Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Kejujuran


__ADS_3

Selama pemeriksaan kandungan dirumah sakit Ades terlihat begitu dingin dan berbicara seadanya kepada Dio maupun Kanaya. Dia masih merasa bingung dengan sosok anak kecil yang baru saja dia temui tadi, dia begitu sangat mirip dengan suaminya. Benar-benar sangat mirip. Dia harus meminta penjelasan kepada Dio, apakah dia mengenal wanita yang bernama Ivanka tadi? Sakit, pasti itu yang kini dirasakan oleh Ades. Mungkin itu hanya masa lalu, namun seakan sulit baginya untuk menerima.


"Mas, aku mau tanya sesuatu" ucap Ades sedikit ragu. Dia tidak mungkin selalu mendiamkan suaminya ataupun marah tak jelas. Dio yang merasakan perubahan istrinya itu hanya memberikan waktu untuk Ades memperbaiki suasana hatinya.


"Iya sayang mau tanya apa?" jawab Dio lembut. Dia tidak ingin menambah mood istrinya lebih berantakan lagi.


"Mas kenal dengan perempuan yang bernama Ivanka tadi" tanyanya langsung dengan wajah menunduk. Gusar, itulah yang dirasakannya. Takut menerima kenyataan pahit untuk hidupnya. Seharusnya dia akan berbahagia, tapi kini ada badai yang datang menerpa sehingga bergemuruh hebat dalam hatinya.


"Mas sebenarnya tidak mengenal dia" Dio menarik nafas dan menghembuskannya dengan begitu berat. Ades langsung menatap mata suaminya itu setelah mendengar ucapannya. Ada secercah harapan menerangi hatinya.


"Apa kamu ingin mendengar kejujuranku sayang?" tanya Dio yang sedikit ragu dengan kondisi Ades yang sedang hamil, dia takut akan mengguncang jiwanya. Sehingga akan berdampak pada kandungannya. Dia tidak ingin Ades mengalami hal yang tak diinginkannya. Tapi bagaimana juga, dia tidak membohongi Ades.


"Katakanlah dengan jujur, aku sudah siap untuk mendengarkan. Aku tidak ingin ada rahasia diantara kita" Ades sadar kini suaminya itu terlihat merasa terbebani. Gurat kekhawatiran dari wajahnya begitu jelas, sehingga Ades berpikir dia tidak boleh egois. Harus mengetahui semua kebenarannya dari mulut orang yang kini telah menjadi pendamping hidupnya.


"kamu harus janji, kamu tetap akan bersamaku. Disisiku, menemani sisa hidupku" Dio memegang dan menciumi kedua tangan Ades. Dia sungguh tidak ingin kehilangan sosok Ades yang telah mengisi hatinya dan mewarnai hidupnya. Apalagi ibunya sangat menyayangi Ades, dia merasa hidupnya begitu sempurna sejak bersama Ades. Ades hanya mengangguk dan tersenyum untuk menjawab pertanyaan Dio.


"Aku adalah pria yang penuh dosa, dan aku merasa sangat hina".


"Aku.... Aku melakukan dosa besar di masa lalu" ucapnya menitikkan air mata ketika dia mengingat dimana dia melakukan perbuatan dosa tersebut.


"Aku pernah tidur dengan wanita yang bernama Ivanka tadi" ucapan Dio seperti hujaman yang begitu menyakitkan menusuk ke dalam jantungnya Ades. Meski dia mencoba untuk kuat menerimanya, tapi tetap sakit. Entah bagaimana perasaannya kini, sulit untuk dijelaskan meski hanya dengan kata-kata.

__ADS_1


"Saat itu aku sedang patah hati dan memutuskan untuk pergi ke klub, disanalah aku bertemu dengannya".


"Kami sama-sama patah hati dan akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam itu bersama" Dio memperhatikan perubahan raut wajah Ades yang meringis menahan perih atas luka yang tertoreh di hati. Meski itu hanya cerita yang lalu tetap saja, sakit.


"Aku sama sekali tidak tau namanya pada saat itu, kami tidak saling mengenal. Saat aku bangun aku berada di dalam kamar hotel sendirian".


"Jadi, kami tidak memiliki hubungan spesial. Hanya menghabiskan malam bersama".


"Itupun terjadi karena aku dalam keadaan mabuk" ucapnya lirih merasa tidak enak hati telah membuat kecewa istrinya.


