
Adrian melepaskan jas yang dia pakai, kemudian menggulung baju lengan panjangnya. Dia bersiap ingin menghajar Tora dan juga si kepala plontos tadi. Dia tidak terima jika harus dibilang takut istri, yang benar itu adalah dia sayang istri.
"Sudah, kenapa kamu yang mau berkelahi sama mereka? Apa kamu juga pengen jadi petarung ya?" teriak Kanaya dengan mata yang melotot tangan di pinggang. Menatap sangar ke arah Adrian. Adrian pun langsung menghampiri Kanaya.
"Aku nggak pengen dibilang suami takut istri sayang, yang benar itu bukan takut sama istri. Tapi sayang sama istri" colek Adrian di pipi Kanaya.
"Suami itu mengalah bukan karena merasa takut, tapi menghargai istri yang sangat sangat disayang" Adrian menatap wajah Kanaya penuh manja. Sangat berbeda sekali saat tadi dia bersikap tegas kepada Tora.
Fery yang melihatnya pun seperti terkejut, tidak pernah dia mendapati tingkah Adrian bak anak kecil yang tengah bermanja kepada orang tuanya. Ternyata tak jauh berbeda dengan dirinya ketika bermanja kepada Mely. Namun, sekarang Mely yang jauh lebih manja kepada dirinya. Sisi powerful womennya sedikit memudar. Mungkin efek dari kehamilannya. Tapi Fery menyukainya, dia merasa sangat dibutuhkan oleh Mely.
"Aku tidak takutkan sama kamu sayang?" tanya Adrian begitu polosnya kepada Kanaya. Kepala Kanaya langsung mendekat ke wajah Adrian. Dia melihat ke dalam mata sang suami.
"Kenapa dia jadi bertingkah seperti ini?" tanya Kanaya bingung.
"Cup" sebuah ciuman mendarat di bibir milik Kanaya.
"Oh so sweet" teriak anak buah Chandra yang duduk berjejer di pinggiran tembok.
"Romantis sekali ternyata pak Adrian" puji mereka. Adrian pun merasa bangga sebagai seorang laki-laki dan juga suami. Mata Kanaya langsung melotot.
"Malu-maluin. Kayak anak ABG saja" ucapnya. Padahal hatinya berbunga-bunga karena Adrian menunjukkan sikap manisnya didepan orang lain.
"Hei Chandra, apa alasan kamu mau meminta wilayah barat kepada Andre?" tanya Adrian kepada Chandra yang masih mewek.
"Saya cuma mau mengambil alih bisnis orang tang bernama Alfian disana" jawaban Chandra langsung mendapatkan perhatian penuh dari Kanaya tentunya. Sebab, bapa nya dikenal dengan nama Alfian disini.
"Bisnis apa yang orang itu lakukan?" tanya Kanaya yang merespon dengan cepat perkataan Chandra.
"Bisnis narkoba" jawab Chandra.
"Sore ini kalau tidak salah transaksinya" ujar Chandra dengan semangat. Dia berharap, jika mengatakan yang sebenarnya dia akan diampuni. Meski tidak bisa memiliki wilayah bagian barat keluarga Aston.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Bapaku tidak seperti itu" Kanaya sedikit syok mendengar bisnis yang dijalankan oleh pria yang bernama Alfian tersebut.
"Kita masih belum tau kebenarannya. Jadi jangan berprasangka buruk dulu" ucap Adrian menenangkan istrinya. Adrian langsung mengeluarkan handphonenya dan memanggil nomer milik mertuanya.
"Halo Adrian, ada apa?" tanya bapa Kanaya.
"Bapa lagi dimana?" tanya balik Adrian.
"Oh, ini lagi dipelabuhan wilayah barat nungguin seseorang. Biasa, ada barang masuk. Dia langganan lama di keluarga kita juga. Biasanya kan yang handle dia Tony. Tapi untuk hari ini biar bapa yang mengurusnya. Sekalian berbincang-bincang dengannya. Mau temu kangen sebelum pulang ke Kalimantan" jawab Alfian santai. Dari perkataannya tersebut terdengar biasa dan hal yang wajar. Tapi bagi mereka yang sudah mendapatkan klue dari Chandra tadi sudah bisa menebak kalau itu urusan transaksi narkoba.
"Ya sudah pa, kalau begitu Adrian tutup dulu telponnya. Kalau bapa sibuk biar nanti saja dirumah kita ngobrolnya" jawab Adrian sesantai biasanya. Panggilan singkat itu pun berakhir. Wajah Kanaya terlihat pucat, dia tidak percaya jika bapanya melakukan transaksi ilegal tersebut.
"Aku yakin, bapaku bukan orang seperti itu" gumam Kanaya.
"Sebaiknya kita segera kesana untuk membuktikannya secara langsung" usul Fery diangguki oleh Adrian.
