
Mey Larasati, itulah namaku. Mama yang memberikan nama itu. Ada cerita di balik nama belakangku, Larasati. Perpaduan antara nama Papa dan Mama. Laras dan Sakti. Kisah cinta yang benar-benar membuat orang terharu dan iri. Benar-benar cinta sejati yang selalu menemani hingga akhir hayat.
Mama telah meninggal saat usiaku baru satu tahun. Kecelakaan mobil yang menimpa Mama saat itu telah merenggut nyawanya. Papa sangat terpukul, dan aku sama sekali belum pernah melihat bagaimana wajah mama, karena masih sangat kecil.
Hanya foto yang selalu aku pandangi. Setiap malam aku selalu bercerita tentang semua kejadian yang aku alami. Meski raga ini tak bisa memeluknya, tapi aku selalu merasa tenang setelah meluapkan seluruh isi hati pada foto Mama. Aku yakin, beliau melihat aku di sana.
“Ma, anakmu sudah besar sekarang, dia cantik sepertimu.”Begitu kata Papa setiap datang ke makam Mama.
Setetes bening itu selalu membasahi wajahnya. Rasa cinta yang teramat dalam, membuat Papa masih setia sampai sekarang. Aku tahu Papa kesepian, tapi dia tidak ingin menikah lagi karena tidak ingin menyakiti hati Mama meski telah berada di dunia yang berbeda.
Suatu hari nanti aku pun ingin mendapatkan lelaki seperti Papa. Mama dan Papa menjalin kisah cinta sejak SMP. Banyak hal yang telah mereka lalui hingga bisa bersama-sama dalam satu atap.
Kisah cinta mereka jika di ceritakan akan menjadi satu novel dengan halaman yang tebal. Andai saja teman kecilku tidak pindah keluar kota, mungkin sekarang aku telah bersamanya.
Hanya kenangan yang bisa aku ingat ketika rindu itu datang. Melihat fotonya dan memeluk boneka darinya.
“Dia tidak akan kembali, kau terlalu bodoh percaya dengan janji yang masih anak-anak,” kata sahabatku ketika melihat aku memeluk foto lelaki itu.
“Mey, seharusnya kau terima saja cinta Dion. Kurang apa lagi dia?”
Novi, teman sekelas sekaligus sahabatku. Dia selalu cerewet soal cinta. Terkadang seperti seorang ibu bagiku karena kecerewetannya. Aku menyukai itu pertanda dia sangat sayang padaku.
“Kalau dia sudah menikah, apa kau akan tetap menunggunya?”
“Entahlah, hanya pertemuan yang aku inginkan. Lalu menanyakan kenapa dia tidak memberiku kabar.”
“Berjanjilah padaku, ajak aku ketika bertemu dengannya, lalu ambil keputusan setelah itu.”
“Iya, bawel.”
Percakapan sebelum aku kembali ke Indonesia. Seharusnya kami pulang bersama, tapi Novi sedang ada urusan penting dengan saudaranya.
Di bandara kami berpisah dan suatu hari nanti akan bertemu kembali.
“Satu Minggu lagi aku pulang. Berjanjilah untuk selalu memberiku kabar,” ucap Novi.
“Iya, bawel.”
__ADS_1
“Jika sudah sampai di rumah kabari aku, oke?”
“Iya, iya. Bawel banget sih.”
Novi memutar kedua bola matanya. Dia memang selalu kesal jika aku hanya menjawab iya atau tidak ketika dia memberi pesan atau nasehat.
“Aku balik dulu, jangan lupa pesanku. Baik-baik di kota kelahiran,” ucap Novi sebelum meninggalkanku di bandara.
Kami berpelukan dan cipika cipiki. Lalu punggung gadis berambut ikal itu menghilang dari hadapan. Kini aku sendiri, menunggu keberangkatan pesawat.
.
Bandara Soekarno Hatta.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan beberapa jam aku kembali ke Indonesia. Tak sabar menemui Papa yang katanya akan menjemput. Meski sering mengunjungiku di Canada, aku tetap merindukan kehadirannya.
Selesai mengambil koper, aku bergegas keluar bandara dengan langkah tergesa. Ingin segera cepat bertemu Papa tentunya.
Namun, semangat itu pudar ketika sosok yang kutunggu memberikan kabar bahwa tidak bisa menjemput. Dia menyuruh seseorang untuk mengantarkan aku pulang ke rumah.
