Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Diculik Jalur VIP


__ADS_3

Kanaya mengerjapkan matanya secara perlahan. Kepalanya terasa begitu berat, kemudian Kanaya memegangi kepalanya dengan tangan kirinya. Seakan sedang mengalami mabuk, kondisi Kanaya saat ini. Kepalanya sedikit berat dan terasa sedikit berputar. Kanaya mencoba untuk mengatur nafasnya. Setelah dia sudah bisa mengendalikan dirinya. Kanaya memperhatikan sekeliling tempat dimana dia berada sekarang.


"Dimana ini? Apakah aku disekap?" Kanaya mencoba untuk mengingat apa yang baru saja terjadi kepadanya.


"Astaga, Rendy! Bagaimana keadaan Rendy sekarang? Siapa yang sudah berani menculik diriku? Punya nyali juga rupanya mereka yang berani mengobarkan api peperangan".


"Aku yakin Adrian pasti akan menemukan diriku".


"Pasti" Kanaya bergumam sendirian disebuah kamar yang begitu terlihat mewah. Tempat tidur Kanaya berbaring tadi saja sungguh mewah. Pastilah orang yang melakukan hal ini bukanlah orang biasa. Satu nama yang terlintas yaitu Devin. Namun ada sedikit keraguan juga dihati Kanaya, mungkin saja Ronald yang melakukannya. Entahlah, kini Kanaya tidak bisa menduga-duga siapa yang melakukan.


"Mana handphoneku, bukankah ada didalam kantong celana yang aku pakai ini?".


"Hah, stupid. Ya jelaslah, sudah pasti diambil mereka".


"Gila juga mereka, orang pingsan diraba-raba" Kanaya berdialog sendiri seperti orang yang tidak waras. Tapi sebenarnya dia merasa kesal dengan apa yang dia alami. Kanaya mencek seluruh tubuhnya, apakah mereka telah melakukan pelecehan pada dirinya.


"Ah, aman. Untung saja, masih ada. Aku pintar juga menyimpannya" Kanaya merasa dewi fortuna masih berada dipihaknya. Jika pisau lipat milik Davina masih tersimpan rapi dalam branya, itu berarti dia tidak mengalami pelecehan dari orang yang menculiknya.


"Kalau dilihat-lihat, kamar ini terlihat feminim. Wangi kamar ini juga, feminim banget" Kanaya berjalan melihat ke arah luar jendela. Satu hal yang tak pernah dibayangkan olehnya saat ini.


Meskipun dia kini tengah diculik, tapi seperti tidak seperti diculik. Tempat tinggal dia disekap, berada disebuah kamar mewah yang luar biasa mengagumkan. Interior serta barang-barang yang tertata rapi disana merupakan barang-barang mahal. Diluar jendela pemandangan taman yang penuh bunga serta ada sebuah danau yang begitu indah.


"Wuih, berasa liburan kalau begini. Bukan diculik".


"Ini anugerah apa musibah ya" Kanaya berdialog sendiri lagi. Tentu saja sendiri, sebab dia disini dikurung sendirian bukan berkelompok. Kanaya mendengar ada suara derap langkah kaki yang menghampiri ke kamarnya. Bergegas dia kembali dalam kondisi dirinya yang belum sadarkan diri. Suara seseorang tengah memutar kunci pada pintu. Kanaya mempersiapkan diri seolah masih tertidur.


"Apa sudah bangun?" tanya seseorang seperti suara laki-laki.

__ADS_1


"Masih tidur" jawab seseorang seperti suara wanita.


"Baguslah kalau begitu. Kata bos, kita harus hati-hati dengan dia. Sebab, dia bukan wanita biasa. Dia seperti superhero" ucap si suara laki-laki.


"Hush, ngawur. Mana ada dikehidupan nyata kita ini ada yang namanya superhero. Ngawur kamu itu Dadang" Kanaya yang mendengarkan pembicaraan dua orang yang berbeda jenis kelamin tersebut kini tau kalau yang laki-laki bernama Dadang.


"Lah iya. Kata si bos dia itu jago berkelahi. Kalau bukan superhero apa namanya coba?" tanya pria yang bernama Dadang.


"Ya itu hal yang wajar dan lumrah tau Dang. Perempuan mah memang kudu pintar jaga diri. Biar tidak diremehkan laki-laki brengsek tau".


"Ni yah, biar tua-tua begini. Neng mah, dulu juga pernah ikut pencak silat. Jadi jangan coba macam-macam sama neng" sedangkan si wanita menyebut dirinya dengan sebutan neng.


"Idih, si eneng. Abang teh cuma satu macam saja maunya sama si neng. Cuma mau main karambol pakai tongkat madura neng" Kanaya membuka matanya sedikit, untuk melihat kejadian yang tengah ada dihadapannya.


"Ih, si abang genit. Tangannya nakal, main kesana kemari" ucapnya dengan wajah merona senang.