"Kamu, jika kamu berbohong. Maka nyawamu taruhannya" ancam Adrian kepada Chandra. Mimik muka Chandra terlihat begitu sangat ketakutan. Dia bingung mau berkomentar apa. Tanpa disadari olehnya, tangannya sudah ditarik oleh Tora untuk mengikuti langkah kaki Adrian, Kanaya dan juga Fery yang sudah berjalan keluar lebih dulu dari kamar panas tersebut.
Kanaya tak kuasa menahan cemas dalam hatinya, dia sangat yakin kalau bapanya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Di Kalimantan saja, bapanya orang yang paling gencar membasmi para pengedar narkoba. Jadi tidak mungkin kalau bapanya melakukan transaksi barang haram tersebut.
"Bapa?" teriak Kanaya saat melihat Alfian tengah berjabat tangan dengan seorang pria seumuran bapanya. Ditangan kiri Alfian, dia tengah memegang sebuah paket terbungkus plastik hitam. Mungkinkah?
"Kanaya" jawab Alfian terkejut melihat kedatangan anak dan menantunya.
"Apa yang bapa lakukan?".
"Kenapa bapa seperti ini? Kenapa bapa jadi pengedar sekarang?" tanya Kanaya langsung tanpa basa basi. Dia tidak kuasa menahan rasa kecewa kepada bapanya saat ini. Adrian hanya bisa berdiri mematung melihat istrinya meluapkan rasa kesal dan kecewanya kepada sang mertua.
"Maksud kamu apa Nay?" tanya Alfian bingung.
"Bapa sedang melakukan transaksi narkoba kan sekarang".
__ADS_1
"Jawab Kanaya dengan jujur pa" teriak Kanaya sambil memukuli dada bapanya. Melihat tingkah anaknya seperti ini membuat Alfian memeluk nya erat.
"Ma'afin bapa nak" jawab Alfian langsung membuat tangis Kanaya menjadi semakin pecah.
"Bapa jahat, bapa jahat" teriak Kanaya.
Setelah beberapa saat Alfian kemudian tertawa terbahak-bahak. Dia tidak sanggup menahan tawanya lagi. Hal ini membuat semuanya menjadi terkejut dan tambah bingung. Alfian berulang kali mengusap kepala Kanaya sambil tertawa.
"Dasar anak konyol. Siapa yang lagi transaksi narkoba?".
"Kenalin, ini om David. Dia teman lama bapa, dia ini bisnis barang-barang import second".
"Ini nih, salah satu barang pesanan bapa buat kamu" Alfian memberikan paketan yang berbungkus plastik hitam tersebut kepada Kanaya
"Sorry ya, anak buah saya membungkusnya begitu. Dia pikir barang itu mau dikirim jadi dibungkus seperti itu. Jadi tidak terlihat menarik bungkusannya.Tapi om jamin, isi dalam bungkusan tersebut kamu akan sangat menyukainya" jawab pria yang bernama David temannya bapa Kanaya tadi.
"Apa ini pa?" tanya Kanaya yang jadi malu dan bingung dengan situasi canggung saat ini. Sedangkan Adrian menatap tajam ke arah Chandra. Dia seperti hendak memakan Chandra karena telah memberikan info yang salah.
"Sumpah, beneran ada yang transaksi narkoba disini. Namanya memang Alfian" Chandra membela dirinya. Dia takut diamuk oleh Adrian. Dia tidak ingin mati konyol, berulang kali Chandra merutuki kesalahannya yang mencoba untuk mengusik Andre malah berurusan dengan Adrian. Alfian yang mendengar hal itu langsung menghampiri Chandra.
"Maksud kamu apa?" tanya Alfian.
"Saya dapat info, kalau hari ini akan ada transaksi narkoba disini om. Orang yang biasa melakukan transaksi itu namanya Alfian" jawab Chandra lugas. Kini bapa Kanaya mengerti dengan sikap Kanaya tadi. Mungkin karena ini, Kanaya menuduhnya seperti itu.
"Disini ada tiga transaksi yang akan berlangsung. Satu transaksi saya bersama David saat ini. Dia adalah pemasok barang-barang import bekas. Kedua, transaksi eksport arang yang lagi diurus oleh Hadi sekarang. Terus yang ketiga transaksi daging import dari Australia yang sedang diurus oleh Fian" Alfian pun menjelaskan.
"Bukankah nama lengkap Fian, Alfian Hendarto" Tora seketika langsung menyahut. Dia sangat hapal nama-nama anak buah Adrian ataupun orang-orang yang bekerja di keluarga Aston. Itulah kelebihan dari seorang Tora. Dia sangat mudah menghapal nama dan wajah seseorang meski hanya sekali bertemu.
"Jangan-jangan dia yang" Adrian menggantungkan kalimatnya.
"Oh sial, anak itu" Alfian langsung berlari ke arah Kanan menuju gudang di pelabuhan. Adrian dan yang lainnya pun ikut menyusul Alfian yang tengah berlari kencang.
__ADS_1
"Fian" teriak bapa Kanaya saat membuka pintu gudang. Terlihat disana ada beberapa orang yang tengah melakukan transaksi. Berjejer paketan bubuk putih diatas sebuah meja.
"Alfian" kini Alfian teriak Alfian.