
"Tony, bagaimana semuanya sudah bisa siap?" tanya Adrian kepada Tony. Mereka bersiap untuk pergi untuk melihat hasil kerja pembangunan cabang hotelnya.
"Semuanya sudah siap" jawab Tony tegas.
"Kita ke lokasi sekarang. Katakan kepada Andre untuk segera menyusul kesini".
"Entah kenapa firasatku mengatakan ada hal besar yang menanti kita disana. Aku merasa sesuatu disini, perih" Adrian menunjuk ke dada kirinya yang dia bilang terasa perih.
"Apakah kita ke rumah sakit dulu? Atau untuk kunjungan hari ini dibatalkan saja. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa Adrian. Kalau kamu sakit seharusnya katakan lebih awal" seperti inilah Tony, cerewet dan bawel kayak emak-emak.
"Tony...... " mata Adrian melotot ke arah sahabat sekaligus tangan kanannya itu. Jengkel, pastinya. Dia lagi ingin serius malah diajak bercanda. Padahal kan Adrian lagi ngungkapin tentang firasatnya. Tapi bagi Tony itu musibah. Sebab jika Adrian beragumen seperti itu, siapkan diri dan mental. Kumpulkan semua tenaga, karena pastinya akan terkuras habis. Pertanda harimu akan buruk artinya. Berkelahi lagi.
Tanpa sepengetahuan Adrian, Tony tidak hanya mengirim pesan kepasa Andre saja. Melainkan kepada Hendry dan juga Niki. Tony juga merasa sesutu debaran yang aneh, apalagi jika dia melihat Adrian. Seolah-olah dia akan kehilangan sosok yang kini ada disampingnya. Semoga saja itu tidak terjadi untuk hari ini.
"Sudah sampai, ayo kita turun" ajak Adrian kepada Tony. Hari ini, Adrian tidak membawa banyak anak buah. Hanya lima orang saja, satu orang bersamanya dan empat orang lagi di mobil yang mengikuti Adrian di belakang.
"Apakah kita tidak menunggu hingga Andre datang?" Tony hendak mengulur waktu, sebab itu permintaan Niki.
"Kita menunggu kedatangannya sambil lihat-lihat dulu saja. Sudah berapa persen pengerjaannya? Apa ada kendala? Atau hal lainnya lah bisa kita tanyakan kepada mandor yang bertanggung jawab atas pengerjaan hotel ini" Adrian tetap ingin keluar melihat hasil pengerjaan cabang hotelnya. Tony pasrah saja jika Adrian sudah keras kepala seperti ini.
"Tapi aku khawatir tentang firasat kamu tadi" ungkap Tony tentang rasa gelisah yang menyelimuti hatinya. Meski jika memang harus menghadapi musuh, dia akan memastikan keselamatan Adrian.
__ADS_1
"Jika memang takdir kita untuk menghadapi masalah hari ini, pasti tidak mungkin kita hindari. Bagaimana pun caranya? Jadi persiapkan diri saja, seolah kita baru pertama kali menghadapi musuh Ton. Hehehe" kekeh Adrian dengan santainya.
"Baiklah, kita hadapi jika memang nanti ada masalah" jawab Tony tersenyum.
"Persiapkan diri kalian jika nanti ada situasi yang membahayakan. Pastikan kalian tidak lengah, selalu awasi keadaan sekitar. Sepertinya ada musuh yang sedang mengawasi kita" Tony memberikan instruksi kepada kelima anak buahnya. Mereka pun mengangguk dan mengucapkan kesiapan mereka jika menghadapi musuh yang akan menyerang mereka.
Adrian dan Tony pun langsung melangkahkan kakinya. Mereka berbincang-bincang kepada para pekerja dan juga mandor yang mengurus semuanya. Tak ada masalah untuk sementara ini. Namun ada salah satu pekerja bangunan yang menurutnya sedikit mencurigakan.
"Baiklah pa, untuk pengarahannya. Akan saya laksanakan dan saya atur nanti para pekerja. Saya mau permisi dulu, karena ini sudah masuk waktu istirahat" kata sang mandor ketika melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Oh iya pa, silahkan. Tidak usah sungkan kalau mau istirahat. Saya masih ingin melihat-lihat dulu" jawab Adrian agar sang mandor tidak merasa sungkan.
"Kami permisi dulu pa" ucap para pekerja kepada Adrian dan juga Tony.
"Ada sesuatu disebelah kanan" bisik Tony di telinga Adrian. Adrian pun sedikit melirik untuk memastikan ucapan Tony tadi. Ada sosok berbaju merah yang seperti sedang mengawasinya. Kemudian dia pergi menghilang. Mungkin sadar kalau gerak geriknya sudah diketahui oleh Adrian.
