
"Tidak akan pernah kamu memiliki yang bukan hakmu itu brengsek. Jangan pernah bermimpi" ucap Kanaya sinis.
"Kamu yang jangan bermimpi bisa lepas dari semua ini. Akan kupastikan kematian kamu berjalan mulus" seringai pak Rahman.
"Apa maksudnya ini pa Rahman? " tanya Ahmad polos dan bingung. Bukan seperti ini permainan yang akan dia mainkan bersama Kanaya, tapi kenapa jadi Kanaya yang malah akan dibunuh.
"Kamu tidak usah ikut campur, kamu juga akan aku habisi. Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi".
"Udin, ikat dia juga" perintah pak Rahman kepada salah satu preman yang dibawanya. Ketika preman itu mencoba untuk menangkap Ahmad, Kanaya langsung berdiri dan memukul si preman tadi. Dia pun langsung tersungkur ke lantai setelah mendapat pukulan dari Kanaya. Salah satu preman yang melihat dan pernah jadi amukan Kanaya langsung meringis.
"Sialan, cepat ikat kembali dia " suruh pak Rahman kepada semua preman yang ada disampingnya.
"Silahkan bapa kalau mau maju, saya tidak mau" kata si preman yang pernah berurusan dengan Kanaya.
"Kamu itu saya yang bayar, kenapa kamu berani melawan saya? " pak Rahman meneriaki preman tersebut, tapi dia tak bergeming dan masih berdiri melihat ketiga kawannya mengeroyoki Kanaya. Semuanya babak belur dipukuli Kanaya, tapi masih tetap berusaha untuk melumpuhkannya. Disaat Kanaya lengah berkelahi dengan salah satu preman.
Salah satu preman tersebut mengeluarkan belati dibalik bajunya yang tersimpan di pinggang celana. Dia berniat untuk menusuk Kanaya, melihat hal itu si preman yang tidak mau berkelahi tadi langsung menariknya dan membantingnya ke belakang. Dia terkejut karena telah dilempar oleh temannya sendiri
"Apa-apaan kamu Andi? Kenapa kamu menyerang Iyan? " pak Rahman marah karena telah menggagalkan Arif untuk menusuk Kanaya.
"Sorry bro. Tapi dia adalah bosku" kata Andi santai.
"Sialan, penghianat kamu" teriak pak Rahman. Semuanya saling berkelahi, terlihat Kanaya mulai lelah melawan para preman tersebut. Ahmad yang masih gemetar melihat perkelahian ini berpikir untuk keluar meminta bantuan. Disaat ada kesempatan dia langsung berlari ke arah pintu pabrik. Saat pintu dibuka oleh Ahmad, telah berdiri seorang pria paruh baya yang berdiri dengan tegap dan menatap ke depan dengan sorotan membunuh.
"Rahmaaaaaaaannnn" teriaknya menggelegar membuat si pemilik nama langsunh bergidik ngeri. Dia begitu terkejut ketika melihat Hendry yang tengah berdiri menatap tajam ke arahnya. Dia merasa kakinya telah lumpuh karena tidak merasakan apapun pada kakinya.
"Buuuuuuuukkkkkk" sebuah hantaman mengenai wajahnya pak Rahman dan langsung memberikan bekas pada wajahnya.
Adrian langsung menghampiri Kanaya dan memukuli preman yang menjadi lawan Kanaya berkelahi. Adrian memukulinya dengan membabi buta, hingga membuat si preman langsung pingsan. Andi yang melihat tersebut langsung bergidik ngeri melihat keganasan Adrian yang hampir sama dengan Kanaya. Arif yang melihat langsung berhenti berkelahi dengan Andi dan mencoba membantu temannya yang pingsan tadi. Namun tangannya di tarik oleh Adrian, saat Adrian mengepalkan tangannya dan ingin memukulnya. Si preman tadi memohon minta ampun, karena dia hanya mematuhi orang yang membayarnya.
"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa sekeji dan selicik ini" kata Hendry penuh emosi.
"Berulang kali Kanaya sudah memperingati diriku bahwa kamu itu curang, tapi aku tetap mempercayai kamu".
"Seandainya saja terjadi hal buruk pada Kanaya, akulah orang yang pertama kali yang akan memburumu" kata Hendry menunjuk ke pak Rahman.
