
Mobil berhenti di sebuah bangunan minimalis tapi terkesan mewah. Di depan pintu telah berdiri seorang wanita bersama anak gadisnya. Wanita yang sangat aku rindukan.
Belasan tahun tidak bertemu, beliau masih terlihat seperti yang dulu. Bahkan lebih cantik.
“Ibu ....” Aku langsung menghambur ke dalam pelukannya. Tanpa memperdulikan sekeliling.
Bu Amel, memelukku erat. Bisa aku rasakan kerinduannya padaku. Begitu sebaliknya denganku.
“Kamu cantik sekali,” ucapnya saat melepas pelukan.
“Ibu juga cantik.”
Pandanganku beralih pada gadis yang berdiri di sampingnya. Memakai baju tidur khas anak remaja.
“Hey, siapa namamu?” Aku mengulurkan tangan, berkenalan dengan gadis itu.
Dia terlihat ramah.
“Raisa, aku adeknya Kak Tomy,” jawabnya.
Wajah putih berseri, mata bulat dan pipi chubby. Terlihat menggemaskan sekali. Akhirnya Bu Amel memiliki anak perempuan yang selama ini dia inginkan.
“Hay, Amel. Aku Kak Mey.”
“Pacar Kakak,” celetuk Kak Tomy yang baru saja mencium punggung tangan Bu Amel.
Kedua mataku membulat, ingin rasanya aku menutup mulut itu. Kalau bicara selalu saja asal.
Raisa mengulum senyum. “Asyik, kayaknya aku bakal punya Kakak ipar yang cantik.”
Bu Amel dan Raisa pun tertawa. Aku hanya bisa tersenyum. Padahal tidak ada hubungan di antara kami. Mungkin nanti aku akan bicara pada Kak Tomy untuk menjelaskan semuanya.
“Yasudah, ayo masuk. Kamu pasti capek kan, Mey?” Bu Amel merangkulku. Lalu kami pun masuk ke dalam.
Baru pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah Kak Tomy. Pertama kali juga perjalan ke sini. Sangat melelahkan.
Rasa lelah sedikit berkurang karena udara pagi di kampung halaman Kak Tomy benar-benar sejuk. Bebas dari polusi. Aku memilih duduk di teras. Menikmati udara sesegar ini.
Memberikan sensasi dingin dalam tubuh. Matahari pun belum muncul untuk menghangatkan. Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Suasana sunyi, khas pedesaan.
“Lho, kok di sini, Mey?” tanya Bu Amel seraya membawa nampan berisi dua cangkir teh dan kue bolu.
“Udaranya sejuk, Bu.”
Bu Amel tersenyum, lalu meletakkan nampan itu di meja.
“Iya, makanya Ibu nggak mau ikut Tomy ke Jakarta. Lebih betah di sini.”
“Iya, sepi juga nggak kayak di ibu kota.”
“Iya lah. Namanya juga desa, Mey. Ayo diminum mumpung masih hangat. Kuenya cobain ya. Ibu sendiri yang buat.”
Aku mengangguk. Lalu menyeruput secangkir teh yang sebenarnya masih mengepulkan asap. Perut terasa hangat. Menikmati kue bolu keju kesukaanku. Rupanya Bu Amel masih ingat saja kue yang sangat aku sukai.
“Ah, ini sih bakal habis sama aku, Bu.”
“Ibu sengaja buatin untuk kamu, Nduk.”
“Ibu masih ingat aja apa yang aku suka.”
Bu Amel tersenyum, lalu membelai rambutku lembut. Aku seperti mempunyai seorang ibu. Meski dia bukan yang melahirkan aku, tapi dia adalah wanita pengganti ibuku.
“Tentu saja ibu ingat. Nanti ibu juga mau masak sup ceker sama bikin sambel.”
“Wah, ibu nggak lupa juga makanan favorit yang bikin nasi nambah.”
“Ya nggak lah, Nduk. Mana mungkin ibu lupa tentang kamu. Hanya saja tadi ibu sempat pangling.”
__ADS_1
Aku menautkan alis. “Pangling?”
“Iya, lho. Kamu cantik sekali sekarang. Ndak sabar jadi mertua kamu.”
Ucapan ibu membuatku tersedak. Duh, kenapa malah berharap seperti ini. Bukannya nggak sanggup, tapi aku takut jika Kak Tomy tidak memiliki rasa padaku. Malah sudah memiliki pilihan lain.
“Aduh, Nduk. Pelan-pelan minumnya.”
“Iya, Bu.”
Rupanya Bu Amel berharap lebih padaku. Mungkin ucapan Kak Tomy tadi di anggap serius olehnya. Kalau sudah begini, aku harus gimana?
“Wah, ngomongin apa sih? Asyik banget,” sahut Kak Tomy yang tiba-tiba datang sambil nyomot kue bolu milikku.
Kebiasaan yang tidak hilang. Bahkan meminum teh milikku sampai habis. Kan ngeselin.
“Ih, Kak Tomy!”
“Lho, Tomy! Kamu dari dulu nggak pernah berubah. Itu teh sama bolu punya Mey main ambil saja.”
Kak Tomy hanya nyengir, tanpa bersalah dia masih saja mengambil sepotong kue bolu lagi. Sisa sepotong lagi, buru-buru aku habiskan.
Kami bertiga tertawa lepas. Mengenang masa kecil dulu. Entah dimana Raisa. Kata ibu sih sedang bersiap-siap untuk ke sekolah.
