebatas inilah hubungan kami. Tidak ada perasaan apapun selain kakak dan adik.
Seharusnya aku paham dan bisa menata hati agar rasa nyaman itu tidak melewati batas.
Masih teringat jelas ketika aku membaca sebuah novel dari El Nomy. Entah nyata atau fiksi. Mencintai seseorang tapi tidak terbalaskan.
Ah, mengingat itu aku menjadi rindu padanya. Sejak bertemu Kak Tomy aku jarang chatting sama dia.
Aku meraih ponsel di meja, lalu membuka aplikasi Facebook. Status pertama yang muncul dari dia yang aku rindukan.
Jatuh cinta itu benar-benar menyiksa.
Aku tersenyum. Benar dugaanku. Lelaki ini sedang jatuh cinta. Melihat begitu banyak komentar, tak jadi aku menuliskan komentar. Takut jika tidak terbalaskan. Memilih mengirim pesan lebih baik.
Chatt beberapa hari yang lalu masih tersimpan. Rupanya dia sama-sama sibuk. Biasanya jika aku tidak ada kabar, selalu mengirim pesan terlebih dahulu. Kali ini ada yang berbeda.
[Hay, apa kabar]
Kecewa. Aku memilih masuk ke grup kepenulisan, lalu mencari nama dia. Ada cerita baru rupanya. Sudah lima episode dia posting. Ketinggalan aku.
Baru saja akan membaca, notif pesan muncul.
Dari ... Dia.
El Nomy.
[Baik. Kemana aja?]
[Sibuk jalan-jalan. Hahaha]
Dia membalas emot tertawa. Lalu tidak ada lagi pesan.
Kemana dia?
Sulit memang jika dekat dengan orang melalui dunia nyata. Ingin meminta nomor ponselnya, tapi aku tidak berani. Begitu juga dengan dia yang tidak kunjung meminta nomorku. Padahal kami sudah lama berkenalan.
Lagi dia mengirim pesan saat aku baru separo membaca ceritanya.
[Kangen.]
__ADS_1
Ada rasa aneh di sini. Antara yakin dan juga tidak percaya. Dia salah kirim pesan, atau memang dia mengirim pesan untukku. Bingung juga balesnya apa.
[Maksudnya?]
Pura-pura bego mungkin boleh.
[Kangen. Tau rasanya kangen sama seseorang? Ya, begitu yang aku rasain. Kangen sama kamu.]
Ah, rupanya benar itu untukku. Dia rindu.
Itu berarti ... Kita merasakan hal yang sama. Entah rindu apa yang aku rasakan. Rindu karena jarang chattingan atau rindu di gombalin.
[Ya aku tahu. Kalau gitu sama.]
[Kamu juga rindu?]
Aku tidak membalasnya. Lalu dia mengirim nomor WhatsApp. Menyuruhku untuk menghubunginya.
Chattingan kami berlanjut pesan WhatsApp. Hingga larut malam. Banyak hal yang kita bahas selama menghilang tanpa kabar.
Kalau aku bilang wanita itu adalah kamu, apa kamu mau menerima aku?
Aku hanya membaca dan terus membacanya kembali. Apa maksudnya?
Darimana dia bisa jatuh cinta pada orang yang belum pernah dia temui. Itu mustahil. Sedangkan aku hanya merasa nyaman karena dia lelaki yang enak di ajak bercanda.
Ah, terkadang cinta itu aneh.
Kok nggak jawab?
Layar benda pipih itu menyala kembali. Entah jawaban apa yang harus aku ketik. Semua terasa seperti mendadak. Tidak ada rasa apapun di hati ini, selain rasa kagum terhadap karyanya.
*Kamu sedang buat novel lagi? Jangan-jangan ini hanya bercanda. Nggak lucu.
Hahaha, aku hanya bingung saja.
Bingung kenapa*?
Sudahlah lupakan... Sudah malam lebih baik kita tidur saja.
Chattingan kami berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengisi kepala. Hari ini El Nomy benar-benar berbeda. Apakah cinta bisa membuat orang terlihat aneh?
Apakah cinta bisa mengubah sikap orang menjadi berbeda?
Mungkin dia sedang jatuh cinta dan sulit untuk mengungkapkannya. Meski dia seorang pujangga yang pandai merangkai kata, di dunia nyata dia bukan seseorang itu.
Maya akan terlihat lebih indah, berbeda dengan nyata yang sebenarnya begitu sulit.
__ADS_1
To be continue ...