
"Kita akan mengurus jenazah Ivanka, tapi sebelumnya anak Ivanka harus melihat ibunya untuk terakhir kalinya" ucap Adrian membelai lembut kepala Kanaya yang disandarkan di dadanya. Terlihat Kanaya merasa terguncang, karena Ivanka meninggal demi menyelamatkan dirinya dan bayi yang ada didalam perutnya. Seandainya dia lebih waspada mungkin hal ini tidak terjadi. Namun takdir berkata memang ini waktunya kita tidak bisa mencegah.
"Dimana anak Ivanka?" tanya Kanaya perihal keberadaan Ryan.
"Dia bersama Dio, aku suruh Dio pulang lebih awal hari ini karena takut mereka mengalami hal seperti ini. Diserang" Adrian mencemaskan hal seperti ini sebelumnya. Jadi dia lebih mewaspadai terlebih dahulu.
"Tapi jauh lebih beresiko jika mereka tau rumah Dio, mungkin mereka akan pergi ke sana" Kanaya cemas, apalagi Ades juga ada disana keputusan Adrian bukan hal yang terbaik untuk keselamatan Ryan. Dia sangat mencemaskan mereka sekarang.
"Kamu jangan khawatir, aku sudah memerintahkan beberapa anak buah untuk menjaga dan mengawasi kediaman Dio" Adrian dapat membaca kepanikan yang terlihat dari wajah istrinya itu. Dia terlihat sangat menggemaskan ketika sedang panik. Sangat jarang dia melihat ekspresi Kanaya yang menurutnya sangat memukau jika sedang panik, jantungnya menjadi berdegup kencang. Seakan kini dia telah jatuh cinta lagi kepada Kanaya untuk kesekian kalinya.
"Kita akan mengurus jenazah Ivanka di rumahku, aku akan mempersiapkan semuanya. Cobalah berbicara kepada Ades dan Dio untuk mengantar Ryan" Adrian mengecup dahi Kanaya dan Kanaya pun menganggukkan kepalanya. Dia tidak bisa membayangkan reaksi sedih dari Ryan kehilangan mamanya. Sungguh Kanaya tak mampu membayangkannya. Masih teringat jelas wajah-wajah sedih anaknya saat kehilangan papanya dahulu.
Kanaya menghembuskan nafas begitu berat, perasaan bersalah dan juga sedih menghiasi hatinya saat ini. Bagaimana dia akan menjelaskan perihal ini kepada Ades? Apalagi untuk menjelaskan kepada Ryan nantinya. Kanaya mengambil handphone miliknya dari dalam tas jinjing berwarna coklat yang dia bawa tadi. Kanaya terkejut melihat lima panggilan tak terjawab dari Ades. Kini perasaan khawatir yang mendera. Dia takut Ades kenapa-kenapa. Panggilan pertama Kanaya langsung di angkat oleh Ades.
"Ades kamu baik-baik sajakan? Kamu tidak diserangkan?" beberapa pertanyaan yang langsung dilontarkan oleh Kanaya membuat Ades yang mendengarnya merasa bingung.
__ADS_1
"Maksud kak Kanaya apa? Aku baik-baik saja kok" jawab Ades dengan nada yang bingung.
"Syukurlah, aku takut kalau kalian diserang oleh orang-orang yang menyerang Ivanka tadi".
"Aku cemas karena melihat panggilan dari kamu yang begitu banyak? Memangnya ada apa?" saking paniknya Kanaya langsung memberikan pertanyaan yang banyak kepada Ades.
"Oh ya, aku lupa. Kamu sama Dio nanti kesini ya bawa Ryan. Ryan harus melihat mamanya untuk terakhir kalinya" ucap Kanaya dengan nada bergetar pada kata terakhirnya.
Ades sedikit terkejut, namun dia tidak terlalu mengerti maksud Kanaya.
"Ivanka sudah meninggal Des. Dia meninggal karena menyelamatkan aku" pecah tangis Kanaya pada panggilan suara yang sedang berlangsung dengan Ades. Ades terkejut dan terpaku setelah mendengarnya. Seakan disambar petir dirinya tak mampu berkata-kata lagi. Sedangkan Kanaya terus menangis.