“Ya sudah, kalian ngobrol dulu, ibu mau nengok Raisa dulu ya.”
“Oke,” sahut Kak Tomy santai.
Kini tinggal kami berdua. Saatnya aku bicara tentang ucapan Kak Tomy tadi. Juga ucapan ibu yang menginginkan keseriusan.
“Kak, aku ingin bicara.”
“Apa?”
Dia sibuk dengan ponselnya. Kalau begini mana bisa konsentrasi.
“Nggak jadi!”
“Nggak apa-apa!”
Aku mengerucutkan bibir. Males juga kalau di cuekin. Tahu rasanya kalau kita ngajak ngobrol seseorang, tapi orang itu sibuk dengan ponselnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Menyebalkan!
Entah dengan siapa dia membalas chatt. Seperti sangat asyik sekali, jari itu tiada henti mengetikkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, benda pipih itu dia letakkan dimeja. Lalu menatapku dengan senyuman yang terlihat tanpa Rasah bersalah.
“Kok cemberut sih? Ada apa, Cantik?”
“Sibuk banget sama hape, sampe lupa ada orang di sini!”
“Cemburu ya?”
“Dih, pede banget!”
Dia tertawa lagi, tangannya mengacak rambutku.
“Maaf, deh. Katanya tadi mau bicara?”
“Soal tadi itu ....”
“Kak, aku mau berangkat sekolah dulu ya?”
Tiba-tiba terdengar suara Raisa dari belakang. Ucapanku terhenti. Mungkin belum saatnya aku untuk membahas soal ini.
Aku menoleh kearah gadis itu. Rupanya sudah SMP. Dia cantik seperti Bu Amel.
“Kok pagi banget?” tanyaku saat Raisa bersalaman denganku.
__ADS_1
“Sekolah di sini beda sama di kota. Mereka berangkat lebih pagi biar jadi murid teladan,” celetuk Kak Tomy.
“Ya sudah, aku berangkat dulu ya Kak.”
Raisa melambaikan tangannya. Lalu pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda mini. Rupanya di sini tidak ada anak sekolah yang memakai sepeda motor. Mayoritas dari mereka mengayuh sepedanya atau naik angkutan umum.
Pantas saja udara di sini segar dan bebas polusi. Jarang dari mereka yang naik kendaraan bermotor jika tidak pergi jauh.
“Kamu mau ngomong apa tadi?”
“Nggak jadi, udah lupa aku!” jawabku. Lalu masuk ke dalam mencari Bu Amel.
Beliau sedang di dapur, menyiapkan makan siang untuk kami. Memasak seperti yang Bu Amel tadi bilang.
“Aku aja yang masak, Bu,” tawarku saat sampai di dapur.
Bu Amel yang sedang menyiapkan bahan-bahan pun menoleh.
“Kamu istirahat aja. Capek lho, malah mau masak.”
“Nggak apa-apa. Aku mana bisa istirahat. Udah ibu aja yang istirahat.”
Aku mengambil alih bahan-bahan yang telah Bu Amel persiapkan. Wajahnya terlihat ragu. Mungkin beliau berpikir aku ini tidak bisa masak.
“Nanti tanganmu kasar lho, Nduk.”
Aku mengulum senyum. Memangnya aku ini nggak ada tampang anak mandiri apa ya?
Aku terus memaksa Bu Amel.
“Nanti wajahmu berminyak, sudah biar ibu saja.”
“Ya ampun, Bu. Emangnya aku ini anak manja yang nggak bisa apa-apa? Sudah serahkan semuanya pada Mey,” ucapku penuh percaya diri.
Pada akhirnya Bu Amel menyerah dan memberikan semua bahan masakannya.
“Ya sudah, ibu mau nyobain masakanmu. Meski nggak percaya sih.” Tertawa lah Bu Amel.
Duh, ngremehin Mey Larasati nih ibu kesayangan. Aku mencubit pipinya. Gemes sama ngangenin.
“Kalau gitu ibu kepasar aja deh. Stok kulkas kosong.”
Aku mengangguk sambil mengiris wortel.
“Hati-hati lho ya, Nduk. Nanti tanganmu kena minyak.”
“Iya, Ibu. Tenang aja, yang penting nanti Ibu sama Raisa pulang udah siap. Ibu ke salon dulu juga nggak apa-apa.”
“Hahaha, iya bener. Ibu sudah lama nggak ke salon. Ya wes ibu tak pergi sekarang. Mumpung pagi.”
Aku mengangkat kedua jempol. Lalu melanjutkan kembali memotong bahan-bahan yang mau di buat sayur sop ceker.
“Ibu pergi ya, Nduk!” teriak Bu Amel.
“Iya,” jawabku dengan suara tinggi.
Suara motor pun terdengar. Bu Amel pergi sendiri rupanya. Jadi aku di sini hanya dengan ....
Kak Tomy?
Aku terlonjak kaget saat dia memelukku dari belakang. Kepalanya di letakkan di pundak. Bisa kurasakan napas hangatnya. Ah, geli sekali.
“Kak, lepas ih. Aku mau masak!” gerutuku.
Risih juga kalau motong sayuran sambil di peluk gini.
“Nggak mau!”
Aku meletakkan pisau, kemudian melepas tangan Kak Tomy yang melingkar di pinggang. Bukan malah terlepas, dia semakin erat memelukku.
__ADS_1
“Biarakan Kakak memelukmu sebentar aja.”
Next ...