
Penuturan dari Sam seakan meremukkan hati Davina yang sudah tertata rapi kembali setelah penjelasan Darren tadi. Kini dia mendapatkan sebuah kenyataan yang menghancurkan rasa bahagianya karena sikap ramah Sam.
"Kamu tidak apa-apakan?" Sam tampak panik melihat wajah Davina yang terlihat dingin. Raut wajah penuh bahagia dan ceria sebelumnya telah sirna.
"Ma'af jika aku ada salah sama kamu" Sam menunduk merasa tak sanggup menatap mata Davina. Hatinya kini begitu berguncang karena gugup.
"Ma'af itu bukan salahmu, melainkan salahku yang terlalu banyak berharap" Davina mengalihkan pandangan matanya. Dia tidak ingin Sam melihat kekecewaan yang dia rasakan saat ini.
"Davina" panggil Sam lembut.
Setelah mengusap air mata yang ada dipelupuk matanya. Davina menoleh ke arah Sam, tanpa sengaja wajah mereka saling bersentuhan satu sama lain karena jarak mereka begitu dekat. Degup jantung Sam sungguh tak berirama, begitu pula dengan Davina. Rasa ingin mengulum bibir seksi milik Sam terlintas dalam pikiran Davina. Namun kini dia tidak akan bertindak agresif seperti biasanya. Lebih baik menahan segala rasa keinginan yang ingin tertumpah dalam hatinya.
"Cup" sebuah kecupan didaratkan oleh Sam pada bibir Davina yang menggoda hatinya untuk mencium. Pipi Davina langsung merona merah, seakan tidak percaya dengan tindakan spontan oleh Sam tadi.
Ketika Davina ingin memalingkan wajahnya kembali, Sam menahan kepala Davina. Ciuman lembut pun diberikan oleh Sam pada bibir pink lembut milik Davina. Dengan penuh rasa cinta, Davina pun membalas setiap sentuhan lembut Sam. Ketika Sam menghentikan cumbuannya. Bibir Sam mendekat ke arah telinga milik Davina, ada desiran lembut pada tengkuknya.
"Will you marry me Davina?" bisik Sam dengan suara baritonnya penuh kepastian. Mata Davina tak berkedip mendengar perkataan dari Sam tadi.
Sam meraih kedua tangan Davina kemudian tersenyum manis. Hati Davina benar-benar meleleh hanya dengan senyuman milik Sam.
"Aku tidak ingin memiliki hubungan seperti ini. Aku tidak bisa. Aku selalu merasa canggung bila ada didekatmu, karena degup jantungku yang berdebar begitu hebatnya. Aku ingin memilikimu seutuhnya".
"Sekali lagi aku katakan. Davina, maukah kamu menikah denganku? Menjadi pendampingku, menemani sepanjang hidupku. Hingga hanya maut yang memisahkan kita berdua" ucapan kejujuran dari Sam, membuat Davina terharu. Bibirnya tak sanggup untuk mengungkapkan rasa bahagianya. Hanya deraian air mata yang menunjukkan rasa bahagianya. Davina mengangguk, tanda dia setuju dan mengiyakan permintaan Sam.
"Iya, aku mau" Davina pun menghambur dalam pelukan Sam. Kini, semua beban curiga serta keraguannya dalam hati sirna sudah dengan pernyataan cinta Sam yang ingin serius dengan dirinya.
"I love you Davina. Aku jatuh cinta pada pertemuan pertama kita" Sam kembali mengingat dimana Davina terlihat begitu cantik saat berkelahi dengan para preman yang ingin menculik Raniya saat itu. Cantik seperti bidadari, itulah gambaran untuk Davina pada saat itu.
"I love you too" Davina mendaratkan ciuman di bibir Sam. Binar wajah bahagia begitu terlihat jelas pada mata Davina.
"You know. Aku sempat berpikir kalau kamu itu gay" Sam langsung mengerutkan dahinya karena bingung. Pemikiran konyol apa yang sempat terlintas pada kepala Davina.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Sam nampak bingung.
"Hehehe. Lupakan saja" Davina tersipu malu dengan pikiran tak masuk akalnya tersebut.
__ADS_1
"Ceritakanlah" bujuk Sam.
"Jangan, aku malu. Itu hanya sebuah pikiran aneh yang terlintas begitu saja. Sebab kamu selalu bersikap dingin kepadaku. Seolah kamu tidak tertarik denganku" Davina menatap dalam pada mata Sam. Melihat bayangan dirinya pada retina coklat milik Sam. Kini dia yakin, hanya ada dirinya dalam hati Sam saat ini.
"Aku hanya tidak pandai dalam mengungkapkan perasaanku. Tidak seperti dirimu yang begitu berani dan jujur dengan perasaanmu" Sam mengungkapkan perihal sikap dinginnya.
"Lalu, kenapa kamu bisa jadi berani untuk mengungkapkan perasaanmu?" tanya Davina sambil memainkan tangannya pada dada bidang milik Sam.
"Itu karena aku sudah mendapat izin dari kakakmu".
"Jujur, aku takut mendekatimu karena Darren" ucap Sam dengan nada pelan.
