
"Sayang, sebaiknya kita pulang ke Jakarta besok pagi. Soalnya kasian perusahaanku kalau ditinggal terlalu lama" Adrian mencoba untuk membujuk Kanaya ikut pulang bersama dirinya.
"Apa tidak bisa ditunda sayang? Besok sahabatku mau menikah? Aku tidak ingin mengecewakan dia" sekarang giliran Kanaya mencoba untuk membujuk suaminya dengan bergelayut manja dalam pelukan Adrian.
"Siapa yang mau menikah?" tanya Adrian.
"Kartika sayang, nggak enak kan kalau kita tidak menghadiri acara bahagianya. Dia sudah banyak membantu acara resepsi kita lho" Kanaya bermain-main dengan dada bidang milik Adrian yang selalu membuat Kanaya terpesona dengan keindahan bentuk tubuh suaminya yang begitu atletis.
"Benarkah? Wow, sepertinya kalian ditakdirkan untuk memiliki kebahagiaan satu sama lain diwaktu yang sama ya" Adrian tersenyum begitu manis pada istrinya tercinta.
Memang takdir sukar ditebak, tapi takdir yang menimpa Kanaya selalu beriringan dengan takdir yang menghampiri Kartika. Dulu setelah Kanaya menikah tidak selang berapa lama Kartika menyusul Kanaya. Namun Kartika menunda untuk kehamilannya karena suaminya masih belum memiliki pekerjaan yang tetap. Saat Kanaya menjadi janda karena suaminya meninggal Kartika pun juga menyandang status janda karena suaminya direbut oleh pelakor. Mira menceritakan tentang kehidupan Kanaya selama tinggal disini karena Adrian ingin mengetahui masa kecil cinta pertamanya itu saat dia tidak ada bersama dirinya lagi.
"Sayang, aku mau jujur sama kamu" ucap Adrian mengecup pucuk kepala Kanaya dengan penuh kasih sayang.
"Apaan?" Kanaya menengadahkan wajahnya hingga mata mereka saling memandang.
"You are my first love" katanya sambil mengelus wajah mulus Kanaya.
"Masa sih, bukannya dulu kamu nyari-nyari pujaan hati kamu" Kanaya mencoba menelisik kejujuran suaminya tentang wanita yang pernah singgah dihatinya.
"Iya, dahulu aku mencari dia kemana-mana. Sampai cincin untuk melamarnya pun telah aku siapkan, jika akhirnya aku menemukan dirinya" Kanaya merasa sedikit kesal dengan kejujuran Adrian, ada sedikit rasa sakit yang begitu nyeri di hatinya.
__ADS_1
"Maksud kamu cincin ini" Kanaya memperlihatkan jari yang telah tersemat cincin mas kawin pemberian Adrian itu. Adrian mengangguk membenarkan perihal cincin itu.
"Kalau kamu mau memberikan kepadanya aku akan melepas cincin ini" ucapnya kemudian mencoba melepaskan cincin itu, ada rasa sakit menjalar dalam hatinya dengan kejujuran Adrian. Wanita hamil memang begitu, sensitif.
"Cincin itu sudah berada di jari orang yang tepat, orang yang aku cintai selama ini dan yang aku cari".
"Ayu" kata Adrian menatap penuh kasih ke dalam mata Kanaya.
"Ayu, diakah yang kamu cintai. Kini kamu sudah menepati janjimu untuk menikahiku" Kanaya teringat awal pertemuan mereka yang terkesan lucu. Perdebatan demi perdebatan diantara mereka tapi rasa kekaguman satu sama lain dari sorot mata mereka tak bisa berbohong.
"Apa kamu mengingat masa kecil kamu dulu sebagai Ayu?" tanya Adrian menatap penasaran ke arah Kanaya. Dia pun mengangguk tanda membenarkan.
"Serius".
"Kamu lucu sayang" Kanaya menghembus nafas beratnya.
"Yang berlalu aku tidak ingin membahasnya ya, aku ingat semuanya. Tapi jangan katakan sama bapa. Aku tidak ingin dia khawatir" Adrian mengangguk paham dengan maksud Kanaya. Tak ingin mengorek luka lama tentang kejadian yang telah lalu. Mereka menghabisakan malam dengan merajut kemesraan penuh cinta dan sayang untuk ke sekian kalinya. Jika memang takdir, sejauh mana orang itu pergi. Tetap akan kembali padamu juga akhirnya.
***
"Cantik banget sih yang mau melepas status lajang" goda Kanaya disamping Kartika, sedangkan yang digoda hanya tersipu malu.
