
Semakin dekat bukan membuat kami semakin leluasa mengungkapkan kata. Malah semakin canggung. Beberapa saat saling diam, sesekali saling menatap lalu tersenyum dan mengalihkan pandangan bersama pemikiran masing-masing.
Menikmati udara malam yang semakin dingin. Beberapa kendaraan berlalu lalang mulai sepi. Begitu juga pengunjung alun-alun yang tidak seramai tadi.
“Mey,” panggilnya lirih.
Aku menoleh. “Ya?”
“Pulang, yuk!”
Aku mengangguk. Lalu bangkit dari duduk dan bersiap pulang.
Kak Tomy menggenggam tanganku saat perjalanan menuju parkiran.
Di sana, di dekat masjid tatapanku jatuh pada sosok yang sebelumnya pernah kutemui.
Sosok seorang wanita yang selalu menatapku dengan sinis dan seolah aku telah merebut sesuatu darinya.
“Lilis?” Rupanya Kak Tomy pun melihat wanita itu.
Bukankah tadi dia pulang bersama Rendra dan Nia? Lalu kenapa ada di sini?
Menunggu kami?
“Kok kamu masih di sini? Kemana Rendra sama Nia?” tanya Kak Tomy.
Wanita yang duduk di tepi masjid itu berdiri. Menatapku sesaat lalu tersenyum ke arah Kak Tomy.
“Aku ada yang mau di beli tadi. Eh mereka malah duluan pulang.”
Alasan yang klasik. Bilang saja kalau memang sebenarnya sengaja nungguin kami.
“Terus kamu nungguin siapa di sini?”
“Aku nungguin ... Ojek online. Tapi belum kesini.”
Bisa kulihat dari pandangannya ada harapan agar Kak Tomy memberi tumpangan. Sebagai sesama wanita tentu aku paham maksud dan tujuannya.
“Oh, ya udah. Aku pulang dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan sendiri?”
Wajahnya sedikit kecewa. Harapan itu seketika musnah karena ucapan Kak Tomy tidak seperti bayangannya.
“Tom, tunggu!” Tangan itu menarik Kak Tomy.
“Aku takut. Apalagi udah malem, apa bisa aku bareng sama kamu?”
Kak Tomy menghela napas lalu menatapku. Mungkin dia bingung harus bagaimana. Antara nemenin atau nungguin. Atau malah memilih mengantarkannya pulang.
Lalu bagaimana dengan? Hanya diam dan menunggu jawaban dari Kak Tomy.
“Ya nggak bisa lah, Lis. Aku naik motor. Ada Mey juga.”
“Dia suruh aja tunggu di sini. Kamu antar aku aja dulu.”
“Kalau dia suruh nunggu, untuk apa kamu pulang sama aku?”
Inginku tertawa saat ini. Terlalu bodoh hanya karena ingin dekat dengan seorang lelaki. Semua yang aku tebak ternyata benar. Kalau wanita itu hanya beralasan agar bisa pulang bersama Kak Tomy.
“Tapi aku takut, Tom. Apalagi harus cepet pulang.”
“Ya udah anterin aja dia, Kak. Aku bisa naik taksi.”
__ADS_1
“Mana ada taksi di sini, Mey.”
Kami terdiam. Lalu Kak Tomy melangkah meninggalkan kami berdua. Lilis masih menatapku tak suka. Menjaga jarak menjauh.
Entah hubungan seperti apa yang pernah terjalin antara mereka. Disini mungkin Lilis menganggapku adalah benalu perusak hubungannya dengan Kak Tomy. Sementara aku tidak tahu apa yang terjadi.
Hanya tahu kalau lelaki itu jomblo, karena ada hati yang harus di jaga. Ah, mungkinkah maksudnya hati Lilis? Lalu untuk apa dia mengatakan ingin menikahiku?
Untuk apa semua ungkapan tadi yang terdengar romantis.
“Lis, ayo pulang,” ucap Kak Tomy.
Lilis tersenyum bahagia. Menatapku seolah dia adalah pemenang. Kak Tomy menarik pergelangan tangannya. Melangkah keluar parkiran, bukan ke arah motornya yang terparkir.
Di sini aku terus melihatnya. Melihat tingkah kesal Lilis yang ternyata Kak Tomy memesankan tukang ojek. Bukan pulang bersamanya.
Aku mengulum senyum. Kok rasanya puas sekali lihat Lilis seperti itu.
“Kenapa senyum?” tanya Kak Tomy yang tidak kusadari sudah ada di samping.
“Nggak apa-apa. Kakak kok tega sih?”
“Biarin.” Dia mengulurkan helm padaku.
“Lagipula maksa banget pulang bareng,” lanjutnya lagi.
“Siapa tahu kangen, Kak.”
“Halah! Udah ayo naik.”
Aku pun duduk di belakang Kak Tomy. Melingkarkan tangan di pinggangnya. Mengabaikan desiran dan debaran itu sesaat.
“Dia pacar Kakak?”
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya tentang semua rasa penasaran ini.
