
"Pak Adrian ini hasil dari tes DNA yang semalam" sebuah amplop putih diserahkan oleh sang dokter ke tangan Adrian. Tampak sekali raut wajah tegang menyelimuti wajah tampannya yang begitu dingin. Kanaya hanya mengelus pundaknya dan mengangguk untuk menguatkan Adrian.
Adrian membuka amplop tersebut dan membaca hasilnya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi pucat. Dia tampak sangat terkejut. Wajah dinginnya kini tampak menyeramkan, seperti tidak ada aliran darah yang mengalir pada wajahnya. Muram, jauh lebih dari itu. Kanaya sudah bisa menebak hasilnya. Kanaya membacanya, hasil dari tes DNA adalah positif jika Ryan adalah anak kandung Adrian. Dengan berat Kanaya menghembuskan nafasnya. Sudah bisa dia prediksikan kalau hasilnya akan seperti ini.
Seulas senyum keluar dari bibir Ivanka. Dia terlihat sangat puas dengan hasilnya dan mungkin merasa bahagia bisa membungkam mulut Adrian yang begitu arogan. Terlihat sorot matanya kini begitu tajam melihat kepada Kanaya. Sungguh sangat berbeda dengan tatapan Ivanka sebelumnya.
"Sudah sayang, kamu harus menerima semua ini. Seperti aku yang sudah menerima kehadiran Ryan berada dalam hidup kita" senyuman manis terukir di bibir indah Kanaya. Membuat Ivanka seperti menahan amarah. Mungkin Ivanka ingin Kanaya akan marah dan kecewa kepada Adrian hingga akan memutuskan untuk berpisah.
"Mulai sekarang Ryan akan tinggal bersama kami, dan kamu tidak perlu khawatir tentang hidup Ryan ke depannya" Kanaya berjalan ke arah Ivanka dan memeluknya. Kemudian berbisik "Aku akan mengikuti permainanmu, jangan salahkan aku jika aku akan bertindak diluar batas". Ivanka kini terpaku dengan ucapan Kanaya tersebut. Seperti terhujam belati kini jantungnya. Seakan tak berdetak lagi jantung Ivanka, karena merasa takut dengan ucapan serta senyuman Kanaya yang memiliki maksud lain.
"Ayo sayang temani aku cek kandungan, aku mau lihat kondisi adik Ryan sekarang" ucap Kanaya melirik ke arah Ivanka.
"Kamu harus memperlakukan anak kita lebih baik, jangan seperti Ivanka hamil Ryan. Kamu tidak pernahkan menemani dia periksa kandungan" kini ucapan Kanaya benar-benar menunjukkan kalau dia sedang menyinggung Ivanka. Sebelumnya Adrian merasa terpukul dengan hasil yang tertera pada kertas yang tadi dia baca. Namun setelah mendengar ucapan Kanaya tadi dia baru tersadar. Istrinya kini tengah berjuang untuk nasib rumah tangga mereka.
"Tentu sayang, aku pasti akan memperlakukanmu dengan lembut. Kamu adalah satu-satunya ratu yang ada di hidupku" Adrian merangkul pinggang Kanaya. Menggandeng mesra tangan Kanaya. Memanasi Ivanka, mengikuti alur permainan yang sedang dilakoni istrinya.
"Ayo kita periksa kandungan mu. Ayo Ryan kita lihat dede bayinya" ucap Adrian melambaikan tangan ke arah Ryan. Ryan masih duduk terpaku di bangku, menatap sedikit ketakutan kepada Adrian. Namun Kanaya menghampiri dan meraih tangannya untuk ikut berjalan bersamanya. Ryan pun patuh dan menurut kepada Kanaya. Justru Ivanka yang merasa keberatan. Dia mencoba menahan Ryan untuk tidak ikut bersama Kanaya.
"Diakan anak suamiku, jadi aku punya hak untuk lebih dekat lagi dengan anak sambungku".
"Singkirkan tanganmu, sebelum aku remukkan. Jangan halangi Ryan untuk lebih dekat lagi dengan Adrian. Bukankah itu yang kamu mau?" ucap Kanaya sinis.
__ADS_1
Ivanka seperti telah terjebak dalam permainan yang dia mainkan. Kanaya begitu pandai membuat lawannya kena mental. Tanpa harus melawannya dengan cara licik ataupun dengan kekerasan. Permainan yang cantik dan juga elegan mampu membuat musuh tak berkutik. Seperti itulah caranya. Adrian merasa kagum dengan istrinya, memang seperti inilah sikapnya yang membuat Adrian jatuh cinta pada pandangan pertama. Hal itulah yang membuat Adrian begitu bucin kepada Kanaya. Kanaya pergi meninggalkan Ivanka yang masih mematung dan menatap langkah kaki kecil milik Ryan yang perlahan pergi meninggalkan dirinya. Ivanka hanya mengikuti dengan langkah gontai, seakan dia memikirkan sesuatu yang begitu berat.
"Kak Kanaya" sapa Ades.
"Oh siapa dia?" tunjuknya ke arah Ryan. Lalu dia teringat dengan pembicaraan dia dan Kanaya terakhir kali mereka bertemu. Ades paham dan tidak ingin membahasnya lagi.