"Ngapain kalian disini. Cepat keluar. Kalau kalian mengantar makanan buat dia, cukup mengantar saja jangan mengobrol disini" ucap seorang pria dengan suara tegas.


"Baik tuan" jawabnya serentak. Kemudian terdengar langkah berlari kecil ke arah luar kamar. Mungkin mereka berdua takut dengan seseorang yang baru saja datang. Tapi siapa?


"Kamu memang sangat cantik dan menggoda. Setelah semua ini selesai, maka aku akan memilikimu" ucapnya dengan deru nafas yang menahan nafsu.


"Aku bosan dengan dirinya, selalu menuntut ini itu kepadaku. Tapi ternyata dia malah mengkhianati aku dengan menjalin hubungan dengan bujang lapuk, si tua bangka" nada suaranya terdengar begitu sangat kesal kepada seseorang. Namun siapa dia? Kanaya tidak bisa memastikan. Sebab dia tidak bisa membuka matanya, takut pria itu akan tau kalau Kanaya sedang berpura-pura tidur. Tidak berapa lama handphone miliknya berbunyi.


"Dasar binal, mau apalagi sekarang".


"Halo".

__ADS_1


"Apa? Kamu jangan bercanda" setelah itu percakapan pun berakhir.


"Aaaarrrgggh.... Sial. Brengsek! Kenapa semua rencana yang sudah aku persiapkan gagal seperti ini".


"Aaaarrrgggh.... Damn it. Damn it!" suara pria tersebut terdengar begitu sangat frustasi. Entah rencana apa yang telah gagal dia kerjakan.


Dia langsung pergi keluar, setelah menerima panggilan singkat yang membuat dirinya tersulut emosi. Pintu kamar dibanting dengan keras. Menandakan kalau dia benar-benar marah.


"Kunci pintunya, ingat jangan pernah membuka pintu ini terlalu lama. Tugas kalian hanya mengantarkan makanan untuk wanita hamil tersebut. Kalian berdua paham" teriaknya kepada seseorang. Mungkin dua orang yang masuk mengantarkan makanan tadi.


Setelah terdengar pintu dikunci dan dirasa aman. Kanaya membuka matanya secara perlahan untuk memastikan. Kanaya pun bangun secara perlahan dan duduk untuk merilekskan punggung serta pinggangnya. Matanya tertuju kepada makanan yang tersaji diatas nampan yang diletakkan di atas nakas.


"Aduh perutku lapar. Nak, apa kamu juga lapar?" tanya Kanaya pada bayi didalam perutnya.


"Kita tetap harus kuat agar bisa bertahan hidup sayang. Mama rasa makanan itu tidak mungkin beracun. Cukup aneh juga sayang, kita disekap tapi diberi fasilitas VIP seperti ini. Jadi kita nikmati ya, sebelum semua ini berakhir. Mama yakin papa pasti akan datang menyelamatkan kita" Kanaya mengelus perutnya dengan lembut. Respon bayinya begitu sangat lincah bergerak dalam perut Kanaya.


"Kaulah penyemangat mama untuk bertahan saat ini. Kita isi energi kita dulu ya, baru setelah ini kita pikirkan bagaimana cara untuk keluar dari sini" ucapnya sambil mengelus-elus perutnya.


Kanaya meraih sepiring nasi yang disediakan untuknya. Lengkap, ada lauk beserta sayur capcay yang terlihat begitu menggoda dan menggugah selera. Bayi dalam perut Kanaya pun bergerak lincah, seakan meminta Kanaya untuk segera mengisi perutnya dengan semua makanan yang tersedia. Mungkin si bayi juga lapar. Si penculik ini termasuk penculik yang perhatian, sebab dia juga menyediakan susu untuk ibu hamil dalam bentuk kemasan sekali minum. Setelah semuanya habis tak tersisa, serta air putih yang tersedia pun habis. Kanaya merasakan kantuk yang begitu sangat hebat pada matanya.


"Sayang, sepertinya mama makan terlalu banyak ya. Jadinya mata mama ngantuk sayang. Kita tidur yuk sayang. Semoga pas kita bangun nanti, papa sudah menemukan kita" Kanaya kembali membaringkan tubuhnya dan menutup matanya secara perlahan. Kini Kanaya kembali ke dalam dunia mimpi yang tiada batas.


Kanaya merasakan ada sebuah sentuhan pada wajahnya. Adrian kah itu? "Apakah kamu sudah datang sayang?" tanya Kanaya dalam hatinya. Sentuhan lembut itu secara perlahan membuat kesadaran Kanaya kembali. Dia mencoba untuk membuka matanya. Ada bayangan orang yang dia tunggu dari tadi. Namun secara perlahan sosok Adrian yang terlihat dimatanya berubah dengan sosok lain yang dia kenal.


"Kamu sudah bangun sayang" senyumnya mengembang pada Kanaya.


"Kamu.... ".

__ADS_1


__ADS_2