
Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam. Aku mulai memejamkan mata, meski sebenarnya rasa kantuk itu telah pergi. Berbagai pertanyaan berkecamuk. Tentang siapa El Nomy, dan tentang Kak Tomy.
Tetap saja aku mencoba memejamkan mata. Melupakan segala pertanyaan yang kubiarkan melayang di udara, hingga aku menemukan jawabannya sendiri.
Yah, sebaiknya memang aku tidur. Takut jika esok bangun kesiangan dan melewati matahari pagi yang menghangatkan juga udara pagi yang menyejukkan.
Menghirup dalam-dalam dan merasakan ketenangan. Lupa akan hal itu sejak aku kembali di kota kelahiran.
Esok akan menjadi momen yang tidak akan terlupakan. Mengemasi barang-barang untuk beberapa hari ke depan. Menempuh perjalanan jauh dengan Kak Tomy.
Yah, aku menerima tawarannya untuk ikut pergi ke kota kelahirannya. Meski pada awalnya aku ragu, tapi rasa itu terlupakan dan berganti rindu.
Rindu pada sosok yang memberikan kasih sayang sebagai ibu. Pengganti kasih sayang tidak aku rasakan dari seorang ibu.
Ibu Kak Tomy. Aku merindukannya.
Juga bertemu dengan adiknya yang belum pernah aku temui. Karena saat itu dia masih berada di dalam kandungan. Mungkin usianya saat ini sudah tiga belas tahun. Seperti apa rupanya.
Hal yang membuatku tak sabar menunggu hari esok adalah ... Memikirkan sosok ibu yang telah aku anggap seperti ibu kandung.
Dia yang selalu memberi semangat juga nasehat. Mengikat rambut panjangku dan menghapus air mata dan mengobati luka yang tergores di kaki atau tangan.
Memarahi Jam Tomy karena salah dan membelaku karena benar. Meski aku bukan terlahir dari rahimnya, tapi kasih sayang itu aku rasakan sangat tulus.
“Tomy, kamu minta maaf sama Mey. Gara-gara kamu Mey jadi jatuh kan?”
“Maaf, Ibu. Tomy nggak bisa jagain Mey.”
“Ayo minta maaf, jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Kak Tomy mengangguk sambil menghapus sudut mata. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapanku. Meski sebenarnya ingin terus menangis karena kena omel sang ibu.
“Besok jangan main sama mereka. Kamu tahu mereka itu anak nakal, Tom.”
Kak Tomy masih menundukkan kepala. Menyembunyikan kaca-kaca yang ingin tumpah.
Aku terus menangis, meratapi luka di lutut karena di dorong oleh salah satu anak gang depan kompleks.
“Ibu ... Bukan Kakak yang salah. Aku yang salah.”
Setiap kali aku membela Kak Tomy, ibu selalu tersenyum dan memelukku erat. Membuat Kak Tomy iri. Meski baru saja memarahi Kak Tomy, tetap saja seorang ibu tidak tega jika melihat anaknya menangis. Kami berada di dalam pelukan wanita itu.
Ibu.
Tanpa terasa air mata telah membasahi pipi. Mengingat bagaimana perlakuan Ibu Amel—ibu Kak Tomy—yang sangat menyayangiku.
Apa kabar ibu? Aku masih menyimpan fotomu meski sudah berubah warnanya.
***
__ADS_1
Dugaanku salah!
Aku kesiangan. Melewatkan matahari pagi dan udara sejuk itu. Ah, mengapa sejak selesai kuliah, aku menjadi sekacau ini. Tidur larut malam karena banyak hal yang dipikirkan.
Tanpa mengenal waktu.
Kalau sudah begini pasti akan kena omel kembali. Seperti saat kecilkku dulu.
“Kakak nggak mau lagi bareng sama kamu!”
Kak Tomy melipat kedua tangannya di dada.
“Kenapa?” Aku yang polos hanya bisa menangis.
“Kamu selalu buat Kakak kena hukuman. Mey, bisakah kamu bangun lebih pagi?”
