
Mobil yang dikendarai oleh Hendry berputar untuk menghindari kecelakaan mobil dari hantaman mobil yang ada di belakang. Ternyata, Adrian menembak ban mobil yang mengikuti mobilnya. Sedangkan Kanaya menjerit Kanaya merasa ada desakan yang akan keluar dari organ intimnya. Air ketuban Kanaya pecah hingga membasahi pakaian bagian bawahnya.
Secepatnya Hendry mengendarai mobil agar cepat sampai di klinik Vanya. Vanya adalah dokter kulit dan juga dokter kecantikan. Jadi klinik miliknya pun juga klinik yang berbau dengan kecantikan. Kenapa Kanaya dibawa ke klinik sana? Sebab, itu semua untuk keamanan Kanaya selama melahirkan anaknya. Apakah dia bisa membantu persalinan? Tentu saja, Vanya adalah dokter yang serba bisa. Vanya merupakan bagian keluarga dari Aston juga. Tapi, dia sengaja menutupi identitas latar belakang keluarganya. Demi keamanan hidupnya.
Vanya sudah menunggu dengan sebuah brangkar dan juga dua orang perawat yang telah siaga menanti. Mobil Hendry langsung berhenti tepat didepannya. Vanya tersenyum menyambut kedatangan Niki serta yang lainnya.
"Semua pasti amankan?" Niki berucap untuk memastikan.
"Tenang saja" Kanaya pun diangkat ke atas brangkar. Dengan sigap para perawat tersebut membawa Kanaya lewat pintu disamping klinik.
"Ma, mama temani Kanaya ya ma" pinta Adrian kepada mama mertuanya.
Adrian berembuk dengan Niki dan juga Hendry untuk membahas masalah Gerald yang mulai melancarkan ancamannya beberapa waktu yang lalu kepada Adrian.
Flashback on
"Apa maksud anda menolak jalinan kerjasama dari perusahaan saya?" Gerald merasa tidak terima dengan penolakan yang diberikan oleh Adrian.
"Ma'af. Visi dan misi kita berbeda. Saya bukan orang yang menghalalkan segala cara untuk memuluskan bisnis saya" dengan santai Adrian menjawab Gerald yang kini tengah emosi dan marah.
"Tidak usah munafik jadi manusia, saya tau sepak terjang anda pak Adrian. Anda rela membunuh seseorang yang menghalangi jalan anda. Bukankah begitu pak Adrian?" Adrian hanya memberikan senyuman terbaiknya untuk membalas perkataan dari Gerald.
"Jangan salahkan saya jika saya mengikuti jejak anda pak Adrian" kalimat ancaman dilontarkan oleh Gerald untuk menggoyahkan keputusan Adrian yang menolak jalinan kerjasama yang dia ajukan.
__ADS_1
"Saya tidak mengusik seseorang jika dia tidak mengusik saya. Maka jangan salahkan saya, jika serangan balik saya akan menjadi boomerang pada diri si pengusik. Sebab, saya tidak pernah memberi ampun kepada mereka yang mengusik ketenangan hidup saya" Adrian pun tidak kalah memberikan ancaman kepada Gerald. Ditambah dengan tatapan tajam Adrian yang menakutkan. Hal itu sempat membuat hati kecil Gerald merasa urung melancarkan niatnya tersebut. Namun kepalang tanggung sudah mengatakan niatnya untuk membalas Adrian. Pantang bagi Gerald untuk menarik perkataannya. Selain itu juga dia tidak ingin Adrian merasa menang telah menakutinya. Sebab Gerald adalah seseorang yang benci akan kekalahan.
Flashback off
"Adrian, sebaiknya kamu temani Kanaya didalam. Bersiaplah untuk mengadzani anakmu nanti" Hendry meminta Adrian, sebab dia tidak ingin Adrian kehilangan momen bersejarah dalam hidupnya saat ini.
"Ini, jangan lupa berikan kepada Kanaya setelah dia selesai melahirkan".
"Apa ini pa?" tanya Adrian yang bingung dengan sebuah botol yang diberikan oleh papa mertuanya.
"Kanaya tau apa itu? Jadi berikan saja kepadanya" titah Hendry hingga tak ada kata bantahan ataupun pertanyaan lagi dari Adrian.
Adrian pun berlalu meninggalkan kedua orang tua itu berbicara membahas masalah yang baru saja terjadi. Adrian berjalan laju melewati lorong-lorong pada klinik tersebut. Lorong-lorong yang ada sekarang adalah lorong rahasia yang tidak banyak diketahui oleh orang. Hanya orang-orang tertentu saja, tentunya yang masih berhubungan baik dengan keluarga Aston. Identitas Vanya sebagai keturunan Aston benar-benar dihilangkan. Dia hanya menyandang nama Jeremy, ayah sambungnya sebagai nama keluarganya. Sejak beliau masih hidup hingga meninggal. Jadi hanya Jeremy orang luar yang mengetahui perihal tersebut.
