
"Kamu tidak kerja kah sayang hari ini?" tanya Kanaya yang melihat suaminya yang masih asyik tiduran. Biasanya dia selalu bangun awal dan bergegas untuk siap-siap ke kantor. Tapi hari ini dia terlihat tidak seperti biasanya.
"Oh, hari ini aku ingin istirahat dulu. Mungkin beberapa hari deh. Jadi untuk urusan di kantor akan dihandle oleh Andre dan juga mama. Aku ingin lebih menghabiskan waktu bersama istriku tercinta yang cantik ini" rayu Adrian yang langsung mendaratkan ciuman di pipinya.
"Aku terlalu sibuk kerja, sehingga kurang memperhatikan keadanmu sayang. Aku juga tidak memperhatikan kondisi kandunganmu. Keadaan anak kita".
"Maafin papa ya sayang, papa jarang perhatiin kamu. Kamu tidak nakal kan di dalam sana. Jangan repotin mama ya sayang. Jagaain mama ya" Adrian mengelus perut Kanaya dan menciuminya. Dia memang merasa kurang memperhatikan istrinya itu beberapa waktu ini. Kanaya tersenyum melihat sikap suaminya. Dia memang merindukan sikap manja suaminya seperti sekarang ini.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan hari ini? Kita ajak anak-anak sekalian ya. Rasanya kita belum pernah ngajak liburan anak-anak sayang" usul Adrian ke Kanaya. Dia ingin menghabiskan waktu bersama istri dan juga anak sambungnya.
"Ide yang bagus sayang. Aku setuju, anggap saja refreshing sebelum melahirkan" Kanaya begitu senang mendengarkan usulan suaminya tersebut.
"Baiklah, kalau begitu kita jalan-jalan ke puncak gimana?" usul Adrian.
"Di vila bagian timur viewnya keren lo sayang. Pemandangan gunungnya sangat begitu indah. Apalagi disana ada kebun buah berbagai macam. Aku yakin kamu bakalan menyukainya. Sangat cocok untuk merilekskan tubuh dan pikiran kita".
"Aku merasa, kita membutuhkan sedikit sentuhan kedamaian. Selama ini kita mengalami hal yang lumayan berat. Apalagi saat kita kehilangan opa, kemudian penyerangan terhadap Randy. Ini sungguh berat sayang. Aku tidak ingin kamu dan bayi kita stress karena berbagai masalah yang kita alami sekarang ini".
"Entah kapan, hidup kita akan merasakan ketenangan?" Adrian memeluk tubuh Kanaya. Dia seperti merasa tertekan. Kanaya dapat merasakan hal ini, dia tau suaminya memikul tanggungjawab yang begitu besar. Jadi hal yang wajar jika dia dilanda rasa lelah dan jenuh menghadapi berbagai masalah.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jadi kamu jangan merasa tertekan sayang. Kami membutuhkan dirimu, kamu jangan lemah. Jangan pernah biarkan mereka yang ingin menyakiti kita memiliki peluang itu" Kanaya memberikan semangat untuk suaminya. Sebenarnya Kanaya pun merasakan hal yang sama, tapi mau bagaimana lagi. Ini semua diluar kendali dan kehendak dia.
__ADS_1
"Aku akan menyuruh anak-anak untuk bersiap dulu ya sayang" Adrian mengangguk. Seperginya Kanaya, Adrian kembali lagi bercinta dengan kasur dan gulingnya. Sudah lama dia tidak merasa bebas untuk menikmati tidurnya seperti sekarang.
Sebelum berangkat untuk liburan ke vila, Adrian terlebih dahului minta izin kepada oma Rachel. Apalagi oma Rachel sudah mengetahui kejadian yang baru saja dialami oleh Adrian. Memang ada baiknya jika menjauhkan mereka semua dari masalah sementara waktu ini. Namun tetap, ditemani oleh beberapa pengawal. Davina tentu saja ikut serta untuk menemani cucu-cucunya. Sam pun juga turut ikut mengawal. Hal ini memang sengaja dilakukan oleh oma Rachel. Dalam rangka untuk membantu pendekatan Davina dan Sam.
Sam yang menyetir mobil untuk perjalanan liburan Adrian sekeluarga. Sedangkan Vina duduk disamping kemudi. Satu buah mobil lagi mengikuti dibelakang menjaga mobil yang ditumpangi oleh Adrian dan juga Kanaya. Perjalanan yang ditempuh ke vila sana lumayan jauh. Kurang lebih lima jam perjalanan.
"Kalau kamu merasa mengantuk tidur saja dulu. Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan" Sam membuka pembicaraan antara dirinya dengan Vina. Sejak tadi Sam melihat Vina tidak berhenti menguap. Sedangkan anak-anak Kanaya sudah terlelap karena kelelahan bernyanyi. Mereka begitu sangat antusias dengan perjalanan ini.
