
"Andre perusahaan aku titip sama kamu ya" ucap Kanaya saat dia akan berangkat pergi ke Jakarta bersama Adrian, mama, papa, opa dan oma serta Mely dan suaminya.
"Iya kak, jaga kesehatan kaka juga ya sama keponakan aku" kata Andre yang cengengesan malu-malu.
"Kamu tuh yang harusnya memberikan kabar gembira buat oma. Secepatnya kamu harus buat Giselle hamil jangan kalah sama Adrian" oma Rachel mengedipkan sebelah matanya ke arah Andre dan Giselle.
"Kamu tidak usah tinggal di perumahan kamu Ndre, tinggal bersama mama sama bapa ya" ucap Kanaya yang langsung membuat Adrian terkejut seolah Kanaya bisa membaca pikirannya. Dia hendak mengatakan hal diucapkan oleh Kanaya tadi.
"Giselle mau kan? Biar kamu nggak suntuk kalau ditinggal Andre kerja. Kalau dirumah kan ada mama jadi teman ngobrol" Kanaya tersenyum ke arah Giselle.
"Iya kak" jawab Giselle singkat.
"Jangan khawatir Nay, bapa sama mama pasti akan jaga dia. Kami sudah menganggap dia seperti anak kami juga" ucap Hendry mengusap rambut Giselle. Dia merasa sedih dan simpati dengan kehidupan Giselle yang diceritakan oleh oma Rachel.
"Oh ya Andre, Tora akan tinggal disini buat jagain kamu" sekarang Adrian yang berbicara. Andre sempat ingin protes namun dia melihat tatapan Adrian yang mengisyaratkan jangan membantah, seolah-olah mereka bisa berkomunikasi jalur telepati Andre bisa memahaminya.
"Nanti kalau persiapan resepsi di Jakarta sudah siap, aku bakal hubungi kalian" kata Niki merangkul Mira disambut hangat olehnya dengan uraian air mata.
"Jangan sedih, nanti kita akan bertemu lagi" Niki menyapu buliran bening yang mengalir dipipi Mira.
"Sayang oma jaga kesehatan ya, kalau Andre nakal bilangin ke oma" oma Rachel membelai pucuk kepala Giselle. Kini dia merasa sangat bahagia karena cucu-cucunya hidup dengan wanita yang mereka cintai.
Siapkan jemputan, kami akan segera tiba.
Adrian mengirim pesan ke Tony, ada beberapa masalah yang akan mereka bicarakan. Apalagi Tony menemukan sesuatu yang mencurigakan. Membuat Adrian tak sabar untuk membahasnya dengan sahabatnya sekaligus orang kepercayaannya itu.
Setelah saling meluapkan rasa sedih akan berpisah. Seruan untuk pesawat yang mereka tumpangi ke Jakarta akan segera lepas landas. Lambaian dan uraian air mata mengiringi perpisahan mereka. Terlihat anak-anak Kanaya masih merasa belum puas melepas rindu dengan mamanya. Namun Adrian telah menjanjikan akan memindahkan mereka semua untuk tinggal di Jakarta. Anak-anak belum memberikan jawaban, mereka masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Jika mereka pindah tentu harus menyesuaikan diri dengan suasana baru. Selain itu juga mereka harus memulai dari awal untuk memiliki teman.
****
Seampainya mereka di Jakarta Tony beserta beberapa anak buah Adrian sudah menunggu untuk menjemput mereka. Namun saat mata Fery melihat sosok Tony dia begitu terkejut. Dia coba lebih memperhatikan Tony dengan seksama, kemudian melihat ke arah Adrian. Ada berbagai pertanyaan yang menyelinap dihatinya.
__ADS_1
"Ternyata memang dia, akhirnya kita bertemu lagi" ucap Fery lirih.
"Sayang" tepuk Mely di pundak suaminya hingga membuat Fery terkejut.
"Ada apa? Melamun kaya begitu" Mely sedikit heran dengan Fery yang begitu fokus menatap ke arah Adrian dan Fery. Mungkin dia merasa sedikit asing dengan Fery karena tidak pernah bertemu sapa selama mereka menikah.
"Ah tidak, hanya penasaran dengan pria yang bersama bang Adrian" Fery memulai cara untuk mengetahui sosok yang sedang berbicara dengan Adrian tersebut.
"Oh, dia Tony. Asisten bang Adrian, orang kepercayaannya".
"Sini aku kenalin, kamu belum pernah bertemu dengannya kan" ajak Mely meraih tangan suaminya dan menariknya menuju Tony dan Adrian berdiri.
"Ton, kenalin suamiku Fery" Mely memperkenalkan suaminya kepada Tony.
Mereka memang belum pernah bertemu satu sama lain. Tony hanya mengenal sosok suami Mely dari cerita Adrian ataupun dari mulut Mely sendiri. Dari cerita mereka sosok Fery merupakan pria polos dan lugu, namun hal itu berbeda dengan pandangan mata Tony. Ketika mata mereka saling bertatapan, ada sesuatu yang aneh dalam diri Tony. Firasatnya mengatakan kalau dia pernah melihat iris bola mata yang dimiliki oleh suami Mely itu. Tapi dimana dan kapan dia belum bisa memastikan. Tony berujar dalam hati bahwa dia harus menyelidiki tentang masa lalu suami Mely ini. Ada sesuatu dari sorot matanya itu.