Davina pun tertawa mendengar perkataan jujur dari Sam. Tidak hanya Sam yang pernah mengalami hal tersebut. Para pria yang pernah mencoba untuk mendekatinya pun langsung mundur teratur setelah tahu siapa kakak Davina. Namun, Sam adalah pria pertama yang berani mendekati Darren. Langkah berani Sam pun langsung disambut dengan tangan terbuka dari Darren. Davina salut dengan keberanian yang dimiliki oleh Sam.
*****
"Kak Rachel, semuanya sudah siapkan?" tanya Darren untuk memastikan.
"Tentu saja" jawab oma Rachel.
"Hendry, jangan lupa pesanan mama ya".
"Niki, semuanya sudah bereskan" tanya oma Rachel ketika melihat Niki membawa sebuah prasmanan.
"Tentu dong ma".
"Terimakasih untuk bantuan dari kalian semua" Darren begitu terharu dengan kebaikan keluarga Aston yang selalu dianggap rekan bisnisnya sebagai saingan keluarga Marven. Padahal Darren tidak pernah merasa seperti itu, sebab wilayah kekuasaan mereka juga berbeda. Keluarga Marven, pembisnis nomer satu di negara Singapore. Sedangkan keluarga Aston adalah pembisnis nomer satu di Indonesia.
"Kita keluarga" ucap Niki dengan sebuah senyuman.
"Ayo masuk mba" suara Kanaya mempersilahkan seseorang dengan sebuah case silver yang dibawanya.
"Kamu sudah pulang sayang?" sapa Niki langsung mencium pipi Kanaya.
"Iya ma, aku langsung pulang setelah mama telpon tadi" Kanaya langsung duduk pada sebuah sofa empuk. Sebab, dia merasa pinggangnya begitu kaku dan lelah setelah berkeliling di kebun binatang tadi.
__ADS_1
"Ma'afin mama ya ngerepotin kamu" Niki mengusap belakang Kanaya lembut.
"Tidak sama sekali ma, Kanaya malah senang bisa ikut andil dalam acara ini. Setelah mendengar kabar baik dikediaman kita" Kanaya sungguh merasa tidak percaya dengan berita yang disampaikan Niki sebelumnya. Namun dia ikut merasakan atmosfer kebahagiaan dalam rumah ini.
"Nak, terimakasih ya sayang sudah bantuin papa" Darren tersenyum pada wanita yang pernah menjadi menantunya. Wanita yang telah menghadirkan tiga cucu yang begitu menggemaskan untuknya. Kanaya akan tetap menjadi menantu baginya dan selalu menjadi bagian keluarga Marven.
"Sama-sama pa" jawab Kanaya.
"Aku akan menghubungi Davina untuk segera pulang" yang lain mengangguk setuju. Sebab, dialah pemeran utamanya untuk acara malam ini.
Tidak berselang begitu lama, Davina datang dengan Sam. Mereka berdua begitu terkejut melihat kediaman keluarga Aston tersebut telah dihias begitu indah. Seakan hendak diadakan sebuah pesta saja. Sajian makanan tertata rapi pada meja panjang. Semuanya menyambut hangat dengan senyuman yang mengembang pada bibir masing-masing.
"Ada acara apa ini?" tanya Davina yang bingung. Melihat reaksi terkejut dari Davina, Darren pun melangkah menghampiri sang adik. Darren berpenampilan begitu sangat kerena dan juga terlihat begitu tampan. Meski usianya sudah tidak muda lagi.
"Ini hadiahku untukmu. Malam ini, aku akan menikahkan kalian berdua" Darren menghampiri pasangan yang sebentar lagi akan berstatus suami istri. Sam dan Davina yang mendengar ucapan Darren sungguh terkejut.
"Maksudnya?" Sam membeku seakan tak percaya.
"Ini semua kami persiapkan untuk kalian" ucap Adrian menghampiri Sam.
"Ini semua bentuk ungkapan terimakasih keluarga Aston kepadamu Sam. Selama ini kamu begitu loyal dalam mengabdi dikeluarga ini. Saya rasa opa juga akan melakukan hal yang sama untukmu".
"Anggap saja ini hadiah terakhir opa kepadamu Sam" rasa haru dalam hati Sam tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Terimakasih bos" Sam menyapu air mata rasa bahagia dan harunya.
"Bersiaplah. Jemput masa depanmu Sam" perintah Adrian. Sam pun mengangguk. Niki mengajak Davina naik ke atas untuk dipersiapkan sebagai pengantin wanitanya.
"Saya terima nikahnya Davina Olivia Marven binti James Marven dengan mas kawin tersebut dibayar tunai".
"Bagaimana para saksi, apakah sah?" tanya penghulu yang menikahkan mereka berdua.
"Sah".
"Sah".
__ADS_1
"Sah".
Seruan dan teriakan yang menyatakan mereka telah sah sebagai suami istri terdengar ramai dalam ruangan tersebut. Semuanya terlihat begitu bahagia melihat momen indah ini. Terutama Adrian yang mengingat kembali, dimana dia mengucapkan kalimat ijab kabul untuk Kanaya. Meski pernikahan mereka dulunya seakan dipaksakan. Tapi, semuanya telah berubah sekarang. Kanaya kini menjadi bagian hidupnya yang tidak akan pernah tergantikan.