“Pacar Kakak kan kamu, sayang.”
Ah, panggilan itu membuatku tersipu. Lelaki memang pandai membuat hati wanita berbunga.
“Ih, serius apa!” Aku memukul bahunya.
Kak Tomy mengaduh sakit. Lalu tak lagi menjawab pertanyaan tadi. Mungkin malas membahas Lilis.
Baiklah aku akan bertanya lain waktu. Malam ini aku biarkan rasa ini bahagia. Meski hanya sesaat atau akan selamanya bahagia.
***
Seorang wanita pasti akan merasa bahagia jika ternyata lelaki yang disukainya memiliki rasa yang sama. Lalu menjalin hubungan seperti yang diinginkan selama ini.
Berbeda denganku. Mungkin ini perasaan terumit yang pernah aku rasakan. Bukan karena aku naif atau tidak perduli dengan perasaan orang lain.
Melainkan aku harus benar-benar memahami perasaan seseorang yang telah mengutarakan rasa cintanya.
Kak Tomy misal. Dia hanya ingin menepati janji, tapi tidak mengutarakan soal isi hatinya. Bahagiakah atau malah terpaksa karena ada janji yang pernah terucap.
Ini alasanku mengapa aku tidak ingin jatuh lebih dalam terhadap semua perlakuannya. Hanya membatasi diri ketika dia memperlakukan aku seperti kekasih.
“Mey, Kakak ingin melamarmu.”
“Mey, Kakak mau menepati janji yang dulu.”
__ADS_1
“Kamu mau kan nikah sama Kakak?”
Ucapan itu terus terngiang di telinga. Tidak satupun ungkapan perasaan yang keluar dari bibirnya.
Ada rasa sesal dan sesak yang terus menghantui. Menyalahkan diri sendiri karena menerima ajakannya untuk pulang ke kampungnya.
Sesal karena kejadian di dapur. Dia telah mengambil apa yang aku jaga selama ini.
Meski hanya sekadar ciuman, aku menjaga itu untuk suamiku kelak.
Sesak karena Kak Tomy hanya ingin menepati janji tanpa aku tahu bagaimana isi hatinya. Lalu dia sedang menjaga perasaan seseorang.
Bukan wanita yang ada di hatinya itu yang terluka. Melainkan aku yang akan terluka. Menghadapi kenyataan yang ternyata tidak seperti yang diharapkan.
Bisa saja menikah tanpa cinta, keterpaksaan mungkin lebih tepatnya. Lalu apakah akan ada kebahagiaan yang terjalin dalam hubungan itu? Jika satu sama lain tidak terbuka dalam perasaan masing-masing.
“Kamu belum tidur, sayang?” tanya Kak Tomy yang melihatku masih duduk termenung di sofa sambil menatap keluar jendela.
“Belum, Kak. Kakak sendiri kenapa belum tidur?”
Kak Tomy duduk di samping, lalu meraih kepalaku dan meletakkannya di dada. Bisa kudengarkan suara degup jantungnya yang berdebar kencang.
“Kakak tahu kamu sedang mikirin Kakak. Makanya Kakak kesini.”
Aku mengangkat kepala, sedikit memberi ketenangan pelukannya tadi.
“Ih, kok pede banget sih?”
Kak Tomy tersenyum. Lalu dia menjepit daguku. Menatapku lekat. Perasaanku semakin tidak karuan.
Aku menjauhkan diri. Namun, dia memaksaku untuk tetap mendekat.
“Apa yang kamu pikirkan? Jika kamu tanya soal hati, maka Kakak akan menjawab kalau hati ini hanya untukmu.”
“Aku .... Hanya___”
“Kalau kamu tanya soal Lilis ...”
Kak Tomy mengalihkan pandangan. Mungkin sedang menerawang jauh tentang sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka.
“Dia adalah wanita yang sedang Kakaka jaga hatinya, kan?” ucapku.
Sakit mengatakan ini, tapi setidaknya aku lega karena semua sesak yang tersimpan telah keluar.
“Kalau kakak ingin menikahi aku hanya karena janji di masa lalu, sebaiknya lupakan itu.”
Ada keterkejutan di wajah Kak Tomy. Pandangan itu ... Aku tidak mengerti apa maksudnya.
“Sebelum rasa sakit itu bertambah, sebaiknya Kakak kejar cintanya. Jangan bohongi hati hanya karena masa lalu.”
Aku tak perduli apa yang terucap ini salah atau benar. Tak perlu menunggu jawaban darinya, aku pergi begitu saja masuk ke kamar.
Bersama sesak juga air mata yang mengalir. Seperti ini rupanya ketika seseorang mengalami patah hati.
Tanpa sadar aku perlahan mencintai dirinya. Kenyamanan yang telah mengubah rasa sebagai seorang adik, menjadi rasa seperti wanita yang dicintai.
Dia membuatku terbang dan aku menjatuhkan diri sebelum semua terlambat hingga aku terbang lebih jauh.
Aku membenci keadaan ini.
Next ....
__ADS_1