Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Berita Bahagia


__ADS_3

"Say, bisa ketemuan nggak hari ini" pagi-pagi Kartika sudah menghubungi Kanaya.


"Tumben amat nelpon, ada apakah gerangan dengan dirimu?" goda Kanaya. Semenjak Rania menceritakan tentang Kartika yang menjemput anak-anaknya disekolah, Kanaya selalu saja menggoda Kartika jika mereka berdua saling berbincang. Rania dengan polos mengatakan kalau Kartika dengan wali kelasnya Revan seperti sedang saling jatuh cinta. Entah benar atau tidak Kanaya tidak tahu, karena Kartika tidak bercerita apapun tentang pak Gunawan kepadanya. Mungkin itu sebenarnya hanya imajinasi Rania yang memang suka sekali menonton drama korea.


"Ada yang pengen aku omongin, penting" ujar Kartika di seberang sana.


"Penting aja atau penting banget nih" ledeknya tertawa kecil.


"Ya penting banget lah, sudah ah jangan menggodaku lagi. Malu tau kaya anak kecil aja. Nanti kita ketemuan di Bougenville Cafe ya, jam sebelas siang" kata Kartika mengatakan tempat mereka untuk bertemu nanti.


"Ok deh sayangkuh" Kanaya mengucapkannya dengan khas manjanya yang biasa dia lakukan ke Kartika.


"Mesra amat telponannya. Sama suami sendiri nggak segitunya" Adrian pura-pura merajuk kepada Kanaya. Dia tau kalau Kartika sudah seperti saudara bagi Kanaya, karena mama Mira menganggap Kartika seperti anaknya sendiri. Mama Mira juga menceritakan semua tentang keakraban hubungan mereka berdua


"Apaan sih, begitu aja cemburu. Sini aku tonjok wajahmu yang jelek itu" Kanaya kini meledeki Adrian. Dia sudah bersiap mengepalkan tangannya untuk menonjok wajah suaminya dan kemudian berlari kearah Adrian.


"Cup... Cup.. Cup" beberapa ciuman didaratkan oleh Kanaya diwajah suaminya yang begitu tampan dan rupawan tersebut. Dia sungguh tidak pernah menyangka jika akan memiliki suami seperti Adrian yang begitu penyayang dan perhatian. Meski terlihat dari luar dia begitu dingin, padahal didalam hatinya begitu lembut. Terkadang malah lebih manja daripada anak kecil tingkahnya.


Adrian pun menarik tubuh Kanaya dan memeluknya, menciumi lehernya dengan lembut. Memberikan sentuhan-sentuhan kecil dan belaian yang mesra. Meskipun begitu Adrian tetap tidak ingin selalu menuruti nafsunya untuk menyentuh Kanaya setiap saat. Dia sangat begitu memperhatikan kondisi bayinya didalam tubuh Kanaya.


"Apa kamu menginginkan nya?" tanya Kanaya kepada suaminya yang terlihat seperti kepiting rebus, wajahnya yang merah sedang menahan hasrat itu terlihat sangat jelas.


"Bolehkah" goda Adrian sambil mengangkat keningnya.


"Dede, boleh ya papa jengukin dede didalam sana" ucapnya pada perut Kanaya yang sudah mulai kelihatan sedikit buncit. Kanaya tertawa kecil melihat tingkah konyol Adrian itu. Pagi ini menjadi pagi yang menyenangkan untuk memulai harinya. Setelah pikirannya begitu berat memikirkan kejadian semalam, dia perlu beberapa pijatan untuk menyegarkan tubuhnya dan juga pikirannya.


***


"Sudah lama menunggu neng" sapa Kanaya ke Kartika yang kini tengah duduk di salah satu meja di kafe.


"Nggak juga, baru juga datang" jawabnya.

__ADS_1


"Aku sudah pesan minuman sama makanan ringan, bentar lagi juga datang" kata Kartika saat Kanaya melihat daftar menu.


"Memang pengertian sekali" ucapnya dengan tertawa kecil.


"By the way ada apa nih jadi ngajakin ketemuan?" Kanaya penasaran dengan niat terselubung sahabat karibnya ini.


"Aku mau nikah lagi" kata Kartika to the point.


"Seriusan. Aku seneng banget mendengarnya" ucap Kanaya gembira karena sahabatnya ini akan melepas masa kesendirian nya setelah perceraian yang dialami nya.


"Memangnya siapa calonnya?" tanya Kanaya penasaran dengan sosok yang telah merebut hatinya sahabatnya ini.


"Dia...... " belum sempat Kartika selesai berbicara, datang seorang perempuan dengan gayanya yang sok cantik menghampiri mereka.


"Oh, duo jendes lagi reuni ya" ucap Maya yang datang tanpa diundang. Dengan santainya dia ikut duduk bersama mereka.


"Memang ya, hidup kalian itu sungguh menyedihkan" kata-katanya untuk menghina Kartika dan juga Kanaya.