Dio melihat wajah Ades yang memucat terkejut, ekspresi istrinya seakan menunjukkan kalau dia tidak baik-baik saja. Dia tahu sebenarnya Ades merasa marah dengan kedatangan Ryan. Namun dia tidak ingin menyinggung dan menyulut emosi Ades. Apalagi kondisinya saat ini sedang hamil, Dio berusaha untuk membuatnya tidak terbebani dengan pikirannya.
"Kenapa sayang?" tanya Dio yang sedang menemani Ryan bermain. Meski masih kecil, dia mengerti kalau Ades tidak menyukai kehadirannya, namun dia tidak peduli yang penting dia bersama dengan ayahnya. Pria yang dia lihat fotonya ada di handphone mamanya yang dia yakin itulah ayahnya.
__ADS_1
Ades tidak bisa mengatakannya, apalagi dia melihat mata kecil milik Ryan yang beradu tatap dengan dirinya. Tatapan yang polos dari anak kecil yang tak berdosa. Tanpa dia sadari buliran bening mengalir begitu saja di pipinya. Ades berjalan ke arah Ryan, Dio berusaha memanggil Ades dan ingin menyadarkannya. Ades tidak menyahut, dipanggil oleh Dio berulang kali. Ades langsung memeluk Ryan dan menangis dalam tubuh kecilnya. Kini dia yang menangis tergugu dan menangis kencang sekali. Ades merasa bersalah dengan Ryan karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kehadirannya disini. Dia mengira Ryan sengaja dititipkan disini untuk merusak rumah tangganya, dia sudah menuduh Adrian yang bukan-bukan.
Tangan kecil itu hanya menepuk belakang badan Ades, Ryan yang tidak tahu apa-apa hanya mengira Ades memeluknya biasa saja. Tanpa mengerti maksud dari pelukan Ades, namun dia merasa kehangatan yang biasa dia dapatkan dari mamanya. Pelukan yang selalu membuatnya merasa tenang dan bahagia. Dia berpikir seandainya dia memiliki orang tua lengkap, seperti Ades dan Dio dia merasa pasti sangat bahagia. Namun cuma memiliki mamanya saja dia sudah cukup bahagia. Meski masih kecil, namun Ryan pemikirannya jauh lebih dewasa. Mungkin karena dia hanya hidup berdua bersama mamanya saja. Jadi kemandirian diri sudah terbentuk dari Ryan kecil.
"Kita siap-siap ya, kita temuin mama kamu" ucap Ades mengusap lembut wajah Ryan yang begitu persis dengan wajah Dio.
Ades pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Seperti tak bernyawa, seperti itulah kini diri Ades. Sampai akhir, dia tetap berpikiran buruk terhadap Ivanka dan menuduh Adrian yang macam-macam. Sempat berpikiran kalau Kanaya egois, meskipun dia sadar Kanaya selalu berkorban demi dirinya. Padahal dia bukanlah adik kandungnya, tapi Ades sadar bahwa dirinya lah yang selalu egois kepada Kanaya selama ini. Dio mengikuti Ades ke dalam Kamar karena khawatir dengan kondisi istrinya tersebut.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dio yang menghampiri Ades duduk di pinggir ranjang. Mata itu terlihat begitu mengiba, Dio merangkul tubuh berisi Ades mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Ivanka mas, Ivanka meninggal".
"Mamanya Ryan meninggal mas, aku merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentangnya. Aku sudah salah menuduh Adrian dan kak Kanaya yang bukan-bukan" kini Ades menangis dalam pelukan suaminya. Dio hanya membeku tak bergeming, terkejut pastinya. Setidaknya Ades kini sudah tidak merasa cemburu atau khawatir dia akan tersisih karena Ivanka.
Meski sudah mendengar Ivanka meninggal Dio tidak merasa sedih, ataupun bahagia. Memang diantara dia dan Ivanka tidak memiliki emosi perasaan. Hanya sama-sama patah hati dan ingin saling mengobati satu sama lain dengan kejadian satu malam. Namun tidak disangka, dari kejadian itu meniggalkan sebuah kenangan. Ryan, dialah kenangan diantara Dio dan Ivanka.
__ADS_1