"Halo bosku Adrian" ucap seseorang di balik tumpukan pasir dan bebatuan. Perlahan pemilik suara tersebut mendekat ke arah Adrian.
"Aku seperti mengenal suara pria itu" ujar Tony yang dari tadi menajamkan pendengarannya untuk memastikan suara siapa itu.
"Aku juga merasakan hal sama, begitu familiar dengan suara ini" Adrian membalas ucapan Tony.
__ADS_1
"Apa kabarmu Tony?" tanya pria tegap berkulit sawo matang itu. Kini wajahnya telah nampak didepan Adrian dan juga Tony.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Adrian menatap ke arah Fredy.
"Aku. Aku adalah Fredy. Hahahaha" jawabnya dengan tawa membahana. Kemudian dia bertepuk tangan, hingga muncul beberapa anak buahnya. Sedikit? Tentu saja tidak, banyak sekali anak buah yang telah dipersiapkan olehnya. Berkali-kali lipat mereka dari jumlah Adrian cs.
"Sebenarnya apa mau kamu Fredy? Kamu bekerja untuk siapa?" tanya Tony yang sudah begitu sangat geram dengan Fredy. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun dia telah menipunya dengan dalih menyelamatkan nyawa Tony. Padahal dia sendiri lah yang hendak melenyapkan dirinya. Pasti ada rencana jahat yang terselubung dari semua itu. Hal yang tidak bisa diterimanya adalah kehilangan Axel.
"Aku inginkan nyawa kalian dan merebut wilayah kekuasaan kalian. Sebab kalian itu tidak pantas untuk mengelolanya".
"Apa kalian tau, wilayah kalian itu sangat strategis sekali untuk melakukan berbagai bisnis. Apalagi wilayah barat. Bagaimana menurut kalian?" Seringainya seolah ada rasa kepuasan dari sorot matanya. Adrian jadi menduga hal yang tidak ingin terjadi. Apakah dia juga menyerang wilayah barat saat ini?
"Tenang saja, aku belum membunuh adikmu tercinta. Sungguh diluar dugaan kemampuannya. Ternyata tidak semudah itu melenyapkan dirinya" Fredy seolah menjawab kegundahan hati Adrian. Seakan dirinya adalah seorang cenayang atau orang yang bisa membaca isi pikiran orang lain.
"Maafkan aku mantan bosku tercinta, mungkin hari ini adalah hari terakhir kamu melihat dunia. Aku merasa sangat bersalah sekali kepada Kanaya. Sebab, dia akan menjanda untuk kedua kalinya. Kehilangan kedua suaminya karena mati terbunuh. Hahahaha" tawanya begitu jahat, seakan dia merasa sangat puas dan menikmati sebuah kematian.
"Apa kau yang telah membunuh Radit?" Adrian mengepalkan tangannya. Emosinya sudah begitu memuncak. Ingin rasanya dia berlari ke arah Fredy kemudian menghajarnya sampai mati. Dasar manusia keji. Itulah kata yang pantas untuk disematkan pada dirinya.
"Memang akulah yang melakukannya. Siapa sangka, aku mendapatkan dua target sekaligus? Kanaya yang tak terendus keberadaannya. Bisa aku temukan, karena target pertamaku yang berhasil aku lenyapkan".
"Entah kenapa takdir selalu memudahkan keinginanku. Kanaya justru menikah dengan pria yang akan menjadi targetku selanjutnya. Yaitu kamu Adrian. Untuk Kanaya, ada hal yang lebih mengejutkan sedang menanti dirinya. Seseorang yang selama ini menginginkan dirinya. Seseorang yang sudah menginspirasi orang yang aku cinta. Berkat Kanaya lah, dia begitu sangat sempurna" ucapnya dengan penuh rasa bangga. Sedangkan Adrian sudah tidak bisa berpikir apapun lagi. Kini dirinya benar-benar dikuasai ole emosi yang sudah tidak bisa dikontrol. Apalagi ini menyangkut tentang Kanaya. Wanita yang paling dia cintai dan harta paling berharga dalam hidupnya. Dibenak Adrian Siapakah orang yang menaruh dendam kepada Kanaya? Sehingga mampu merencanakan hal ini dengan baik. Terlihat dari ucapannya, kalau dia bukan kiriman dari Devin pemimpin Marven sekarang ini. Siapakah bos besar yang ada di belakang Fredy?
__ADS_1