"Dia putraku" Ivanka menjawab pertanyaan Ades dengan suara keras. Posisinya sekarang kalau dilihat, Kanaya dan Adrian adalah orang tua Ryan. Jadi dia tidak ingin orang berpikir seperti itu. Bisa dibilang, kalau Ivanka kini cemburu dengan Kanaya karena Ryan begitu lengket dengan Kanaya. Hanya membutuhkan waktu yang singkat bagi Kanaya membuat Ryan merasa nyaman dengannya dan membuat Ivanka seperti menahan emosi karena perhatian anaknya telah dicuri. Hal ini justru membuat Kanaya ingin tertawa, sikap Ivanka terlalu kekanak-kanakan.
"Oh ya, Dio kemana. Kok nggak kelihatan. Masa iya istrinya cek kandungan pergi sendiri sih".
"Sayang, tegur dong karyawan kamu itu. Kasian Ades tuh sendirian" rengek Kanaya bergelayut manja dilengan Adrian. Hal ini membuat Ades terperangah tak percaya. Sikap manja Kanaya, merupakan hal yang baru diketahui oleh Ades. Biasanya Kanaya hanya bersikap biasa, tidak seperti wanita manja seperti dirinya.
"Bukan begitu kak, mas Dio cuma pergi bersama mama jengukin pak RT. Dia juga dirawat disini kata mama" Ades menjelaskan perihal ketidakberadaan Dio saat ini.
"Mama mas Dio jengukin pak RT lagi. Mereka akrab ya" ucap Kanaya merasa heran.
"Oh itu, pak RT kan adiknya almarhum ayahnya mas Dio kak" kini Kanaya mengerti kalau ceritanya begitu. Wajar saja mama Dio sering jengukin adik iparnya yang kini sedang sakit.
"Anak ganteng, namanya siapa?" tanya Ades kepada Ryan dan mencubit gemes ke pipi Ryan.
"Jangan cubit anakku, aku tidak suka" Ivanka berusaha untuk meraih Ryan kembali. Namun tangan Kanaya menghalangi. Seolah-olah dia ingin membuat Ades untuk bercengkrama dengan Ryan.
__ADS_1
Kanaya menatap tajam pada Ivanka, membuatnya langsung menghentikan aksinya. Sepasang suami istri ini ternyata sama-sama mengerikan. Pantas saja mereka berjodoh, itulah yang ada dipikiran Ivanka tentang Kanaya. Dia tidak ingin membuat masalah dengan Adrian maupun Kanaya , dia hanya berniat untuk mengambil hak Ryan atas harta yang dimiliki oleh Adrian.
Sesulit ini kah jika berhadapan langsung dengan Kanaya. Mulutnya yang biasa memaki, kini seolah terkunci rapat. Tak bisa dia membantah ataupun ingin melawannya. Sorot mata Kanaya jauh lebih tajam daripada yang dimiliki oleh Adrian. Singa betina memang lebih menyeramkan daripada singa jantan. Ivanka tak berkutik dibuatnya. Seandainya dia bersifat seperti Kanaya, mungkin dia yang bersama dengan Adrian sejak dulu.
"Namaku Ryan tante" jawab Ryan polos khas anak kecil lainnya. Ades terlihat lebih gemes dibuatnya. Senyum di bibir mungil milik Ryan sangat begitu manis, membuat dirinya tanpa sadar memeluk Ryan. Sifat keibuan itulah mungkin jadi penyebab nya. Ivanka merasa tersisih. Dua wanita yang baru dikenal anaknya, tidak membuat dirinya merasa risih. Biasanya Ryan akan menjaga jarak dengan orang yang baru dia kenal. Tapi tidak dengan Kanaya ataupun Ades.
"Aku akan membawa pulang Ryan sekarang".
"Aku tidak ingin anakku bergaul dengan kalian, bisa-bisa dia akan menjauhi aku yang kini sedang direbut oleh dia" Ivanka menunjuk ke wajah Kanaya, dia geram melihat kedekatan anaknya yang begitu menempel dengan Kanaya.
"Aku tidak ingin merebutnya, tapi memang sudah keharusan bagiku untuk akrab dengan anak suamiku".
"Karena kamu sudah menyinggung hal seperti ini, maka hak asuh Ryan akan ku usahakan jatuh kepada Adrian".
"Bukan begitu sayang?" Kanaya menatap ke Adrian.
"Kita kan sudah memiliki bukti kalau Ryan anak kamu, hal ini akan memudahkan proses hak asuh Ryan ke kamu sayang. Kan asyik keluarga kita bakal lebih ramai lagi" Kanaya berhasil memancing emosi Ivanka. Terlihat wajahnya begitu merah karena menahan marah yang tak terbendung. Pancingan Kanaya kini telah tersambar. Ades yang berada di tengah-tengah pertarungan sengit antara Kanaya dan Ivanka merasa kurang nyaman. Bukan risih tapi rasa takut yang membuatnya kurang nyaman.
"Nah itu mas Dio" tunjuk Ades ke arah Dio yang berjalan ke arah mereka. Mereka berdua pun serempak melihat kearah Dio. Ryan tiba-tiba berlari kecil menuju Dio membuat Kanaya ingin menggapainya untuk menghentikan Ryan. Namun dia berhenti tepat di depan Dio.
"Papa" teriak Ryan menatap ke wajah Dio yang terlihat bingung.
__ADS_1