Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Ada Permainan


__ADS_3

"Sayang hari ini kalian sekolah mama yang antar ya" kata Kanaya saat anak-anaknya sedang sarapan di meja makan.


"Aku ikut ya sayang" ucap Adrian sambil mencium dahi Kanaya di depan anak-anaknya. Mira tersenyum melihat keromantisan yang diperlihatkan oleh Adrian.


"Kok mama aja sih yang dicium Revan nggak dicium juga" katanya polos khas anak kecil. Maklum dia begitu muda saat kehilangan sosok seorang ayah, sehingga tidak terlalu mengerti.


"Revan, kamu itu laki-laki masa minta cium sama laki-laki juga" Randy berkata dengan nada yang tegas. Sebagai anak pertama dia memang sudah mandiri dan mampu jadi sosok yang ditakuti oleh adik-adiknya. Revan langsung terdiam setelah mendengar perkataan dari abangnya.


"Sini papa cium jagoan papa, kata siapa anak laki-laki tidak boleh dicium papanya. Kalau dicium artinya disayang dong" Adrian tersenyum kepada anak-anak Kanaya. Dia menghampiri Randy lalu mencium pipinya dan mengacak rambutnya.


"Kok rambutnya diacak sih, kan jadi nggak keren lagi" Randy protes ke Adrian dan membuat Adrian terheran karena Randy ternyata peduli dengan penampilan dirinya.


"Dia kan naksir seorang cewek disekolahnya, jadi wajar lah pa dia sewot" Raniya mencoba ingin menggoda abangnya yang selalu bersikap disiplin, tapi sebenarnya penyayang. Dia selalu ada di depan jika ada anak-anak yang mengganggu Raniya, karena hanya dia yang boleh mengganggunya.


"Dasar biang gosip, nggak benar itu pa, ma" Randy seperti salah tingkah saat keduanya menatapnya.


"Revan minta cium" rengeknya yang masih belum dapat sebuah ciuman dari Adrian.


"Oh iya, papa lupa sini si ganteng papa yang tembem" gendong Adrian dan menciuminya dengan gemas. Memang badannya revan sedikit berisi daripada kakaknya, sehingga dia terlihat begitu menggemaskan.


"Ayo semuanya kita berangkat, nanti kesiangan" ajak Kanaya kepada semua anaknya.


"Aku boleh ikut kan sayang" ujar Adrian penuh harap.


"Kamu di rumah saja, aku ada sedikit urusan jadi nggak langsung pulang ke rumah" jawab Kanaya. Kemudian dia menyalimi tangan suaminya itu. Adrian merengek tetap ingin ikut, tapi Kanaya tetap bersikukuh tidak ingin dia ikut. Adrian hanya terpaku melihat mobil yang dikendarai oleh Kanaya keluar dari pagar rumah.


"Kenapa mukanya jadi ditekuk begitu? " tanya opa.


"Nggak diajakin Kanaya ngantar anak-anak" jawab Adrian lesu, entah kenapa selama datang di rumah Kanaya. Dia merasa selalu ingin menempel dengan istrinya tersebut, seolah ingin bermanja-manja. Tapi Kanaya malah terlihat sedikit cuek dan biasa saja.

__ADS_1


"Dia mau menemui Kartika, urusan perempuan. Wajar sajalah dia ngajakin kamu" kata Alfian atau Hendry papanya Kanaya.


"Kamu mau ikut papa melihat-lihat perusahaan papa? " tanyanya kepada Adrian sang menantu.


"Opa juga ikut, ingin sekali opa berteriak betapa bangganya opa sama Alfian. Kamu harus belajar banyak dari mertuamu, dia memulai semua kesuksesan ini dari nol. Patut di contoh" opa begitu bangga sama anak angkatnya tersebut.


"Ah papa, jangan begitu, biasa saja. Semuanya kan berkat dari ilmu bisnis yang biasa papa berikan dulu" Alfian mengungkapkan kesuksesan yang dia miliki sekarang ini merupakan hasil dari didikan Adam sewaktu ikut tinggal dan bekerja dengannya dahulu.


"Semuanya memang sudah ditakdirkan, papa sangat bangga sama kamu" kata opa Adam berlinang air mata. Dia begitu sangat merindukan Alfian, selama ini dia mencoba mencari tahu keberadaannya namun tidak pernah mendapatkan hasil.


Sebenarnya Alfian sendiri sangat mengetahui jikalau Adam selalu mencari keberadaannya, tapi dia selalu menyuruh orang suruhan Adam tidak memberitahukan keberadaannya. Tentunya dengan uang tutup mulut yang fantastis, dia tidak ingin mengacaukan hidup Adam sekeluarga kacau karena dirinya. Sebagai seorang buron, tentu saja dia tidak ingin melihat orang-orang yang disayang akan menderita.


"Pa, sudah dong. Jangan sedih lagi, Alfian janji setelah ini Alfian tidak akan pernah lagi meninggalkan papa" ucapnya sambil memeluk Adam.


***


"Tik, bisakan nyiapin pesta perkawinan ku yang kedua?" ujar Kanaya saat berbincang-bincang dengan Kartika sahabatnya sejak kecil yang kini berprofesi sebagai MUA ternama di daerah tersebut.


"Lagian sumpah, aku tuh seneng banget dengar kabar kalau kamu sudah nikah lagi" celotehnya dengan centil, memang seperti itu sikapnya. Tapi sikapnya seperti ini khusus jika dia bersama dengan Kanaya, bersikap centil, manja dan agak sedikit nakal. Sedangkan didepan orang lain dia akan bersikap seperti sosok dewasa dan penuh kharismatik.


