
Mely merasa gugup dan takut terhadap suaminya yang melihat dirinya dalam keadaan berantakan.
"Aduh, gimana ya aku jelasinnya ke Fery" Mely merasa frustasi ketika mengingat ekspresi wajah suaminya itu saat melihat dirinya membunuh para penjahat tersebut.
"Ya Tuhan, aku mohon padamu jangan buat suamiku illfeel karena masalah ini, aku rasanya tidak sanggup harus kehilangan dirinya" dia meratap pilu dengan masa depannya. Jemarinya terasa bergetar ketika dia memegang segelas susu hangat yang dibuatkan oleh Niki. Sekarang Niki, Adrian dan Hendry berdiskusi untuk membicarakan masalah ini. Mereka tidak ingin kecolongan ketika musuh menyerang lagi. Semua ini benar-benar tidak bisa ditebak, dia tidak bisa meraba musuh yang mana melakukan penyerangan ini.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Fery suami Mely yang datang menghampiri nya. Dia begitu khawatir melihat wajah istrinya itu yang begitu pucat. Dia memegang tangan Mely yang gemetar dengan kedua tangannya dan menciumnya lembut.
"Jangan khawatir aku ada disini menjagamu, maafkan aku tidak bisa melindungi dirimu. Aku tau kamu mengalami hari yang sulit, aku janji akan selalu berada disisimu" ucap nya membuat haru Mely dan dia pun menghambur dalam pelukan suaminya yang telah memberikan kehangatan dan kebahagiaan dalam hidupnya selama ini.
"Aku takut kehilanganmu mas" kata Mely yang menangis dalam pelukan suaminya.
"Andai kau tau siapa diriku? Bagaimana hidupku di dunia hitam? Ku rasa kau akan sulit untuk menerima diriku" ucapnya dalam hati menambah kesedihannya dan membuatnya menangis pilu.
"Sudah jangan sedih dan jangan takut lagi sayang. Aku akan ada buat kamu. Maafkan aku yang terlambat menolongmu" kata suaminya penuh dengan penyesalan.
"Seandainya saja aku langsung datang menjemputmu mungkin kau tidak akan mengalami kejadian seperti ini" perkataan suaminya membuat Mely sedikit curiga dan langsung menatap matanya.
"Apa kamu tahu tentang semua ini?" Fery mengangguk saat kedua mata mereka saling beradu pandang.
"Aku mohon jangan begini" ucap Mely dalam hati. Tangannya menjadi dingin dan lebih gemetar karena cemas kepada suaminya kini.
"Aku mendengar percakapan dua orang pria yang menyerang mu tadi. Mereka berbicara begitu menyebalkan jika langsung mengeksekusi" ucapnya sambil menarik nafas panjang.
"Saat itu aku tidak tau dan mengerti arah pembicaraan mereka di kedai nasi goreng di perempatan yang tidak jauh dari kantor".
"Ketikaku selesai dan ingin membayar, aku melihat foto dirimu yang tengah dipandangi oleh salah satu pria itu".
"Aku tidak berpikir kalau mereka akan melakukan hal seperti itu terhadapmu, karena panggilan telponku yang tak kunjung kamu angkat membuatku merasa cemas dan segera pergi ke kantormu" jelas Fery kepada istrinya itu yang terlihat begitu pucat dan memeluknya serta menciumi pucuk kepalanya.
"Aku tidak tahu akan seperti apa hidupku jika aku benar-benar kehilanganmu sayang. Hanya kamu satu-satunya yang aku miliki didunia ini".
__ADS_1
"Aku tak sanggup bila hidup tanpa dirimu" kini Fery menangis dan memeluk erat Mely. Dia begitu terpukul, karena merasa ceroboh dan lambat untuk melindungi istrinya.
"Kita harus lebih waspada sekarang sayang, aku yakin mereka adalah orang suruhan" kata Fery membuat Mely terperanjat kaget, Fery mengangguk untuk meyakinkan Mely yang sedang menatapnya.
"Mereka berbicara dengan seseorang dan menyebutnya dengan sebutan Black Rose" mendengar hal ini sontak membuat Mely terkejut, siapa sebenarnya orang yang telah mencuri identitas dirinya. Masa iya dia menyuruh orang untuk menghabisi dirinya sendiri, kan nggak lucu.
"Apa kamu yakin dengan yang kamu ucapkan?" tanya Mely untuk memastikan.
"Sebaiknya kamu masuk ke kamar dulu sayang, aku ingin berbicara sama bang Adrian dulu. Aku ingin mengambil cuti" kata Mely.
"Bukankah bisa dibicarakan besok saja" jawab suaminya.
"Tidak bisa, ada urusan lain juga yang harus aku bicarakan mengenai hal ini".
"Pergilah ke kamar terlebih dahulu, aku akan menyusul" ucap Mely, suaminya pun mengecup keningnya dan berjalan pergi meninggalkan dirinya. Setelah memastikan suaminya pergi, Mely langsung pergi ke ruangan dimana Adrian, Niki dan juga Hendry sedang berdiskusi.
Mereka bertiga terkejut ada seseorang yang membuka pintu ruang kerja milik Hendry. Namun melihat Mely yang datang mereka bernafas lega, setidaknya bukan Kanaya ataupun yang lainnya datang.
"Belum ngantuk ma" jawabnya.