"Baiklah aku tidur dulu ya. Soalnya tadi malam aku tidur larut malam, saking asyiknya ngobrol sama Rachel sih" ujar Vina berkata dengan santai mengucapkan nama oma Rachel. Seolah tidak ada hormatnya.
"Kamu tidak boleh mengucapkan nama nyonya besar seperti itu. Lancang sekali" Sam berkomentar mengenai panggilan Vina terhadap nyonya besar keluarga Aston.
"Ya terserah akulah mau manggil dia apa? Toh dia juga tidak bakalan marah" rasa kantuk yang sempat menghinggap dimatanya Vina, kini tiba-tiba hilang entah kemana. Kanaya yang mendengar mereka beradu argumen menyunggingkan senyum. Meski matanya dalam keadaan tertutup. Beda lagi dengan Adrian, dia bersikap biasa saja dan tetap pura-pura tertidur. Dia sudah tahu siapa Davina, karena Kanaya sudah menceritakan tentang dirinya. Dia tidak menyangka jika tante Radit seumuran dengan Radit sendiri.
"Bodo amat, sesuka hati aku dong mau manggil dia Rachel" Vina terlihat bersemangat untuk ngobrol dengan Sam. Meski harus beradu mulut seperti ini.
"Beliau jauh lebih tua dari kamu Davina. Lagian kamu hanya seorang pengawal khusus nona Raniya. Jadi harus lebih menjaga sikap. Jangan karena nyonya bersikap baik, kamu bertingkah sesuka hati kamu" Sam memberikan penjelasan agar Vina mengerti dan lebih menghormati nyonya nya.
"Meski umur kami terpaut jauh, setidaknya posisiku bisa disamakan dengannya" jawab Vina sedikit bernada sombong. Ingin dia memberitahukan kepada Sam kalau dia adalah anggota keluarga Marven seperti anak-anak Kanaya. Ingin dia mengatakan kalau dia memiliki posisi sama dengan orang tua Adrian dalam posisi keluarga. Namun dalam posisi dunia bisnis, dirinya setara dengan oma Rachel.
"Sombongnya" Sam berdecak kesal. Ingin rasanya dia membanting stir ke sebelah kiri. Mungkin otaknya akan bergeser lebih baik.
__ADS_1
"Tentu dong aku harus sombong, kamu itu beruntung jadi laki-laki. Sebab aku menyukai kamu".
"Seandainya yang protes tadi orang lain, pasti sudah aku jahit mulutnya agar diam dan tidak banyak komentar" kata Vina. Mungkin terdengar omong kosong. Tapi itu benar akan dilakukan olehnya, jika orang itu bukan Sam. Davina bukan tipikal orang suka berbasa-basi, dia langsung kepada aksi.
"Umur kamu berapa?" tanya Vina lembut.
"Dua puluh delapan" Sam masih tetap menjawab pertanyaan dari Vina. Padahal Sam adalah orang yang paling irit kalau ngomong. Tidak selancar seperti ini.
"Ih masih muda banget. Aku sudah berumur tiga puluh tujuh. Tuaan aku dong" ujar Vina. Namun Sam kaget mendengar umur Vina. Dia tidak menyangka jika umurnya setua itu. Sebab, dari segi wajah. Vina terlihat jauh sangat begitu muda. Malah Sam mengira umur Vina sekitar dua puluh lima tahun.
"Brondong memang menggoda ya" Vina mengedipkan sebelah matanya. Sam yang melihat tingkah Vina seperti ini hanya bisa menggelengkan kepala. Mata Vina terus saja melihat ke arah Sam yang tetap fokus pada kemudinya.
"Kurang satu ons mungkin wanita ini" ucap Sam dalam hati.
"Kamu mau kan jadi kekasih aku, pacaran sama oma-oma cantik seperti aku ini nggak bakalan rugi lho!" Vina tetap melancarkan aksinya untuk modus kepada Sam yang kini sudah terlihat malu. Sam mendelik kepada Vina.
"Oma?" Sam terlihat bingung dengan kata yang keluar dari bibir seksi milik Vina. Bibir yang telah mencium pipinya Sam. Hingga membuat Sam tidak karuan untuk tidur malam setelahnya.
"Iya, asal kamu tau ya. Aku ini adalah oma muda yang sudah punya tiga cucu" Vina menunjukkan tiga jari kanannya dengan penuh rasa bangga. Ucapan Vina seperti ini malah membuat Sam tambah bingung.
"Mungkin benar, dia wanita yang kurang satu ons. Sayangnya, cantik-cantik tapi tidak waras" gumamnya, tentu hanya dalam hatinya Sam.
__ADS_1
"Kamu maukan jadi pemilik hatiku yang sudah kamu rampok" Vina tetap memberikan jurus-jurus rayuan yang tidak begitu romantis namun, mampu mengusik hati Sam.
"Maukan. Kalau kamu mau, sepulang liburan kita menikah" Sam merem mobilnya mendadak. Dia melakukan hal tersebut dengan spontan.