Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Akting Kanaya


__ADS_3

"Kamu.... ".


Perkataan Kanaya tercekat dengan sosok yang kini tampil di hadapannya. Ternyata dugaannya tidak terlalu meleset tentang orang yang menculik dirinya. Kanaya harus berpikir secara cerdik dan juga memanipulasi orang yang didepannya ini. Kanaya akan bersikap seolah tidak sadar akan diculik, atau dia yang tengah menculik Kanaya.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanyanya lembut. Kanaya pun mengangguk pelan. Mulutnya seakan sulit untuk diajak berkompromi untuk merayu dia agar membiarkan Kanaya bebas.


"Tante, Kanaya sekarang ada dimana ya tan?" tanya Kanaya pada Rohana.


Ya, orang yang mendalangi penculikan Kanaya adalah Rohana alias Ronald. Dia masih begitu terobsesi dengan Kanaya, apalagi wajah cantik Kanaya yang menurutnya berbeda dengan wanita cantik lainnya diluaran sana. Meski Ronald sudah berubah wujud menjadi seorang wanita cantik yang anggun tetap dia merasa kurang sempurna. Dia ingin seperti Kanaya, tanpa harus bersikap genit atau dengan sengaja memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Namun mampu menghipnotis pandangan para laki-laki untuk terpesona. Inner beauty yang ada pada diri Kanaya begitu kuat. Hal itu yang tidak dimiliki olehnya.


"Kamu aman sayang disini. Untuk sementara waktu kamu tinggal disini dulu. Sebab, diluar sekarang sangat begitu berbahaya. Ini semua permintaan Rachel sayang" Rohana membelai rambut Kanaya dengan lembut. Senyum sumringah tidak pernah lepas dari wajah cantik milik Rohana yang merupakan ciptaan seorang dokter. Hasil dari operasi yang dilakukan disebuah kamar yang dingin.


"Benarkah tan, oma Rachel yang meminta tante untuk melindungi Kanaya?" Kanaya bertanya seolah tidak percaya. Agar Rohana akan memberikan penjelasan yang tentu saja pasti bohong.


"Iya, sayang. Sekarang musuh tengah menyerang keluarga suamimu. Mereka ingin membuat perhitungan kepada keluarga Aston. Sebab, mereka telah menghancurkan hidup musuh mereka" jawab Rohana. Namun dari sorot matanya tersirat begitu mendendam dengan keluarga suaminya. Bukankah seharusnya dia juga memiliki dendam yang sama kepada dirinya dan juga ayahnya? Sebab, Kanaya telah memberikan luka yang mencacati tubuhnya. Sedangkan ayahnya telah merusak bisnis haram milik Ronald.


"Terimakasih tante, tante begitu sangat perhatian sama Kanaya. Kalau tidak ada tante, mungkin Kanaya sudah diculik" isak Kanaya. Dia berpura-pura sedang bersedih dan merasa beruntung ditolong oleh Rohana alias Ronald musuh bebuyutannya.


"Tante, apakah Kanaya boleh minta tolong sama tante?" tanyanya dengan wajah yang memelas.


"Minta tolong apa sayang?" tanya Rohana begitu perhatian.


"Kanaya mau menghubungi Adrian tante" ujar Kanaya. Wajah Rohana langsung berubah seketika. Pasti dia akan sulit untuk mengiyakan ataupun menolak permintaan Kanaya tersebut.

__ADS_1


"Ehm... Bukannya tante tidak mau. Tapi keadaan sekarang bukan waktu yang tepat untuk menghubungi Adrian. Takutnya, malah akan membuyarkan fokus Adrian ketika melawan musuh-musuhnya sayang" Rohana tampak begitu berusaha untuk meyakinkan Kanaya. Tidak terlalu sulit juga bagi Kanaya untuk mengiyakan dan setuju dengan perkataan Rohana. Sebab dia sendiri yang ingin melukai Rohana.


"Baiklah tante, tapi nanti katakan sama oma Rachel dan yang lainnya kalau Kanaya baik-baik saja ya tan" dengan tatapan mata yang teduh serta wajah yang memelas untuk mengabulkan permintaan dia tadi. Meski itu mustahil, tapi Kanaya ingin memastikan bahwa Rohana benar-benar percaya kalau dia tidak sadar tengah diculk.


"Iya sayang" elus Rohana pada pucuk kepala Kanaya


"Sebaiknya kamu istirahat saja. Nanti jika kondisi semuanya aman, kamu akan tante antar ke suami kamu" Rohana menatap Kanaya penuh sayang. Entah apa maksud dari tatapan matanya tersebut. Kanaya tidak bisa memastikan.


"Iya tante" padahal Kanaya bergidik jijik disentuh oleh wanita jadi-jadian yang ada didepannya ini.


"Kalau begitu tante keluar dulu, kamu jangan lupa minum susunya ya. Biar bayi dalam perutmu sehat" Rohana mengelus perut Kanaya. Namun tak ada pergerakan dari bayi yang ada di dalam perut Kanaya. Seolah dia juga ikut merasakan jijik dengan sentuhan yang dilakukan oleh Rohana. Tidak seperti biasanya yang akan langsung merespon dengan gerakan bila dielus.


"Baik tante, Kanaya juga merasa sangat mengantuk" Kanaya berpura-pura seolah dia ingin tidur. Sebelumnya memang matanya terasa begitu berat. Namun setelah tau Rohana yang ada didepannya, matanya langsung segar dan terjaga.


