Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Bergaya Antagonis


__ADS_3

"Aku sudah membicarakan hal ini dengan oma sebelumnya" ungkap Andre ke Adrian. Kini Adrian tampak menyimak perkataan Andre.


"Oma memang sengaja membiarkannya, dia ingin melihat sejauh mana Chandra akan bertindak. Sebab, menurut oma dia hanya... " Andre memperagakan jempolnya yang dia tautkan ke jari telunjuknya.


"You know lah, oma bilang dia anak bau kencur" Adrian yang mendengar seakan tidak percaya.


Apa dia tidak salah dengar?


Lantas, kenapa dia begitu berani mencoba untuk mengusik ketenangan keluarganya?


Apa ada seseorang yang memiliki pengaruh kuat dibelakangnya?


Pikiran Adrian berkecamuk memikirkan berbagai kemungkinan pria yang bernama Chandra tersebut berani mengusik keluarganya. Seolah rasanya tidak mungkin dia melakukan hal ini sendirian.


"Sebaiknya kau selidiki tentang Chandra secara detail? Kemungkinan ada orang lain dibelakangnya yang menyokong dia hingga berani bertingkah seperti ini?" titah Adrian kepada Andre.


"Aku sudah menyelidiki hal tersebut. Tapi, sepertinya tidak ada siapapun dibelakangnya" jawab Andre sedikit lemas. Sebenarnya dia tidak ingin Adrian tahu masalah ini. Dia takut jika Adrian akan mengambil sikap yang sungguh tak diinginkannya.


"Lagi ngapain nih cucu-cuma oma yang ganteng disini?" oma Rachel datang menghampiri dua kakak beradik yang terkadang seperti Tom and Jerry tersebut dan langsung duduk di sebuah kursi kosong yang tersedia di samping Andre. .


"Huh" Andre mengeluarkan nafas frustasi.


"Chandra?" ucap oma langsung.


"Sepertinya dia sedang mengawasi kita oma" Adrian langsung menjawab.

__ADS_1


"Tidak usah dihiraukan atau dipikirin. Dia itu cuma bocah tengil yang lagi belajar sok. Biarkan saja dia ingin bertingkah seperti apa? Kalau sudah mulai kelewat batas baru kita ambil tindakan".


"Dia tidak terlalu mengancam, percaya sama oma. Dia hanya mengandalkan tenaga orang-orang suruhannya saja" oma Rachel menjelaskan. Dia dapat melihat kekhawatiran dimata Adrian. Mungkin, kejadian terakhir yang menimpa Kanaya membuat Adrian menjadi lebih waspada sekarang.


"Kita boleh tidak terlalu memikirkan masalah ini. Bukan berarti kita harus lengah dan bersantai. Jika dia melakukan hal yang tidak diprediksi. Apa baru kita ambil tindakan?" Adrian sedikit protes dengan ucapan sang oma.


"Bukan begitu Adrian. Oma hanya ingin kamu jangan terlalu begitu fokus pada masalah ini. Biarkan ini semua oma yang handle".


"Kamu dan Andre fokus saja mengurus perusahaan. Hendry akan segera pulang ke Kalimantan. Otomatis kerjaan kalian akan lebih banyak lagi. Dia tidak mungkin meninggalkan perusahaan yang dia bangun dari nol tersebut kepada orang lain. Apalagi kini, dia juga mengurus perusahaan milik Kanaya" oma Rachel menjelaskan. Berharap kedua cucunya mengerti.


"Baik oma" sahut keduanya serempak.


"Baiklah, kalau begitu oma ingin membicarakan sesuatu kepada kalian" oma Rachel kini semakin terlihat serius. Entah pembicaraan apa yang akan dia sampaikan?


"Aku setuju sama pendapat oma" jawab Andre langsung. Dia tidak terlalu mengerti masalah tersebut, jadi ketika oma membahasnya. Andre merasa telah terbantu dengan pemikiran oma.


"Adrian terserah oma saja. Lagian Adrian juga tidak terlalu mengerti tentang proses-proses untuk acara setelah lahiran" Adrian menjawab dengan jujur. Dengan wajah dan sikap yang datar. Tidak seperti Andre yang menampilkan wajah senang.


Oma Rachel tersenyum melihat kedua cucunya yang berbeda karakter tersebut. Tapi mereka saling menyayangi satu sama lain tanpa harus mengungkapkan. Rasa gengsi yang tinggi membuat keduanya sering beradu argumen. Meski akhirnya harus Adrian yang memenangkan semua perdebatan.


"Baiklah kalau kalian berdua setuju, maka semuanya akan oma siapkan".