"Bisa menerka siapa yang melakukan penyerangan ini?" tanya Mely kepada mereka dan mereka serempak menggelengkan kepala menandakan tidak tahu. Mely menghembus nafas begitu kasar.
"Sudah kuduga" ucapnya.
"Black Rose palsu yang melakukannya" kata Mely membuat semuanya terkejut.
Hendry yang belum mengenal Mely dapat menyimpulkan jika dia wanita yang tangguh, dilihat dari sikapnya yang begitu tenang dan sorot matanya yang penuh dengan amarah sekarang dia tidak bisa diremehkan. Dia mengakui, kalau Mely hebat. Melihat kekacauan tadi, Hendry sungguh tidak menyangka jika wanita cantik nan anggun ini bisa begitu kejam dan mengerikan. Persis Niki, namun Niki bukan sosok yang anggun Tapi memang bar bar terlebih dahulu, jadi tidak heran jika dia begitu bengis jika berhadapan dengan lawannya. Sebab itulah dia memiliki julukan "The lady devil". Dia tidak menyangka jika organisasi yang dia kelola bersama Niki dulu, kini dipegang oleh menantunya. Dia mengira organisasi itu tidak beroperasi lagi semenjak kepergiannya. Ternyata dugaannya salah, malah organisasi tersebut lebih besar dari dulu.
"Darimana kamu tahu itu?" tanya Adrian yang terkejut.
"Fery yang mengatakan jika dia bertemu dengan mereka di kedai nasi goreng perempatan kantor" jawab Mely dan mengambil sebatangrokok yang tergeletak diatas meja.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" tanya Niki.
"Aku yakin, sebab orang yang telah berani mencuri identitasku membuat kegaduhan di Jakarta" hal ini membuat Niki terkejut, sebab dia tidak tahu perihal ini dan menatap Adrian sengit.
"Bagaimana bisa kamu tidak melaporkan hal penting seperti ini?" tanya Niki menatap tajam ke Adrian.
"Aku rasa orang ini begitu dendam dengan keluarga kita".
"Sebab aku mendapatkan panggilan dari seseorang yang misterius" ucap Niki membuat Hendry menatapnya dengan rasa khawatir.
"Apa yang dikatakannya ma?" tanya Adrian penasaran.
"Dia bilang akan membunuh salah satu anak kesayanganku".
"Aku pikir kamu Adrian, sebab mama lihat Kanaya tidur sendiri di kamar. Mama cari kamu di rumah ini tidak ada. Mama ingin mencari keluar tapi mama tidak tau jalan. Oleh sebab itu mama sangat senang ketika kamu datang tadi. Tapi mama tidak menyangka jika yang dia maksud adalah Mely, my lovely black rose" ucap Niki membelai lembut pucuk kepala Mely.
"I'm sorry sweetheart" Niki merasa beruntung Mely selamat dan dia khawatir jika kejadian ini akan menimpa yang lainnya.
"Kita harus lebih waspada, sebaiknya kita segera balik ke Jakarta. Ini sudah tidak bisa dibiarkan, hari ini sangat beruntung Mely selamat. Mungkin di lain waktu yang lainnya juga akan mengalami hal serupa. Mama khawatir tentang itu" Niki mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Aku juga setuju dengan mama. Menurut abang bagaimana?" Mely menanyakan pendapat Adrian apakak dia sepemikiran dengan dirinya dan juga mama Niki.
"Aku setuju, aku juga berpikir seperti itu".
"Sebaiknya Tony segera kita kabari agar dia lebih hati-hati. Bisa saja dia yang akan menjadi sasaran berikutnya. Meskipun Tony tak mudah untuk dikalahkan. Tapi dia pernah hampir meregang nyawa, untung saja Fredy menolongnya sehingga dia selamat" Adrian mengingat kejadian pahit yang pernah dialami oleh Tony. Adrian begitu marah dan sangat terpukul melihat sahabat dan orang kepercayaannya itu berjuang untuk hidup diruang operasi.
"Apa menurutmu ini adalah perbuatan orang yang sama? Orang yang sudah melukai Tony dahulu" tanya Niki ke Adrian. Memang waktu kejadian penyerangan Tony dan Mely jaraknya begitu lama, tapi tidak menutup kemungkinan jika hal itu dilakukan oleh orang yang sama. Sebab, dalang penyerangan kepada Tony masih belum diketahui. Tony pun masih menyelidiki dan ingin membalas dendam kepada orang yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.
"Memang brengsek, jika aku tau siapa pelakunya. Akan aku pastikan untuk mengulitinya hidup-hidup dan menikmati setiap rintihannya" kata Mely dengan penuh dendam dan marah. Sejak kejadian Tony dulu, dia secara diam-diam selalu menyuruh orang untuk mengikuti kemanapun Tony pergi. Dia tidak ingin hal buruk itu menimpa saudaranya itu. Meski bukan sedarah, tapi rasa kekeluargaan diantara mereka begitu mendarah daging. Namun dia sedikit lengah dalam melangkah, targetnya bukan lagi Tony melainkan dirinya.
Tanpa mereka ketahui, Fery suami Mely sedang mengintip dan mendengarkan pembicaraan diantara mereka. Fery tampak tersenyum ketika mendengarkan percakapan mereka bertiga. Dia seakan merasa senang, apa yang membuat dirinya tersenyum? Siapakah sebenarnya Fery? Apakah seorang pegawai PLN biasa atau mempunyai pekerjaan ganda?
__ADS_1