"Eh iya, Tony".
"Iya, mungkin karena sama-sama sibuk dengan kerjaan jadi tidak pernah sempat berkenalan".
"Tapi Mely sering cerita tentang kamu Ton" Fery tersenyum sambil melihat ke arah istrinya yang masih menggandeng tangannya.
"Sama, dia sering bercerita tentang diri kamu juga. Tolong jaga ya Mely ya, kalau kamu menyakitinya. Maka akan berurusan denganku" Tony menatap nyalang, tapi tatapan Fery seakan menantang.
"Becanda bro" Tony tertawa karena merasa suasana menjadi canggung. Adrian merasa ada sesuatu yang aneh antara Tony dengan suami Mely. Namun dia tidak mungkin membahasnya sekarang.
"Sayang, aku mau langsung ke kantor sama Tony. Kamu pulang sama mama sama oma ya" Adrian melangkah ke arah Kanaya yang mengobrol dengan mamanya.
"Kamu nggak istirahat dulu" ucap Kanaya menatap wajah tampan suaminya itu yang selalu membuat dirinya merindu jika mereka saling berjauhan. Mungkin itu pengaruh bawaan si bayi yang ada dalam kandungannya.
"Ada yang harus segera di rapatkan, soalnya lumayan lama kan aku tinggal perusahaan sama Tony. Apalagi Tony sempat aku suruh untuk menyusul kita disana, jadi beberapa urusan disini harus ditunda" Adrian mencoba memberikan alasan kepada Kanaya agar dia tidak terlalu curiga. Susah kalau punya pasangan yang pintar dan punya firasat kuat seperti Kanaya. Harus pandai-pandai berbicara, agar dia tidak terlalu khawatir.
__ADS_1
"Biarlah Adrian selesaikan urusan dikantor terlebih dahulu, kita pulang saja untuk istirahat" ajak Niki kepada menantu kesayangannya itu.
"Gimana kalau kita pergi ke spa untuk memanjakan tubuh kita sayang? Kita ajak oma sekalian, dia pasti senang" Kanaya pun mengangguk setuju usulan Niki tersebut. Dia juga merasa badannya pegal-pegal perlu dipijat dan dilulur biar badannya lebih fresh.
"Hati-hati ya sayang" ucap Kanaya mendapatkan sebuah kecupan di pucuk kepalanya.
"Ayo Ton, kita berangkat" ajak Adrian ke Tony.
"Sayang, sebenarnya aku ada urusan dikantor. Kamu pulang sendirian nggak apa kan" Mely mengerjapkan matanya ke suaminya hingga membuat sang suami tersenyum kecil dan mengangguk.
"Hubungi aku ya sayang kalau kamu mau pulang, biar nanti aku jemput" kata suaminya Mely kemudian memeluk tubuh ramping itu dan mencium pipinya.
"Pasti aku akan menghubungi kamu untuk minta jemput" Mely membalas kecupan di pipi Fery.
Adrian terkejut ketika Mely ikut masuk dalam mobil yang dia tumpangi.
"Kamu mau kemana Mel?" tanya Adrian yang bingung dengan Mely.
"Ikut kalian lah, masa mau ikut rombongan haji".
"Ton, sudah ada petunjuk tentang orang yang mencuri identitas aku?" tanyanya sambil menyipitkan matanya.
"Belum, sulit untuk dilacak. Tapi ada sesuatu yang harus aku perlihatkan ke kalian" ujar Tony menghidupkan mesin mau menjalankan mobilnya kemudian dia membunyikan klakson serta melambai tangan kepada Fery suami Mely.
"Di organisasi kita ada mata-mata" ucapan Tony langsung membuat Mely dan Adrian terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain. Padahal anggota yang ada dalam organisasi mereka adalah orang-orang yang telah diseleksi terlebih dahulu.
"Banyak informasi yang bocor, terutama data pribadi para anggota kita beserta keluarganya" hal ini sudah bukan masalah sepele lagi, karena ini sudah menyangkut banyak nyawa.
Mereka yang menjadi anak buah Adrian , akan di rahasiakan informasi tentang keluarga mereka. Data tentang kehidupan pribadi dan anggota keluarga yang mereka miliki tersimpan dengan aman. Adrian menjamin dan menunjang hidup keluarga mereka, jika mereka mengalami sebuah musibah. Kehidupan anak dan istrinya akan dijamin. Masalah ini akan mengancam ketenangan hidup pribadi para anak buahnya. Tentu sulit untuk melindungi mereka semua. Adrian merasa kepalanya seakan ingin meledak karena pikirannya kini sudah terlalu berat. Dia menghembuskan nafasnya begitu berat dan mengacak rambutnya karena kesal. Untuk pertama kalinya dia dibuat tak berdaya dan dipermainkan seperti ini.
"Kita harus lebih waspada, sepertinya musuh kita sedang ingin bermain-main dengan kita. Jangan sampai mereka berhasil mempermainkan kita" kata Adrian sambil memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Brengsek" jerit Adrian sedikit frustasi.