Entah siapa yang menjemputku, bagaimana rupa dan wujudnya. Lelaki atau perempuan, Papa tidak memberitahunya.
Supirkah? Sepertinya bukan, karena di rumah hanya ada satu supir dan sedang mengantar Papa meeting.
Lalu siapa? Bagaimana aku bertemu dengannya, jika nomor Papa saja tidak bisa di hubungi. Sedang sibuk dan tinggalkan pesan, kata operatornya.
Aku mendengkus kesal, mengedarkan pandangan seperti anak kehilangan orangtuanya. Setidaknya dia membawa kertas dan menuliskan namaku agar mudah di cari, atau meminta nomorku pada Papa. Bodohnya lagi aku tidak bertanya siapa dan meminta nomor ponselnya pada Papa.
Jadi ini salah siapa?
Mungkin lebih baik aku memanggil taksi daripada harus menunggu seseorang yang tidak jelas wujudnya. Namun, ada seseorang yang menepuk pundak hingga langkahku terhenti.
Aku menoleh dan setengah terkejut. Melihat siapa yang berada di hadapan saat ini. Lelaki tampan dengan jaket kulit berwarna hitam dan kacamata hitam yang bertengger di hidung.
Kulitnya putih dan tinggi kira-kira 178cm, karena aku harus mendongak untuk menatapnya. Seketika pandanganku silau saat lelaki itu membuka kacamatanya. Senyum menawan mampu mengalihkan duniaku.
“Kamu Mey, 'kan?” tanya Lelaki tampan yang lebih mirip oppa-oppa Korea.
__ADS_1
“Iya, namaku memang Mey. Tapi maaf anda siapa?” tanyaku bingung. Mungkin saat ini wajahku terlihat memalukan.
Disisi lain aku sedang mengagumi ketampanannya, tapi di sisi lain aku teringat lelaki di masa kecilku.
Lelaki itu tersenyum lagi, lalu mengulurkan tangannya. Eh, mau ngajak kenalan sepertinya.
“Ayo pulang, aku di suruh Pak Ardi menjemputmu.”
Rupanya bukan ngajak kenalan, tapi ngajak pulang. Yah, kok pulang? Kan aku masih pengen sama dia. Ini sih jauh lebih cakep dari si Dion—lelaki yang tiada lelah—mengejar cintaku.
Oh, ya aku lupa. Ardi adalah nama Papaku. Ardi Sakti Pradana. Sakti adalah nama panggilan kesayangan sang ibu atau nenekku juga Mama.
“Eh, tunggu, kau ini siapa sebenarnya?”
Aku melepaskan tangannya yang menggengam tanganku. Seperti anak kecil saja yang harus di gandeng saat akan menyebrang. Sebel juga sebenarnya, karena dia bukannya membantu membawakan koper malah menarik tanganku.
Lelaki itu menghela napas. Lalu memakai lagi kacamatanya. Tanpa menjawab pertanyaan, dia memilih membawa koper dan melirik ke arahku. Memberi isyarat agar aku mengikuti langkahnya.
Hal ini mengingatkan pada teman kecilku yang hilang. Benarkah lelaki itu dia? Tapi mana mungkin. Dibandingkan saat kecil saja jauh berbeda. Tidak ada kemiripannya sama sekali.
Langkah ini terhenti tepat di depan mobil Lamborghini. Selain tampan ternyata tajir juga. Mungkin.
“Kau siapa sih sebenarnya?” tanyaku lagi saat lelaki itu selesai memasukan koperku di bagasi.
“Nanti saja nanyanya. Sekarang aku harus cepat-cepat mengantarmu,” jawabnya yang langsung memaksaku untuk masuk ke mobilnya.
Tampan sih, tapi sayangnya nyebelin. Mungkin dia supir baru Papa, tapi dari penampilannya bukan supir. Kalau temen SMP nggak mungkin, karena nggak ada yang tahu tentang kepulanganku. Bahkan aku tidak memiliki temen sekeren dia. Temen SMA juga nggak mungkin banget, karena sekolahku dulu jauh di sana.
Lalu siapa dia?
Tentu saja lelaki aneh yang setiap di tanya identitasnya selalu menjawab, “Kamu nggak capek kepoin saya?”
Next ...
Coba tebak kira-kira siapa ya.
Ayo berikan aku kritik dan saran ya.
__ADS_1