Aku hanya mengangguk dan berjanji untuk tidak kesiangan. Menyiapkan semua kebutuhan untuk esok hari, lalu tidur lebih awal.
Rupanya tidak memberikan perubahan. Aku tetap bangun kesiangan. Selalu menunggu asisten rumah tangga masuk ke kamar. Kalau tidak aku tidak mau mandi.
Lucu rasanya jika mengingat hal itu. Hidupku terlalu manja sehingga membuat orang lain repot. Sejak saat itu Papa mencari asisten baru untuk membantu urusan dapur.
Kekacauan dan omelan Kam Tomy setiap hari perlahan menghilang. Dulu dia secrewet itu.
Kalau sekarang .... Entahlah.
Aku terlonjak kaget mendengar suara Kak Tomy. Rupanya dia telah berdiri dan bersandar di dinding dekat pintu.
“Aku pikir masih pagi.”
Kak Tomy menghela napas. Lalu melangkah mendekat.
“Udah kamu beresin pakaianmu?”
Aku nyengir sambil menggeleng. Lalu menutup telinga karena takut kena jewer.
Beberapa detik menunggu, rupanya Kak Tomy tidak melakukan hal yang aku takutkan. Dia masih berdiri di sisi tempat tidur dengan tangan terlipat.
Lalu saat membuka mata dan juga melepas tangan yang menutupi telinga, saat itu dia melakukannya.
Ah, pintar sekali.
“Aduh ... Kak Tomy! Sakit,” rengekku sambil mengerucutkan bibir.
Kak Tomy hanya menggelengkan kepala.
“Mandi sana, biar Kakak yang beresin pakaianmu!”
Aku mengangguk. Lalu melangkah ke kamar mandi. Melihat Kak Tomy mengambil tas ransel dan hendak membuka lemari, terlintas dalam pikiran jika ada benda yang tak boleh tesentuh.
__ADS_1
“Kakak ... Jangan!” teriakku.
***
Setelah berbagai alasan aku berikan lalu memaksa Kak Tomy pergi dan menyuruh Mbok Marni mengemasi barang-barang milikku, aku bisa membersihkan diri lebih tenang.
Jika dulu Kak Tomy yang selalu menyiapkan segala kebutuhan saat bepergian, kali ini sangat jauh berbeda.
Kedewasaan harus membuat kebiasaan masa kecil dulu hilang.
Mungkin awalnya Kak Tomy tidak paham. Lalu mengingat sesuatu dia memilih menyuruh Mbok Marni.
“Kakak beri waktu 30 menit!”
***
Selesai!
Aku tidak banyak membawa pakaian ganti. Nggak suka kalau terlalu ribet bawa barang banyak saat bepergian jauh. Aku orangnya simpel.
Setelah mengirim pesan pada salah satu karyawan butik yang aku percayai, aku bergegas pergi.
Ya, aku membuka butik sejak umur dua puluh tahun. Sebagai tabungan saat aku telah selesai menimba ilmu. Seperti sekarang ini. Saat aku pergi ada satu orang yang sangat aku percayai. Terkadang Papa yang mengontrol ke butik sebulan sekali, atau ketika ada banyak pesanan gaun pengantin.
“Kamu udah siap?”
Aku mengangguk. Lalu memasang seat belt.
Rasanya tak sabar untuk segera sampai dan bertemu ibu.
“Udah pamit sama Papa?”
“Udah dong.”
“Kita menempuh perjalan jauh, kamu yakin bakal kuat?”
“Yaelah, dulu juga sering kali menempuh perjalanan jauh.”
Kak Tomy tertawa. Senang rasanya melihat dia bahagia hari ini. Tidak seperti kemarin yang terlihat memiliki beban banyak.
“Di sana kamu bakal betah pasti. Udaranya sangat sejuk dan bebas polusi.”
Aku mendengar dengan seksama cerita Kak Tomy tentang kampung halamannya. Hingga rasa kantuk melanda karena menunggu kemacetan.
Entah apa yang Kak Tomy ceritakan saat ini, mataku tak lagi dapat untuk terbuka.
Aku mengantuk!
***
__ADS_1