"Big bos, ini bukti kejahatan yang sudah dilakukan olehnya" kata Andi sambil memberikan sebuah flashdisk ke Hendry.
"Sekali ini kamu tidak bisa lolos lagi Rahman" ucap Hendry menarik kerah baju pak Rahman. Dia benar-benar geram dan ingin sekali membunuhnya, namun tidak tega melakukannya karena masih mengingat bantuan dia dalam mengelola perusahaannya.
"Bapa mau apakan dia? " tanya Kanaya.
"Bapa akan laporkan dia ke polisi" kata bapanya Kanaya.
"Bukankah itu terlalu mudah pa, bagaimana kalau kita bermain-main sedikit" ucap Adrian dengan seringaian tajam khas miliknya.
"Maksud kamu? " Hendry sedikit bingung dengan perkataan Adrian.
__ADS_1
"Ingat, istrimu lagi hamil. Jangan melakukan hal yang tidak baik" Hendry mengingatkan ke menantunya agar tidak melakukan hal yang tidak baik.
"Tenang saja pa, akan aman kok".
"Aku memiliki firasat kalau dia tidak melakukan hal ini sendirian. Aku sering melihat orang yang seperti dia" ucap Adrian meyakini firasatnya.
"Dia yang merencanakan pembunuhan bang radit pa" kata Kanaya membuat Hendry murka dan memukul wajah pak Rahman sebanyak tiga kali. Adrian yang mendengar pun langsung marah, karena mengetahui kalau sahabatnya meninggal karena dibunuh oleh bajingan yang menculik istrinya.
"Biar aku yang mengurus dia pa, aku tidak terima karena dia telah membunuh sahabat terbaikku bahkan berani menculik istriku".
"Mereka harus tahu, fatal akibatnya jika berurusan dengan Adrian" ucapnya dingin dan tatapan matanya yang tajam membuat pak Rahman takut. Tatapan Adrian jauh lebih mengerikan dari pada HendryHendry yang baginya sudah mengerikan.
"Ampuni aku, ampuni aku. Aku di bujuk oleh pria yang bernama Ronald bang Hendry".
"Aku cuma disuruh, dia bilang ingin menghancurkan abang" kata pa Rahman menceritakan kebenarannya. Dia berharap ada pengampunan dari Hendry. Pak Rahman tidak tahu kalau Kanaya sudah bersuami lagi, dan parah nya ternyata suami Kanaya sangat menakutkan.
"Baiklah kalau begitu sesuai dengan firasatku".
"Biar Adrian saja pa yang mengurusnya" kata Adrian kepada mertuanya yang masih berdiri mematung.
Ronald, nama yang asing bagi Adrian. Sepertinya orang itu sangat spesial sekali untuk mertuanya, sehingga membuat dirinya terdiam seperti itu. Sedangkan wajah Kanaya memucat setelah tahu siapa yang merencanakan semua ini. Adrian semakin curiga, jika orang ini ada kaitannya dengan masa lalu mereka yang menghilang dari keluarga nya. Adrian merasa harus menyelidiki semua ini, karena ini sudah bersangkutan dengan masa depan dia dan Kanaya.
"Serahkan saja semuanya ke Adrian" kata opa Adam menepuk bahu Hendry. Opa Adam mengangguk ke Adrian, dia mengerti apa yang akan dilakukan oleh Adrian nantinya.
"Sekarang kita pulang dulu, kita amankan Kanaya terlebih dahulu Alfian" ujar Angga membuat Hendry mengerti.
"Sayang, kamu pulang dulu ya. Aku akan selesaikan semuanya ini dahulu" ucap Adrian kemudian mencium pucuk kepala Kanaya.
"Dia orangku" ujar Kanaya.
"Baguslah kalau begitu, terus mereka siapa? " tanyanya ke tiga orang yang babak belur dihajar oleh Kanaya tadi. Salah satunya yang pingsan tadi paling parah karena mendapat pukulan tambahan dari Adrian.
"Ikat dia disini dulu" perintah Adrian kepada Andi dan langsung segera dilakukan nya.
"Bagaimana dengan mereka? " tanyanya kepada tiga preman yang datang bersamanya tadi. Mereka bukan teman Andi, mereka baru saja saling mengenal dua hari yang lalu. Mereka adalah anak buah yang baru direkrut oleh pak Rahman.
"Biar aku yang urus" jawab Adrian.