Rohana pun berlalu pergi keluar dari kamar Kanaya. Tanpa disadari oleh Rohana sebenarnya Kanaya sudah mengambil handphone milik Rohana yang tergeletak disamping tangannya tadi. Mungkin saking asyiknya Rohana mengelus perut Kanaya sehingga jadi tidak fokus lagi dengan handphonenya. Sebuah keberuntungan bagi Kanaya, handphone milik Rohana tidak terkunci. Jadi dia bisa leluasa untuk membukanya. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghubungi oma Rachel. Panggilan yang dilakukan oleh Kanaya langsung diangkat.


"Oma ini Kanaya" dia berbicara dengan berbisik.


"Memangnya oma sudah tau pasti kalau Rohana itu Ronald?" Kanaya ingin memastikan. Sebab, jika salah langkah maka sulit bagi Kanaya untuk membuat rencana berikutnya.


"Belum, oma belum dapat memastikan. Oma tadi hanya ingin memancing keraguan dihati oma. Kamu dimana? Kenapa handphone milik Rohana ada sama kamu?" oma Rachel mencecar berbagai macam pertanyaan kepada Kanaya.


"Nanti dulu ya oma, Kanaya cuma mau bilang kalau Kanaya diculik oleh Rohana. Jadi Kanaya mohon, oma berpura-pura tidak tahu tentang dugaan Kanaya ini kalau Rohana adalah Ronald. Kalau bisa, oma sekarang dekatin Rohana. Berusaha untuk memperlihatkan bahwa kalian mencemaskan Kanaya dan bingung karena kehilangan Kanaya. Biarkan dia merasa senang dan menang atas hilangnya Kanaya. Tolong oma cari tahu keberadaan Kanaya sekarang. Kanaya akan sharelock tempat Kanaya berada sekarang. Kanaya tutup dulu ya oma, yang terpenting oma sudah tahu keberadaan Kanaya baik-baik saja disini" Kanaya mematikan panggilannya. Dia tidak bisa berlama-lama melakukan panggilan takutnya Rohana akan sadar kalau handphonenya tidak ada.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Tapi, tidak ada tanda-tanda kalau Rohana sadar telah kehilangan handphonenya. Mungkinkah ini semua memang taktik dia untuk mengecoh Kanaya, membocorkan dimana keberadaannya. Kemudian mereka akan mudah mengalahkan orang-orang yang akan menyelamatkan dirinya. Kanaya begitu tampak frustasi saat ini. Jatah makan malam dia pun sudah habis dia makan. Namun anehnya, dalam keadaan kenyang dia tidak merasa mengantuk seperti siang tadi.


Kanaya menyelidiki apa yang membuat dirinya mengantuk berat tadi siang. Sajian yang tersisa sekarang hanya air putih dan juga susu kemasan. Namun dia tadi sudah meminum air putih dan tidak terjadi apapun pada dirinya. Mungkinkah susu ini yang telah dicampur dengan obat tidur.


"Untuk memastikannya, aku akan meminumnya lagi" Kanaya menusuk sedotan pada susu kemasan tersebut. Meminumnya hingga tandas, setelahnya memang matanya mulai mengantuk.


"Fix susunya sudah dicampur" gumamnya hingga membuat matanya sulit untuk dibuka. Handphone milik Rohana tadi terjatuh ke bawah ranjang karena tertendang oleh kaki Kanaya.


****


"Apa?" teriak Robert yang mendengar perkataan dari Rendy.


"Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak becus untuk menjaganya?" tampak raut kemarahan ada diwajah Robert.


"Saya tadi diserang, pas mau menolong seorang wanita tua yang tidak sengaja saya tabrak. Namun, naasnya wanita itu menusuk saya. Untung saja tusukannya tidak mengenai perut saya. Sebab, saya menyimpan pembalut pacar saya dibalik jaket yang saya kenakan ini" Rendy menampilkan sengiran bodohnya. Berbicara dengan lancar tanpa jeda.


"Terus kenapa jadi banyak darah dijaketmu?" tanya Robert menyelidiki. Takutnya Rendy merupakan komplotan yang menculik Kanaya.


"Oh ini, ini karena obat merah yang bocor karena tusukan pisau tadi. Jadi seperti darah. Terlihat seperti benar-benar tertusuk ya" lagi-lagi sebuah sengiran ditampilkan oleh Rendy.


"Tapi kalau ini benar-benar darah asli. Pas saya bangkit ingin menolong nyonya Kanaya. Saya langsung dipukul, hingga saya pingsan" Rendy menjelaskan tentang darah yang mengering dilehernya.


"Saya mencoba untuk menghubungi bos Adrian. Tapi tidak diangkat sama sekali sama bos Adrian" kini Rendy menampilkan wajah dengan guratan cemas tidak lagi cengar cengir tak berdosa seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Biar saya yang akan urus semuanya. Situasi saat ini memang sangat genting. Sebab semua diserang dalam waktu yang bersamaan" Robert terlihat gusar. Sebab dia belum mendapatkan informasi tentang keadaan oma Rachel dan yang lainnya disana. Tentang Adrian, Robert sudah tau kalau mereka sudah berhasil mengalahkan musuh.


"Saya tau dimana keberadaan mama" ucap Randy tiba-tiba.


__ADS_2