Adrian melihat dari balik kaca pintu, Kanaya tengah berjuang menghadirkan buah hati mereka ke dunia ini. Ingin rasanya dia berada disana mendampingi Kanaya dan menguatkan istri tercintanya itu. Sebuah tepukan pada pundak Adrian mengejutkan dirinya. Ternyata Vanya yang melakukan.
"Ok, kita cek lagi ya pembukaannya" Vanya memakai sarung tangan latex untuk memeriksa jalan lahir milik Kanaya.
"Sudah sempurna pembukaannya. Kepala bayinya pun juga hampir masuk. Ayo kita mulai proses bersalinnya ya sayang" Vanya sangat begitu ramah berbicara kepada Kanaya.
"Elsa, siapkan semuanya ya" perintah Vanya kepada salah satu perawat yang membantunya.
"Baik dok" dengan sigap Elsa membawa beberapa perkakas dibantu salah satu teman perawatnya.
__ADS_1
"Adrian, kesini dong. Dampingi istrimu melahirkan. Sebentar lagi anakmu akan hadir ke dunia ini".
"Kamu akan mendapat gelar baru yakni sebagai seorang ayah" Vanya tersenyum kepada Adrian. Dengan langkah kaki yang gemetar karena gugup untuk menghadapi proses bersalin Kanaya. Adrian berjalan dan berdiri disebelah kiri Kanaya. Sedangkan mamanya Kanaya berdiri di sebelah kanan Kanaya sambil mengusap wajah Kanaya lembut.
"Kamu kuat sayang, aku akan menemanimu disini" Adrian menggenggam tangan Kanaya dan mengecup dahi istrinya dengan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba saja Kanaya mengalami kontraksi hebat, sehingga dia dengan kuat mencengkram tangan Adrian yang tengah dipegangnya. Adrian sedikit meringis karena menahan sakit akibat cengkraman dari Kanaya. Kanaya mengejan begitu kuat, kemudian dia mengatur nafasnya.
"Ya bagus, teruskan sayang".
"Ambil nafas yang panjang kemudian keluarkan. Ini rambutnya sudah mulai kelihatan" Vanya memberitahukan kondisi saat ini.
Kanaya kembali mengalami kontraksi, terlihat perutnya yang mulai bergerak lagi. Dia pun sudah siap untuk mengejan kembali. Kali ini dia mengejan lebih kuat dan lebih lama. Namun berhenti lagi karena nafasnya telah habis.
"Tinggal sedikit lagi ya sayang, kamu pasti bisa. Ini sudah kelihatan kepalanya" lagi-lagi Vanya memberitahukan kondisi Kanaya saat ini. Hal itu bertujuan sebagai pemicu sang ibu melahirkan agar lebih bersemangat untuk berjuang melahirkan buah hatinya.
Kanaya kembali mendapatkan kontraksi, diapun mengejan begitu kuat. Hingga Adrian benar-benar merasa jika tangannya kini telah remuk akibat cengkraman dari Kanaya. Wajahnya merah karena menahan sakit ditangan, sedangkan Kanaya menahan sakit pada bagian bawahnya. Dia mengejan panjang hingga merasa ada sesuatu yang tengah ditarik keluar oleh sang dokter. Akibat dari tarikan tersebut, rasa sakit yang ada pada perut Kanaya hilang sudah. Kemudian terdengar suara tangisan bayi setelahnya.
"Anak kalian cantik sekali, wajahnya mirip Adrian".
"Anakmu perempuan Adrian" Vanya mengangkat bayi mungil tersebut dan memperlihatkan kelaminnya.
Tali pusarnya masih belum dipotong dan sang bayipun masih menangis dengan kencang. Setelah selesai memotong tali pusarnya, Vanya memberikan bayi tersebut kepada kedua perawat yang membantunya. Agar mereka yang mengurus sang bayi selanjutnya.
__ADS_1
"Sekarang giliran ibunya yang kita bersihkan dan kita rawat ya".
Vanya kembali meminta izin kepada Kanaya untuk mengeluarkan tembuni yang masih ada dalam tubuh Kanaya. Kalau ditanya bagaimana sakitnya? Tidak akan ada yang bisa mengungkapkan kata-katanya. Vanya benar-benar membersihkan darah yang masih tersimpan di dalam rahim Kanaya. Hingga satu kantong plastik putih yang lumayan besar itu terisi penuh oleh darah melahirkan Kanaya.