"Kenapa? Malu sudah mengatai orang masih janda. Tunggu undangan dariku, aku harap kamu akan datang dengan mantanku yang menyedihkan itu" ucap Kartika yang merasa kesal kepada perempuan yang tidak tahu malu itu.


"Benarkah, laki-laki mana yang mau menikahi janda hina sepertimu itu" Maya berkata begitu kesal dengan hal yang memalukan yang pernah dialaminya pada pertemuan terakhir mereka.


"Apa kamu lupa dengan pria yang kamu jumpai tempo hari? Apa harus aku ingatkan kembali" cibirnya membuat Maya menjadi marah, saat pelayan kafe membawa pesanan Kartika ke meja. Maya langsung mengambil segelas jus apel dan langsung menyiramkannya ke atas kepala Kartika. Gila, memang benar-benar gila wanita ini.


Kanaya yang melihat perlakuan jahat yang dilakukan oleh pelakor tersebut langsung menampar wajah Maya dengan keras. Sontak hal ini menjadi keributan yang ramai ditonton oleh orang-orang.


"Eh, pelakor gatal. Belum puas ya kamu sudah mengambil suaminya. Apa kamu iri karena Kartika tidak sedih ataupun hidup menderita karena perbuatanmu yang memalukan itu".


"Aku rasa Junaidi akan begitu malu memiliki istri sinting model begini. Kurang perhatian darinya ya jadi kamu melampiaskan kekesalanmu ke Kartika, dasar ******" teriak Kanaya yang sangat begitu marah. Kartika hanya diam setelah mendapatkan siraman air jus dari Maya tadi.


"Sudah Nay, kamu tidak usah buang tenaga buat wanita murahan seperti dia".

__ADS_1


"Oh ya, kalau kamu ingin mesan sesuatu hari ini disini aku akan memberikannya secara GRATIS" sengaja dia menekankan kata terakhir yang diucapkannya.


"Anggap saja hadiah dariku karena aku sedang berbahagia, kafe ini milik calon suamiku. Jadi kamu tidak perlu sungkan. Bukankah kamu sangat menyukai sesuatu yang diberikan secara gratis?".


"Maklum tidak mampu, sok kaya dan cantik. Tapi sukanya bekas orang. MURAH" ucap Kartika yang begitu menohok membuat Maya membisu seakan tidak memiliki suara lagi.


"Brengsek dasar ******" ucapnya yang hendak menyerang, tapi sayang tangannya terhenti karena seseorang telah meraih tangannya dan memelintirnya hingga membuat dirinya terjatuh.


Kanaya terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dia syok melihat sosok pak Gunawan yang melakukan tindakan kasar tadi terhadap Maya. Setahunya pak Gun merupakan pria yang lembut dan tidak pernah kasar apalagi terhadap perempuan.


"Ini kedua kalinya kamu menyakiti calon istri saya, sekali lagi kamu lakukan hal demikian. Akan saya pastikan anda tidak akan pernah menggunakan tangan indah anda tersebut" ucapnya dingin dengan sorotan mata yang tajam.


Kanaya terbelalak setelah mendengar ucapan pak Gunawan tadi dan menatap ke arah Kartika meminta jawaban. Kartika hanya senyum-senyum dan mengangguk mengiyakan semua ucapan pak Gunawan tadi. Kanaya tersenyum bahagia dan memberikan jempolnya kepada Kartika. Maya yang mendengar ancaman yang diberikan oleh Gunawan langsung berdiri dan pergi keluar kafe dengan hati yang begitu kesal. Dia merasa sangat tidak adil, Kartika mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari suaminya. Lebih tampan dan lebih tajir dari mantan suami Kartika.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Gunawan khawatir terhadap calon istrinya itu.


"Mila tolong ambilkan handuk kecil dan bawa kemari" perintahnya kepada salah satu karyawan di kafenya.


"Selamat siang bu Kanaya" sapanya ketika mereka saling bertemu pandang.


"Siang pa" jawab Kanaya mengangguk ke arah pak Gunawan.


"Sebaiknya kita percepat saja pernikahan kita, aku tidak suka jika perempuan gila itu menyerang kamu lagi" ucap nya terdengar romantis ditelinga Kanaya.


"Terserah kamu saja" jawab Kartika dengan wajah yang malu-malu.


"Langsung besok saja pak ijab kabulnya, lebih cepat lebih baik niat bagus itu" dukung Kanaya yang mendapat pelototan dari Kartika.


"Boleh juga idenya bu Kanaya" pak Gunawan berkata dengan raut wajah yang tersenyum bahagia.


"Jangan panggil bu, panggil Kanaya aja pa" ucap Kanaya yang merasa terlalu formal panggilan tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan panggil saya dengan sebutan pak ya, biar adil" spontan membuat mereka semua tertawa dengan hal konyol seperti ini.


__ADS_2