"Memang siapa yang bilang? Mama ya? " tanya Kanaya ke sahabatnya itu dan dijawab sebuah anggukan darinya. Pantas saja mamanya meminta dia datang untuk menemui Kartika untuk memastikan kalau Kartika yang akan mengurus pernikahannya yang sekarang. Dasar mama memang, selalu tidak pernah mau berkonsultasi dahulh terhadap dirinya untuk mengambil keputusan.


"Itu perut udah berapa bulan isinya?" tanya Kartika perihal kehamilan Kanaya.


"Sekitar dua bulanan".


"Belum gede".


"Tapi mesti ingat lagi hamil ya, jangan kaya yang sudah-sudah. Lagi hamil malah manjat pohon rambutan" Kartika mengingat kejadian waktu Kanaya hamil anak pertamanya. Dia yang tidak tahu kalau Kanaya lagi hamil juga ikutan naik di pohon Rambutan dibelakang rumahnya, duduk ngobrol di atas sambil metik buah rambutan dan dimakan diatas pohon. Hal konyol itu membuat Kartika selalu dihantui perasaan takut hingga sekarang. Dia sangat mengenal Kanaya yang selalu bertingkah super aktif meski sudah memiliki tiga orang anak.

__ADS_1


"Kalau kamu mau kita kaya dulu, ayuk" ajaknya dengan ketawa.


"Dasar, dibilangin malah ngajakin" Kartika pun ikut tertawa dengan ucapan Kanaya barusan.


Dia sama dengan Kanaya sebelumnya, sama-sama seorang janda. Bedanya dia cerai dengan sang suami karena lebih memilih menjandakan istrinya demi seorang janda. Dia hanya memiliki seorang anak perempuan seumuran dengan Raniya, namanya Raisya. Dia sangat mengidolakan sang penyanyi sehingga memberikan nama yang sama agar anaknya nanti akan memiliki kehidupan yang sukses seperti sang idola.


Dia merintis usaha salon dan rias pengantin memang sebelum dia bersuami. Lebih tepatnya dia juga wanita mandiri dan tangguh seperti Kanaya, hanya suaminya yang bodoh terbujuk rayuan manis sang janda. Suaminya bekerja sebagai karyawan di perusahaan Kanaya, tapi dia tidak meminta Kanaya untuk memecatnya untuk membalas sakit hatinya. Dia yakin pembalasan itu akan datang jika waktunya tiba, karena jika tuhan yang membalas semua perbuatan buruk kita. Dijamin akan sangat begitu menyakitkan sehinggan membuat kita tidak bisa berkata-kata lagi. Bagi mereka yang sadar akan sebuah teguran, tentunya akan merenungi setiap kesalahan yang telah dia perbuat. Tapi bagi manusia sombong, dia selalu melampiaskan kepada orang yang dia anggap menjadi penyebab kesusahan dalam hidupnya. Sebab hidupnya tidak pernah membuat kesalahan apalagi dosa karena dia selalu merasa paling benar.


Seperti halnya suami Kartika yang sadar akan kesalahan yang pernah dia perbuat, dia memohon pengampunan dan selalu mengajak rujuk Kartika. Dia berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan terbesar yang pernah dia perbuat. Tapi Kartika masih belum membuka hati untuk menerima siapa pun menjadi pendampin hidupnya. Namun hal yang berbeda oleh selingkuhan suaminya itu, dia selalu merasa paling benar. Dia menyalahkan Kartika yang menjadi kehancuran hidupnya. Serta emenjak hidup bersama suaminya dia merasa menderita, sehingga dia meninggalkannya. Alasannya sungguh tidak masuk akal, tapi kenyataan kalau dia sedang sakit itu memang karena salah dirinya. Sebenarnya dia sudah mempunyai mainan baru, dan sudah merasa bosan dengan suami Kartika. Mereka berdua memang sahabat satu jiwa dan satu hati. Dulu ketika Kartika ingin minjam uang kepada Kanaya dia akan berkata dengan santai.


"Say, transferin dong lima puluh juta. Ntar kalau sudah butuh baru diambil ya" Kanaya pun langsunh mentransfer uangnya. Tidak hanya itu, kalau dia suka dengan baju yang dipakai Kanaya dia akan bilang memintanya bukan meminjamnya. Kanaya pun akan memberikan miliknya itu kepada sahabatnya. Kanaya pun juga begitu, terhadap Kartika ketika dia mau nagih uangnya.


"Transferin lima puluh juta ya, jangan lupa belikan baju baru ok".


Tidak pernah ada basa basi dalam hubungan persahabatan mereka berdua, semuanya di ungkapkan dengan gamblang. Tak ada rahasia, atau pun kebohongan diantara mereka.


Sebuah panggilan masuk di handphone Kanaya, ada nomer baru yang tidak dikenal. Nomer yang tidak tersimpan di dalam kontak handphonenya. Dia biarkan berdering berkali-kali, akhirnya dia angkat karena penasaran.


"Halo".


"Halo, kanaya".


"Siapa ini? ".


"Kamu tidak perlu tau siapa saya? Terpenting itu saya tau siapa kamu? ".


"Ada perlu apa? ".


"Saya ingin kamu menemui saya di pelabuhan x, kalau kamu tidak datang. Saya pastikan kamu akan kehilangan anak-anak yang manis itu" sang penelpon mulai mengancam Kanaya, dia bukan berbicara dengan siapa. Seingat dia sebelum berangkat ke Jakarta dia tidak sedang berada dalam masalah.

__ADS_1


"Kamu datang seorang diri, tidak boleh membawa orang lain ataupun polisi" ujarnya sedikit membentak di panggilan telpon.


"Ok, aku akan kesana lima belas menit lagi ya" jawab Kanaya santai, kemudian dia mematikan panggilan telpon tadi.


__ADS_2