__ADS_1
Raisya datang memasuki kamar, dimana mamanya sedang bersiap untuk prosesi ijab kabul. Acaranya diselenggarakan dengan sederhana saja di rumah Kartika. Mereka berdua memutuskan untuk melakukan pernikahan ini secara tertutup. Hanya kerabat dan kenalan terdekat saja yang diundang untuk berhadir.
"Ma, nanti janji ya bikinin adik perempuan. Biar Raisya ada temannya" celoteh anak Kartika sontak membuat dirinya terkejut. Memang Raisya sangat mendukung dan senang ketika pak Gunawan datang melamar mamanya. Dia memang berharap guru paling ganteng di sekolahnya itu jadi ayah sambungnya. Matanya sungguh memancarkan aura kebahagiaan melebihi mamanya yang akan menikah.
"Ah, aku jadi ingin cepat dewasa biar bertemu dengan jodohku dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama" ucapnya menghayal dengan wajah bersemu merah. Kanaya dan Kartika sedikit terkejut mendengar ocehan Raisya. Anak kecil yang masih duduk dibangku SD sudah mengerti masalah percintaan.
"Jangan kebanyakan nonton drama. Hidup di dunia nyata itu berbeda dengan yang ada di cerita-cerita drama ataupun novel" Kartika sedikit merasa kesal dengan anaknya yang dewasa sebelum umurnya.
"Belajar yang benar, fokus sekolah dulu. Jangan mikir untuk pacaran dulu. Mama sekolahin asrama baru tau rasa kamu" ancamnya langsung membuat Raisya berdecak kesal.
"Bukannya begitu ma, aku masih belum percaya saja pak Gunawan itu akan jadi papa aku".
"Mama tau nggak artis korea Lee Min Ho, pak Gunawan itu sekilas mirip dia. Makanya pak Gunawan itu populer banget dikalangan siswa SD, SMP sampai SMA di tempatku" cerita Raisya penuh kehebohan.
"Pasti mereka bakal jealous deh sama aku, karena mama yang jadi istrinya pak Gunawan. Mana dapat adik tiri yang cakep banget lagi. Eh gemes" Raisya masih terus memuji adik barunya dan papa barunya. Mungkin dia begitu karena terlalu senang, jujur sejak perceraian Kartika dengan mantan suaminya. Raisya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari papanya, bukan karena dilarang oleh Kartika. Melainkan dilarang oleh istri barunya. Itulah akibat dari perceraian, anak yang selalu menjadi korbannya.
Kanaya melihat sisi menggemaskan Raisya kalau seperti ini, dia yang begitu heboh dan antusias atas pernikahan mamanya. Raisya merangkul Kartika dengan begitu sayangnya dia terus menciumi wajah mamanya.
"Mama cantik, mama pantas untuk bahagia. Melihat mama bahagia aku juga bahagia. Aku janji akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Aku akan jaga mama, papa dan juga adik" dia berjanji seolah-olah dia yang akan menjadi kepala keluarga. Raisya memang berpikir dewasa sama halnya dengan anak-anak Kanaya. Mungkin mereka sudah terbiasa melihat kehidupan berat orang-orang yang ada disekitar mereka. Menjadikan mereka sosok yang tangguh dan mandiri.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kartika Dewi Andini dengan seperangkat alat sholat dan cincin seberat lima gram dibayar tunai" ucap Gunawan di sahuti oleh para saksi dengan ucapan "sah". Prosesi ijab kabul berjalan lancar dan langsung ke acara foto-foto keluarga.
__ADS_1
Sebenarnya mas kawin yang diberikan oleh Gunawan tidak hanya seperangkat alat sholat dan cincin tersebut, namun sebuah resto yang baru saja dibukanya beberapa waktu lalu langsung dia hadiahkan untuk Kartika. Kartika seakan tak percaya dengan ucapan Gunawan, namun semua surat kepemilikan sudah menjadi atas nama dia. Untuk keabsahan tinggal tanda tangan Kartika untuk melengkapi dokumennya. Siapa pernah menyangka dan menduga setelah badai kini sang mentari datang menghampiri di hidup Kartika? Berbagai macam cemoohan yang dia terima paska bercerai.
Salon kecantikannya yang sempat mengalami kebangkrutan karena ulah suaminya yang menggadaikan sertifikat bangunannya ke rentenir tanpa sepengetahuan Kartika. Untung saja Hendry ayah Kanaya membantunya. Hingga dia bisa mendirikan sebuah wedding organizer besar dan sukses seperti sekarang. Kalau memang sudah rejeki tak akan pernah lepas pasti jadi milik kita. Kalau bukan rejeki biarpun dikejar tak akan pernah tergapai. Hidup itu seperti teka teki. Jika selalu berbuat baik, pasti hal baik akan selalu menghampiri.