"Oh ya Ndre, gimana mobil mewah yang dijanjikan oleh Chandra kemarin. Kapan mobil baru tersebut akan menghiasi garasi kita? Oma sudah tidak sabar, memiliki mobil baru di garasi rumah kita" Andre langsung terdiam mendengarkan perkataan omanya tersebut. Sedangkan oma Rachel langsung pergi meninggalkan mereka berdua kembali.


Sebab, Chandra sangat sulit untuk dihubungi. Seolah ingin menghindari dirinya karena janji yang sudah dia berikan. Lain halnya jika Chandra yang memenangkan taruhan tersebut. Kemungkinan besar, dia akan selalu meneror Andre. Adrian menatap tajam ke arah Andre seakan meminta jawaban atas perkataan oma tadi.

__ADS_1


"Bisa kamu jelaskan?" rasanya sangat sulit bagi Andre untuk membuka mulutnya untuk menjelaskan. Tapi Adrian bukan orang yang mudah dibodohi ataupun dibohongi. Jika tidak dijawab langsung dengan jujur maka dia akan menanyakan hal tersebut berulang kali. Hingga yang ditanya menjadi bosan.


"Apa mulutmu sedang terkunci? Apa perlu aku buka secara paksa menggunakan linggis?" Andre menciut. Meski dia suka mengerjai kakaknya tersebut. Sering berantem. Tapi jujur saja, Andre begitu takut jika Adrian sudah dalam mode serius seperti ini.


"I... itu. Chandra" ucap Andre sedikit gugup. Sedangkan Adrian melipat kedua tangannya didepan dadanya. Mengangkat dagunya dengan angkuh, dan menatap Andre seperti hendak menerkam.


"Tidak usah takut, rileks. Jelaskan pelan-pelan saja" Adrian menunggu detik-detik kejujuran dari Andre.


"Baiklah".


"Sebenarnya Chandra mengajakku taruhan. Tapi aku menolak taruhan tersebut. Kemudian aku ceritakanlah tentang taruhan itu kepada oma, dia langsung memintaku untuk menerima taruhan yang diberikan oleh Chandra. Awalnya aku menolak, tapi oma langsung memaksa aku harus menerima tantangan yang Chandra berikan" Andre menjelaskan dengan lancar tidak terbata-bata lagi. Tapi dengan semangat juang yang menggebu.


"Apa tantangannya?" Adrian begitu penasaran dengan alur cerita permainan yang tengah disuguhkan oleh Chandra.


"Benar yang oma bilang, Chandra itu hanya bocah bau kencur. Ingin bermain dengan keluarga Aston tanpa berpikir ke depannya. Jika dia, benar-benar menyinggung keluargaku. Awas saja akan aku jadikan perkedel goreng" gerutu Adrian dalam hati karena penasaran dengan tak tik rencana Chandra.


"Dia membuat taruhan seperti ini. Jika anakku laki-laki, maka dia akan menghadiahiku sebuah mobil mewah yang paling baru dirilis ditahun ini. Tapi jika anakku perempuan. Aku harus melepaskan daerah kekuasaan bagian sebelah utara kepada Chandra. Bukannya itu tidak adil. Benarkan. Masa iya, wilayah bagian utara kita nilainya disamain dengan sebuah mobil mewah?" Andre bercerita dengan nada yang penuh kobaran semangat juang yang membara. Serta ada bumbu-bumbu provokatif biar Adrian akan merasa geram dengan Chandra. Sebab, dari awal tadi hanya Adrian yang tampak gusar dengan kehadiran Chandra. Oma Rachel bersikap santai. Seolah tak merasa Chandra itu gangguannya.


"Apa?" teriak Adrian terkejut.


"Gila, ini tidak bisa dibiarkan. Jika begitu, dia serius ingin mengajak kita berperang" Adrian termakan bumbu-bumbu yang ditabur oleh Andre. Dia terlihat sangat emosi.


"Kita harus menemui dirinya, kita harus berikan dia ancaman. Jika dia berani mencoba tidak mematuhi. Maka kita akan membuat perhitungan dengan dirinya secara langsung" Adrian tidak terima dengan sikap Chandra, karena meremehkan keluarganya. Andre yang merasa senang mendapatkan dukungan dari sang kakak langsung mengangguk dengan semangat.


"Chandra, tunggulah kedatangan kami. Hahaha" ucap Adrian dengan bergaya seakan dirinya seorang tokoh antagonis. Sedangkan Andre yang tidak tahu apa-apa malah ikut tertawa seperti orang bodoh. Payah memang, kakak beradik yang kadang seperti kurang seons.

__ADS_1


__ADS_2