"Ampuni kami bos, kami cuma dibayar. Kami hanya preman kecil yang melakukan hal ini demi sesuap nasi saja" kata salah satu preman tadi.
"Kami mohon lepaskan kami, kasian teman kami. Kami ingin membawanya ke rumah sakit dulu. Takut dia kenapa-kenapa, kasian istrinya lagi hamil tua" dia menjelaskan perihal tentang preman yang dipukul Adrian sampai pingsan tadi. Hatinya terketuk ketika mendengar bahwa istrinya sedang hamil tua.
"Nanti saya akan mengurus kalian, diam saja dulu disana" perintahnya kepada tiga preman yang masih duduk lemas.
"Papa bawa Kanaya pulang dulu ya" kata Adrian kepada sang mertua dan mempercayakan semuanya kepadanya. Setelah itu mereka semua pulang dan tersisa Adrian bersama Andi, pak Rahman dan juga tiga orang preman suruhannya. Adrian langsung menghubungi seseorang untuk membantunya.
"Datang kesini, ada kerjaan khusus buat kamu. Ajak Tora dan Iwan, kamu harus datang secepat mungkin" kata Adrian kepada orang kepercayaan nya yang tidak lain adalah Tony.
__ADS_1
"Tugas apa bro?" sahut Tony.
"Biasa,cleaning service" ujar Adrian.
"Wow,fantastic. Secepatnya kami bakal kesana" katanya dengan senang. Setelah menghubungi Tony, Adrian kembali lagi menghubungi seseorang yang paling menyukai hal ini.
"Mely, susul aku ke sini. Ada tugas spesial buat kamu".
"Tugas apa bang? " tanya Mely.
"Don't forget your tools" kata Adrian tersenyum jahat. Terdengar suara lantang yang merasa puas mendengar kabar dari Adrian tersebut.
"Owh, i see. Ngerti aja abang ku ini, aku lagi bosan dengan angka-angka" ucap Mely dengan tawa.
"Kamu bisa berangkat bersama Tony, Tora, dan Iwan" kata Adrian ke Mely.
"Siap laksanakan abang ku sayang" jawab Mely antusias.
"Kamu akan memberikan apa yang aku inginkan" kata Adrian ke pak Rahman membuat dirinya memucat.
"Aku akan semuanya, tapi aku mohon lepaskan aku. Kalau kamu mau ambil semua hartaku asal kamu lepaskan aku" pak Rahman memohon dengan sangat mengiba.
"Aku akan melepaskanmu, asal kamu bisa mengembalikan kembali sahabatku Radit" katanya yang tidak kalah untuk menciutkan keberaniannya pak Rahman.
"Seandainya saja Kanaya sedang tidak hamil, akan aku pastikan aku sendiri yang memusnahkan dirimu" Adrian benar-benar mampu membuat pak Rahman ketakutan. Dia terus menerus meminta permohonan untuk dimaafkan.
"Tutup mulutnya" perintah Adrian kepada Andi.
"Hei kamu sini" panggil Adrian kepada Ahmad. Ahmad yang dipanggil pun menjadi takut, dia tidak ingin berakhir seperti pak Rahman.
"Bangunan ini punya siapa? " tanyanya perihal gudang tua ini.
"Ini milik almarhum bapa saya" jawabnya.
"Kalau begitu saya mau beli tempat ini".
"Dengan satu syarat, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu kalau dia ada disini. Kalau ada yang datang kesini kamu tanggung akibatnya" ancam Adrian.
"Tidak bang, janji bakal aman. Warga tidak berani datang kesini karena dibilang angker" kata Ahmad dengan terbata-bata karena bahasa Indonesia nya kurang lancar.
"Bagus" kata Adrian.
"Kamu sekarang boleh pulang" Ahmad pun langsung lari keluar setelah disuruh Adrian untuk pulang.
"Kamu" tunjuk Adrian kepada preman yang pingsan tadi.
"Segera berobat dulu, setelah itu kamu kesini. Ada yang ingin aku diskusikan dengan kalian semua".
__ADS_1
"Aku akan mengampuni kalian, dengan satu syarat".
"Kalian harus jadi orangku" ketiganya pun mengangguk tanda setuju. Lebih baik ganti majikan daripada harus kehilangan nyawa. Itulah pastinya sifat manusia yang sudah berada diujung tanduk.