"Seandainya dalam kondisi sadar aku tidak akan melakukan nya" kini Dio menatap mata Ades tentang kebenarannya. Jika dia tidak berbohong.


"Masa iya meskipun dalam keadaan sadar, tetap tidak mau di kasih enak-enak" ujar Ades sedikit malu-malu.


"Aku sangat menyesal, sejak saat itu aku memutuskan untuk lebih menjaga jarak dengan wanita. Namun sejak pertama bertemu denganmu. Aku merasa yakin kamu lah tulang rusuk yang diciptakan untukku" kata-kata Dio mampu melunturkan segala rasa yang menyelimuti hatinya yang begitu sakit. Tatapan cinta yang begitu tulus dari Dio selalu membuatnya tidak mampu untuk membenci atau marah kepadanya.


"Bagaimana jika anak kecil itu adalah anakmu?" Ades menanyakan tanggapan Dio tentang anak kecil yang baru saja bertemu dengan mereka.


"Aku terserah kamu saja, jika memang dia anakku. Bukankah kewajibanku untuk memberikan nafkah untuknya?" kini Dio yang memberikan pertanyaan untuk Ades. Meski terdengar sedikit menuntut, namun dia hanya ingin Ades tidak beranggapan kalau dia tidak akan bertanggungjawab atas kesalahan yang dia lakukan dulu.


"Bagaimana dengan Ivanka?" Ades terlihat gusar untuk menanti jawaban dari Dio.

__ADS_1


"Dia bukan urusanku ataupun tanggungjawab ku. Lagipula aku tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya. Kejadian malam itu, sebuah kesalahan. Bukan didasari perasaan, hanya nafsu yang menguasai" terdengar Dio begitu menyesali yang telah terjadi antara dirinya dan Ivanka. Kini Ades lebih tenang setelah mendengar semua kebenarannya dari mulut Dio langsung. Awalnya sulit dan sakit, namun seiring jalan pemikirannya yang mampu menerima hatinya bisa berdamai.


Setiap orang memiliki masa lalu, entah itu buruk ataupun tidak tergantung dengan dirinya sekarang ini. Menjadi pribadi yang lebih baik karena sadar akan kesalahan yang telah diperbuat lebih baik daripada selalu melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.


***


"Ivanka mengajakku untuk ketemu di hotelku" kata Adrian yang tengah memakai jasnya.


"Terus, apa yang kamu katakan?" jawab Kanaya sembari melingkarkan tangan indahnya dipinggang Adrian. Tangannya menyusuri dan meraba-raba tubuh indah milik Adrian yang selalu memberikan kehangatan dalam tidurnya.


"Aku bilang, aku akan menemuinya jam sebelas nanti. Sebaiknya kamu yang menemui dia, aku sengaja membuat janji itu untukmu sayang" Kanaya terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Adrian. Baginya terasa aneh.


"Kenapa jadi aku?" Kanaya sedikit terkejut dengan perkataan Adrian tersebut. Padahal dirinya sungguh tidak ingin menemui wanita itu. Tapi kalau bermain-main lagi dengannya mungkin akan menyenangkan. Melihat raut wajah takutnya, sungguh pemandangan yang begitu membahagiakan.


"Aku suka melihatmu membuat Ivanka takut, dengan diriku sepertinya dia tidak terlalu takut. Tapi denganmu dia sungguh khawatir" ucap Adrian sambil menangkup kedua pipinya. Cantik dan imut, seperti itulah wajah Kanaya dimata Adrian.


"Kenapa bukan kamu saja yang menemuinya? Kamu harus membuatnya lebih takut dengan dirimu daripada aku" kata Kanaya ingin menggoda Adrian.


"Kalau aku tidak akan membuat dirinya takut, melainkan hanya membuat dirinya semakin bergairah. Kamu tau sendiri kan bagaimana pesona suamimu yang tampan dan menggoda ini" kini Adrian yang menggoda Kanaya dan langsung menyerang bibirnya. Memagut mesra dengan lembut. Gairah, iya Kanaya selalu membuat dirinya bergairah jika dia dekat dengan dirinya. Hasratnya sulit dikontrol jika mereka hanya berdua dalam kondisi yang begitu intim.


"Baiklah aku yang akan menemui Ivanka, aku tidak ingin kamu menyerangnya seperti ini".

__ADS_1


"Tubuh ini hanya milikku, hanya untukku" Kanaya memeluk erat pada tubuh Adrian seakan mereka akan berpisah begitu lama.


__ADS_2